Persembahan Resnais Untuk Komik
I WANT TO GO HOME:
Peringatan: Film ini wajib ditonton oleh para komikus, pengamat dan penikmat komik! Karena Alain Resnais mendedikasikan film ini untuk mereka. Untuk ini, Resnais mengajak Jules Feiffer sebagai penulis skenario. Feiffer adalah penerima Pulitzer pada 1986 untuk dedikasinya terhadap halaman komik di majalah The Village Voice selama kurang lebih 42 tahun. Feiffer juga pernah mendapat Oscar untuk film pendek animasinya, Munro ditahun 1961.
Kolaborasi Resnais – Feiffer ini kemudian menghasilkan I Want To Go Home, sebuah komedi campuran Perancis-Amerika yang nyeleneh. Kehadiran Feiffer jelas memberikan sentuhan berbeda dari karya-karya Resnais yang lain, yang identik dengan tema dan struktur yang ‘agak berat’. I Want To Go Home begitu ringan dan mengalir lancar dengan struktur yang tidak neko-neko.
Elsie (Laura Benson) seorang gadis asal Cleveland, Amerika, yang tergila-gila dengan segala hal tentang Perancis terutama dengan para sastrawannya, Jean Racine, Moliére, Corneille dan tentu saja Flaubert. Ia nekat meninggalkan Cleveland menuju Paris demi menjadi bagian dari lingkungan budaya Perancis. Sekaligus juga untuk menjauh dari ayahnya, Joey Wellmann yang kebetulan adalah komikus ternama di Amerika. Bagi Elsie, profesi terhormat adalah sastrawan, karena itu ia tidak pernah bisa bangga dengan profesi ayahnya sebagai komikus. Jauh dialam bawah sadarnya, Elsie malu punya ayah yang ‘cuma’ seorang komikus.
Disisi lain, Joey Wellmann (Adolph Green) sudah mati langkah dan nyaris menyerah terhadap lingkungan komikus di Amerika. Namanya mulai tenggelam ditengah berjamurnya komik super hero di Amerika. Tapi di Perancis, Wellmann tetap punya penggemar setia. Seorang professor playboy, Christian Gauthier (Gérard Depardieu) yang menganggap Wellmann adalah komikus jenius dengan karya-karyanya yang orisinil. Berbeda dengan Elsie, Gauthier tergila-gila dengan segala hal tentang Amerika.
Sepanjang film, disana-sini muncul karakter-karakter komik garapan Feiffer. Melalui jalur komik, I Want To Go Home menceritakan banyak sisi tentang perbedaan persepsi.. Ada bentrokan budaya Perancis – Amerika Di film ini, Resnais sedang ingin mengkritisi budaya Perancis yang terkenal ‘rude’ sekaligus menyentil sikap orang-orang Amerika yang selalu merasa ‘penting’ dan menganggap semua orang bisa berbahasa Amerika.
Seperti ketika Wellmann memutuskan untuk menerima undangan pameran di Paris sekaligus mengunjungi Elsie. Wellmann kesal bukan main karena tak seorang pun bisa berbahasa Inggris. Ia terus mengomel kepada kekasihnya, Lena, dan terus mengancam ingin pulang saja. Belum lagi sikap orang Perancis –mulai dari supir taksi hingga penyelenggara acara—yang tidak punya kata ramah-tamah dalam kamus mereka. Orang Amerika yang selalu disambut ramah dimana-mana tentu langsung shock.
Resnais sendiri menganalogikan bentrokan budaya Perancis – Amerika ini seperti minyak dan cuka. ‘Ketika dicampur dan diaduk, minyak dan cuka nampak berbaur, tapi ketika didiamkan beberapa waktu, akan terlihat perbedaan yang sangat jelas’. Analogi ini sangat pas menggambarkan apa yang terjadi di I Want To Go Home.
Belum lagi sikap norak Wellmann ketika melihat sekelompok pria Arab dengan jubah panjang sedang asyik ngobrol. Wellmann langsung berteriak-teriak panik dan norak, ‘ada teroris, ada teroris…. Toloooongggg !’. Amerika banget ! (Harap dicatat, film ini dibuat jauh sebelum tragedi 9/11). Banyak kejadian-kejadian menggelikan yang mengundang tawa di I Want To Go Home. Ciri-ciri khas orang Perancis dan Amerika banyak bertebaran di 101 menit durasi film ini.
Tapi yang paling penting, Resnais juga mengungkap sebuah fenomena perbedaan persepsi yang cukup tajam dalam memandang komik sebagai karya seni (setidaknya di era 80an ketika film ini dibuat). Di Eropa khususnya Perancis, komik diperlakukan sebagai ‘major art’, sedangkan di Amerika, komik dianggap ‘minor art’. Persepsi ini rupanya sangat mengganggu Resnais sebagai penggemar berat komik-komik Amerika macam Popeye, Bugs Bunny, atau Tarzan.
Lewat tokoh Elsie yang ‘malu’ punya bapak komikus, dan lewat tokoh Gauthier yang memuja para komikus, Resnais ingin bilang bahwa komik sama pentingnya dengan karya sastra atau karya seni lainnya. “If you define art as something which is need a lot of decision to be made, then you can’t say that comic is less important,” kata Resnais dalam salah satu wawancara disebuah media.
Bagi Resnais, membuat komik sama rumitnya dengan membuat film. Karena itu membaca komik pun butuh perhatian sama seperti ketika menonton film. Bagi Resnais, karya seni dalam bentuk apapun –dari komik hingga film— hanya ada dua kategori penting, ‘either is alive or is dead!’.
Di I Want To Go Home, Resnais mencoba membuat penontonnya berpikir bahwa komik sama berharganya dengan karya Faubert. Resnais banyak menghadirkan sentilan-sentilan terhadap persepsi komik ini. Sentilan itu dihadirkan lewat sebuah konflik. Alkisah, Elsie memuja Gauthier karena buku yang ditulisnya tentang Flaubert. Sementara Elsie tidak tahu bahwa Gauthier adalah penggemar berat Wellmann (ayah Elsie).
Meski agak sinis terhadap budaya Perancis-Amerika dan ingin mengedepankan peranan komik dalam masyarakat, I Want To Go Home tetap seimbang memperlakukan tokoh-tokohnya. Konflik, termasuk ‘shock culture’ dan ‘culture perception’ diramu sebagai sebuah film komedi sekaligus sebuah pernyataan yang tidak berat sebelah.
Sayangnya, niat mulia Resnais untuk mengangkat derajat komik kandas ditangan kritikus. I Want To Go Home gagal dipasaran ketika diedarkan pada 1988. Para kritikus rupanya sudah memasukkan Resnais kedalam kotak ‘sutradara film serius’. Sehingga ketika Resnais membuat komedi, mereka menganggap Resnais membenturkan kepala ke dinding alias gila.
Lepas dari sambutan yang tidak hangat terhadap film ini, I Want To Go Home tetap dianggap sebagai salah satu karya penting Jules Feiffer. Untuk ini, Feiffer menerima penghargaan sebagai penulis scenario terbaik di Festival Film Venice 1988. Feiffer sendiri menganggap, kerjasamanya dengan Resnais adalah salah satu karya terbaiknya untuk dunia komik.***
Sutradara: Alain Resnais
Penulis skenario : Jules Feiffer
Produit par : MK2 Productions , Films A2 , La Sept Cinéma
Avec : Adolph Green , Gérard Depardieu , Micheline Presle , Laura Benson , Linda Lavin , John Ashton
Durée : 106 minutes
Année de production : 1989
Ungkapan Kosong Yang Istimewa
Mon Oncle D’Amerique
Menonton film-film karya Alain Resnais selalu membuat saya meningkatkan kewaspadaan lebih dari yang seharusnya. Kalau tidak, saya terpaksa harus menontonnya dua atau tiga kali untuk bisa memahami. Seperti ketika saya menonton karya-karya awal Resnais (yang masuk kategori klasik) seperti L’anne Derniere A Marienbad (kolaborasi Resnais dengan penulis novel dan juga pembuat film Alain Robbe-Grillet) atau Hiroshima Mon Amor (kolaborasi Resnais dengan penulis novel dan juga pembuat film Marguerite Duras).
Robbe-Grillet dan Duras adalah dua penulis novel dari generasi Nouveau Roman yang kala itu sedang ingin berontak terhadap struktur penulisan novel konvensional. Para penulis dari generasi Nouveau Roman ini banyak bereksperimen dengan ide, struktur, bentuk, dan cara bertutur. Sebagai pembuat film, keduanya juga tak kalah eksperimentatif. Dan sebagai atribut terhadap kedua penulis skenarionya itu, Resnais berusaha setia dengan apa yang ada di scenario.
Bayangkan, sebuah karya tulis eksperimental dari ide hingga ke penuturan, diadaptasi murni hingga titik koma ke layar perak. Saya hanya bisa bilang, butuh waktu untuk bisa mengerti bagaimana dua medium yang berbeda ini dicampur sambil tetap ngotot mempertahankan karakter mediumnya masing-masing.
Tapi film Resnais yang lain, Mon Oncle D’Amerique adalah pengecualian. Mungkin juga karena film ini dibuat di tahun 80an dan Resnais sedang mencoba bahasa filmnya yang baru, yang lebih mudah dipahami. Bisa dibilang, dari cara bertutur, dari cara menyampaikan ide, Mon Oncle jauh lebih ringan daripada film-film Resnais sebelumnya.
Mon Oncle berasal dari teori Henri Laborit (seorang dokter dan peneliti ternama di Perancis yang pertama kali meneliti secara mendalam kegunaan GHB –neuroprotective therapeutic drug–). Awalnya, institusi yang mewadahi penelitian Laborit ingin membuat dokumenter tentang Laborit dan teorinya itu. Laborit pun mengajukan syarat. Pembuatnya haruslah Alain Resnais.
Resnais sempat menolak karena ia hanya ingin membuat film panjang. Laborit tidak keberatan dengan format film panjang, asal isi dari teorinya tersampaikan dalam film itu. Maka jadilah Mon Oncle D’Amerique. Sederhananya, film ini berisi eksperimen Laborit terhadap sebab-akibat dari tingkah laku manusia dan binatang.
Pertama, manusia dan binatang bisa cepat mengatasi masalah mereka selama ada pilihan. Kedua, manusia dan binatang segera mengalami depresi dan kondisi memburuk secara fisik ketika tidak ada pilihan untuk menghindari akibat yang menyakitkan. Dan ketiga, manusia dan binatang akan melapiaskan rasa frustasinya kepada orang atau binatang lain walaupun tidak ada koneksi yang rasional antara masalah yang sebenarnya dengan target agresinya.
Setidaknya, mereka berpikir, bisa melapiaskan kekesalan kepada orang lain lebih baik daripada tidak terlampiaskan sama sekali.Dengan Laborit sebagai narrator, Resnais kemudian mengkombinasikan teori itu dengan eksperimen asli (mengamati kelakuan binatang di laboratorium) dan eksperimen murni dari kehidupan sehari-hari untuk kepentingan film (mengamati kelakuan manusia dalam frame).
Manusia-manusia yang diamati ini adalah Jean Le Gall (Roger Pierre), Janine Garnier (Nicole Garcia) dan René Ragueneau (Gerard Depardieu). Mereka berasal dari latar belakang, keluarga, hingga ideologi yang berbeda. Seperti mengamati tikus dalam kerangkeng laboratorium, Resnais juga mengamati karakter-karakternya dengan sabar. Memberi label dan keterangan hingga memastikan bahwa penontonnya akan ikut terlibat sebagai peneliti dan mulai memahami mengapa karakter-karakter tersebut menjadi manusia seperti yang diperkenalkan kepada kita.
Dalam Mon Oncle, Resnais membuat batas yang tegas antara penelitian Laborit dan pengamatannya sendiri. Kadang terasa mereka (Resnais dan Laborit) berlomba untuk melegitimasi hasil-hasil pengamatannya, dan dibeberapa momen, pengamatan mereka saling melengkapi dan saling menyetujui. Bahwa mahluk hidup cenderung menghindari masalah dan selalu butuh pelarian.
Dan ‘pelarian’ karakter-karakter Resnais tak lain adalah paman dari Amerika. Sebuah mitos tentang orang-orang yang pergi jauh (khususnya ke Amerika), selalu dibayangkan punya kehidupan yang lebih baik di benua sana. Mon Oncle D’Amerique adalah sebuah ungkapan kosong yang tidak penting sebetulnya. Sama seperti ekspresi putus asa macam, ‘Kalau gue punya duit, pasti segalanya bisa beres’. Sebuah ungkapan, sebuah pelarian yang gampang tapi tidak mengubah apa-apa.
Nah, difilm Resnais ini, setiap karakter percobaan setidaknya akan menyebut Mon Oncle D’Amerique sekali atau dua kali. ‘Andai saja aku punya paman di Amerika seperti pamanmu.’ Yang kemudian ditanggapi oleh karakter yang lain, ‘aku bahkan tidak tahu apakah benar aku punya paman di Amerika. Tapi setiap kali aku gagal, ayah selalu bilang aku seharusnya jadi seperti pamanku yang di Amerika sana’.
Sekosong apapun ungkapan itu, kerjasama Resnais-Laborit ini jelas bukan karya yang kosong. Mon Oncle menjadi film yang istimewa –menerima Grand Prix Du Jury Cannes 1980 dan juga Prix FIPRESCI serta Nominasi Oscar 1981 untuk skenario terbaik–. Disatu sisi, Mon Oncle nyaris seperti sebuah kuliah ilmiah tentang tingkah laku mahluk hidup, disisi yang lain, Mon Oncle tetaplah tontonan yang sangat menghibur bahkan lucu.
Belakangan (tahun 80an hingga sekarang) Resnais sempat dikritik mulai mengikuti selera ‘pasar’, tapi karya-karyanya tidak lantas menjadi kacangan apalagi murahan. Karya-karya awal Resnais memang sangat berjarak dengan audiens, punya kelasnya sendiri dan jelas tidak merakyat.
Tapi makin tua, Resnais rupanya makin bijak. Karya-karyanya mulai terasa akrab sambil tetap mempertahankan ciri khasnya : mengajak anda untuk berpikir. Karena itu, hingga saat ini, Resnais tetaplah jadi sutradara favorit para kritikus Perancis, disanjung oleh Positif (majalah film Perancis saingan CDC), anak emas Cahiers Du Cinema dan tentu saja salah satu sutradara kebanggaan Perancis.
Dir: ALAIN RESNAIS, 1980, France, 125mins, French with subtitles
Cast: GÉRARD DEPARDIEU, Nicole Garcia, Roger Pierre


leave a comment