CERITA DARI KELAS PAK FRANÇOIS
film: Entre Les Murs
Director: Laurent Cantet
Screenplay: Laurent Cantet, Francois Begaudeau. Based on the novel “Entre les murs” by Begaudeau
Logan Persall Smith, orang Amerika, penulis essai itu, pernah menulis begini: Jangan menertawakan sikap sok aksi (yang dibuat-buat) oleh remaja; Mereka hanya sedang mencoba berbagai macam wajah untuk menemukan wajah mereka sendiri.
Saya kemudian teringat kembali dengan kata-kata Pak Smith itu usai menonton film Entre Les Murs (Between The Walls) a.k.a The Class, karya sutradara Perancis, Laurent Cantet yang diangkat dari novel berjudul sama karya Francois Begaudeau.
The Class tidak menawarkan banyak gejolak kecuali hal-hal biasa yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari para pelajar. Berantem, bertengkar, berteman, bergaul, dan sebagainya. Tentu saja tak lupa dilengkapi dengan sikap pretensius antara guru dan murid. Guru yang menganggap muridnya sok pintar, dan murid yang mengganggap gurunya sok tahu.
Dalam tataran ini, wejangan Pak Smith tentu saja tidak mempan. Saya jelas tidak bisa menahan tawa melihat sok aksi para murid sekolah di salah satu wilayah Paris itu. Apalagi saat menghadapi guru mereka yang ganteng itu, dan membuat guru bahasa Perancis mereka tak berkutik menghadapi pertanyaan beruntun bertubi-tubi ala Socrates. Dunia sekolah itu jadi terasa nyata.
Ada Pak guru Francois Marin yang diperankan sendiri oleh penulis novelnya, Francois Begaudeau. Pak François ini adalah guru bahasa Perancis yang sangat tipikal orang Perancis. Terlihat bersahabat tapi kadang memandang remeh orang lain. Ia ternganga saat tahu salah seorang muridnya membaca The Republic-nya Plato dan menganggap Anne Frank’s Diary pilihan Pak François sungguh membosankan.
Lalu ada juga gambaran klise dan stereotipe anak pintar dan tertib yang selalu diberikan kepada anak Cina, yang pastinya terdengar aneh ketika mencoba berbahasa Perancis karena tidak bisa bilang R dengan tegas. Kemudian Esmeralda, anak Maroko yang selalu menyela dan bikin gerah Pak François. Dalam daftar kelas itu juga ada Khoumba, asal Afrika yang suka membantah. Ada Sulaiman dari Mali yang selalu acuh tak acuh. Dan banyak lagi karakter kulit berwarna lainnya yang melengkapi kehidupan penuh warna di kelas Pak François ini.
Selebihnya, nyaris tidak ada lagi yang menarik dalam kelas Pak François sehari-harinya. Perbedaan ras –The Class berlokasi di 20th Arrondissement yang terkenal sebagai wilayah imigran– yang sepertinya akan jadi bumbu utama ternyata hanya pancingan yang kemudian tidak lagi terlalu penting. The Class juga menampilkan stereotipe yang umum –setidaknya dalam pandangan masyarakat Eropa–: bahwa imigran itu sulit, bahwa orang Cina itu pintar dan tertib, bahwa orang berkulit hitam itu pembangkang, dan lain-lain.
Komposisi dalam kelas yang didominasi imigran, cara berpakaian dan sikap slebor yang ditunjukkan mereka, yang jelas tidak akan kita temui dalam sekolah borjuis Perancis yang pada umumnya necis, semuanya menampilkan stereotipe klise atau lebih tepatnya real.
Sampai pertengahan film yang berdurasi 129 menit, The Class seperti mengalir tanpa arah dan seperti asyik menampilkan hal-hal klise. Ia hanya berurusan dengan hal-hal kecil tentang pilihan bacaan, tata bahasa Perancis, pertengkaran kecil-kecil, dan sebagainya, yang membuat The Class riuh dengan dialog lucu yang kadang konyol kadang cerdas.
Karakter-karakter dalam The Class juga seperti lepas bebas sehingga nyaris tak ada kesan mereka sedang membentuk sebuah pola. Toh diantara kehidupan dalam sekolah yang seringkali membosankan itu, selalu ada hal-hal lainya. Dan inilah yang dibentuk oleh para murid-murid Pak François.
Sampai ketika ada ‘konflik’ –bukan seperti ‘konflik’ dalam pengertian kamus Hollywood–, masing-masing dari kita, baik itu semua karakter dalam film maupun saya sebagai penonton, tiba-tiba merasakan empati sekaligus simpati terhadap mereka semua.
Kita bisa menyalahkan sekaligus merasakan posisi sulit Pak François dan disaat yang sama juga ingin bersatu padu dengan para murid yang menentang kebijakan manajemen sekolah terhadap teman mereka. Disaat seperti ini, hal-hal ’stereotype’ yang jadi pondasi awal The Class berubah wujud menjadi sesuatu yang lain.
Laurent Cantet bersama Francois Begaudeau berhasil menjahit nuansa ketegangan dan keberagaman ras dari perca-perca ‘klise’ yang mereka gelar sejak awal. Cantet juga memberi ruang seluas-luasnya bagi setiap aktor-artisnya untuk berimprovisasi mengembangkan karakter masing-masing –yang stereotype– sehingga The Class jadi terasa penuh dan hidup.
The Class akhirnya tidak hanya bicara tentang remaja yang sedang mencoba menemukan wajahnya sendiri, ia juga bicara tentang sistem pendidikan, tentang komunitas multikultur, tentang dialog antar remaja dan orang dewasa, tentang susahnya menjadi pengajar, dan terutama, asyiknya menjadi remaja yang sedang dalam proses memahami banyak hal.
Seperti Pak François yang akhirnya sadar bahwa wejangan Pak Smith agar tidak menertawai sikap sok aksi para remaja itu ada benarnya. Lihatlah bagaimana mereka bertengkar tapi kemudian saling membela saat dibutuhkan. Lihatlah bagaimana mereka jadi penerjemah antara ibu dan guru-gurunya. Masalah ras akhirnya jadi terlihat remeh walaupun tidak bisa diabaikan.
Meskipun Laurent Cantet mengatakan bahwa The Class adalah sebuah molekul kecil dalam sebuah bangsa bernama Perancis yang dilihat dengan kaca pembesar, tapi toh ia juga bicara hal-hal universal, secara halus dan berlapis, tanpa perlu keluar dari pagar sekolah.***
WERNER HERZOG LIBURAN DI UJUNG BUMI
Film: ENCOUNTERS AT THE END OF THE WORLD
Sutradara: Werner Herzog
—-
Martin Luther, the reformer, was asked : « What would you do, if the world came to an end tomorrow?” and he replied: “I would plant an apple tree”. Tapi Werner Herzog bilang: “I would start shooting a new film.”
—-
Liburan telah tiba bagi Werner Herzog. Berpuluh tahun lamanya Herzog berkelana ke pelosok-pelosok benua yang tidak terpikirkan oleh sebagian besar masyarakat modern saat ini. Dan ketika ia memilih berlibur, kita bisa maklum, tempat liburannya juga tidak biasa. Pilihannya disebuah tempat di ujung dunia paling selatan: Antartika !. Sambil ‘liburan’ itulah, ia membuat semacam travelogue yang diberi judul Encounters At The End Of The World.
Dari travelogue ini, terlihat dan terdengar jelas, Herzog berangkat dengan riang gembira. Tak paham betul mau bertemu siapa, atau mau berbuat apa. Maklum, ia sudah lama bermimpi ingin kesana, tapi tak punya akses. Ketika National Science Foundation America menawarkan semacam beasiswa untuk program Antarctic Artists and Writers Program, Herzog tak menyia-nyiakan kesempatan.
Dengan tekun Herzog juga melewati prosedur program, mulai dari menulis proposal, membuat surat motivasi hingga wawancara. Menurut Herzog, ia meng-iya-kan saja semua syarat-syarat program tersebut. Termasuk hasil ‘penelitian’ yang nantinya harus berguna bagi pendidikan, pengembangan pengetahuan tentang objek penelitian dan pemahaman yang lebih luas tentang Antartika.
Ia juga tidak keberatan dengan beberapa syarat, antara lain tidak membolehkan pekerja film membawa peralatan berat, tidak boleh membawa kru yang banyak, serta tidak boleh merepotkan peneliti disana misalnya dengan meminta kamp khusus untuk membuat film selain yang sudah ada disana.
Syarat-syarat ini jelas tidak terlalu sulit bagi Herzog. Sutradara asal Jerman ini cukup mengajak seorang kameramen, Peter Zeitlinger, untuk menemani perjalanannya ini. Hal-hal teknis lainnya praktis dikerjakan mereka berdua. Mulai dari tata suara hingga tata cahaya. Hanya saja, kali ini Herzog harus sedikit mengalah untuk urusan kamera. Selama tujuh minggu izin tinggalnya disana, Herzog akhirnya pasrah hanya memakai high-definition video camera. Pertama kali dalam karirnya, Herzog membuat film tanpa 35mm. ‘Yang penting, saya bisa liburan disana,’ katanya.
Suara Personal Yang Khas
Kamera Zeitlinger mulai bekerja sejak pesawat kecil yang membawa mereka mendekati wilayah putih mahaluas dibawah sana. Herzog –berbahasa Inggris dengan aksen Jermannya yang kental—bercerita dengan suara dan gaya khasnya. Sekedar catatan, film-film dokumenter Herzog tidak pernah memakai ‘suara’ orang lain.
Suaranya yang agak serak serak, tidak bariton dan juga tidak karismatik menemani sepanjang 99 menit Encounters. Pria yang juga sutradara panggung opera ini bukannya tidak berusaha membuat suaranya terdengar ‘agak berwibawa’. Kadang-kadang terdengar ia seperti bercerita dengan tempo dan nada suara yang terjaga layaknya pemain sandiwara radio.
Usaha untuk terdengar ‘karismatik’ ini dibeberapa momen justru terdengar menggelikan –dalam arti positif–. Seperti ketika ia mulai prolog diawal film tentang keberadaannya di kutub selatan. Nada ‘sok’ karismatik nya lama-kelamaan makin memudar ketika Herzog mulai masuk lebih dalam. Apalagi saat bercerita tentang pelatihan bertahan hidup ditengah badai Antartika. Dalam pelatihan ini, kepala setiap orang ditutup ember putih, dan diperintahkan mulai berjalan kearah tujuan mengikuti sebuah tali dan yang paling utama, insting. Hasilnya amburadul.
Dibagian ini, suara ‘sok’ wibawa Herzog tidak sanggup bertahan. Meski ia nyaris tak pernah nampak di layar, sebagai penonton kita bisa merasakan, Herzog sedang tertawa geli. Nada narasinya juga berbeda dibeberapa bagian. Bagian tentang orang-orang yang ditemuinya, tentang rasa ingin tahunya yang tak terbendung, atau saat ia kebingungan mengajak narasumber nya untuk ngobrol, dan tentang hal-hal kecil yang ditemuinya di pusat penelitian habitat Antartika, McMurdo Station.
Kehadiran narasi sutradara kelahiran Munich 66 tahun lalu ini lewat ‘voice over’ –dalam film, sosok Herzog terlihat hanya sekilas– kadang hadir sebagai narasi pengantar, kadang juga berfungsi sebagai penghubung antara momen yang satu dengan yang lain dan kadang menjadi suara yang terlibat.
Sebagai narator, kita seperti mendengar nada seorang ayah yang mendongengkan kisah kepada anak-anaknya. Atau seperti mendengar tetangga sebelah yang bercerita tentang pengalaman liburannya. Atau mendengar teman sebaya melontarkan uneg-unegnya. Seringkali, Herzog memberikan ruang luas bagi narasumbernya untuk bercerita. Tapi kalau kelamaan, ia juga tak segan memotong.
Sebagai suara yang terlibat dan banyak bertanya, suara Herzog –dalam arti harfiah maupun perlambang– seperti suara orang kebanyakan, suara ordinary people, yang kebetulan dapat kesempatan untuk berkunjung ke satu-satunya wilayah tak terjangkau peradaban kecuali bagian dimana McMurdo Station berdiri. Herzog seperti paham apa yang ada dikepala sebagian orang yang akan menonton Encounters.
Sutradara Grizzly Man ini ke ujung dunia dengan ‘kosong’, tanpa pretensi dan tanpa beban filmnya akan jadi seperti apa. Ia mengaku tidak mengerti ‘natural science’ sama sekali. Tidak paham tentang kehidupan seperti apa yang ada diujung bumi ini. Tapi ia tidak bisa menutupi rasa takjubnya yang terlihat jelas dalam Encounters. Dengan hanya berbekal banyak pertanyaan, Herzog bertanya sesuai kata hati tanpa beban ilmiah. Karena itu, pertanyaannya adalah pertanyaan saya juga, rasa penasarannya adalah juga rasa penasaran saya.
Herzog ingin tahu hal-hal dasar yang justru jarang ditanyakan. Dimulai dari, mengapa anda ada disini? Apa menariknya sih meneliti tentang es? Apa sih impian anda? Kenapa sih kita tidak boleh ngomong beberapa menit sebelum menyelam? Sampe pertanyaan yang berkembang jadi konyol seperti: saya dengar, penguin juga punya kecenderungan gay atau lesbian ya? Mereka juga bisa gila ya?.
Pertanyaannya pun tidak sebatas pada para peneliti, tapi juga kepada tukang masak, pengemudi truk, tukang kayu, hingga tukang cuci piring. Dari pertanyaan-pertanyaan dasar yang berkembang sesuai reaksi narasumbernya itu, Herzog menemukan banyak cerita. Pria yang selalu konsisten dengan ceritanya dalam setiap wawancara ini berhasil membuat saya percaya bahwa setiap orang punya sesuatu yang menarik untuk diceritakan ditanah itu.
Herzog nampak sedang berusaha memuaskan dahaga ingin tahunya terhadap padang es itu, dan terutama sekali, terhadap manusia-manusia yang memilih untuk datang dan bekerja disana. Encounters jadi kaya akan karakter-karakter yang mungkin sulit ditemukan dan sulit dibayangkan akan ada dalam film-film cerita biasa.
Sementara kamera Zeitlinger asyik mengabadikan keindahan alam bawah laut serta kehidupan nyentrik manusia-manusia diatasnya, Herzog juga asyik bertanya dan bertanya. Kerjasama keduanya jadi karya yang akan sulit disamai oleh para pekerja film lainnya. Cara bertutur Herzog yang ‘lugu’, disertai komentar-komentarnya yang menggelikan, membuat Encounters jadi dokumenter serius yang penuh humor. Film Herzog yang ke 54 ini jelas jauh bedanya dengan buatan Discovery Channel atau National Geographic Channel.
Sentuhan personal dan subjektifitas Herzog di tanah putih yang menakjubkan dan misterius itu jadi lebih manusiawi, walau tetap membuat Antartika tak kehilangan sedikitpun daya magisnya. Encounters jadi film Herzog yang paling santai, penuh humor dan sekaligus paling indah. Beginilah jadinya ketika Herzog memutuskan untuk berlibur sambil menenteng kamera.***


leave a comment