Diary Of A Moviegoers

WERNER HERZOG LIBURAN DI UJUNG BUMI

Posted in Documentary, Reviews by akurini on November 20, 2008

 

untitled1

Film: ENCOUNTERS AT THE END OF THE WORLD

Sutradara: Werner Herzog

—-

Martin Luther, the reformer, was asked : « What would you do, if the world came to an end tomorrow?” and he replied: “I would plant an apple tree”. Tapi Werner Herzog bilang: “I would start shooting a new film.” 

—- 

Liburan telah tiba bagi Werner Herzog. Berpuluh tahun lamanya Herzog berkelana ke pelosok-pelosok benua yang tidak terpikirkan oleh sebagian besar masyarakat modern saat ini. Dan ketika ia memilih berlibur, kita bisa maklum, tempat liburannya juga tidak biasa. Pilihannya disebuah tempat di ujung dunia paling selatan: Antartika !. Sambil ‘liburan’ itulah, ia membuat semacam travelogue yang diberi judul Encounters At The End Of The World.  

Dari travelogue ini, terlihat dan terdengar jelas, Herzog berangkat dengan riang gembira. Tak paham betul mau bertemu siapa, atau mau berbuat apa. Maklum, ia sudah lama bermimpi ingin kesana, tapi tak punya akses. Ketika National Science Foundation America menawarkan semacam beasiswa untuk program Antarctic Artists and Writers Program, Herzog tak menyia-nyiakan kesempatan.  

Dengan tekun Herzog juga melewati prosedur program, mulai dari menulis proposal, membuat surat motivasi hingga wawancara. Menurut Herzog, ia meng-iya-kan saja semua syarat-syarat program tersebut. Termasuk hasil ‘penelitian’ yang nantinya harus berguna bagi pendidikan, pengembangan pengetahuan tentang objek penelitian dan pemahaman yang lebih luas tentang Antartika. 

Ia juga tidak keberatan dengan beberapa syarat, antara lain tidak membolehkan pekerja film membawa peralatan berat, tidak boleh membawa kru yang banyak, serta tidak boleh merepotkan peneliti disana misalnya dengan meminta kamp khusus untuk membuat film selain yang sudah ada disana.  

Syarat-syarat ini jelas tidak terlalu sulit bagi Herzog. Sutradara asal Jerman ini cukup mengajak seorang kameramen, Peter Zeitlinger, untuk menemani perjalanannya ini. Hal-hal teknis lainnya praktis dikerjakan mereka berdua. Mulai dari tata suara hingga tata cahaya. Hanya saja, kali ini Herzog harus sedikit mengalah untuk urusan kamera. Selama tujuh minggu izin tinggalnya disana, Herzog akhirnya pasrah hanya memakai high-definition video camera. Pertama kali dalam karirnya, Herzog membuat film tanpa 35mm. ‘Yang penting, saya bisa liburan disana,’ katanya.  

Suara Personal Yang Khas 

Kamera Zeitlinger mulai bekerja sejak pesawat kecil yang membawa mereka mendekati wilayah putih mahaluas dibawah sana. Herzog –berbahasa Inggris dengan aksen Jermannya yang kental—bercerita dengan suara dan gaya khasnya. Sekedar catatan, film-film dokumenter Herzog tidak pernah memakai ‘suara’ orang lain.  

Suaranya yang agak serak serak, tidak bariton dan juga tidak karismatik menemani sepanjang 99 menit Encounters. Pria yang juga sutradara panggung opera ini bukannya tidak berusaha membuat suaranya terdengar ‘agak berwibawa’. Kadang-kadang terdengar ia seperti bercerita dengan tempo dan nada suara yang terjaga layaknya pemain sandiwara radio.  

Usaha untuk terdengar ‘karismatik’ ini dibeberapa momen justru terdengar menggelikan –dalam arti positif–. Seperti ketika ia mulai prolog diawal film tentang keberadaannya di kutub selatan. Nada ‘sok’ karismatik nya lama-kelamaan makin memudar ketika Herzog mulai masuk lebih dalam. Apalagi saat bercerita tentang pelatihan bertahan hidup ditengah badai Antartika. Dalam pelatihan ini, kepala setiap orang ditutup ember putih, dan diperintahkan mulai berjalan kearah tujuan mengikuti sebuah tali dan yang paling utama, insting. Hasilnya amburadul. 

Dibagian ini, suara ‘sok’ wibawa Herzog tidak sanggup bertahan. Meski ia nyaris tak pernah nampak di layar, sebagai penonton kita bisa merasakan, Herzog sedang tertawa geli. Nada narasinya juga berbeda dibeberapa bagian. Bagian tentang orang-orang yang ditemuinya, tentang rasa ingin tahunya yang tak terbendung, atau saat ia kebingungan mengajak narasumber nya untuk ngobrol, dan tentang hal-hal kecil yang ditemuinya di pusat penelitian habitat Antartika, McMurdo Station.  

Kehadiran narasi sutradara kelahiran Munich 66 tahun lalu ini lewat ‘voice over’ –dalam film, sosok Herzog terlihat hanya sekilas– kadang hadir sebagai narasi pengantar, kadang juga berfungsi sebagai penghubung antara momen yang satu dengan yang lain dan kadang menjadi suara yang terlibat.  

Sebagai narator, kita seperti mendengar nada seorang ayah yang mendongengkan kisah kepada anak-anaknya. Atau seperti mendengar tetangga sebelah yang bercerita tentang pengalaman liburannya. Atau mendengar teman sebaya melontarkan uneg-unegnya. Seringkali, Herzog memberikan ruang luas bagi narasumbernya untuk bercerita. Tapi kalau kelamaan, ia juga tak segan memotong. 

Sebagai suara yang terlibat dan banyak bertanya, suara Herzog –dalam arti harfiah maupun perlambang– seperti suara orang kebanyakan,  suara ordinary people, yang kebetulan dapat kesempatan untuk berkunjung ke satu-satunya wilayah tak terjangkau peradaban kecuali bagian dimana McMurdo Station berdiri. Herzog seperti paham apa yang ada dikepala sebagian orang yang akan menonton Encounters.  

Sutradara Grizzly Man ini ke ujung dunia dengan ‘kosong’, tanpa pretensi dan tanpa beban filmnya akan jadi seperti apa. Ia mengaku tidak mengerti ‘natural science’ sama sekali. Tidak paham tentang kehidupan seperti apa yang ada diujung bumi ini. Tapi ia tidak bisa menutupi rasa takjubnya yang terlihat jelas dalam Encounters. Dengan hanya berbekal banyak pertanyaan, Herzog bertanya sesuai kata hati tanpa beban ilmiah. Karena itu, pertanyaannya adalah pertanyaan saya juga, rasa penasarannya adalah juga rasa penasaran saya. 

Herzog ingin tahu hal-hal dasar yang justru jarang ditanyakan. Dimulai dari, mengapa anda ada disini? Apa menariknya sih meneliti tentang es? Apa sih impian anda? Kenapa sih kita tidak boleh ngomong beberapa menit sebelum menyelam? Sampe pertanyaan yang berkembang jadi konyol seperti: saya dengar, penguin juga punya kecenderungan gay atau lesbian ya? Mereka juga bisa gila ya?.  

Pertanyaannya pun tidak sebatas pada para peneliti, tapi juga kepada tukang masak, pengemudi truk, tukang kayu, hingga tukang cuci piring. Dari pertanyaan-pertanyaan dasar yang berkembang sesuai reaksi narasumbernya itu, Herzog menemukan banyak cerita. Pria yang selalu konsisten dengan ceritanya dalam setiap wawancara ini berhasil membuat saya percaya bahwa setiap orang punya sesuatu yang menarik untuk diceritakan ditanah itu. 

Herzog nampak sedang berusaha memuaskan dahaga ingin tahunya terhadap padang es itu, dan terutama sekali, terhadap manusia-manusia yang memilih untuk datang dan bekerja disana.  Encounters jadi kaya akan karakter-karakter yang mungkin sulit ditemukan dan sulit dibayangkan akan ada dalam film-film cerita biasa.  

Sementara kamera Zeitlinger asyik mengabadikan keindahan alam bawah laut serta kehidupan nyentrik manusia-manusia diatasnya, Herzog juga asyik bertanya dan bertanya. Kerjasama keduanya jadi karya yang akan sulit disamai oleh para pekerja film lainnya. Cara bertutur Herzog yang ‘lugu’, disertai komentar-komentarnya yang menggelikan, membuat Encounters jadi dokumenter serius yang penuh humor. Film Herzog yang ke 54 ini jelas jauh bedanya dengan buatan Discovery Channel atau National Geographic Channel.   

Sentuhan personal dan subjektifitas Herzog di tanah putih yang menakjubkan dan misterius itu jadi lebih manusiawi, walau tetap membuat Antartika tak kehilangan sedikitpun daya magisnya. Encounters jadi film Herzog yang paling santai, penuh humor dan sekaligus paling indah. Beginilah jadinya ketika Herzog memutuskan untuk berlibur sambil menenteng kamera.***

SICKO : Amerika Bukan Negeri Mimpi

Posted in Cannes 2007, Cannes Film Festival, Documentary, Festivals, Reviews by akurini on September 28, 2007

sicko.jpg 

AMERIKA BUKAN NEGERI MIMPI

 

Permainan kotor perusahaan asuransi. Kebobrokan layanan kesehatan. Sicko disanjung di Perancis.

 

Suatu hari di bulan Februari tahun lalu, Michael Moore memuat pengumuman di websitenya. « Send me your health care horror stories », begitu himbauannya. Hanya dalam hitungan jam, pesan itu bersambut. Ribuan kisah horor masuk ke kotak email pria tambun itu. Angkanya nyaris mencapai 15.000. Kisah pilu tentang layanan kesehatan serta perlakuan perusahaan asuransi di Amerika, dari kisah tak mengenakkan hingga kisah tak terbayangkan, bermunculan.

 

Faktor itulah yang membuat Sicko, film dokumenter terbaru Moore, jadi istimewa karena kaya akan fakta dan kaya dengan narasumber dari berbagai strata masyarakat. Sicko yang diputar perdana di Film Festival Cannes, minggu lalu itu adalah dokumenter tentang sistem layanan kesehatan di Amerika Serikat –yang sungguh mencengangkan. Sicko dimulai dengan kisah kisah singkat tentang kalangan kelas bawah di Amerika. Seorang tukang kayu yang terpaksa kehilangan dua ujung jarinya.

 

Ketika kecelakaan itu terjadi, si tukang kayu ditawari daftar harga agar jarinya bisa tersambung. Untuk menyambung jari manisnya, seharga US$12.000, sedangkan untuk jari tengahnya seharga US$60.000. Si tukang kayu memilih pasrah kehilangan dua ujung jarinya. Awalnya penonton dibuat maklum. Karena si tukang kayu ternyata tidak punya asuransi. Itu hanya satu kisah. Ada puluhan ribu kisah lainnya. Dan Michael Moore pintar memilih.

 

Dari kisah yang biasa-biasa saja seperti kisah tukang kayu itu hingga kisah tragis seorang perawat yang suaminya harus mendapatkan cangkok tulang sumsum. Mereka punya asuransi. Tapi ketika mereka mengajukan permohonan agar suaminya bisa mendapat kesempatan perawatan, permohonan itu ditolak. Sang suami tidak bisa bertahan lama, dan meninggal.

 

Selain para korban asuransi, Moore juga menghadirkan sejumlah kesaksian para pegawai asuransi. Mereka yang bertugas untuk melayani telpon, mereka yang bertugas untuk mencari celah agar permohonan asuransi pasien bisa ditolak, sampai mereka yang memutuskan menolak permohonan asuransi. Semua elemen dipertemukan, dari para korban hingga para pengambil keputusan.

 

Tak segan-segan, Moore menampilkan grafis tentang lobi-lobi tingkat tinggi yang dilakukan perusahaan asuransi untuk membeli para anggota dewan. Harga setiap anggota dicantumkan diatas kepala masing-masing, dan terakhir tentu saja harga Georges Bush. Belum lagi harga seorang Hillary Rodham Clinton. Salah seorang distributor Sicko, Harvey Weinstein yang juga adalah teman sekaligus penyokong keluarga Clinton sempat meminta untuk mengedit gambar Hillary tersebut.

 

Sicko mampu membuat orang tertawa geli diantara banyak kisah pilu dan mencengangkan itu. Harus diakui, Moore punya selera humor yang bagus. Sicko menghadirkan guyon-guyon nyelekit yang ironis. Meski dari segi teknis, Sicko sama dengan film-film moore yang lain, kamera bergerak kesana kemari mengikut narasumber, kadang juga menggunakan kamera tersembunyi, serta masih menampilkan Moore sebagai sang narator. Bedanya, kali ini Moore tidak lagi menguber-uber politisi. Ditambah lagi dengan perjalanan Moore ke berbagai negara, menemui masyarakat Amerika disetiap negara –Canada, Inggris, Perancis dan Kuba–.

 

Sicko mungkin bisa jadi bukti kalau Moore adalah aktivis yang cari sensasi. Membawa para penyelamat yang berjasa di Tragedi 9/11 ke Guantanamo hingga ke Kuba jadi terasa berlebihan. Ini memang tergantung dari sudut mana penonton melihatnya. Selain itu, harus diakui Sicko nyaris tidak menyisakan ruang ragu dibenak penonton bahwa Amerika Serikat bukanlah negeri surga seperti yang banyak diimpikan orang. Permainan kotor dalam sistem layanan kesehatan serta kisah-kisah dalam Sicko saling menjahit dengan rapat. Sicko membuat masyarakat Perancis bertepuk tangan paling keras ketika ditayangkan di Cannes karena dipuji sebagai negeri dengan sistem layanan kesehatan terbaik didunia. Tapi Sicko memang dokumenter yang pantas membuat gusar perusahaan asuransi dan –harusnya–membuat malu pemerintah Amerika Serikat.

 

 

(pernah di terbitkan di MBM Tempo. Ini adalah versi tanpa editing)