Diary Of A Moviegoers

HIROKAZU KORE-EDA: “Saya Tidak Bisa Mengontrol Rasa Ingin Tahu”

Posted in Director's Profile, Interviews, News by akurini on June 6, 2009

Kore-eda

“Film-film saya beredar di Indonesia ya ?” begitu pertanyaan yang diajukan oleh Hirokazu Kore-Eda. Opss…saya langsung bengong. “Tentu saja film anda beredar di Indonesia,” kata saya mantap. Gantian Kore-Eda yang bengong. Ia kemudian manggut-manggut. ‘Saya pikir hanya Nobody Knows yang pernah beredar di Indonesia, di Jakarta Film Festival,” katanya. 

“Mungkin juga,” kata saya ikutan manggut-manggut. “Kalaupun tidak beredar resmi, pasti ada bajakannya.’ Dan Kore-Eda pun langsung tutup kuping tutup mata. « Oh tidak, saya tidak mau dengar, katanya. » Begitulah awal percakapan kami di sebuah cafe kecil yang berdampingan dengan Musée Du Cinema, Brussel.  

Akhir tahun 2007 lalu, Kore-Eda datang untuk menghadiri retrospeksi karya-karyanya dalam rangka Documentair Filmplatform Zone, sebuah program khusus yang memutar film-film dokumenter. Di Jepang, Kore-eda memulai karirnya sebagai sutradara film dokumenter. Kore-Eda sendiri baru mulai diperhatikan ketika film feature pertamanya Maboroshi berjaya di Venice Film Festival tahun 1995 dan menobatkan sutradara kelahiran Tokyo tahun 1962 itu sebagai Sutradara terbaik.  

Setelah itu, berturut-turut After Life (memenangkan 7 penghargaan international), kemudian disusul Nobody Knows yang masuk nominasi Golden Palm di Cannes tahun 2004 (dan memenangkan 13 penghargaan international lainnya). Yuya Yugira, aktor cilik pemeran utama di Nobody Knows kemudian dinobatkan sebagai aktor terbaik di Cannes tahun itu.   

Seperti film-filmnya yang sederhana dan mudah dimengerti walaupun sulit untuk dideskripsikan, Kore-Eda pun tak kalah sederhana dan kalem. Dalam pertemuan kami, Kore-Eda bercerita banyak hal, dari film-filmnya hingga kekhawatirannya terhadap evolusi masyarakat Jepang.  

Saya sangat berterima kasih atas kesediaan Sara Jansen sebagai penerjemah kami. Maklum, Kore-Eda tidak berbahasa Inggris, sementara saya hanya tahu ‘arrigato’ dan ‘sushi’.  Berikut adalah percakapan kami :  

Ini pertanyaan titipan dari teman saya. Dia baru saja pulang penelitian tentang film di Jepang. Dia bilang, kok bisa sih anda begitu sabar membuat film dokumenter dalam rentang waktu yang lama ? (August Without Him dibuat kurang lebih 3 tahun dan Without Memory dibuat kurang lebih 4 tahun) 

Hahaha…begitu ya?. hmm … (Kore-Eda terdiam lama). Bukan sabar juga sih, saya cuma tidak ingin buru-buru. Selain itu saya tidak ingin berhenti sebelum merasa lengkap mencari apa yang saya inginkan. Hmmm…agak sulit menjelaskan. Tapi anda tahukan bagaimana rasanya kalau cerita anda belum selesai? Pasti anda ingin mencari dan mencari lebih jauh.

Kapan dan bagaimana anda memutuskan bahwa cerita anda sudah selesai? di titik mana anda memutuskan untuk berhenti memfilmkan dan mulai masuk meja editing? 

August Without Him, saya berhenti karena memang sudah tidak ada lagi yang bisa di filmkan. Almarhum Yutaka sudah meninggal. Without Memory agak lebih sulit untuk berhenti. Tapi kemudian film itu dibeli oleh stasiun TV dan mereka menerapkan deadline. Jadi saya mau tidak mau harus menyelesaikannya. Selain itu, juga tidak ada lagi perkembangan menarik selama 3 tahun memfilmkan. Jadi saya berhenti.  

Bagaimana ceritanya anda tertarik dengan kisah Hirata Yutaka (penderita HIV positif pertama di Jepang) dalam dokumenter August Without Him? 

Dokumenter itu terkait dengan pekerjaan saya di TV. Dalam salah satu berita dan feature, saya melihat Hirata Yutaka, dan kemudian memutuskan untuk menemuinya. Awalnya agak menyakitkan. Dia sedang sekarat karena AIDS, dan saya datang menawarkan untuk mendokumentasikan hari hari terakhirnya itu. 

Di film itu terasa betul keterlibatan emosi anda dan kru anda terhadap Yutaka. Sudah ada direncanakan sebelumnya? 

Begini, saya datang menemui Yutaka hanya dengan niat. Idenya adalah kami ingin merekam perjuangannya melawan virus itu. Tapi kemudian banyak hal terungkap. Soal masa lalu, kenangan-kenangannya, dan lain-lain. Diruang editing misalnya, kami banyak terpana dan terharu. Saya tidak bisa bilang bahwa saya tidak merasakan apa-apa. 

August Without Him itu sangat personal menurut saya. Meski dilayar hanya terlihat Hirata Yutaka, tapi kehadiran  bahkan hingga rasa haru para kru juga terasa meski kalian tidak nampak dilayar.  

Seperti yang saya bilang diawal, membuat August Without Him sulit dari sisi etika dan moral. Karena itu, ada saat saya merasa harus menjaga jarak dengan subjek saya. Kalau tidak, saya rasa mustahil menyelesaikannya. Salah sedikit, kami bisa dianggap mengambil keuntungan dari orang yang sekarat. 

Ini juga terjadi dengan Without Memory? 

Iya. Cuma bebannya jauh lebih ringan ketimbang August Without Him. 

Apa yang membuat anda tertarik dengan kisah Sekine Hiroshi di Without Memory? 

Hmmm…(Kore-eda kembali terdiam lama).

Saya juga menemukan kisah Hiroshi saat saya bekerja di TV. Waktu saya dengar cerita tentang orang yang hilang ingatan sama sekali, saya nyaris tidak percaya. Hiroshi nyaris lupa segala hal. Ia bahkan lupa apa yang dilakukan 10 menit sebelumnya. Dan lagi-lagi saya tergerak untuk tahu, bagaimana rasanya hidup tanpa ingatan? Kisah itu benar-benar membuat saya takut. 

Ketika saya memulainya, saya sudah menyusun film itu dikepala saya. Sampai saya bertemu langsung dengan Sekine, saya tidak mengerti kondisi macam apa itu. Waktu saya menemuinya pertama kali, kami ngobrol seperti dengan orang normal. Lama-kelamaan saya sadar, bahwa Sekine selalu ‘tersesat’  ditengah-tengah obrolan kami. Ia tidak ingat apa-apa. Atau kadang-kadang teringat sesuatu yang berlangsung dimasa kecilnya tiba-tiba, tapi kemudian lupa bahwa beberapa menit lalu kami sudah ngobrol banyak. 

Setiap kali saya menemuinya, saya selalu mengalami pengalaman yang berbeda. Dan setiap kali itu juga, dia lupa bahwa dia lupa.  Pengalaman membuat Without Memory sangat menarik, proses membuat dokumenter yang paling menarik buat saya.  

Anda bilang, anda takut dengan kondisi ini, kenapa takut? Alasan pribadi? 

Mungkin juga terkait dengan kenangan saya terhadap almarhum kakek saya. Ia terkena Alzheimer dan mulai melupakan banyak hal, lupa pada tempat-tempat favoritnya, lupa pada hal yang baru saja dilakukan, hingga lupa pada anggota keluarganya sendiri. Waktu kecil saya sempat berkesimpulan bahwa orang akan lupa segalanya ketika mereka sekarat.   

Sekarang saya mengerti bahwa kenangan atau memory adalah hal yang paling krusial terhadap identitas pribadi kita. Hilang ingatan adalah hal yang sangat menakutkan. Dan saya selalu ingin tahu bagaimana orang-orang yang hilang ingatan itu berjuang untuk melanjutkan hidup tanpa ingatan. 

Anda rupanya sangat terobsesi dengan ‘memory’? Ini juga menjadi tema anda di After Life. 

hahaha…mungkin juga. Saya tidak bisa mengontrol rasa ingin tahu soal itu. 

Di Without Memory, ada saat dimana dokumenter ini seperti berubah haluan, meninggalkan hal hal personal disekitar Sekine Hiroshi dan memilih untuk jadi ‘investigation reportage’ ketika ditengah syuting ada kasus yang berhubungan dengan sistem pelayanan kesehatan. 

Sebetulnya bukan berubah haluan. Ini ada hubungannya dengan posisi saya sebagai pembuat film dokumenter. Seperti di August Without Him, ada saat dimana saya merasa terlalu dekat secara emosional, saya memilih menjauh. Sama juga dengan Without Memory. Saya merasa sangat dekat dengan keluarga Sekine dan mulai merasakan bahwa ada semacam harapan film ini akan membantu memuluskan kasus mereka melawan Departemen Kesehatan. 

Tapi dari awal saya hanya tertarik dengan persoalan ‘hilang ingatan’ tersebut. Bahwa kemudian ditengah jalan ada kasus itu muncul, niat itu tidak berubah. memang kemudian terbukti bahwa ‘hilang’nya ingatan Sekine kurang lebih ada hubungannya dengan praktek yang salah. Karena itu seperti yang anda bilang, ada sedikit kelokan disepanjang film. Itu perlu saya lakukan karena memang kasus itu ada dan tidak mungkin saya kesampingkan begitu saja.  

Anda tidak tertarik untuk mengungkap kasus itu lebih jauh? 

Bukan tidak tertarik. Tapi bukan itu tujuan saya membuat Without Memory. Istri Sekine memang punya ekspektasi bahwa film ini akan berbeda, bahwa film ini akan memblow-up kasus itu. Tapi tanpa film ini pun kasusnya memang sudah besar. Dasar penyakit ‘hilang ingatan’ Sekine memang adalah kesalahan dalam proses pengobatan, dan ini jadi berita besar di Jepang tanpa saya perlu menambahkan.  

Dibeberapa sekuen dalam ruang tamu atau ruang makan keluarga dimana anda biasanya ngobrol atau melakukan wawancara, tiba-tiba ada ‘cut’ dan beralih ke  ’shot’ aktivitas binatang-binatang kecil seperti ulat yang tergantung diujung daun yang berusaha sekuat tenaga untuk naik ke batang yang lebih kokoh. Apakah ini ilustrasi kondisi Sekine? 

Oh ya? menurut anda begitu? Hmmm…waktu membuatnya saya tidak terpikir kesana. Masalahnya, rumah keluarga Sekine itu sangat kecil. Praktis tidak ada pemandangan lain dalam ruangan itu. Setiap kali kami datang, lokasinya ya disitu-situ saja.  

Tentu saja secara visual ini akan sangat membosankan. Alternatif lainnya adalah halaman kecil diluar rumah. Disitu ada beberapa tanaman dan pohon. Jadi untuk menghindari kebosanan visual itu, kami akhirnya memfilmkan apa saja yang bisa difilmkan diluar ruang keluarga itu. Salah satunya yang anda bilang. Shot itu benar-benar kebetulan. Tapi terima kasih sudah memberi tahu. 

Apakah ada ’staging’ (adegan yang diatur) di Without Memory ? 

Pada dasarnya tidak. Hanya saja, ketika Sekine ke rumah sakit misalnya, kadang-kadang kami harus minta izin untuk memfilmkan, kami harus memberi tahu dokternya agar tak usah tegang. Kami harus meminta agar mereka menganggap kami tidak ada. Tapi yang benar-benar diatur, tidak ada. 

Bagaimana adegan belanja dengan putranya? 

Mereka melakukannya setiap hari. Itu salah satu aktivitas yang sudah biasa mereka lakukan. Hanya saja, saat kami mengikuti dengan kamera, mereka memang terlihat kikuk, jadi terlihat tidak natural. 

Sebelum membuat Without Memory, anda membuat Maboroshi dengan gaya yang sangat berbeda dari film-film anda sebelumnya (August Without Him, Lessons From A Calf, However…). Maboroshi lebih puitis, gambarnya sangat statis, dan tidak ada close up sama sekali.  Apakah karena Maboroshi film feature pertama anda? 

Seperti yang anda bilang, Maboroshi memang feature pertama saya karena itu saya ingin membuat sesuatu yang berbeda. Di Maboroshi, saya juga melakukan pendekatan yang berbeda. Saya membuat perencanaan yang sangat detail. Saya membuat story board, sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Di story board itu, saya juga merencanakan dengan detail sudut pengambilan gambar, posisi kamera, pergerakan kamera, latar belakang. Semua yang ada di Maboroshi mengikuti apa yang ada di story board dan saya sangat ketat dan berusaha disiplin soal itu.  

Secara pribadi, ada sedikit pressure  terhadap diri saya sendiri bahwa saya harus melakukannya seperti yang seharusnya dibuat oleh para pembuat film. Saya berpikir, dengan cara itu semua akan berjalan lancar. Ternyata tidak juga. Saya agak kapok dengan cara itu.  Film feature saya berikutnya, saya kembali ke gaya lama. Saya ingin lebih dekat dengan materi film saya. Saya rasa gaya dokumenter lebih cocok untuk saya.  

Anda tidak nyaman dengan story board? 

Mungkin. Ketika membuat Maboroshi dengan story board, saya agak tertekan. Film saya selanjutnya After Life dan Nobody Knows, saya melepaskan diri dari storyboard ini. Belakangan saya mulai mencoba untuk membuat story board lagi, mulai mendisiplinkan diri dengan apa yang sudah direncanakan sejak awal. Mungkin karena sudah membuat beberapa feature, saya lebih mengerti ritme kerja saya, sekarang saya lebih yakin dan mulai terbiasa dengan perencanaan matang. Sekarang saya merasa lebih fleksible.  

Di Maboroshi, sepertinya banyak shot atau kejadian yang terjadi dua kali. Adegan bersepada dua kali muncul, banyak close up juga muncul dua kali. Apakah ini untuk menunjukkan ada yang kejadian nyata dan ada yang hanya mimpi? 

Oh ya ?… dua kali ya ? Saya tidak memperhatikan soal itu, tapi saya tidak meniatkan itu sebagai adegan dalam mimpi. Hanya adegan awal yang mimpi. Selanjutnya tidak. Saya pasti akan menontonnya lagi dan memikirkan pendapat anda.  

Di After Life, banyak yang kagum, khususnya orang eropa,  dengan konsep anda tentang kematian. Secara umum, setelah kematian, selanjutnya akan ada surga atau neraka tergantung kategori baik atau jahat. Tapi After Life tidak menyinggung soal itu sama sekali. Nampaknya hanya ada surga. Apakah ini optimisme dalam tradisi Jepang? 

Hahaha…tidak…tidak begitu. Di Jepang, konsep surga dan neraka juga ada. Ada juga kepercayaan bahwa setiap orang yang mati akan menjadi dewa atau dewi. Banyak kepercayaan di Jepang seperti juga di manapun. Tapi bagi saya, ketika membuat After Life, konsep soal apa yang akan terjadi setelah kematian bukanlah tujuan utama saya.  

After Life lebih ke soal memilih kenangan terbaik, soal apa yang anda ingat dan seberapa berharga sebuah memori itu untuk anda. Saya tidak berniat untuk menyelami lebih dalam tentang apa yang akan terjadi setelah anda mati, karena saya tidak tahu sama sekali soal itu dan tidak punya bayangan seperti apa itu dunia kematian.  

Saya juga tidak ingin mendalami kepercayaan bahwa orang yang telah meninggal akan menjadi semacam dewa atau dewi. After Life benar-benar hanya ide soal kenangan. Bagaimana seseorang akan bereaksi ketika diminta untuk memilih kenangan terbaiknya. Karakter-karakter dalam After Life tetap menjadi diri mereka sendiri setelah mati; Bagi saya, sebagai manusia, sangat penting untuk menengok sejenak kebelakang, merenungi hidup yang sudah dijalani dan bagaimana dampaknya.  

Apakah itu yang anda percayai? Bahwa anda tidak akan berubah menjadi sesuatu yang lain setelah mati? 

Tidak. Saya tidak percaya ada kehidupan setelah kematian…hahaha 

Saya pikir orang Jepang percaya ada reinkarnasi? 

Memang dulu orang Jepang percaya soal reinkarnasi, tapi sekarang ini, saya pikir,  orang Jepang sudah tidak percaya lagi soal-soal seperti itu. 

Di After Life, saya dapat kesan bahwa ada pengaruh Kafka dalam pesan yang ingin anda sampaikan dalam film itu. Soal sistem yang absurd, lalu ada soal administrasi, aturan yang harus dilalui orang ‘orang mati’ yang mengingatkan saya pada novel The Castle.  

Saya pikir tidak. Anda merasa ada kesamaan? 

Yup, nuansa dan aura film itu seperti The Castle. 

Hmmmm….(lagi-lagi Kore-eda terdiam lama). Ya…ya…Saya membaca Kafka, mungkin juga secara tidak sadar ada pengaruhnya. Soal nuansa, rasanya saya harus menontonnya lagi…hahaha. 

After Life dibuat –lagi-lagi– dengan gaya dokumenter. Ada sejumlah wawancara. Apakah anda membuat skenario untuk membuatnya? 

Beberapa bagian ada yang diskenariokan. Tapi banyak diantara mereka bukan aktor. Mereka orang-orang biasa yang ingin berpartisipasi dalam proyek ini. Kami  melakukan kurang lebih 500 wawancara dan menjelaskan konsepnya seperti apa.  Kami jelaskan jika orang-orang itu harus memilih satu kenangan, apa yang akan mereka pilih. Jadi hampir semua cerita di film itu adalah kisah mereka sendiri yang tidak perlu skenario.  

Bagaimana dengan wanita tua, sang penari?  

Ohhh…dia juga orang biasa yang kami temui diantara ratusan wawancara awal. Cerita soal tarian itu adalah kisahnya sendiri. Saya memilihnya karena ceritanya yang sangat menarik. Di lokasi syuting, cara berceritanya yang sangat natural mempengaruhi aktor-aktor profesional di film ini. Dia sangat santai, bahkan caranya bercerita soal bagaimana dia menari, dan bagaimana melakukannya. Syuting After Life membuat seluruh kru menghadapi situasi yang menyenangkan dan dinamis;  

Berapa lama anda membuatnya? 

Proses sutingnya sekitar 2 bulan. Tapi idenya sudah ada 10 tahun sebelumnya.  

Kenapa baru direalisasikan setelah 10 tahun? 

Saya adalah pembuat dokumenter dan waktu itu saya tidak punya waktu yang tepat untuk memulai membuat film feature. Saya belum percaya diri. Saya akhirnya bisa membuat Maboroshi yang ternyata lumayan mendatangkan uang yang kemudian saya gunakan untuk membuat After Life. Tidak seperti di tahun 90an, sekarang lumayan gampang membuat film dengan adanya digital dengan biaya yang juga relatif murah.  

Seperti semua karakter di After Life, jika anda disuruh memilih satu saja kenangan terbaik, apa yang akan anda pilih? 

Hahahah…oh tidak. Saya tidak bisa…anda tahu, di After Life, mereka yang tidak bisa memilih kenangannya harus memfilmkan mereka yang sudah memilih; Itulah kenapa saya yang memfilmkan mereka karena saya salah satu yang tidak bisa memilih kenangan terbaik saya. Saya tidak bisa dan tidak mau memilih hanya satu kenangan.  

OK, Sekarang soal Nobody Knows. Ada banyak kisah di Tokyo soal anak-anak terlantar. Kenapa anda memilih kisah 4 bersaudara ini? 

(Kore-eda terdiam sangat lama, mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya sambil ber- hmmm yang panjang sampai kemudian menjawab). Mungkin karena kejadiannya terjadi diwilayah tempat saya tinggal sebelumnya. Saya tumbuh remaja di kawasan itu. Saya ingat tentang rel kereta, suara kereta yang lewat sepanjang waktu, dan saya juga menggunakan kereta itu hampir setiap hari.  

Jadi lingkungan dan lanskapnya sangat dekat dan akrab bagi saya. Saya sangat dekat dengan orang-orang disekitar wilayah itu, dan saya tahu persis kondisi lingkungannya. Mungkin karena itu, ketika saya membaca di koran soal 4 orang anak kecil yang hidup sendiri tanpa orang tua diwilayah itu, saya langsung merasa jadi bagian dari kisah itu. 

Berapa lama anda membuatnya? 

Saya hanya membutuhkan sedikit waktu untuk menulis skenarionya. Saya menulisnya langsung setelah mendengar dan membaca berita itu. Seperti juga After Life, saya baru bisa membuatnya 15 tahun kemudian, karena kurangnya percaya diri dan keberanian untuk membuat film. Selain itu, waktu itu saya tidak punya dana sama sekali. 

Saya pernah membaca profil anda, bahwa anda sempat berniat menjadi penulis novel. Pernah terpikir untuk membuat novelnya? 

Niat itu pernah terpikir. Dan saya memang sempat ingin jadi penulis novel saja. Tapi kemudian saya lebih suka membuat film. Lebih menyenangkan dan lebih menarik. 

Saat anda membuat Nobody Knows, tentunya uang dan fasilitas bukan lagi masalah. Tapi kenapa anda butuh satu tahun untuk menyelesaikannya? 

Mmmm….Saya ingin mengikuti pertumbuhan anak-anak itu sampai mereka agak lebih besar dan terlihat perubahannya; Saya bahkan berniat menunggu sampai mereka 5 tahun lebih tua dari sejak awal kami mulai syuting. Tapi niat itu batal karena juga tidak terlalu perlu. Selain itu saya ingin latar belakang pemandangan Tokyo sepanjang tahun dengan berbagai musim yang berbeda, dari musim dingin hingga musim panas. Filmnya sendiri tidak mahal, tapi saya tidak ingin buru-buru dan menghabiskan banyak waktu dengan anak-anak itu. Memfilmkan bagaimana mereka tumbuh. 

Seberapa murah ? 

Hmmmm….(Kore-eda berpikir lama, wajahnya berkerut-kerut). Kurang lebih 1 juta yen. (sekitar Rp. 85 juta rupiah)  

Di Nobody Knows, figur ayah nyaris tidak ada. Ibu menghilang. Apakah ini juga pendapat anda terhadap evolusi yang berlangsung dalam masyarakat, khususnya di Jepang? 

(Kore-eda mengangguk angguk). Faktanya memang makin banyak kasus seperti itu, dan saya rasa bukan hanya di Jepang. Bukankah begitu? Masyarakat khususnya di Jepang sudah sangat berubah dalam memandang kehidupan keluarga, tidak lagi sedekat seperti dulu.  

Menurut anda, ikatan persaudaraan sekarang lebih penting daripada keluarga lengkap itu sendiri? 

Faktanya, banyak anak-anak di Jepang adalah anak tunggal. Banyak dari mereka tidak punya saudara. Sangat sulit untuk punya anak lebih dari satu dimana tidak cukup ruang untuk tinggal dan tidak cukup jaminan sosial untuk hidup. Orang-orang hidup dalam tekanan. Di Jepang berkembang masyarakat yang sangat maskulin, sehingga banyak wanita harus bekerja, mandiri dan tidak punya cukup waktu untuk mengurusi anak-anak mereka. 

Dalam hal ini, Jepang sangat tertinggal dalam konteks perlindungan terhadap wanita dengan anak-anak mereka khususnya para single mother.  Di Jepang, hampir tidak ada ruang dan tempat dalam masyarakat untuk single mother. Masyarakat tidak bisa menerima mereka, dan mereka harus bisa hidup sendiri tanpa dukungan keluarga.  

Sulit untuk memiliki anak dalam Masyarakat Jepang sekarang ini. Dalam hal ini,  Jepang ketinggalan jaman. Jepang terkenal sangat maju dalam banyak hal, tapi  evolusi masyarakatnya jauh terbelakang. Saya tidak suka kondisi seperti itu tentu saja. Saya berharap bisa mengubahnya. Tapi tentu saja butuh waktu. 

Soal film terbaru anda, Hana; Film itu sangat jauh berbeda dari film anda sebelumnya, baik dari segi tehnis, maupun cara bertutur. Anda sedang berusaha melucu sambil menggunakan karakter samurai. 

Saya memang sedang ingin mencoba banyak hal. Dan Hana adalah salah satunya. Semuanya adalah hasil imaginasi dan ciptaan sendiri. Saya ingin membuat film samurai dimana samurai bukan melulu soal pahlawan yang suka bertarung. Meski ini film samurai, nyaris tidak ada adegan pertarungan.  

Anda sedang ingin mengkondisikannya dengan situasi sekarang? dimana orang mempertanyakan apa arti perang sesungguhnya? 

Betul. Itu memang pesan yang ingin saya sampaikan. Bahkan seorang samurai pun ragu apakah memang perlu kekerasan itu ada. Tidak ada menang atau kalah di film ini.  

Tapi anda mencoba melucu dan saya kok tidak bisa memahami lucunya? 

hahaha…begitu ya. Becandanya memang sangat tipikal guraun orang Jepang. Saya bisa maklum kalau anda tidak menangkap gurauan-gurauan di film itu. Mungkin juga saya masih harus belajar banyak membuat film dengan sisipan humor.  

Diantara semua film-film anda, apakah anda mencoba mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan soal hidup? 

Saya tidak mencari jawaban, belum saatnya, tapi film-film saya pastinya adalah cara saya untuk memikirkan tempat dan posisi saya dalam masyarakat. Karena itu saya membuat film, untuk menyelidiki diri sendiri. Saya sedang mencoba mencari esensi dari film yang sesungguhnya. Itu ide personal saya.  

Diantara banyak film yang sudah anda buat, adakah hal yang ditemukan oleh penonton anda yang anda tidak sadari sebelumnya? 

Wah banyak sekali. Seperti komentar anda misalnya, terus terang saja saya kaget. Terus terang juga, saya sangat suka dengan sesi tanya jawab setelah screening. Saya suka mendengar komentar langsung tentang film saya dan apa yang penonton pikirkan karena pendapat itu kadang membuat saya memikirkan film saya lagi dan lagi. 

Anda merasa penonton salah mengerti? 

Saya tidak keberatan sama sekali jikapun orang memahami film saya jauh dari apa yang saya niatkan. Itu menyenangkan.  

Anda dan film anda khususnya After Life dianggap sebagai bagian dari dampak gerakan cinema vérité di Perancis. Menurut anda? 

Hmmm…sekarang ini, rasanya mustahil untuk membuat film tanpa memikirkan soal gerakan estetika di Perancis atau di Italia. Mungkin memang ada hubungannya, tapi saya membuat film tidak untuk mengikuti aturan-aturan itu. Tapi saya rasa, ide bagus ketika sejarah harus mencatat gerakan-gerakan dalam perkembangan dunai film dan mulai memetakan serta menghubungkan satu sama lain. 

Secara personal, klasifikasi itu tidak terlalu penting buat saya. Bahwa saya membuat film tidak bisa dipungkiri ada pengaruh dari berbagai macam gerakan. Saya yakin memang ada hubungannya. Saya suka Rosselini, Resnais, dan banyak lagi. 

Pertanyaan terakhir, anda suka memperlihatkan semacam ‘behind the scene’ ditengah-tengah film berlangsung. Di Without Memory, tiba-tiba Sekine Hiroshi, membalikkan kamera kearah anda dan kru anda. Di After Life bahkan ada seluruh behind the scene dalam film. Kenapa? 

Saya rasa, hubungan antara pembuat film dan objeknya sangat penting dalam membuat dokumenter. Juga penting buat saya untuk menunjukkan bagaimana saya terefleksi di mata orang-orang yang saya filmkan. Begitu saya melihat perlunya hubungan itu. Saya berbicara soal dokumenter atau gaya dokumenter, tapi dalam feature rasanya sulit karena akan mematahkan seluruh film. tapi rasanya akan menarik untuk melakukannya di feature. Mari kita lihat nanti.***

“Kurdi Lebih Berbudaya dari Amerika”

Posted in Director's Profile, Festivals, Interviews, Rotterdam Film Festival 2007 by akurini on December 19, 2007

bahman-ghobadi.jpg 

 

Pria dengan sweater merah itu melambai. Dia rupanya tahu, sedari tadi saya menunggu sampai dia selesai ngobrol dengan seorang tamu. “Maaf ya, pertemuan kita tertunda kemarin,” Ia menyapa ramah, sambil menarik kursi untuk saya. Ya, kemarin pertemuan kami batal, karena jadwal pesawatnya tertunda. “Tidak keberatan kalau kita duduk disini kan? saya suka sinar matahari,” katanya sambil menatap keluar jendela, kearah pantulan matahari dikaca. Di tangannya tergenggam cangkir kertas berisi kopi yang asapnya mengepul pelan.

Pria itu, Bahman Ghobadi, duduk tenang sambil sesekali meremas tangannya agar tetap hangat. Udara di Rotterdam akhir January memang dingin, dan setiap orang mencari matahari. Saya tentu saja tidak keberatan. Penghangat listrik rupanya tidak cukup punya daya menghangatkan ruang kaca besar di lantai 3, gedung De Doelen. Meski mengerti dan bisa berbahasa Inggris, Ghobadi minta ditemani seorang penerjemah. “Saya tidak terlalu lancar berbahasa Inggris,” katanya.

Bahman Ghobadi lahir pada 1 Februari 1969 di Baneh, sebuah kota kecil di propinsi Kurdi, Iran, yang berbatasan dengan Iraq. Ghobadi belajar teknik membuat film di Iranian Broadcasting College. Awalnya dia bekerja sebagai fotografer, tapi kemudian beralih ke film dengan membuat dokumenter pendek.

Ghobadi mendirikan rumah produksinya Mij Film pada 2000 dan mulai membuat feature film. Film awalnya, A Time For Drunken Horses meraih Camera D’or di Cannes Film Festival 2000. Lalu Marooned in Iraq yang mendapat Gold Plaque dari Chicago International Film Festival pada 2002, kemudian menyusul Turtles Can Fly pada 2004 yang memenangkan berbagai penghagaan bergengsi di festival festival film internasional.

Dengan sedikit ragu-ragu, saya membuka obrolan dengan bertanya soal eksekusi Saddam Husein. Dan benar saja, wajahnya langsung berubah.

 

Secara tidak langsung film-film Anda banyak menyorot kehidupan di perbatasan Iran-Iraq akibat dari kebijakan dari pemerintahan Saddam Husein. Sekarang, Saddam dijatuhi hukuman mati. Menurut Anda apakah akan ada perubahan?

Saya tidak suka dengan pertanyaan ini. Semua yang terjadi di middle east adalah sebuah permainan. Permainan yang bodoh, dan gila. Saddam Husein, adalah orang yang dibina oleh barat, ditempatkan oleh barat, diberi kekuasaan oleh Barat, diciptakan sebagai monster oleh barat dan menjadi diktator juga atas restu Barat. Lucunya, dia dieksekusi oleh Amerika, padahal mereka sudah mengeruk banyak keuntungan, mengeruk banyak uang dari Saddam. Alur yang memuakkan, cerita lama yang sama. Saya menonton soal eksekusi itu. Itu, sangat gila. Saya tidak percaya hidup di jaman gila begini. (Kepalanya menggeleng-geleng. Ia kembali menghirup kopinya yang tinggal setengah)

 

Ok, mari kita bicara film saja. Apakah masyarakat Kurdi bisa menonton film Anda?

Ada kurang lebih 40 juta warga Kurdi dan ditanah Kurdi mereka hanya punya 4 atau 5 cinema. Susah untuk mempertontonkan film saya. Apalagi bisnis film komersial tidak memberikan banyak ruang bagi independent cinema. Rasanya sama juga dengan di Indonesia. Aturan yang berlaku di dunia bisnia film adalah aturan Hollywood: sinema bukan dianggap sebagai bentuk seni, tapi bisnis di seluruh dunia. Semua orang yang bekerja di dunia itu sekarang mencoba untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Mereka cepat melupakan objektivitas cinema, melupakan tujuan membuat film.

Untunglah, banyak DVD ilegal di pasaran. Itu sungguh membuat saya gembira. Saya tidak masalah dengan pembajakan karya saya. Mereka tidak punya uang, tidak punya cukup uang untuk membeli DVD asli. Hanya itu satu satunya cara agar mereka bisa menonton film saya. Dan mereka pantas untuk menonton film saya dengan cara itu. Toh saya menggunakan budaya Kurdi sebagai inspirasi, pertukaran yang sangat menguntungkan bagi saya.

Mengapa Anda sangat tergila-gila dengan budaya Kurdi?

Saya mengenal bahasanya, saya mengenal orang-orangnya, saya mengenal negerinya, karena itu saya punya kemampuan untuk memperlihatkan pada seluruh dunia, gambaran sebenarnya tentang suku Kurdi. Mereka adalah orang-orang yang baik dan ramah. Mereka adalah masyarakat dengan latar belakang, sejarah, dan akar budaya yang kaya. Begitu banyak hal yang bisa ditemukan dan menunggu untuk ditemukan. Tidak hanya mengenai Kurdistan, tapi juga seluruh Iran.

Anda harus tinggal di sana untuk menemukan elemen yang baik dari masyarakat yang baik ini. Anda harus hidup di sana. Iran tidak seperti yang anda saksikan di TV, atau di media. Tidak benar 1% pun. Dan itu sesuatu yang membuat saya sedih. Itu semua bukan gambar sebenarnya tentang Iran. Iran adalah salah satu wilayah dengan budaya yang paling kaya di dunia. Masyarakat yang berbudaya, masyarakat dengan sejarah yang agung.

Menurut Anda, suku Kurdi lebih berbudaya dari Amerika?

Suku Kurdi dan Iran adalah masyarakat paling berbudaya, lebih berbudaya dari Amerika. Amerika Serikat itu negara baru. Kurdistan dan Iran adalah salah satu negeri tertua didunia. Sama seperti Indonesia. Kamu punya sejarah, kamu punya masyarakat yang punya kebudayaan jauh lebih mengakar daripada Amerika. Semua itu tidak akan kamu dapati di Amerika serikat.

Saya menonton Opera Jawa, dan saya terpesona sekali. Itu film yang sangat bagus, menggambarkan betapa Indonesia punya sesuatu yang tidak akan pernah saya dapatkan dari menonton berita di CNN. Saya berharap bisa menonton film-film yang bisa memperkenalkan saya lebih jauh dengan budaya Indonesia. Opera Jawa adalah film Indonesia terindah yang pernah saya saksikan. Excelent.

(Tak lupa dia menitip salam untuk Garin Nugroho. Dia bilang, pernah diundang Garin makan nasi goreng di Cannes. Ghobadi nampak geli jika mengingat undangan itu)

 

Anda pernah jadi asisten Abbas Kiaroustami. Bagaimana ceritanya?

Itu 10 tahun lalu. Saya bekerja dengan Kiaroustami hanya beberapa hari. Saya sebenarnya lebih ke manajer produksi, tapi kemudian jadi asisten sutradara. Saya berada di lokasi syuting selama 10 hari, berniat untuk belajar sesuatu. Tapi selama di sana, saya merasa, itu bukan produksi yang saya inginkan. Saya ingin melakukan sesuatu yang lain. Bukan jenis produksi sinema yang saya cari. Saya benar benar menyukai film-film feature Kiaroustami di awal karirnya. Feature-nya yang belakangan ini saya sudah tidak terlalu nyambung, saya tidak terlalu suka.

 

Bagaimana dengan Makhmalbaf?

Saya adalah penasehatnya untuk soal Kurdistan. Saya membantunya mengenal lebih jauh tentang Kurdis. Saya membantunya beberapa hari. Kami bekerja sama dengan baik. Saya memang dengan senang hati selalu ingin membantu semua orang yang datang ke Kurdistan. Saya ingin mereka tahu, dan menemukan betapa menariknya bangsa Kurdi.

Kenapa memilih film?

Saya datang dari wilayah Kurdistan, bagian Iran. Iran punya sejarah panjang dalam industri film, 100 tahun lebih, dan selama itu tidak ada Sinema Kurdi. Saat ini saya mencoba untuk menemukan wajah sinema bangsa Kurdi.

Kapan mulai tertarik dengan film?

 

17 atau 18 tahun yang lalu. Saya memulainya dengan 8mm, bikin film pendek 8 sampai 10 menit dan masih menggunakan VHS.

Bisa ceritakan film pertama yang Anda tonton?

Hahaha …saya tidak ingat judulnya. Tapi itu film murahan. Saya ingat menonton dengan keluarga saya. Film action murahan di bioskop kecil dan sangat tua. Kalau mengingat menonton film itu dan melihat hidup saya sejauh ini, saya sadar, semua hal nyata yang sudah saya alami dalam hidup saya, adalah pengalaman yang tidak pernah dilihat orang lain sebelumnya.

Apa yang pernah saya saksikan dalam hidup saya adalah film panjang. Saya melihat banyak perang, tapi tidak di atas layar putih. Saya melihatnya nyata. Anda mungkina hanya bisa melihat James Bond dalam sebuah film yang punya License To Kill. Tapi saya menyaksikan ribuan James Bond di Irak.

 

Anda trauma?

Berat untuk mengatakannya. Tapi saya selalu ingat, 90% hidup saya banyak menyaksikan hal mengerikan, saya mengalami hari hari sulit, menderita. Saya melihat paman saya tewas. Sehari setelah itu, paman saya yang lain dengan sepupu saya, tewas terkena bom di depan mata saya. Saya melihatnya dengan mata kepala sendiri, melihat tubuh mereka hancur. Dua bulan setelah itu, bibi saya kehilangan kedua kakinya di tengah perang. Semua terjadi hanya dalam waktu 2-3 bulan. Di depan mata sendiri. Itulah kenapa saya selalu sakit kepala kalau menonton film film heroik macam James Bond.

 

Itu yang membuat Anda takut mati?

Saya ingin membuat film, saya ingin membuat sesuatu untuk negeri saya. Saya ingin punya energi untuk itu. Saya mencoba membuat beberapa orang agar menjadi asisten saya. Mendidik. Butuh waktu 10 tahun untuk bisa benar-benar belajar cara membuat gambar yang baik dan cara membuat film yang baik.

Dan saya takut, 10 tahun bukan waktu yang singkat. Bagaimana jadinya kalau asisten-asisten saya belum selesai belajar? Mungkin saya bukan guru yang baik, tapi setidaknya saya punya fasilitas dan sedikit pengalaman yang bisa saya bagikan kepada mereka. Saya takut mati sebelum itu terlaksana.

Saya selalu merasa dibayang-bayangi oleh kematian. Kadang-kadang tidak mengganggu tapi kadang sangat mengganggu. Tidak jelas apakah Iran akan ada perang lagi, apakah nanti Israel akan membom Iran, dll. Saya selalu berpikir, kematian mengitari kami. Saya bahkan pernah berpikir untuk bunuh diri, biar kematian tidak lagi membayangi. Tapi saya sadar, saya harus berbuat sesuatu dulu.

 

Bukankah kita semua akan mati pada akhirnya?

Ya, saya tahu maksudmu. Tapi saya bukan takut akan mati itu sendiri. Saya takut mati sebelum saya melakukan sesuatu. Itu yang mengerikan.

 

Anda percaya Tuhan?

Saya percaya. Tapi masalahnya saya tidak percaya ada reinkarnasi, saya tidak percaya ada hidup di kesempatan kedua. Kita lahir hanya sekali, dan kita bisa memilih apakah bisa mempengaruhi masyarakat atau tidak, apakah ingin berbuat sesuatu selama hidup atau tidak. Nah saya ingin berbuat sesuatu dulu.

Setelah itu kami melanjutkan obrolan tentang film-filmnya (kelak akan disertakan di-review film-film Ghobadi –red.), sampai seorang panitia mengingatkan bahwa Ghobadi masih punya acara lain. Sebelum mengucapkan selamat berpisah, Ghobadi meminta kamera yang sedari tadi saya gunakan untuk memotretnya dari berbagai sisi.

“Kesinikan kamera itu”
“Loh, untuk apa?”
Dia tertawa, dan langsung menyambar kamera ditangan saya.

“Kamu diam disitu, jangan banyak bergerak”
“Aduh, Pak Ghobadi, masa saya yang di foto, kan saya malu,”
saya berdiri kikuk.

Penerjemah yang sedari tadi menemani kami ngobrol senyum senyum.

“Kepalamu miring sedikit biar kena matahari, ayo, jangan tegang begitu,” katanya memerintah.

“Aduh, aduh pak Ghobadi, saya harus bagaimana? Senyum?” Saya tambah kikuk.
“Nah, begitu lebih baik.”

Dan saya pun mendengar nada ‘klik’. Kamera itu diserahkan kembali kepada saya. Saya lihat hasilnya lewat LCD. Saya tidak suka difoto, karena saya tidak fotogenik. Tapi, saya di foto itu, terlihat begitu manis. Terima kasih, Pak Ghobadi.

(wawancara ini pertama kali diterbitkan di www.rumahfilm.org)