Diary Of A Moviegoers

CERITA DARI KELAS PAK FRANÇOIS

Posted in Cannes 2008, Cannes Film Festival, Reviews by akurini on November 22, 2008

large_2980581

film: Entre Les Murs

Director: Laurent Cantet

Screenplay: Laurent Cantet, Francois Begaudeau. Based on the novel “Entre les murs” by Begaudeau

Logan Persall Smith, orang Amerika, penulis essai itu, pernah menulis begini: Jangan menertawakan sikap sok aksi (yang dibuat-buat) oleh remaja; Mereka hanya sedang mencoba berbagai macam wajah untuk menemukan wajah mereka sendiri.   

Saya kemudian teringat kembali dengan kata-kata Pak Smith itu usai menonton film Entre Les Murs (Between The Walls) a.k.a The Class, karya sutradara Perancis, Laurent Cantet yang diangkat dari novel berjudul sama karya Francois Begaudeau. 

The Class tidak menawarkan banyak gejolak kecuali hal-hal biasa yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari para pelajar. Berantem, bertengkar, berteman, bergaul, dan sebagainya. Tentu saja tak lupa dilengkapi dengan sikap pretensius antara guru dan murid. Guru yang menganggap muridnya sok pintar, dan murid yang mengganggap gurunya sok tahu.  

Dalam tataran ini, wejangan Pak Smith tentu saja tidak mempan. Saya jelas tidak  bisa menahan tawa melihat sok aksi para murid sekolah di salah satu wilayah Paris itu. Apalagi saat menghadapi guru mereka yang ganteng itu, dan membuat guru bahasa Perancis mereka tak berkutik menghadapi pertanyaan beruntun bertubi-tubi ala Socrates. Dunia sekolah itu jadi terasa nyata.     

Ada Pak guru Francois Marin yang diperankan sendiri oleh penulis novelnya, Francois Begaudeau.  Pak François ini adalah guru bahasa Perancis yang sangat tipikal orang Perancis. Terlihat bersahabat tapi kadang memandang remeh orang lain. Ia ternganga saat tahu salah seorang muridnya membaca The Republic-nya Plato dan menganggap Anne Frank’s Diary pilihan Pak François sungguh membosankan.  

Lalu ada juga gambaran klise dan stereotipe anak pintar dan tertib yang selalu diberikan kepada anak Cina,  yang pastinya terdengar aneh ketika mencoba berbahasa Perancis karena tidak bisa bilang R dengan tegas. Kemudian Esmeralda, anak Maroko yang selalu menyela dan bikin gerah Pak François. Dalam daftar kelas itu juga ada Khoumba, asal Afrika yang suka membantah. Ada Sulaiman dari Mali yang selalu acuh tak acuh. Dan banyak lagi karakter kulit berwarna lainnya yang melengkapi kehidupan penuh warna di kelas Pak François ini.  

Selebihnya, nyaris tidak ada lagi yang menarik dalam kelas Pak François sehari-harinya. Perbedaan ras –The Class berlokasi di 20th Arrondissement yang terkenal sebagai wilayah imigran– yang sepertinya akan jadi bumbu utama ternyata hanya pancingan yang kemudian tidak lagi terlalu penting.  The Class juga menampilkan stereotipe yang umum –setidaknya dalam pandangan masyarakat Eropa–: bahwa imigran itu sulit, bahwa orang Cina itu pintar dan tertib, bahwa orang  berkulit hitam itu pembangkang, dan lain-lain.   

Komposisi dalam kelas yang didominasi imigran, cara berpakaian dan sikap slebor yang ditunjukkan mereka, yang jelas tidak akan kita temui dalam sekolah borjuis Perancis yang pada umumnya necis, semuanya menampilkan stereotipe klise atau lebih tepatnya real.

 

Sampai pertengahan film yang berdurasi 129 menit, The Class seperti mengalir tanpa arah dan seperti asyik menampilkan hal-hal klise. Ia hanya berurusan dengan hal-hal kecil tentang pilihan bacaan, tata bahasa Perancis, pertengkaran kecil-kecil, dan sebagainya, yang membuat The Class riuh dengan dialog lucu yang kadang konyol kadang cerdas. 

Karakter-karakter dalam The Class juga seperti lepas bebas sehingga nyaris tak ada kesan mereka sedang membentuk sebuah pola.  Toh diantara kehidupan dalam sekolah yang seringkali membosankan itu, selalu ada hal-hal lainya. Dan inilah yang dibentuk oleh para murid-murid Pak François.   

Sampai ketika ada ‘konflik’ –bukan seperti ‘konflik’ dalam pengertian kamus Hollywood–, masing-masing dari kita, baik itu semua karakter dalam film maupun saya sebagai penonton, tiba-tiba merasakan empati sekaligus simpati terhadap mereka semua. 

Kita bisa menyalahkan sekaligus merasakan posisi sulit Pak François dan disaat yang sama juga ingin bersatu padu dengan para murid yang menentang kebijakan manajemen sekolah terhadap teman mereka. Disaat seperti ini, hal-hal ’stereotype’ yang jadi pondasi awal The Class berubah wujud menjadi sesuatu yang lain.  

Laurent Cantet bersama Francois Begaudeau berhasil menjahit nuansa ketegangan dan keberagaman ras dari perca-perca ‘klise’ yang mereka gelar sejak awal. Cantet juga memberi ruang seluas-luasnya bagi setiap aktor-artisnya untuk berimprovisasi mengembangkan karakter masing-masing –yang stereotype– sehingga The Class jadi terasa penuh dan hidup. 

The Class akhirnya tidak hanya bicara tentang remaja yang sedang mencoba menemukan wajahnya sendiri, ia juga bicara tentang sistem pendidikan, tentang komunitas multikultur, tentang dialog antar remaja dan orang dewasa, tentang susahnya menjadi pengajar, dan terutama, asyiknya menjadi remaja yang sedang dalam proses memahami banyak hal.  

Seperti Pak François yang akhirnya sadar bahwa wejangan Pak Smith agar tidak menertawai sikap sok aksi para remaja itu ada benarnya. Lihatlah  bagaimana mereka bertengkar tapi kemudian saling membela saat dibutuhkan. Lihatlah bagaimana mereka jadi penerjemah antara ibu dan guru-gurunya. Masalah ras akhirnya jadi terlihat remeh walaupun tidak bisa diabaikan.   

Meskipun Laurent Cantet mengatakan bahwa The Class adalah sebuah molekul kecil dalam sebuah bangsa bernama Perancis yang dilihat dengan kaca pembesar, tapi toh ia juga bicara hal-hal universal, secara halus dan berlapis, tanpa perlu keluar dari pagar sekolah.***