Diary Of A Moviegoers

Day 12 : Cannes, Krisis, Kisah Tentang Raoul dan Pemenangnya adalah…

Posted in Cannes 2009, Cannes Film Festival, Festivals, News, Notes, Serba-Serbi by akurini on May 24, 2009

Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62 

Sebetulnya pengin mengunjungi warung Indonesia di Market. Ternyata isinya sudah kosong. Saya terlambat. Tapi Lalu (Roisamri-red) bilang, nggak ada perubahan. “Orangnya itu-itu juga. Isinya juga nggak banyak berubah. Nggak pentinglah loe ke sana”. Baiklah. Saya menurut kata Lalu saja.

Kemarin Visage (Face) karya terbaru Tsai Ming Liang jadi film terakhir yang diputar dari seksi kompetisi. Tidak banyak mendapat sambutan. Saya pikir karena Tsai Ming Liang terlalu memaksa diri untuk ikut selera Perancis yang banyak membiayai film ini. Aktor-artisnya pun didominasi aktor artis Perancis.

visage

Mungkin saya harus menontonnya sekali lagi untuk bisa menangkap apa maunya Tsai Ming Liang. Film berdurasi 2 jam 18 menit ini bikin merana karena mata dan pikiran dipaksa mencerna terlalu lama. Untunglah sinematografi dan desain artistiknya keren sekali jadi saya tidak tergoda untuk tertidur.

Setelah Visage, tak ada lagi film yang perlu saya tonton. Jadi hari ini, saya menghabiskan waktu berjalan-jalan di kota Cannes di luar wilayah Palais Du Festival sambil memotret. Tapi dasarnya Cannes ini memang kota kiblatnya sinema dunia, setiap sudutnya pasti ada saja hal-hal yang berhubungan dengan film.

Mulai dari pemberhentian bus yang dihiasi dengan pernak pernik kursi sutradara dan poster bintang-bintang, dinding yang tidak dibiarkan melompong dan penuh dengan referensi film-film ternama seperti The Kid, Titanic hingga Mickey Mouse. Lalu diparkiran dekat stasiun kereta ada lukisan raksasa Lumiere bersaudara lengkap dengan ‘footage’ film mereka.

Cannes1

Setelah saya perhatikan, ternyata ada juga ‘wall of fame’ ala Cannes yang terdapat di taman di ujung Croisette persis di samping Palais. Sayangnya tradisi ini tidak teratur sehingga bintang-bintang dan sutradara yang punya cap tangan juga terbatas. Ada Sharon Stone, Tim Robins, Ken loach, Youssef Chahine, dll.

Ken Loach print

Saat sedang makan es krim semangkok gede, tiba-tiba saya bertemu kawan lama yang tahun lalu sering bareng antri dan menulis di ruang Wifi lantai 3. Kawan jurnalis Belgia yang sudah mengunjungi Cannes selama 30 tahun ini tentu tahu banyak tentang Cannes. Maklum, ia hadir di Cannes mulai dari kartu pers yang masih ditulis tangan hingga format digital sampai sekarang. Ia mulai datang ke Cannes dengan rambut gondrong ala generasi Woodstock hingga rambut nyaris botak dengan kumis nyaris putih semua.

Dari beliau inilah saya mendengar cerita tentang ‘Legenda Raoul’ yang terkenal sudah jadi semacam hymne-nya masyarakat perfilman Cannes dan bahkan sudah meluas hingga ke negeri-negeri tetangga. Kalau Anda berkesempatan menonton film di Cannes, lalu tiba-tiba ada yang berteriak ‘Raoulllllllll…’ setiap kali film akan dimulai, nah itulah hymne yang biasanya otomatis akan disahuti oleh yang lain.

Ternyata, once upon a time, puluhan tahun lalu, di Palais Du Cinema yang tua, adalah seorang jurnalis yang menunggu teman dan menyediakan sebuah kursi kosong untuk teman tersebut. Tapi hingga film akan dimulai dan lampu dimatikan, si teman itu tak kunjung datang. Dengan setengah putus asa, si jurnalis ini pun berteriang ditengah kegelapan, “Raaaaouuuulllll….Raaaaaooouulllll !!!”. Lalu tanpa komando dan aba-aba, tiba-tiba hampir semua orang dalam teater itupun ikut berteriak “Raaaaooooulllll…”. Dan nama Raoul pun tetap diteriakkan hingga saat ini, setiap kali film akan dimulai dan lampu dimatikan. “Raaaaaoooouulllllll…..!!!

Saat kembali ke Palais Du Cinema, tak sengaja menyimak wawancara Thierry Fremaux di TV resmi festival Film Cannes. Dengan sopan ia bilang, krisis finansial global tidak secara langsung  menjangkit di Festival ini.”Kami sadar bahwa krisis itu ada di luar sana. Dan untunglah tidak berdampak langsung pada berlangsungnya Festival Cannes”, katanya. Pantas saja fasilitas yang didapat oleh masyarakat perfilman Cannes tidak berubah bahkan bertambah keren dengan backpack gratisnya –kecuali tentu saja kopi tak enak yang katanya kopi yang ditolak dipasaran itu–.

Posisi Festival Film Cannes sebagai kiblat dunia film memang tak tergoyahkan oleh apapun.

Dan Palme D’Or pun jatuh ke tangan Michael Haneke untuk film The White Ribbon. Syukur Alhamdulillah.

Saatnya untuk mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal kepada para staff di ruang pers, bapak-bapak, ibu-ibu dan mbak-mbak penjaga pintu. Merci. Au revoir, et A L’annee prochaine. Selamat tinggal dan sampai jumpa tahun depan.***

 Michale Hanneke usai menerima palme d'or

Daftar Lengkap Pemenang Festival Film Cannes ke 62:

Palme D’Or  :  Das Weisse Band (The White Ribbon) –by Michael Haneke

Grand Prix : Un Prophete (A Prophet) –by Jacques Audiard

Lifetime Achievement Award For His Work and his exceptional Contribution to the history of Cinema : Alain Resnais

Best Director : Brillante Mendoza for film Kinatay

Jury Price : Fish Tank by Andrea Arnold and Bak Jwi (Thirst) by Park Chan Wook

Best Actor : Christoph Waltz (in the film Inglorious Basterds by Quentin Tarantino)

Best actress : Charlotte Gainsbourg (in the film Antichrist by Lars Von Trier)

Best Screenplay : Mei Feng (for the film Spring Fever by Lou Ye)

 

SHORT FILMS

Palme D’Or : Arena by Joao Salaviza

Special Mention : The Six Dollar Fifty Man by Mark Albiston and Louis Sutherland

 

UN CERTAIN REGARD

Prix Un Certain Regards : Kynodontas (Dogtooth) by Yorgos Lanthimos

Jury Price : Politist, Adjectiv by Corneliu Porumboiu

Special Price Un certain Regard : Kasi Az Gorbehaye Irani Khabar Nadareh (No One Knows About Persian Cats) by Bahman Ghobadi and Le Pere De Mes Enfants (Father Of My Children) by Mia Hansen-Love

 

Camera D’Or

Samson and Delilah  by Warwick Thornton

Camera D’Or Special Mention

Ajami by Scandar Copti and Yaron Shani

 

FIPRESCI Awards

For The Competition : Das Weisse Band (The White Ribbon) by Michael Hanneke

For Un Certain Regard : Politist, Adjectiv by Corneliu Porumboiu

For Director’s Fortnight : Amreeka by Cherien Dabis

Day 9 to 10 : Enak –tidak enak–nya Jadi Ibu Hamil dan Mandi darah di Cannes

Posted in Cannes 2009, Cannes Film Festival, Festivals, News, Notes, Serba-Serbi by akurini on May 23, 2009

Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62 

Festival de cannes

Sejak peristiwa Antichrist, saya bertingkah sok kesal. Saya bilang sok kesal, karena memang ngambeknya cuma setengah hati. Semua orang yang saya ceritakan persoalan ‘COMPLETE FULL’ itu –dan saya tidak segan segan bercerita kepada siapa saja yang mau mendengarkan, karena gara-gara antri kelamaan kaki saya bengkak kayak kaki badak–, semuanya mewanti-wanti saya untuk tidak menonton. (Sudah saya ceritakan sebabnya di catatan sebelumnya).

Nah, gara-gara sibuk ngomel inilah saya lantas mendapat pencerahan dari seorang kawan –karena keseringan antri bareng kami jadi berkawan– jurnalis asal Rusia. Dia mendapat info kalau sebetulnya orang-orang dengan kondisi tertentu bisa mendapat pengecualian dan kemudahan. Kondisi tertentu ini berlaku bagi mereka yang punya kesulitan mengantri karena –antara lain–  cacat bawaan, cacat karena kecelakaan sehingga, mereka yang berusia lanjut, dan ibu hamil. Mereka dengan kondisi tertentu ini –tak peduli warna kartu–  tak perlu mengantri dan disediakan pintu khusus persis disamping teater.

Saya nyaris tidak percaya ada pengecualian seperti itu di Cannes. Perancis gitu loh !!!. Tapi saya tergoda untuk mencoba juga. Dan berhasil… !!! whoahhhh serasa melayang diudara. Saya nyaris menangis karena terharu. Apalagi ketika diijinkan masuk teater lebih dulu sebelum para kartu putih. Bahkan dengan senyum super ramah, para penjaga pintu dan penjaga didalam teater mempersilahkan saya duduk dimana saja saya mau. Akhirnya saya jadi ngelunjak.

Boleh duduk ditempat paling tinggi?. Boleh !. Boleh duduk di barisan paling luar?. Oh boleh ! Boleh bawa minuman? Oh tentu saja boleh. Boleh ngemil? Silahkan !. Bahkan di Salle du Soixantieme, teater tambahan non permanen di salah satu teras Palais, saya disediakan tempat duduk sambil menunggu pintu dibuka. Whoahhhh  uenaaakk tenan! Kenapa tidak dari hari pertama ya saya tahu soal info ini. Aihhh kalau begini caranya, saya jadi ingin hamil lagi untuk Cannes tahun depan…hehehe.

Sejak itu, saya tidak perlu mengantri lagi. Cukup datang ke pintu khusus itu. Langsung masuk dan duduk ongkang-ongkang kaki sambil menunggu mereka yang baru dipersilahkan masuk. Tapi saya malah jadi kangen dengan teman-teman mengantri saya. Karena dengan mengantri, banyaak informasi dan cerita-cerita menarik beredar dan bisa jadi inspirasi bahan tulisan. Hmmmm…manusia memang tidak pernah puas!

Selain Antichrist, hari ini saya mendapat peringatan lagi untuk tidak menonton film Drag Me To Hell karya Sam Raimi.

Jadi hari ini saya hanya menonton A L’Origine (In The Beginning) karya Xavier Giannoli di seksi kompetisi. Saya sih suka film ini, tapi belum bisa menjelaskan kenapa.  Kalau menurut teori, film yang bagus adalah film yang bisa bercerita dengan baik dan mulus ditunjang berbagai factor –akting yang baik, dialog yang mengalir, dan pesan yang ingin disampaikan bisa dimengerti–. Nah, film ini memenuhi semuanya.

A L'origine

Kemudian lanjut menonton film Karaoke karya Chris Chong dari Malaysia di Director’s Fortnight. Katanya, ini film Malaysia pertama yang masuk program ini sepanjang sejarah berdirinya. Dan rasanya saya harus menonton film ini lagi sebelum memberikan komentar.

Setelah Karaoke, saya lanjut menonton The Time That Remains karya Elia Suleiman. Banyak momen bagus. Tapi otak saya sudah mampet dan nyaris tak mampu lagi mencerna film yang saya tonton.

The Time That Remains

Apalagi usai menonton filmnya Gaspar Noe, Enter The Void di seksi kompetisi. Seperti juga Irreversible film Noe sebelumnya, Enter The Void banyak bermain-main dengan angle kamera plus kamera yang melayang-layang diudara. Penuh adegan seks dan tubuh-tubuh berdarah pula. Tapi yang paling bikin saya pusing adalah adegan aborsi yang dishoot dengan detail, lengkap dengan janin yang dibiarkan tergeletak diatas nampan rumah sakit. Adegan ini bahkan lebih seram dari adegan di 3 Months, 3 Weeks and 2 Days-nya Cristian Mungiu.

enter the void

Sayangnya, saya termasuk gelombang pertama yang menonton film ini mengingat saya mendapat kemudahan –karena hamil—untuk selalu didahulukan. Film ini diputar pertama kali untuk pers dalam jumlah terbatas di teater yang lebih kecil sehingga kapasitas penontonnya juga terbatas. Jadilah saya tidak mendapat peringatan terlebih dahulu dari kawan-kawan yang biasanya rajin memberi info.

Dan situasi makin parah saat saya mencoba menonton The Silent Army karya Jean Van De Velde di Un Certain Regard. Film yang mengingatkan saya dengan adegan-adegan kekerasan di The Last King of Scotland ini sebetulnya sudah banyak dibuat. Berkisah tentang anak-anak yang dipaksa bergabung dengan tentara di negeri-negeri berkonflik di Afrika.  Sayang saya lupa judul-judulnya.

The Silent Army

Di 10 menit pertama, The Silent Army sudah menunjukkan adegan seorang anak yang dipaksa memotong leher ayahnya sendiri.  Lalu beruntun adegan parang-parangan, sehingga saya terpaksa keluar ruangan. Saya sudah cukup mual melihat darah dan manusia terpotong, mulai dari Thirst, A Prophet, Kinatay, Mother, Vengeance, Tsar, Enter The Void, hingga The Silent Army ini. Untungnya saya tidak menonton Antichrist dan Drag Me To Hell. Belum terhitung film Quentin Tarantino yang terkenal hobby bermain darah.

Mengingat para jury tahun ini didominasi perempuan, saya jadi penasaran apa yang mereka diskusikan tentang adegan-adegan sadis berlumur-lumur darah ini. Rasanya, inilah tahun yang paling banyak menghadirkan adegan potong memotong dan paling banyak menghabiskan darah di Cannes. Maka karpet merah pun makin merah.***