Diary Of A Moviegoers

Day 8: Filipina, Malaysia, Thailand, and seterusnya

Posted in Cannes 2009, Cannes Film Festival, Festivals, News, Notes, Serba-Serbi by akurini on May 20, 2009

Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62 

…nggak enaknya bangun pagi ditemani kopi tak enak yang kata mas Arya adalah kopi yang ditolak di pasaran dan disuguhkan buat para jurnalis di Cannes. Kopi tak enak ini juga tidak membantu menyegarkan ingatan tentang percakapan-perckapan kemarin. Hmmmm…

Oh ya, tentang film Filipina. Setiap orang punya pendapat berbeda dengan argumen masing-masing. Raya Martin misalnya tidak setuju kalau filmnya terpilih karena diproduseri orang Perancis. Ia juga membantah kalau filmnya masuk ke program utama karena ia mantan peserta Cinefoundation Residence. “Banyak filmmaker yang sudah pernah jadi peserta program itu dan tidak semuanya bisa menembus seksi penting di Cannes,” kata Raya.

Tan Chui Mui setuju. “Program Cinefoundation itu memang membuka peluang kami mengenal industri film dan cukup membantu mengajarkan bagaimana caranya mendapat funding. Tapi itu bukan jaminan. Tentu saja pengurus Cinefoundation mengikuti perkembangan proyek kami, tapi untuk bisa menembus seksi bergengsi di Cannes itu lain lagi ceritanya,” kata Mui yang jadi peserta residensi pada 2007 lalu.

Mui juga sependapat dengan Zuilhof bahwa para programmer di Cinefoundation juga berusaha membuka peluang seluas-luasnya kepada sutradara-sutradara muda dari Asia Tenggara untuk mengajukan aplikasi. “Tentu saja kita harus mendaftar, mengajukan proyek dan proposal. Itu prosedur. Tapi bahwa mereka desperately seeking for Southeast Asia filmmakear, itu benar.” Kata Mui.

Cinefoundation yang memulai program residensi ini sejak 2000 hingga saat ini baru menjaring 3 filmmaker dari asia tenggara yaitu Raya Martin, Tan Chui Mui dan Liew Seng Tat. “Saking inginnya mereka punya peserta dari Asia Tenggara waktu itu, mereka berkali-kali meminta saya untuk mendaftar,” kata Mui. Karena itu, Mui menyarankan agar sutradara-sutradara muda dari Asia Tenggara dan tentu saja Indonesia juga mendaftar ikut program ini.

Sepanjang pengetahuan saya, sudah banyak filmmaker dari program ini yang kemudian berhasil hingga ke Cannes. Misalnya sutradara perempuan asal Argentina, Lucrecia Martel yang berhasil masuk ke seksi kompetisi utama tahun lalu dengan filmnya The Headless Woman script film ini dikerjakan selama mengikuti program residensi  2002. 

Lalu ada Kornel Mundruczo yang menjadi peserta residensi 2004. Di tahun 2005, film Mundruczo, Johanna masuk seksi Un Certain Regard di Cannes lalu menyusul Delta di tahun 2008 yang masuk seksi kompetisi utama. Di tahun itu, Delta mendapat penghargaan dari Fipresci sebagai film terbaik. Pengembangan skrip Delta juga dikerjakan selama mengikuti program residensi. Dan masih banyak lagi sutradara muda lainnya.

So…wahai para filmmaker Indonesia. Jangan lewatkan kesempatan emas ini. Rebut kesempatannya dan nikmati fasilitasnya!

…hmmm, makin hari makin tidak bisa fokus mengomentari film. Terlalu banyak cerita di kepala. Beberapa film harus saya tonton lagi. Dua tahun lalu, Death Proof - nya Tarantino terlihat cool. Tapi begitu saya tonton lagi ketika tidak ada kerjaan, ternyata film itu membosankan sekali. Untuk selanjutnya, komentar yang saya tulis untuk sebuah film jangan terlalu dimasukkan di hati. Bisa berubah sewaktu-waktu tanpa Anda sadari.

Film-film kemarin:

Broken Embraces

Los Abrazos Rotos (Broken Embraces) –Pedro Almodovar— Kompetisi

It’s a very Almodovar, but it’s just a good movie. Not his masterpiece.

Demain Des L'aube

Demain Des L’aube (Tomorrow At Down) – Denis Dercourt—Un Certain Regard

Saya tertidur di 20 menit pertama. Berusaha tertawa walau garing di menit selanjutnya. Dan bosan di menit-menit terakhir.

Amintiri Din Epoca De Aur

Amintiri Din Epoca De Aur –Cristian Mungiu and the gang—Un Certain Regard

Filmnya lucuuuuuu banget! Tentang legenda-legenda dan kebiasaan-kebiasaan di era komunis di Romania. Jadi ingat cerita-cerita lucu dan kewajiban-kewajiban menggelikan di jaman Orde Baru di Indonesia. Mulai dari upacara bendera sampai menonton film G30 S tiap tahun.

Wild Grass

Les Herbes Folles (Wild Grass) –Alain Resnais—Kompetisi

‘Saya tidak mengerti kenapa film saya ini dipilih masuk kompetisi’. Itu kata Alain Resnais sendiri loh, bukan kata saya. Tapi saya percaya, ada film-film tertentu yang baru bisa dimengerti ketika kita sudah tiba di usia tertentu. Nah, mungkin saya baru bisa menikmati Les Herbes Folles dan dagelan-dagelannya ketika saya nanti berusia hmmm… lets say, 40 hingga 50 tahun ?

Film-film hari ini:

Inglorious Basterds

Inglorious Basterds –Quentin Tarantino—Kompetisi

Dengan kesadaran penuh, saya memilih tidak menonton film ini di Cannes karena minggu depan Basterds sudah akan rilis di bioskop. Jadi saya memilih untuk bertemu dengan sutradara dan aktor-aktornya saja. Tapi yang namanya Quentin Tarantino apalagi ada Brad Pitt, bisa dibayangkan bagaimana para fotografer akan saling injak menginjak untuk bisa mendapat foto-foto mereka dan para fans yang tega saling menyikut demi untuk mendapat tanda-tangan Brad Pitt.

Jadi agar terhindar dari sikut menyikut sesama fans dan selamat dari injakan fotografer, ditengah-tengah mereka yang berteriak ‘Brad Pitt…Brad Pittttt…Braaaaaaddd Piiiiiiiiiiit! Saya dengan suara full volume, heboh berteriak…Michael…Michaeeeeelll Fassbenderrrr! Dan berhasil. Kami pun bisa ngobrol ditengah-tengah orang berdesakan.

Saya : “You’re great in Hunger and Fish Tank!”

Michael : “Really? Wow, thank you very much.” (dengan aksen Inggrisnya yang kental dan seksi itu…hmmmm yummy!)

Saya : “Would you give me your autograph?

Michael : “Sure

Tak lama kemudian semua orang berkerumun meminta tanda tangan Fassbender sementara tak jauh dari situ terlihat kubu Brad Pitt bubar dengan tangan kosong karena Pitt yang sibuk melambai ke sana kemari.

Eyes Wide Open

Einaym Pkuhot –Haim Tabakman—Un Certain Regard

Aihhhh…tema gay memang belakangan ini jadi favorit rupanya. Dari China, Filipina, Perancis, hingga Israel. Gay Kristen, Muslim dan sekarang Yahudi. Saya tidak punya masalah dengan gay. It’s none of my business. Tapi melihat dua lelaki berjenggot dengan rambut kriwil-kriwil dikuping (ciri khas pria Yahudi) ciuman dan beradegan seks, bulu kuduk saya merinding juga. Nampaknya saya harus mulai terbiasa melihat adegan seks antar manusia dari jenis apapun.  

Nang Mai –Pen-Ek Ratanaruang—Un Certain Regard

Nonton hanya setengah karena ada janji wawancara. Tidak bisa komentar.

The White Ribbon

Das Weisse Band (The White Ribbon)—Michael Haneke—Kompetisi

Ini yang saya bilang film bagus tanpa cela dan saya tidak perlu menambah kata ‘tapi’. Untuk seksi kompetisi, film ini saya masukkan dalam peringkat pertama menyusul A Prophet-nya Jacques Audiard lalu Looking For Eric-nya Ken Loach. Semoga film ini menang! Amin.

Persembahan Resnais Untuk Komik

Posted in Classics, Reviews by akurini on January 6, 2008

iwanttogohome.jpg

 

 

 

I WANT TO GO HOME: 

 

 

 

Peringatan: Film ini wajib ditonton oleh para komikus, pengamat dan penikmat komik! Karena Alain Resnais mendedikasikan film ini untuk mereka. Untuk ini, Resnais mengajak Jules Feiffer sebagai penulis skenario. Feiffer adalah penerima Pulitzer pada 1986 untuk dedikasinya terhadap halaman komik di majalah The Village Voice selama kurang lebih 42 tahun. Feiffer juga pernah mendapat Oscar untuk film pendek animasinya, Munro ditahun 1961.  

 

 

Kolaborasi Resnais – Feiffer ini kemudian menghasilkan I Want To Go Home, sebuah komedi campuran Perancis-Amerika yang nyeleneh. Kehadiran Feiffer jelas memberikan sentuhan berbeda dari karya-karya Resnais yang lain, yang identik dengan tema dan struktur yang ‘agak berat’.  I Want To Go Home begitu ringan dan mengalir lancar dengan struktur yang tidak neko-neko.   

 

 Elsie (Laura Benson) seorang gadis asal Cleveland, Amerika, yang tergila-gila dengan segala hal tentang Perancis terutama dengan para sastrawannya, Jean Racine, Moliére, Corneille dan tentu saja Flaubert. Ia nekat meninggalkan Cleveland menuju Paris demi menjadi bagian dari lingkungan budaya Perancis. Sekaligus juga untuk menjauh dari ayahnya, Joey Wellmann yang kebetulan adalah komikus ternama di Amerika. Bagi Elsie, profesi terhormat adalah sastrawan, karena itu ia tidak pernah bisa bangga dengan profesi ayahnya sebagai komikus. Jauh dialam bawah sadarnya, Elsie malu punya ayah yang ‘cuma’ seorang komikus. 

 

 

Disisi lain, Joey Wellmann (Adolph Green) sudah mati langkah dan nyaris menyerah terhadap lingkungan komikus di Amerika. Namanya mulai tenggelam ditengah berjamurnya komik super hero di Amerika.  Tapi di Perancis, Wellmann tetap punya penggemar setia. Seorang professor playboy, Christian Gauthier (Gérard Depardieu) yang menganggap Wellmann adalah komikus jenius dengan karya-karyanya yang orisinil. Berbeda dengan Elsie, Gauthier tergila-gila dengan segala hal tentang Amerika. 

 

 

Sepanjang film, disana-sini muncul karakter-karakter komik garapan Feiffer. Melalui jalur komik, I Want To Go Home menceritakan banyak sisi tentang perbedaan persepsi.. Ada bentrokan budaya Perancis – Amerika  Di film ini, Resnais sedang ingin mengkritisi budaya Perancis yang terkenal ‘rude’ sekaligus menyentil sikap orang-orang Amerika yang selalu merasa ‘penting’ dan menganggap semua orang bisa berbahasa Amerika.  

 

 

Seperti ketika Wellmann memutuskan untuk menerima undangan pameran di Paris sekaligus mengunjungi Elsie. Wellmann kesal bukan main karena tak seorang pun bisa berbahasa Inggris. Ia terus mengomel kepada kekasihnya, Lena, dan terus mengancam ingin pulang saja. Belum lagi sikap orang Perancis –mulai dari supir taksi hingga penyelenggara acara—yang tidak punya kata ramah-tamah dalam kamus mereka. Orang Amerika yang selalu disambut ramah dimana-mana tentu langsung shock.  

 

 

Resnais sendiri menganalogikan bentrokan budaya Perancis – Amerika ini seperti minyak dan cuka. ‘Ketika dicampur dan diaduk, minyak dan cuka nampak berbaur, tapi ketika didiamkan beberapa waktu, akan terlihat perbedaan yang sangat jelas’. Analogi ini sangat pas menggambarkan apa yang terjadi di I Want To Go Home.  

 

 

Belum lagi sikap norak Wellmann ketika melihat sekelompok pria Arab dengan jubah panjang sedang asyik ngobrol. Wellmann langsung berteriak-teriak panik dan norak, ‘ada teroris, ada teroris…. Toloooongggg !’. Amerika banget ! (Harap dicatat, film ini dibuat jauh sebelum tragedi 9/11). Banyak  kejadian-kejadian menggelikan yang mengundang tawa di I Want To Go Home. Ciri-ciri khas orang Perancis dan Amerika banyak bertebaran di 101 menit durasi film ini.   

 

 

Tapi yang paling penting, Resnais juga mengungkap sebuah fenomena perbedaan persepsi yang cukup tajam dalam memandang komik sebagai karya seni (setidaknya di era 80an ketika film ini dibuat). Di Eropa khususnya Perancis, komik diperlakukan sebagai ‘major art’, sedangkan di Amerika, komik dianggap ‘minor art’.  Persepsi ini rupanya sangat mengganggu Resnais sebagai penggemar berat komik-komik Amerika macam Popeye, Bugs Bunny, atau Tarzan. 

 

 

Lewat tokoh Elsie yang ‘malu’ punya bapak komikus, dan lewat tokoh Gauthier yang memuja para komikus, Resnais ingin bilang bahwa komik sama pentingnya dengan karya sastra atau karya seni lainnya. “If you define art as something which is need a lot of decision to be made, then you can’t say that comic is less important,” kata Resnais dalam salah satu wawancara disebuah media. 

 

 

Bagi Resnais, membuat komik sama rumitnya dengan membuat film. Karena itu membaca komik pun butuh perhatian sama seperti ketika menonton film. Bagi Resnais, karya seni dalam bentuk apapun –dari komik hingga film— hanya ada dua kategori penting, ‘either is alive or is dead!’.   

 

 

Di I Want To Go Home, Resnais mencoba membuat penontonnya berpikir bahwa komik sama berharganya dengan karya Faubert. Resnais banyak menghadirkan sentilan-sentilan terhadap persepsi komik ini. Sentilan itu dihadirkan lewat sebuah konflik. Alkisah, Elsie memuja Gauthier karena buku yang ditulisnya tentang Flaubert. Sementara Elsie tidak tahu bahwa Gauthier adalah penggemar berat Wellmann (ayah Elsie).  

 

 

Meski agak sinis terhadap budaya Perancis-Amerika dan ingin mengedepankan peranan komik dalam masyarakat, I Want To Go Home tetap seimbang memperlakukan tokoh-tokohnya.  Konflik, termasuk ‘shock culture’ dan ‘culture perception’ diramu sebagai sebuah film komedi sekaligus sebuah pernyataan yang tidak berat sebelah.   

 

 

Sayangnya, niat mulia Resnais untuk mengangkat derajat komik kandas ditangan kritikus. I Want To Go Home gagal dipasaran ketika diedarkan pada 1988. Para kritikus rupanya sudah memasukkan Resnais kedalam kotak ‘sutradara film serius’. Sehingga ketika Resnais membuat komedi, mereka menganggap Resnais membenturkan kepala ke dinding alias gila.   

 

 

Lepas dari sambutan yang tidak hangat terhadap film ini, I Want To Go Home tetap dianggap sebagai salah satu karya penting Jules Feiffer. Untuk ini, Feiffer menerima penghargaan sebagai penulis scenario terbaik di Festival Film Venice 1988.  Feiffer sendiri menganggap, kerjasamanya dengan Resnais adalah salah satu karya terbaiknya untuk dunia komik.***  

 

 

Sutradara: Alain Resnais 
Penulis skenario : Jules Feiffer
Produit par : MK2 Productions , Films A2 , La Sept Cinéma
Avec : Adolph Green , Gérard Depardieu , Micheline Presle , Laura Benson , Linda Lavin , John Ashton
Durée : 106 minutes
Année de production : 1989