SICKO : Amerika Bukan Negeri Mimpi
AMERIKA BUKAN NEGERI MIMPI
Permainan kotor perusahaan asuransi. Kebobrokan layanan kesehatan. Sicko disanjung di Perancis.
Suatu hari di bulan Februari tahun lalu, Michael Moore memuat pengumuman di websitenya. « Send me your health care horror stories », begitu himbauannya. Hanya dalam hitungan jam, pesan itu bersambut. Ribuan kisah horor masuk ke kotak email pria tambun itu. Angkanya nyaris mencapai 15.000. Kisah pilu tentang layanan kesehatan serta perlakuan perusahaan asuransi di Amerika, dari kisah tak mengenakkan hingga kisah tak terbayangkan, bermunculan.
Faktor itulah yang membuat Sicko, film dokumenter terbaru Moore, jadi istimewa karena kaya akan fakta dan kaya dengan narasumber dari berbagai strata masyarakat. Sicko yang diputar perdana di Film Festival Cannes, minggu lalu itu adalah dokumenter tentang sistem layanan kesehatan di Amerika Serikat –yang sungguh mencengangkan. Sicko dimulai dengan kisah kisah singkat tentang kalangan kelas bawah di Amerika. Seorang tukang kayu yang terpaksa kehilangan dua ujung jarinya.
Ketika kecelakaan itu terjadi, si tukang kayu ditawari daftar harga agar jarinya bisa tersambung. Untuk menyambung jari manisnya, seharga US$12.000, sedangkan untuk jari tengahnya seharga US$60.000. Si tukang kayu memilih pasrah kehilangan dua ujung jarinya. Awalnya penonton dibuat maklum. Karena si tukang kayu ternyata tidak punya asuransi. Itu hanya satu kisah. Ada puluhan ribu kisah lainnya. Dan Michael Moore pintar memilih.
Dari kisah yang biasa-biasa saja seperti kisah tukang kayu itu hingga kisah tragis seorang perawat yang suaminya harus mendapatkan cangkok tulang sumsum. Mereka punya asuransi. Tapi ketika mereka mengajukan permohonan agar suaminya bisa mendapat kesempatan perawatan, permohonan itu ditolak. Sang suami tidak bisa bertahan lama, dan meninggal.
Selain para korban asuransi, Moore juga menghadirkan sejumlah kesaksian para pegawai asuransi. Mereka yang bertugas untuk melayani telpon, mereka yang bertugas untuk mencari celah agar permohonan asuransi pasien bisa ditolak, sampai mereka yang memutuskan menolak permohonan asuransi. Semua elemen dipertemukan, dari para korban hingga para pengambil keputusan.
Tak segan-segan, Moore menampilkan grafis tentang lobi-lobi tingkat tinggi yang dilakukan perusahaan asuransi untuk membeli para anggota dewan. Harga setiap anggota dicantumkan diatas kepala masing-masing, dan terakhir tentu saja harga Georges Bush. Belum lagi harga seorang Hillary Rodham Clinton. Salah seorang distributor Sicko, Harvey Weinstein yang juga adalah teman sekaligus penyokong keluarga Clinton sempat meminta untuk mengedit gambar Hillary tersebut.
Sicko mampu membuat orang tertawa geli diantara banyak kisah pilu dan mencengangkan itu. Harus diakui, Moore punya selera humor yang bagus. Sicko menghadirkan guyon-guyon nyelekit yang ironis. Meski dari segi teknis, Sicko sama dengan film-film moore yang lain, kamera bergerak kesana kemari mengikut narasumber, kadang juga menggunakan kamera tersembunyi, serta masih menampilkan Moore sebagai sang narator. Bedanya, kali ini Moore tidak lagi menguber-uber politisi. Ditambah lagi dengan perjalanan Moore ke berbagai negara, menemui masyarakat Amerika disetiap negara –Canada, Inggris, Perancis dan Kuba–.
Sicko mungkin bisa jadi bukti kalau Moore adalah aktivis yang cari sensasi. Membawa para penyelamat yang berjasa di Tragedi 9/11 ke Guantanamo hingga ke Kuba jadi terasa berlebihan. Ini memang tergantung dari sudut mana penonton melihatnya. Selain itu, harus diakui Sicko nyaris tidak menyisakan ruang ragu dibenak penonton bahwa Amerika Serikat bukanlah negeri surga seperti yang banyak diimpikan orang. Permainan kotor dalam sistem layanan kesehatan serta kisah-kisah dalam Sicko saling menjahit dengan rapat. Sicko membuat masyarakat Perancis bertepuk tangan paling keras ketika ditayangkan di Cannes karena dipuji sebagai negeri dengan sistem layanan kesehatan terbaik didunia. Tapi Sicko memang dokumenter yang pantas membuat gusar perusahaan asuransi dan –harusnya–membuat malu pemerintah Amerika Serikat.
(pernah di terbitkan di MBM Tempo. Ini adalah versi tanpa editing)
Rebellion: The Litvinenko Case; Dinamit Yang Disemai Diam-diam
FILM : Rebellion; The Litvinenko Case
SUTRADARA : Andrey Nekrasov dan Olga Konskaia
PRODUKSI : Dreamscanner, 2007, 113 menit.
DINAMIT YANG DISEMAI DIAM-DIAM
Lampu-lampu baru saja dipadamkan. Pertunjukan akan segera dimulai. Tapi seorang pria tiba-tiba muncul tepat didepan layar putih. Pria berambut keriting itu mulai dengan mengucapkan kata maaf. “Maaf, film ini baru saja selesai editing dan baru diprint kemarin. Jadi masih ada beberapa kesalahan teknis yang harus saya jelaskan lebih dulu,” kata pria itu, Andrey Nekrasov.
Film yang dimaksud, tak lain adalah film dokumenter terbarunya bekerjasama dengan Olga Konskaia, Rebellion: The Litivinenko Case.Sebetulnya, kesalahan teknis yang dimaksud Nekrasov bukanlah masalah besar, hanya masalah perbedaan bahasa. Terjadi sebuah kesalahan translasi, yang harusnya hanya ‘bombardé’ (mengebom) menjadi ‘bombardement’ (membombardir –biasanya dilakukan dari atas pesawat tempur–).
Mungkin bagi sebagian penonton, itu hanya kesalahan kecil, tapi bagi Nekrasov, translasi itu bisa jadi teramat fatal –cenderung melebih-lebihkan– kalau menyangkut akurasi peristiwa yang akan disaksikan dalam Rebellion. Rebellion memang memaparkan sebuah kasus penting dalam sejarah Rusia yang hingga saat inipun masih jadi bahan spekulasi.
Pada september 1999, terjadi rangkaian aksi pengeboman diberbagai wilayah Rusia –Moscow, Buynaksk, Volgodonsk dan Ryazan– dan membunuh hampir 300 korban hingga melegitimasi keputusan Vladimir Putin –kala itu masih menjadi Perdana Menteri Rusia– untuk mengobarkan Perang Chechen kedua.
Dalam salah satu sekuan di Rebellion, peristiwa itu diceritakan oleh Alexander Litvinenko –eks agen rahasia Rusia, KGB– yang mengatakan ‘pengeboman’ diberbagai wilayah yang kemudian ditranslasi menjadi ‘bombardement’ yang harusnya hanya ‘bombardé’. Bagi Nekrasov, itu fatal karena bisa jadi kesalahan kecil itu bisa jadi justru yang akan digunakan oleh pihak ‘tertuduh’ menyerangnya dikemudian hari.
Maklum, Rebellion: The Litvinenko Case memang dokumenter ‘panas’. Ada sejumlah tokoh yang sudah tewas memberikan kesaksian di film ini. Termasuk wartawan wanita Anna Politskovskaya. Begitu hati-hatinya sutradara kelahiran Leningrad pada 1958 itu ketika memutar film ini pertama kali di Cannes.
“Di Cannes, atau diluar Rusia, film ini mungkin hanya akan diposisikan sama dengan film-film lain, ditonton, dinikmati, kemudian diperbincangkan jika bagus dan dilupakan jika jelak. Tapi di Rusia, film ini adalah ladang bom”, kata Nekrosov kepada wartawan di Terasse Du Suquet, usai pemutaran Rebellion.
Di Cannes, selain hadir bersama kolaboratornya, Olga Konskaia, Nekrasov juga membawa janda mendiang Litvinenko, Marina. Marina terlihat tegar meski tak kuasa menahan haru ketika selesai menonton film itu. “Saya juga baru pertama kali ini menontonnya,” kata Marina yang juga muncul di Rebellion.
Meski lega Rebellion akhirnya selesai, Nekrasov patut waspada. Faktanya sejumlah orang yang memberikan kesaksian di Rebellion, tewas tak berbekas alias tanpa penjelasan apalagi pertanggung jawaban. Rebellion: The Litvinenko Case memang sebuah dinamit yang disemai diam-diam. Seperti sebuah firasat, pengambilan stok gambar Alexander Litvinenko, sang tokoh utama, sudah dimulai sejak tahun 2004.
Film dokumenter ini adalah kisah Litvinenko eks agen KGB yang diracun dengan radioaktif Polonium 210 dan menjadi berita paling panas akhir tahun lalu. Kasusnya bahkan hingga saat ini masih berjalan dimana mulai banyak tertuduh yang diajukan. Rebellion dibuka dengan sebuah adegan dari balik jendela. Alexander Litvinenko nampak berbicara dengan seseorang –yang tak lain adalah Andrey Nekrasov, sutradara Rebellion– .
Adegan ini dipersiapkan sejak lama dan memang direncanakan untuk jadi pembuka kalau-kalau film ini harus dibuat. Film ini akhirnya harus diciptakan dan itu terbukti dengan pesan yang menyertai adegan pembuka dari balik jendela itu; “Jika terjadi sesuatu padaku, tunjukkan video ini keseluruh dunia”.
Setelah adegan pembuka itu, Rebellion mulai berkisah dari tutur personal Nekrasov. Mengapa ia sampai dekat dengan Nekrasov dan bahkan menyimpan sejumlah video-video yang masuk kategori ‘high confidential’. Lalu setelah itu, Rebellion dilengkapi dengan sejumlah wawancara antara Andrey Nekrasov dan mendiang Litvinenko kala masih segar bugar hingga wafatnya pada 23 November tahun lalu.
Dari Rebellion, penonton bisa memahami mengapa Nekrasov jadi begitu gusar dengan kematian Litvinenko. “Saya menemuinya dari saat ia masih segar bugar hingga ia jadi seperti tengkorak,” kata Nekrasov. Nekrasov bertemu Litvinenko ketika sedang mengumpulkan bahan untuk film dokumenternya Disbelief –tentang pengeboman di sejumlah apartemen di Moscow tahun 1999– yang dirilis tahun 2004 lalu.
Sejak saat itu, Nekrasov mulai merekam setiap wawancara dan sejumlah pertemuan dengan Litvinenko di London. Mereka menjadi sangat akrab karena proyek Disbelief. Saking akrabnya, hingga Litvinenko kemudian mulai menceritakan sejumlah rahasia penting kepada Nekrasov.
Tentu saja yang paling sensitif dari Rebellion adalah tudingan Litvinenko bahwa Presiden Putin lah yang memerintahkan untuk membunuhnya. Tudingan itu diikuti dengan berbagai kesaksian yang mulai mengungkap satu persatu kebusukan pemerintahan Putin, termasuk akal bulusnya untuk kembali mengobarkan Perang Chechnya kedua.
Menurut Litvinenko, rangkaian pengeboman September 1999 diberbagai wilayah Rusia itu hanyalah bagian dari akal bulus Putin. “Dia dan agen rahasia FSB lah yang mendalangi,” tuduh Litvinenko. Ini juga salah satu alasan mengapa Litvinenko kemudian meminta suaka ke Inggris.
Dokumenter ini juga terdiri dari banyak interview, dan arsip arsip visual yang masuk kategori rahasia tingkat tinggi dan belum pernah dimunculkan sebelumnya. Terdapat video pengakuan empat eks agen KGB termasuk Litvinenko terhadap korupsi dan manipulasi dalam badan KGB. Juga sebuah video yang terang-terangan berisi obrolan tentang cara badan intelijen itu bekerja menghilangkan orang. Termasuk melenyapkan wartawan Anna Politkovskaya yang sempat beberapakali tampil dalam wawancara dengan Nekrasov.
Nekrasov juga banyak menyodorkan sejumlah stok gambar tentang Politskovskaya saat mendiang wartawan wanita itu masih sibuk melakukan investigasi terhadap sejumlah kasus di Rusia. Politskovskaya kemudian ditembak mati didepan apartemennya pada 7 Oktober 2006 lalu.
Toh Rebellion tidak melulu berisi kisah suram tentang permainan kotor politik. Ada sedikit sisipan humor juga dihadirkan. Antara lain sebuah video bagaimana Presiden Perancis Jacques Chirac pernah memberikan sebuah medali khusus kepada Vladimir Putin pada acara seremoni rahasia. Video ini jadi bahan ‘bercanda’ oleh TV perancis. Soalnya, seremoni itu harusnya tertutup untuk pers.
Presiden Chirac mewanti-wanti atase persnya untuk tidak mendokumentasikan seremoni itu. Tidak boleh ada kamera, tidak boleh ada fotografer. Tapi ternyata, Presiden Putin sendiri ingin seremoni itu direkam untuk ‘kenang-kenangan’. Bagaimana video itu akhirnya bocor ke televisi, tidak ada yang tahu.
Yang pasti, Nekrasov berhasil mendapatkan rekaman peristiwa itu berikut berita yang ditayangkan di TV. Berkali-kali Putin juga tampil di Rebellion. Nekrasov seperti ingin bilang, Putin ‘sang tertuduh’ pun punya ruang untuk pembelaan. “Sungguh disayangkan jika kematiannya yang tragis dijadikan provokasi politik,” kata Putin di Rebellion.
Meski sejak awal Nekrasov sudah punya firasat akan membuat film ini suatu hari nanti, toh Nekrasov butuh waktu sekitar 6 bulan –dari kematian Litvinenko pada 23 November 2006, hingga Mei 2007– menyatukan semua dokumen dan arsip arsip gambar dan merekonstruksinya jadi cerita utuh dalam Rebellion.
Nekrasov memang berniat agar film ini bisa diputar di festival Film Cannes yang ke 60 untuk pertama kali. “Sesuai pesan Sasha –panggilan akrab Litvinenko–, saya ingin agar film ini bisa disaksikan oleh seluruh dunia, dan Cannes adalah awal yang sangat strategis,” kata Nekrasov.
Meski Nekrasov sudah siap, toh didetik terakhir ia masih keteteran juga. Sampai Festival Film Cannes dimulai, ia masih sibuk di studio editing. Bermalam-malam ia tak tidur. Tapi tekadnya bulat, “Pokoknya film ini harus diputar di Cannes,” kata Nekrasov yang terlihat lega pada saat menemui jurnalis di Terrase du Suquet, Palais Du Cinema.
Rebellion selesai editing di Jerman pada Jumat 25 Mei –dua hari sebelum penutupan festival itu–. Nekrasov sendiri yang menenteng kaleng film itu di pesawat menuju Cannes. Esok paginya, jam 9 pagi, Rebellion diputar juga. Saking tergesa dan juga gelisah takut salah, Andrey Nekrasov merasa perlu untuk datang ke gedung teater dan mengumumkan sejumlah kesalahan teknis.
Rebellion –yang merupakan dokumenter kedua Nekrasov setelah Disbelief– tidak kalah meyakinkannya dengan Sicko dalam mengungkap fakta. Arsip-arsip yang dikumpulkan oleh Nekrasov serta upayanya untuk memburu narasumber-narasumber penting juga bisa menyamai kegigihan Michael Moore dalam membuat Sicko. Nekrasov juga bertindak sebagai narator, tampil didepan kamera sesuai yang diucapkannya di lima menit pertama Rebellion, “Film ini adalah testimoni saya”.
Meski sama-sama melakukan pendekatan personal terhadap film-film dokumenter, Nekrasov tidak segegap gempita Michael Moore dalam membuat Rebellion. Nekrasov tidak sengaja menyimpan kejutan-kejutan atau sensasi seperti yang dilakukan Moore, atau berakting seperti Moore yang kadang terlihat blo’on agar terlihat lucu.
Kurangnya humor juga yang membuat Rebellion sempat renggang dipertengahan. Begitu banyak fakta suram, testimoni menyedihkan dan gambar-gambar tak mengenakkan, sehingga membuat Rebellion menjadi dokumenter yang sedih, sarat dan berat karena nyaris tanpa humor.
Tapi itulah Nekrasov yang lahir dan besar di Rusia, negeri yang sejak dulu punya sejarah suram itu. Tentu saja, Nekrasov berbeda dengan Michael Moore yang lahir dan besar di Amerika, negeri impian banyak orang itu.
Jika Michael Moore banyak bermain-main dan menertawakan ketidakadilan, Nekrasov memilih untuk banyak merenung. Sampai ketika Litvinenko dimandikan di Mesjid London Central –Litvinenko memilih masuk Islam sejak mendekam di rumah sakit– hingga pada upacara pembacaan Al-Quran di pekuburan Highgate Cemetary, bagian utara London.
Nekrasov banyak menunduk, seperti sedang mengumpulkan tekad, Litvinenko tidak akan mati sia-sia. ”Membuat film ini adalah personal katarsis buat saya, cara saya menghadapi kematian seorang teman, yang tewas mengenaskan didepan mata saya,” kata Nekrasov.
AKU
diterbitkan di majalah TEMPO edisi 28/XXXVI/03 – 9 September 2007 dan juga di http://www.rumahfilm.org/

1 comment