Sebuah Catatan Untuk Lou Ye
Summer Palace
Film yang memperlihatkan wajah sebuah generasi di Cina yang sedang bereformasi. Karya salah satu sutradara ‘bandel’ dari generasi keenam sineas Cina. Summer Palace mendapat nominasi untuk Palme D’Or 2006 tapi terpaksa dibatalkan. Lou Ye, sutradaranya kemudian dilarang membuat film selama 5 tahun. Ada apa di film ini?
Mengapa Lou Ye harus dihukum gara-gara film ini ? Pertanyaan itu terus mengusik saya sepanjang menonton film Summer Palace. Hukumannya tidak tanggung-tanggung pula: 5 tahun tidak boleh bikin film!. Bagi Lou Ye yang sedang ‘horny’ bikin film, hukuman ini jelas menyiksa. “Mungkin saya akan jadi pedagang saja,” katanya terkekeh waktu kami sempat ngobrol di Rotterdam, awal tahun lalu. Dia tentu saja bercanda. Ia mengaku sudah tidak bisa mencari pekerjaan lain di luar dunia film.
Lou Ye sudah dua kali menerima hukuman seperti ini. Pertama gara-gara filmnya Weekend Lover dan Suzhou River (akhirnya dirilis tahun 2000). Weekend Lover dilarang beredar. Suzhou River membuat Lou Ye tidak boleh membuat film selama 2 tahun. Meski Suzhou River mendapat penghargaan diberbagai festival international, termasuk Tiger Awards di Rotterdam Film Festival 1999, butuh waktu satu tahun untuk membuat film ini akhirnya bisa diputar secara resmi di sinema.
Karena larangan membuat film selama 2 tahun itulah maka Lou Ye baru boleh membuat film dan menyelesaikan Summer Palace pada 2006 lalu. Summer Palace kemudian masuk nominasi untuk memperebutkan Palme D’or di festival Film Cannes 2006. Summer adalah satu-satunya film Asia di tahun itu yang masuk nominasi.
Belakangan ketahuan, saat di putar perdana di Cannes, Summer Palace ternyata belum lolos sensor dan belum mendapat ijin untuk dipertontonkan di luar negeri. Jadilah film itu langsung hilang dari peredaran usai festival film itu berakhir. Lou Ye hanya bisa garuk-garuk kepala. “Yah mau bagaimana? Saya bikin film toh bukan untuk disimpan di kantor sensor,” kata Lou Ye dengan wajahnya yang jahil.
“Menurut badan sensor, film ini tidak lolos sensor dan tidak mendapat ijin keluarnegeri karena kualitas gambar dan suaranya yang tidak memenuhi standar bioskop,” kata Lou Ye. Kita bisa ketawa geli dan mungkin maklum kenapa sampai Lou Ye nekat memutarnya di Cannes.
Harus diakui, Lou Ye, memang ‘anak bandel’ di dunia perfilman China. Ye adalah salah satu dari generasi keenam sineas China. Karya mereka (Lou Ye, Zhang Yuan, Wang Xiaoshuai, dll) jelas melabrak apa yang pernah dibangun oleh para generasi kelima (diantaranya Zhang Yimou dan Chen Kaige) yang cenderung manis dan masih menggunakan metode tradisional dalam segi tehnis maupun gaya penceritaan.
Generasi keenam ini jelas jauh berbeda. Mereka adalah generasi ‘badung’ yang anti-romantisasi, anti kapitalis, anti bermanis-manis dan memilih film sebagai alat presentasi mereka terhadap perubahan yang terjadi di Cina. Kehidupan urban kontemporer disorot ‘telanjang’ dan apa adanya.
Dan inilah yang membuat otoritas yang berkuasa di Cina tidak main-main galaknya. Selain menghukum Lou Ye untuk tidak bikin film selama 5 tahun, Summer Palace juga ‘ditahan’ peredarannya. Master copy disita dan Lou Ye akan kena denda 5 sampai 10 kali lipat dari hasil penjualan film tersebut.
Beberapa distributor international termasuk Wild Bunch –yang suka mengambil resiko membeli film-film controversial dan provokatif seperti 9 Songs — bersatu padu agar film ini bisa segera di edarkan.
Dan akhirnya, Desember 2007, Summer Palace pun dirilis walau akan sulit masuk jaringan bioskop-bioskop besar. Di Belgia misalnya, Summer langsung di putar di Actor Studio, sinema khusus memutar film-film independen yang tidak tembus dan sulit ditonton di sinema mainstream.
Ketika film ini muncul di Actor Studio, saya tidak ragu-ragu menontonnya dengan rasa penasaran yang buncah. Lou Ye pernah berpesan, “Jika kamu suatu saat punya kesempatan menontonnya di layar lebar, tolong perhatikan apa yang membuat film ini tidak bisa diterima”.
Mandat itulah yang terus terngiang dari menit pertama menonton Summer Palace. Dan setelah menontonnya, tetap saja saya tidak mengerti kenapa Lou Ye harus dihukum selama itu. Lou Ye memang melanggar ketentuan karena tidak menunggu sampai mendapat persetujuan, tapi alasan yang diberikan padanya juga tidak kalah keterlaluan. Alasan teknis karena kualitas gambar dan suara yang buruk ?.
Secara teknis, Summer dibuat dengan nuansa dokumenter, banyak menggunakan kamera hand-held yang gelisah, dan tata suara yang bergaung. Karya Lou Ye ini jelas tidak bisa dibandingkan dengan karya-karya Zhang Yimou yang rapi, bersih dan teratur. Summer jauh dari rapi apalagi bersih. Ada kesan sembrono dan bagian yang continuity-nya tidak diperhatikan. Jejak-jejak neorealis Italia dan cinema vérité terlihat. Rasanya kok ya tidak logis untuk menyita karya ini karena tidak rapi.
Kita bisa curiga, ada alasan lain dibalik itu. Summer Palace memang tipikal film yang akan membuat anda sangat suka atau sangat tidak suka. Sederhananya, Summer Palace adalah kisah cinta. Film ini setidaknya akan membuat sebagian penonton teringat akan ‘cinta pertama’. Bagi yang pernah mengalaminya, Summer Palace pasti bisa dipahami dengan mudah. Mengikuti dorongan hati yang menggebu, selalu ingin bertemu, tidak bisa lepas dari pasangannya, dan semua bumbu kecil-kecil lainnya.
Yu Hong (diperankan Lei Hao) seperti juga gadis remaja yang jatuh cinta pada umumnya dipenuhi rasa cemburu yang berlebihan dan membuat pacarnya, Zhou Wei (Xiaodong Guo) kegerahan. Kita bisa mangkel melihat kelakuan Yu Hong, atau sebal dengan Zhou Wei atau ingin menonjok orang ketiga yang mengintervensi. Bukankah banyak perempuan yang selalu minta ketegasan soal cinta? Bukankah banyak laki-laki yang selalu muak dimintai ketegasan?
Semua ramuan madu dan racun cinta ada di film ini, tapi anehnya, tidak klise. Hubungan mereka bergelombang naik turun. Sampai keduanya kelelahan dan kehabisan tenaga untuk bertahan. First love never dies mungkin berlaku bagi mereka. Sampai disitu, badan sensor tidak punya alasan untuk menggerakkan guntingnya.
Seks ? Okelah, Summer Palace mungkin agak berlebihan. Summer tercatat sebagai film Cina pertama yang terang-terangan memperlihatkan tubuh telanjang pria dan wanita. Tapi, adegan seks di film ini memang jauh lebih realis dibandingkan adegan seks Hollywood yang terlihat seru doang tapi sering lupa buka celana –jika anda tahu maksud saya–.
Adegan seks yang berani ini jika dipotong sedikit, juga tidak akan mengganggu jalannya seluruh cerita tapi pasti akan berpengaruh pada penilaian kita terhadap karakter-karakternya yang impulsif.
Aborsi ?. Film karya Christian Mungiu, 4 Months 3 Weeks 2 Days yang jelas ada adegan aborsinya lolos masuk ke Cina dan akan diputar resmi awal tahun 2008. Bunuh diri? Gaya hidup bebas tanpa aturan? Ataukah karena Summer Palace berlatar belakang tragedi Tiananmen?. Mungkin juga.
Kisah cinta Yu Hong – Zhou Wei mengambil setting di era reformasi Cina dibawah pemerintahan Deng Xiao Ping pada 1980an. Demokrasi didengung-dengungkan akan membawa perubahan. Kelompok paling bersemangat mendukung demokrasi tentu saja generasi muda berstatus mahasiswa.
Lou Ye akrab dengan peristiwa ini. Kita bisa maklum, Lou Ye yang lahir pada 1965 ini masih berstatus mahasiswa di Beijing Film Academy pada 1989. Lou Ye adalah salah satu diantara ribuan mahasiswa yang turun kejalan menuntut demokrasi yang utuh dan meminta ruang gerak yang lebih luas untuk kebebasan berekspresi dan berpendapat. Karena itulah reka ulang peristiwa Tiananmen di Summer Palace terlihat sangat nyata apalagi dengan memasukkan footage asli.
Saya sempat senyum-senyum sendiri ketika seorang rekan saya mempertanyakan adegan saat demonstrasi makin memuncak. Sebuah mobil dibakar dan mahasiswa-mahasiswa melemparinya dengan batu. Lalu datang segerombolan tentara yang menembak dan orang-orang itupun bubar dan jalan-jalan sepi seperti kota mati. Betapa adegan ini seperti membawa saya kembali di sepanjang pertengahan tahun 90an, nun di Indonesia sana.
Rekan saya bilang, adegan itu tidak masuk akal. “Buat apa orang-orang itu melempari batu kearah mobil yang terbakar? Dan tiba-tiba jalan-jalan sunyi,” katanya. Saya hanya manggut-manggut. Menurutnya, gara-gara adegan itu, film ini jadi kehilangan nuansa realisnya. “Lou Ye mau sok romantis,” tuduh rekan saya.
Saya pun tak bisa menahan tawa. Untuk pertama kalinya saya bangga pernah menjadi bagian dari demonstrasi nasional ketika Soeharto terpaksa turun tahta. Betapa berbedanya kami memandang adegan yang tak lebih dari 3 menit itu.
Peristiwa penembakan oleh tentara kearah kerumunan mahasiswa yang berkumpul di Tiananmen itu adalah topik terlarang di Cina hingga saat ini. Seperti jalan-jalan yang tiba-tiba sepi setelah tembakan dilepas, gaung Tiananmen langsung teredam di Cina. Summer Palace adalah film pertama yang berani memunculkan kembali peristiwa yang ingin dilupakan itu.
Ada kritik yang mengklaim, Lou Ye hanya ingin sekedar cari sensasi dengan memunculkan peristiwa bersejarah – ia juga menggunakan footage saat runtuhnya tembok Berlin di Jerman, mundurnya Gorbachev di Rusia—. Tapi saya ingin berprasangka baik. Justru Tiananmen dan tergoyangnya komunisme adalah latar yang paling pas untuk Summer.
Pada masa itu, Cina mulai membuka diri terhadap dunia internasional meski masih malu-malu. Pengaruh barat sedikit demi sedikit menyusup sampai ke gaya hidup generasi muda di Cina. Tukar informasi tentang gaya hidup barat menjadi topik hangat. Reformasi dan modernisasi berdengung disetiap obrolan santai. Kata freedom atau kebebasan seperti mewabah dimulut-mulut pemuda-pemudi Cina. Kebebasan ini diperlakukan bukan sekedar cuap-cuap tapi juga di praktekkan.
Di dalam asrama-asrama mahasiswa yang sumpek dan bising itu, mereka bereksperimen tentang berbagai hal termasuk soal seks. Mahasiswa pria menyusup masuk ke asrama putri, demikian juga sebaliknya. Karakter-karakter di Summer Palace adalah produk dimasa yang gegap gempita itu.
Peristiwa sejarah dalam film ini bisa dianalogikan seperti engsel pintu. Ia bertindak sebagai penguat meski tidak lantas jadi bagian dari keseluruhan cerita. Peristiwa sejarah dan kisah cinta Yu Hong – Zhou Wei ini berdampingan dan terkait di titik-titik tertentu.
Banyak memang kisah cinta berlatar sejarah (saya ambil contoh Pearl Harbour yang ‘cheesy’ itu). Pencapaian Summer Palace jelas jauh diatas Pearl Harbour. Saya tidak akan menjelaskan lebih lanjut. Bagi mereka yang lebih suka bermimpi, silahkan menonton Pearl Harbour. Bagi yang suka menghadapi kenyataan apa adanya, Summer Palace adalah film yang pas.
Dari cara penyuguhan ala documenter yang nyaris mendekati kenyataan ini, mungkin kita bisa mengerti mengapa Cina sampai malu mempertontonkan Summer Palace. Sebuah negeri yang sedang memupuk kedigdayaannya tentu tidak mau memperlihatkan ketelanjangan yang terekam dalam Summer. Film ini adalah potret yang selalu ingin disembunyikan dari brosur-brosur wisata tentang Cina. Tapi sampai menghukum sutradaranya selama 5 tahun ? Ini yang tidak akan saya mengerti.
Adapun peristiwa sejarah di film ini yang banyak dikritik justru membuat saya jadi teringat sesuatu. Pada akhirnya, peristiwa sejarah memang berbeda dengan sejarah pribadi. Yang membedakan adalah kenangan. Sejarah menyimpan kenangan kolektif, seperti saat orang-orang mengenang tragedi Tiananmen setiap tanggal 4 Juni. Bagaimana dengan Yu Hong? Bagaimana dengan Zhou Wei?
Mereka adalah pribadi-pribadi yang ikut berdemo ketika peristiwa sejarah memanggil. Tapi mereka punya kenangannya sendiri yang tidak mungkin bisa dibagi secara kolektif. Ketika peristiwa sejarah itu lewat, mereka masih tetap berurusan dengan kenangan –yang kebetulan buruk– sambil terus berusaha untuk melanjutkan hidup.
Tidak adil rasanya kalau menuduh peristiwa sejarah di film ini cuma sekedar cari sensasi. Tentu saja ini pandangan saya pribadi. Ada yang berkomentar pedas terhadap karakter-karakter yang cuma sibuk dengan urusan hati. Tapi saya kemudian teringat dengan revolusi 1998 saat masyarakat Indonesia menuntut reformasi. Seberapa banyak dari kita yang mengerti duduk perkara?
Saya waktu itu masih mahasiswa. Saya tahu Indonesia sedang guncang. Sejarah sedang bersiap mencatat. Waktu itu menjelang ujian, tugas sedang banyak-banyaknya. Tapi professor saya pun turun ke jalan. Saya ikut tentu saja. Ikut berdemo. Ikut naik truk menuju lapangan. Ikut teriak-teriak biar makin heboh.
Teman saya yang sedang naksir anak kedokteran juga ikut. Berharap kecengannya itu ada dikerumunan. Teman saya yang lain malah bertemu pacar yang kemudian dinikahinya beberapa tahun kemudian. Pokoknya kami semua ikut, apapun itu artinya. Motivasi kami jelas, atas nama solidaritas.
Tapi setelah peristiwa itu lewat, saya harus berhadapan dengan professor saya yang menagih. Teman-teman saya juga panik menghadapi tagihan tugas dari professor masing-masing. Untuk ini tidak ada solidaritas. Ketika setiap orang Indonesia memperingati peristiwa bersejarah yang berpuncak pada Mei 1998 itu, saya selalu teringat pula dengan nilai D gendut diatas kertas ujian saya.
Tentu saja setiap orang punya kenangannya masing-masing. Saya dengan nilai D gendut setelah tragedy Mei, Yu Hong dengan penghianatan Zhou Wei saat peristiwa Tiananmen meletus atau Zhou Wei dan urusannya yang belum selesai dengan Yu Hong saat meninggalkan Cina ketika tembok Berlin runtuh. ‘Life goes on and on and on… !’ ***
tulisan ini juga di muat di www.rumahfilm.org
“Kurdi Lebih Berbudaya dari Amerika”
Pria dengan sweater merah itu melambai. Dia rupanya tahu, sedari tadi saya menunggu sampai dia selesai ngobrol dengan seorang tamu. “Maaf ya, pertemuan kita tertunda kemarin,” Ia menyapa ramah, sambil menarik kursi untuk saya. Ya, kemarin pertemuan kami batal, karena jadwal pesawatnya tertunda. “Tidak keberatan kalau kita duduk disini kan? saya suka sinar matahari,” katanya sambil menatap keluar jendela, kearah pantulan matahari dikaca. Di tangannya tergenggam cangkir kertas berisi kopi yang asapnya mengepul pelan.
Pria itu, Bahman Ghobadi, duduk tenang sambil sesekali meremas tangannya agar tetap hangat. Udara di Rotterdam akhir January memang dingin, dan setiap orang mencari matahari. Saya tentu saja tidak keberatan. Penghangat listrik rupanya tidak cukup punya daya menghangatkan ruang kaca besar di lantai 3, gedung De Doelen. Meski mengerti dan bisa berbahasa Inggris, Ghobadi minta ditemani seorang penerjemah. “Saya tidak terlalu lancar berbahasa Inggris,” katanya.
Bahman Ghobadi lahir pada 1 Februari 1969 di Baneh, sebuah kota kecil di propinsi Kurdi, Iran, yang berbatasan dengan Iraq. Ghobadi belajar teknik membuat film di Iranian Broadcasting College. Awalnya dia bekerja sebagai fotografer, tapi kemudian beralih ke film dengan membuat dokumenter pendek.
Ghobadi mendirikan rumah produksinya Mij Film pada 2000 dan mulai membuat feature film. Film awalnya, A Time For Drunken Horses meraih Camera D’or di Cannes Film Festival 2000. Lalu Marooned in Iraq yang mendapat Gold Plaque dari Chicago International Film Festival pada 2002, kemudian menyusul Turtles Can Fly pada 2004 yang memenangkan berbagai penghagaan bergengsi di festival festival film internasional.
Dengan sedikit ragu-ragu, saya membuka obrolan dengan bertanya soal eksekusi Saddam Husein. Dan benar saja, wajahnya langsung berubah.
Secara tidak langsung film-film Anda banyak menyorot kehidupan di perbatasan Iran-Iraq akibat dari kebijakan dari pemerintahan Saddam Husein. Sekarang, Saddam dijatuhi hukuman mati. Menurut Anda apakah akan ada perubahan?
Saya tidak suka dengan pertanyaan ini. Semua yang terjadi di middle east adalah sebuah permainan. Permainan yang bodoh, dan gila. Saddam Husein, adalah orang yang dibina oleh barat, ditempatkan oleh barat, diberi kekuasaan oleh Barat, diciptakan sebagai monster oleh barat dan menjadi diktator juga atas restu Barat. Lucunya, dia dieksekusi oleh Amerika, padahal mereka sudah mengeruk banyak keuntungan, mengeruk banyak uang dari Saddam. Alur yang memuakkan, cerita lama yang sama. Saya menonton soal eksekusi itu. Itu, sangat gila. Saya tidak percaya hidup di jaman gila begini. (Kepalanya menggeleng-geleng. Ia kembali menghirup kopinya yang tinggal setengah)
Ok, mari kita bicara film saja. Apakah masyarakat Kurdi bisa menonton film Anda?
Ada kurang lebih 40 juta warga Kurdi dan ditanah Kurdi mereka hanya punya 4 atau 5 cinema. Susah untuk mempertontonkan film saya. Apalagi bisnis film komersial tidak memberikan banyak ruang bagi independent cinema. Rasanya sama juga dengan di Indonesia. Aturan yang berlaku di dunia bisnia film adalah aturan Hollywood: sinema bukan dianggap sebagai bentuk seni, tapi bisnis di seluruh dunia. Semua orang yang bekerja di dunia itu sekarang mencoba untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Mereka cepat melupakan objektivitas cinema, melupakan tujuan membuat film.
Untunglah, banyak DVD ilegal di pasaran. Itu sungguh membuat saya gembira. Saya tidak masalah dengan pembajakan karya saya. Mereka tidak punya uang, tidak punya cukup uang untuk membeli DVD asli. Hanya itu satu satunya cara agar mereka bisa menonton film saya. Dan mereka pantas untuk menonton film saya dengan cara itu. Toh saya menggunakan budaya Kurdi sebagai inspirasi, pertukaran yang sangat menguntungkan bagi saya.
Mengapa Anda sangat tergila-gila dengan budaya Kurdi?
Saya mengenal bahasanya, saya mengenal orang-orangnya, saya mengenal negerinya, karena itu saya punya kemampuan untuk memperlihatkan pada seluruh dunia, gambaran sebenarnya tentang suku Kurdi. Mereka adalah orang-orang yang baik dan ramah. Mereka adalah masyarakat dengan latar belakang, sejarah, dan akar budaya yang kaya. Begitu banyak hal yang bisa ditemukan dan menunggu untuk ditemukan. Tidak hanya mengenai Kurdistan, tapi juga seluruh Iran.
Anda harus tinggal di sana untuk menemukan elemen yang baik dari masyarakat yang baik ini. Anda harus hidup di sana. Iran tidak seperti yang anda saksikan di TV, atau di media. Tidak benar 1% pun. Dan itu sesuatu yang membuat saya sedih. Itu semua bukan gambar sebenarnya tentang Iran. Iran adalah salah satu wilayah dengan budaya yang paling kaya di dunia. Masyarakat yang berbudaya, masyarakat dengan sejarah yang agung.
Menurut Anda, suku Kurdi lebih berbudaya dari Amerika?
Suku Kurdi dan Iran adalah masyarakat paling berbudaya, lebih berbudaya dari Amerika. Amerika Serikat itu negara baru. Kurdistan dan Iran adalah salah satu negeri tertua didunia. Sama seperti Indonesia. Kamu punya sejarah, kamu punya masyarakat yang punya kebudayaan jauh lebih mengakar daripada Amerika. Semua itu tidak akan kamu dapati di Amerika serikat.
Saya menonton Opera Jawa, dan saya terpesona sekali. Itu film yang sangat bagus, menggambarkan betapa Indonesia punya sesuatu yang tidak akan pernah saya dapatkan dari menonton berita di CNN. Saya berharap bisa menonton film-film yang bisa memperkenalkan saya lebih jauh dengan budaya Indonesia. Opera Jawa adalah film Indonesia terindah yang pernah saya saksikan. Excelent.
(Tak lupa dia menitip salam untuk Garin Nugroho. Dia bilang, pernah diundang Garin makan nasi goreng di Cannes. Ghobadi nampak geli jika mengingat undangan itu)
Anda pernah jadi asisten Abbas Kiaroustami. Bagaimana ceritanya?
Itu 10 tahun lalu. Saya bekerja dengan Kiaroustami hanya beberapa hari. Saya sebenarnya lebih ke manajer produksi, tapi kemudian jadi asisten sutradara. Saya berada di lokasi syuting selama 10 hari, berniat untuk belajar sesuatu. Tapi selama di sana, saya merasa, itu bukan produksi yang saya inginkan. Saya ingin melakukan sesuatu yang lain. Bukan jenis produksi sinema yang saya cari. Saya benar benar menyukai film-film feature Kiaroustami di awal karirnya. Feature-nya yang belakangan ini saya sudah tidak terlalu nyambung, saya tidak terlalu suka.
Bagaimana dengan Makhmalbaf?
Saya adalah penasehatnya untuk soal Kurdistan. Saya membantunya mengenal lebih jauh tentang Kurdis. Saya membantunya beberapa hari. Kami bekerja sama dengan baik. Saya memang dengan senang hati selalu ingin membantu semua orang yang datang ke Kurdistan. Saya ingin mereka tahu, dan menemukan betapa menariknya bangsa Kurdi.
Kenapa memilih film?
Saya datang dari wilayah Kurdistan, bagian Iran. Iran punya sejarah panjang dalam industri film, 100 tahun lebih, dan selama itu tidak ada Sinema Kurdi. Saat ini saya mencoba untuk menemukan wajah sinema bangsa Kurdi.
Kapan mulai tertarik dengan film?
17 atau 18 tahun yang lalu. Saya memulainya dengan 8mm, bikin film pendek 8 sampai 10 menit dan masih menggunakan VHS.
Bisa ceritakan film pertama yang Anda tonton?
Hahaha …saya tidak ingat judulnya. Tapi itu film murahan. Saya ingat menonton dengan keluarga saya. Film action murahan di bioskop kecil dan sangat tua. Kalau mengingat menonton film itu dan melihat hidup saya sejauh ini, saya sadar, semua hal nyata yang sudah saya alami dalam hidup saya, adalah pengalaman yang tidak pernah dilihat orang lain sebelumnya.
Apa yang pernah saya saksikan dalam hidup saya adalah film panjang. Saya melihat banyak perang, tapi tidak di atas layar putih. Saya melihatnya nyata. Anda mungkina hanya bisa melihat James Bond dalam sebuah film yang punya License To Kill. Tapi saya menyaksikan ribuan James Bond di Irak.
Anda trauma?
Berat untuk mengatakannya. Tapi saya selalu ingat, 90% hidup saya banyak menyaksikan hal mengerikan, saya mengalami hari hari sulit, menderita. Saya melihat paman saya tewas. Sehari setelah itu, paman saya yang lain dengan sepupu saya, tewas terkena bom di depan mata saya. Saya melihatnya dengan mata kepala sendiri, melihat tubuh mereka hancur. Dua bulan setelah itu, bibi saya kehilangan kedua kakinya di tengah perang. Semua terjadi hanya dalam waktu 2-3 bulan. Di depan mata sendiri. Itulah kenapa saya selalu sakit kepala kalau menonton film film heroik macam James Bond.
Itu yang membuat Anda takut mati?
Saya ingin membuat film, saya ingin membuat sesuatu untuk negeri saya. Saya ingin punya energi untuk itu. Saya mencoba membuat beberapa orang agar menjadi asisten saya. Mendidik. Butuh waktu 10 tahun untuk bisa benar-benar belajar cara membuat gambar yang baik dan cara membuat film yang baik.
Dan saya takut, 10 tahun bukan waktu yang singkat. Bagaimana jadinya kalau asisten-asisten saya belum selesai belajar? Mungkin saya bukan guru yang baik, tapi setidaknya saya punya fasilitas dan sedikit pengalaman yang bisa saya bagikan kepada mereka. Saya takut mati sebelum itu terlaksana.
Saya selalu merasa dibayang-bayangi oleh kematian. Kadang-kadang tidak mengganggu tapi kadang sangat mengganggu. Tidak jelas apakah Iran akan ada perang lagi, apakah nanti Israel akan membom Iran, dll. Saya selalu berpikir, kematian mengitari kami. Saya bahkan pernah berpikir untuk bunuh diri, biar kematian tidak lagi membayangi. Tapi saya sadar, saya harus berbuat sesuatu dulu.
Bukankah kita semua akan mati pada akhirnya?
Ya, saya tahu maksudmu. Tapi saya bukan takut akan mati itu sendiri. Saya takut mati sebelum saya melakukan sesuatu. Itu yang mengerikan.
Anda percaya Tuhan?
Saya percaya. Tapi masalahnya saya tidak percaya ada reinkarnasi, saya tidak percaya ada hidup di kesempatan kedua. Kita lahir hanya sekali, dan kita bisa memilih apakah bisa mempengaruhi masyarakat atau tidak, apakah ingin berbuat sesuatu selama hidup atau tidak. Nah saya ingin berbuat sesuatu dulu.
Setelah itu kami melanjutkan obrolan tentang film-filmnya (kelak akan disertakan di-review film-film Ghobadi –red.), sampai seorang panitia mengingatkan bahwa Ghobadi masih punya acara lain. Sebelum mengucapkan selamat berpisah, Ghobadi meminta kamera yang sedari tadi saya gunakan untuk memotretnya dari berbagai sisi.
“Kesinikan kamera itu”
“Loh, untuk apa?”
Dia tertawa, dan langsung menyambar kamera ditangan saya.
“Kamu diam disitu, jangan banyak bergerak”
“Aduh, Pak Ghobadi, masa saya yang di foto, kan saya malu,” saya berdiri kikuk.
Penerjemah yang sedari tadi menemani kami ngobrol senyum senyum.
“Kepalamu miring sedikit biar kena matahari, ayo, jangan tegang begitu,” katanya memerintah.
“Aduh, aduh pak Ghobadi, saya harus bagaimana? Senyum?” Saya tambah kikuk.
“Nah, begitu lebih baik.”
Dan saya pun mendengar nada ‘klik’. Kamera itu diserahkan kembali kepada saya. Saya lihat hasilnya lewat LCD. Saya tidak suka difoto, karena saya tidak fotogenik. Tapi, saya di foto itu, terlihat begitu manis. Terima kasih, Pak Ghobadi.
(wawancara ini pertama kali diterbitkan di www.rumahfilm.org)


leave a comment