MONOPOLI STEWART-CLAIRE
Sebelum menonton Jindabyne, dilayar terpampang sebuah peringatan yang ditujukan untuk masyarakat aborigin Australia, bahwa film ini akan menampilkan suara orang yang diceritakan sudah meninggal. Saya mengerti, ini ada hubungannya dengan kepercayaan orang-orang aborigin bahwa orang yang sudah meninggal seharusnya tidak lagi dihadirkan dalam dunia fisik dalam bentuk apapun. Ini juga tentu saja sebagai penghormatan kepada suku asli di Australia yang juga ikut andil dalam Jindabyne.
Kemudian setelah menyimak beberapa lama, saya juga mengerti, peringatan itu sepertinya juga ditujukan buat penonton, bahwa Jindabyne memang berurusan dengan hantu. Bukan hantu dalam wujud fisik, tapi hantu dalam wujud yang lebih abstrak. Hantu moral dari masa lalu yang gentayangan berupa rasa bersalah yang berlebihan.
Adalah Jindabyne, sebuah kota kecil yang tenang nun di Australia sana. Ketenangan kota kecil itu berubah ketika sebuah peristiwa pembunuhan terjadi. Maka seluruh kota –atau setidaknya karakter-karakter yang terlibat—pun jadi sibuk menanggung beban moral. Bayangkan, ada 4 pria penduduk kota, yang suatu hari pergi liburan akhir minggu. Mereka memancing disebuah sungai di pedalaman, lalu menemukan seonggok mayat perempuan mengapung.
Ring any bell ? Yup, ini memang cerita adaptasi yang sama yang pernah diangkat oleh Robert Altman dalam Shortcuts. Sama-sama berasal dari cerita pendek karya Raymond Carver berjudul “So Much Water So Close to Home”. Kalau Altman memilih Los Angeles sebagai lokasi peristiwa, sutradara Ray Lawrence memilih Jindabyne.
Cerita pendek Raymond Carver (sekitar 25 halaman) itu memang sangat terbuka untuk interpretasi. Tentang komunikasi yang tidak berfungsi dalam sebuah kelompok masyarakat yang menyebabkan banyak kesalah pahaman dan memperparah masalah yang memang sudah parah.
Tapi saya tidak berniat membandingkan Shortcuts-nya Altman dengan Jindabyne. Saya bertanya kepada diri sendiri, jika dihadapkan pada situasi yang sama dengan ke 4 pria tersebut, apa yang saya lakukan? Reaksi dan tindakan setiap orang tentu saja berbeda. Seperti juga ke 4 pria dari Jindabyne ini.
Ada yang hendak kabur. Yang lain kebingungan, yang lain lagi nyaris histeris. Tapi setelah agak tenang, ke 4 pria ini berembuk dan memutuskan, untuk melanjutkan liburan mancing mereka. Kaki si mayat mereka ikat dengan benang pancing dan menambatkannya di sebuah pohon tumbang. Pikir mereka, ‘toh sudah jadi mayat ini, nggak bakal ada bedanya kalau dilaporkan besok atau lusa’.
Mereka, Stewart (Gabriel Byrne), Gregory (Chris Haywood), Carl (John Howard), dan Billy (Simon Stone) berusaha menikmati liburan itu meski dengan rasa ngambang. Stewart misalnya beberapa kali menatapi wajah di mayat. Konsekuensi dari keputusan itu memang akhirnya jadi panjang. Penonton film ini pasti punya pendapat yang berbeda-beda juga.
Nah, pendapat yang berbeda inilah yang jadi tulang utama cerita Jindabyne. Ketika mendengar berita ini, hampir seluruh isi kota Jindabyne sepakat bahwa mereka tidak punya moral. Membiarkan seonggok mayat mengapung hingga bengkak dan baru melaporkannya setelah mereka kembali dari liburan. Polisi mengatai mereka bejat. Koran-koran menuding mereka tak punya hati.
Masalah moral seperti ini memang riskan dan kalau tidak diramu dengan matang, bakal terjebak jadi kisah klise. Dan disinilah –niat atau tidak– terpaksa saya harus membandingkan antara Shortcuts dan Jindabyne. Shortcuts begitu fasih dan lancar bercerita tentang persinggungan antar karakter ketika menghadapi perbedaan sikap soal moral ini.
Menonton Shortcuts seperti masuk kekehidupan sehari-hari lengkap dengan interaksi antar tetangga serta gosip-gosip yang terjadi disekeliling. Kisah penemuan mayat oleh ke 3 pria itu –di Jindabyne ada 4 pria– menyusup masuk ke lingkungan dan kehidupan karakter-karakternya yang bergerak dinamis. Di Shortcuts ada si pembersih kolam, si penjaja sex by phone, tukang roti, penyanyi jazz, pilot, polisi, pelukis, dll.
Semua berinteraksi secara alami dan dituturkan dari berbagai sudut pandang setiap karakter. Altman jelas tidak canggung mempertemukan begitu banyak karakter dengan banyak subplot. Toh, tulang ceritanya jelas. Meski karakter-karakternya –kadang bahkan tidak saling mengenal– tidak menyadari, semua yang terjadi mengacu pada konsekuensi dari keputusan para pemancing –langsung atau tidak langsung–.
Nah, Jindabyne jelas jauh ketinggalan dari pencapaian Shortcuts. Ray Lawrence, sutradara Jindabyne serta Beatrix Christian si penulis skenario seperti kelabakan. Padahal karakter-karakternya tidaklah sebanyak Shortcuts. Lawrence juga berusaha menggerakkan banyak subplot namun akhirnya diam ditempat.
Jindabyne malah bergeser dari masalah moral yang sedang dihadapi oleh lingkungannya menjadi lebih fokus pada masalah rumah tangga Stewart dan istrinya Claire. Adalah hubungan Stewart dan Claire yang sedang renggang yang kemudian mengambil alih fokus cerita. Claire tidak bisa terima keputusan Stewart meninggalkan mayat itu. Apalagi, Stewart lah yang mengikat kaki si mayat. Claire makin gerah.
Tapi mau bagaimana lagi? Toh Stewart dan juga rekannya yang lain sudah mengaku salah. Nah disini, sang sutradara atau juga penulis skenarionya langsung menambah-nambahi masalah biar terlihat lebih rumit. Tapi masalahnya apa? Juga tidak jelas. Pokoknya si Claire pernah meninggalkan keluarga karena keadaan jiwanya yang tidak stabil. Seperti itu deh. Tapi kalaupun benar, so what? Karena alasan-alasan tidak jelas yang kemudian seperti jadi pembenaran sikap Claire itu yang menuntun Jindabyne hingga penghabisan.
Padahal sebetulnya, tanpa latar belakang cengeng –ya tidak stabil lah, hamil pengen menggugurkanlah, etc—itu Claire sudah punya alasan yang kuat. Wong suami dan ketiga temannya memang salah kok. Tapi begitulah, karena pendalaman karakternya yang lemah, Claire terlihat seperti cacing kepanasan. Saya bukannya simpati terhadap usahanya untuk mendamaikan suaminya dengan keluarga korban tapi malah ikutan sebal. Ini perempuan masalahnya apa sih?
Belum lagi karakter-karakter lain yang mungkin maksudnya akan dilibatkan dalam interaksi antar tokoh. Ada si gadis kecil bernama Caylin-Calandria yang sok misterius tapi akhirnya tidak berguna. Ada tokoh ibu Stewart yang tanpa dia pun, hasil akhir Jindabyne akan tetap sama. Untunglah ada Gabriel Byrne, pemeran Stewart yang sedikit bisa memberi bobot dan sesuai dengan kapasitasnya pada Jindabyne. Yang lainnya berakting mubazir, bagus tapi tidak pas.
Belum lagi musiknya yang bikin merinding. Saya akhirnya merasa tolol sendiri karena toh pada akhirnya tidak ada yang patut bikin merinding. Yang paling fatal adalah kecentilan para pembuatnya yang memasukkan unsur rasis. Diceritakan bahwa si gadis yang terbunuh ternyata adalah suku aborigin. Ceritanya, keempat pria Jindabyne ini dituduh rasis. Okelah. Tapi seperti yang saya bilang diatas tadi. Masalah Stewart-Claire terlalu mendominasi sehingga masalah rasis pun jadi ikutan basi.
Akurini
Director: Ray Lawrence
Screenplay: Beatrix Christian, based on “So Much Water So Close to Home” by Raymond Carver
Cast: Laura Linney, Gabriel Byrne Cinematography: David Williamson
Music: Paul Kelly, Dan Luscombe
Produksi : April Films 2006
