Para Maestro Itu

(Foto copyright AFP, taken from Festival Film Cannes Website)
5 BENUA, 25 NEGARA, 35 SUTRADARA
Suatu hari yang cerah, seorang petani bertandang kesebuah bioskop kampung. Ingin menonton film. Bioskop kumuh itu tua dan sekarat. Tapi setidaknya masih ada yang mau datang menonton film. Pemiliknya, Takeshi Kitano juga masih setia memutar film walaupun sering keteter. Buktinya, beberapa kali film terhenti karena urusan teknis. Tapi tak masalah, selama masih ada penonton dan masih ada yang mau memutar filmnya.Takeshi Kitano sang sutradara tampil sendiri sebagai sang pemutar film yang kikuk.
Film pendek 3 menit karya sutradara kawakan asal Jepang, Takeshi Kitano itu jadi salah satu dari 35 film pendek yang melengkapi karya kolaborasi 35 sutradara berjudul To Each His Own Cinema. Kolaborasi khusus ini diputar di Grand Theater Lumiere, Cannes, pagi ini, 20 Mei waktu setempat. To Each His Own Cinema dibuat untuk merayakan Cannes Film Festival yang ke 60. Masing-masing sutradara mengekspresikan hal-hal yang terlintas dibenak mereka tentang film, tentang kecintaan mereka pada dunia sinema. Selain Kitano, sejumlah nama besar lainnya ikut terlibat.
Diantaranya, sutradara Italia, Nanni Moretti, yang pernah membawa pulang Palme D’or pada 2001 untuk filmnya La Stanza Del Figlio (the Son’s Room). Film pendek Moretti berjudul Diary Of A Moviegoer menampilkan Moretti diberbagai bioskop sambil bercerita tentang sejumlah film dan dialog-dialog yang berlangsung ketika menonton film tertentu. Misalnya, dengan mimik lucu, Moretti bercerita suatu hari ke bioskop bersama putranya sementara dilayar menampilkan cuplikan film Matrix 2. « Dia bilang, ayah nanti kita menonton film itu ya. OK tentu saja. Tapi setelah saya pikir-pikir, saya harus memberitahu kenyataan sebenarnya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengatakannya langsung. Nak…kamu tahu, film ayah tidak seperti Matrix 2 loh ».
Diary Of A Moviegoer memang hanya 3 menit. Tapi dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, film sederhana itu mampu membuat Moretti mendapatkan applaus meriah dari penonton. Kemudian ada Walter Salles yang pernah berjaya di Cannes lewat filmnya The Motorcycle Diaries walaupun tidak menang. Salles membuat film pendeknya yang kocak berjudul 8.944 KM From Cannes. Tentang dua orang yang bercakap-cakap tentang film festival di Cannes seakan-akan sudah pernah berkunjung ke Cannes. Percakapan mirip lagu rap yang serba cepat itu sahut menyahut, « Memangnya kamu sudah pernah ke Cannes? » dijawab « Iya, dong ». Dibalas lagi « Loh bukannya kamu selama ini di penjara? ».
Selain mereka, sejumlah sutradara dari 25 negara di 5 benua juga menyodorkan karyanya. Dari Asia ada Wong Kar Wai dengan I Travelled 9000 km To Give It To You, Tsai Ming Liang dengan Its A Dream, Hou Hsiao Hsien bercerita tentang kenangan sebuah bioskop dalam The Electric Princess Picture House. Lalu nama-nama tenar lainnya antara lain dari Amerika ada Olivier Assayas, Coen Brothers, Alejandro Gonzalez Inarritu, Roman Polanski, Lars Von Trier, Wim Wenders, Manoel De Oliviera, Bille August, Jane Campion, dan Youssef Chahine.
Banyak diantara mereka yang mengaku baru pertama kali itu bikin film pendek. Diantaranya sutradara Denmark Lars Von Trier. « Ini adalah film terpendek yang pernah saya buat sepanjang karir saya sebagai sutradara, » katanya. Von Trier membuat Occupation, tentang sebuah sekuen singkat disebuah pertunjukan film. Seorang pria yang banyak bicara mengganggu pria disebelahnya yang asyik menonton film. Si pria bercerita tentang pekerjaannya, bisnisnya yang sukses hingga mobilnya yang berjumlah 8 biji.
Pria disebelahnya yang asyik menonton akhirnya terganggu. Ketika si pria cerewet bertanya, apa pekerjaannya. Pria yang lainnya, menjawab kalem, « pembunuh » sambil mengeluarkan palu dan menghantam kepala si pria bertubi-tubi. Penonton yang lain kaget sejenak, setelah itu kembali asyik menonton film termasuk si pria pembunuh. Sadis memang, tapi lucu.
Roman Polanski meski pernah membuat film pendek Two Men and a Wardrobe,–20 menit– tahun 1958 mengaku sempat kesulitan juga. Tapi film pendek 3 menitnya, Cinema Erotique, juga mendapat sambutan meriah. Polanski membuat sebuah scene di bioskop erotis dimana seorang pria selalu melenguh layaknya sedang mencapai orgasme. Dua penonton lainnya kesal. Penjaga dipanggil. Sang pria ditegur dan ketika dicek ternyata salah tempat duduk. « Kursi anda mestinya di balkon ». Si pria yang masih saja melenguh-lenguh menjawab « Iya, saya jatuh dari atas », sambil terus melenguh, kesakitan.
« Saya memang pernah membuat film pendek, tapi itu sudah lama sekali, saya hampir lupa cara membuatnya » kata Polanski tentang pengalamannya membuat film pendek. Toh meski tidak mudah, para sutradara ini berhasil menunjukkan kelas mereka sebagai sutradara-sutradara papan atas. “membuat film tiga menit saja sudah sulit, apalagi ditambah beban dengan pertanyaan dikepala ’sutradara lain bikin apa ya?’
Selain itu yang paling mengasyikkan bagi penonton adalah usaha tebak menebak sutradara. Masing-masing mereka selalu meninggalkan jejak. Occupation misalnya, jelas punya Von Trier. Gaya bertutur, pengambilan gambar hingga akting aktornya adalah ciri khas Von Trier. Beberapa film mudah dikenali, karena masing-masing sutradara meninggalkan autographnya di setiap 3 menit.
AKU
BABEL : Komunikasi Yang Tidak ‘nyambung’
Iklan film ini sungguh berhasil. Saya terus terang terpesona bahkan sebelum menonton filmnya. Sutradaranya, Alejandro Gonzalez Inarritu mendapat penghargaan sebagai sutradara terbaik di Cannes 2006 lalu.
Judulnya Babel, mengingatkan saya pada kisah Tower of Babel yang dicita citakan ujungnya bisa mencapai surga. Babel, bisa juga berarti ‘gate of the God’. Babel merupakan lambang rusaknya komunikasi antar umat manusia. Ketika itu manusia pongah, merasa bisa bahu membahu mencapai surga karena satu bahasa. Tuhan lalu menceraikan keutuhan itu dan manusia pun tak saling mengerti satu sama lain.
Menarik? Tentu saja…Belum lagi cerita cerita sepintas, bahwa film ini menggunakan 5 bahasa (simbol kisah Babel ?), dan di syut di 4 negara. Jadi, walau malam itu hujan turun, angin kencang, dan thermometer menunjukkan angka 4 derajat, dengan tekad baja, saya memutuskan untuk menonton.
Dan ternyata tidak hanya saya yang ingin menonton malam itu juga. Tiba didepan teater, antrian orang sampai keluar dijalanan. Rencana untuk nonton jam 6.30 itu akhirnya batal. Tapi namanya juga tekad baja, saya tetap mengantri untuk mendapatkan kursi di jam berikutnya. Jam 9.45 malem. Dan sekali lagi, saya harus berjuang untuk mengarungi udara dingin, angin dan gerimis.
Dan memang, film ini punya banyak potensi untuk membuat penonton terpesona. Benar, disyut dibanyak lokasi. Ada gurun-gurun, ada daerah tandus berdebu dengan terik yang menyengat di Maroko. Lalu lokasi lain di daerah nyaman di lingkungan tentram di Amerika. Kemudian, megapolitan yang gegap gempita di Jepang lengkap dengan ‘potret’ anak-anak muda Jepang yang gamang identitas. Lalu ada daerah kumuh Tijuana di Meksiko.
Benar pula di film ini menggunakan banyak bahasa. Seakan ingin bilang, penghalang bahasa tidak jadi soal. Toh, rangkaian skena sudah banyak bercerita. Ada bahasa Arab, Inggris, Perancis, Jepang, Spanyol, dan bahasa isyarat. Bagi saya, bisa membuat film di banyak lokasi di berbagai negara dengan berbagai bahasa adalah sebuah kemewahan yang sangat. Karena itu, sebelum film dimulai, saya sudah menuntut agar film ini ‘pasti’ dan ‘harus’ bagus. Entah dengan penonton lain.
Dan saya langsung suka dengan adegan pembuka. Diantara debu-debu, dan cuaca panas, seorang lelaki kurus kering datang berkunjung ke sebuah rumah kumuh di sebuah desa miskin di Maroko. Dia datang menawarkan senjata untuk ditukarkan dengan seekor kambing. Adegan sederhana diantara kekumuhan yang memikat.
Senjata itu kemudian diberikan kepada dua anak lelaki untuk digunakan sebagai senjata melawan serigala yang biasanya datang mengganggu kambing-kambing mereka yang jumlahnya puluhan. Namanya juga anak-anak. Senjata itu digunakan untuk bermain-main. Sebuah bus turis yang sedang melintas dijadikan objek percobaan. Sepintas tidak terjadi apa-apa. Tapi saya yakin, setiap penonton punya firasatnya masing-masing.
Lalu tanpa aba-aba, adegan berganti kebenua Amerika. Disebuah kawasan nyaman didaerah elit selatan California, dua bocah yang sedang ditemani pengasuh Mexiconya yang sedang gelisah. Si pengasuh ingin pulang ke Mexico untuk menghadiri perkawinan anaknya. Sementara orang tua dua bocah itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera pulang. Dia cari akal, dan akhirnya memutuskan untuk membawa mereka serta. Toh hanya untuk sehari.
Lagi-lagi tanpa pertanda, adegan berpindah nun jauh di Tokyo yang riuh. Seorang gadis tuli yang sedang marah. Amarah yang membuatnya terus gelisah. Hubungannya dengan sang ayah dingin, sehingga ia mencoba mencari kompensasi diluar, lewat pergaulan. Tapi itu juga tidak mudah, karena ia bisu dan tuli. Fakta yang membuatnya nyaris frustasi
Alejandro Gonzalez Inarritu dan Guillermo Arriaga penulis kisah ini kemudian mencoba menyatukan kisah di tiga tempat dan ruang yang berbeda itu. Bagaimana mereka bisa menarik benang merah ketiga sub plot itu agar bisa ‘nyambung’ ?;
Jangan lupa, ada orang-orang didalam bis. Anak-anak Marocco yang bermain-main dengan senjata itu tidak sadar, sampai berapa lama kemudian mereka melihat, bis itu berhenti ditengah jalan.
Wanita Amerika yang sedang sedih (diperankan Cate Blanchett) kala itu sedang tertidur, terbangun oleh sebuah suara tembakan. Antara sadar dan tidak, dengan wajah bingung dan sedikit oleng, ia menyadari jendela tempatnya bersandar terdapat lubang bekas peluru. Ketika orang-orang diatas bis mulai panik, perempuan-perempuannya mulai memekik, dan semua mata tertuju padanya, ia baru sadar, baju putihnya berlumuran darah. Dia tertembak dibahu. Suaminya (Brad Pitt) panik. Dan minta bis itu mengubah arah ke desa terdekat.
Begitulah, plot-plot itu mulai terjalin. Tapi rasanya tidak adil kalo saya ceritakan disini. Menonton filmnya akan terasa lebih afdol. Dan sampai akhir, film ini dengan lihai memainkan adegan-adegan mengejutkan dan dengan lancar memotong setiap sub plot dan menyambungnya di waktu lain.
(Film ini kemudian mengingatkan saya pada film pemenang Oscar tahun lalu, Crash dari segi cut-to-cut sub plot). Dan saya tetap terpesona oleh ‘jangkauan’ film ini hingga akhir. Legenda Babel direpresentasikan dalam subplot. Peristiwa yang terjadi diberbagai belahan bumi. Manusia yang tersebar dan komunikasi antar mereka yang tidak ‘nyambung’.
Hanya saja ada beberapa hal yang membuat saya tidak nyaman dengan film ini.
Dari awal sempit terbersit, ‘ngapain sih pake Brad Pitt ?’. Bukan maksud mau meremehkan. Tapi bintang-bintang sekaliber Brad Pitt atau Tom Cruise mah mestinya main di film-film untuk ‘bintang’ kayak Mission Impossible’ ato ‘Troy’ ato Lord of The Rings pokoknya yang heboh geboh gitu deh….eh ini nongol di BABEL.
Menurut saya, banyak aktor yang lebih meyakinkan untuk perannya di Babel. Soalnya Brad Pitt…ya…Brad Pitt, dia mau akting sesedih apapun, sesusah apapun tetap kebayang ada Angelina Jolie nungguin didekat-dekat lokasi.
Mungkin ini cuma masalah pribadi saya. Saya selalu agak agak susah menikmati akting mega bintang. Perasaan sama yang saya rasakan ketika menonton GIE nya Riri Riza yang memakai Nicholas Saputra. Saya pernah menonton dokumenter tentang Soe Hok Gie. Trus tiba-tiba liat film ini, Soe Hok Gie jadi Nicholas Saputra…creeeeennnngggg !!!! jauh panggang dari apiiiiiiii…..jauhnya kebangetan !
OKE…balik ke BABEL. Semua aktor-aktris yang main di film ini mengerjakan tugasnya dengan sangat baik. Baik itu para aktor dari Maroko, Jepang, Mexico. Mereka semua bermain sangat bagus dan meyakinkan. Tapi Brad Pitt…well, sudah saya jelaskan. Itu masalah pertama saya.
Lalu, ada yang aneh dengan hubungan sub-plot si gadis bisu-tuli di Jepang dengan sub-plot kisah di Maroko dan Mexico. Terlalu dipaksakan menurut saya. Kisah si gadis ini sebetulnya bisa jadi film sendiri, karena sebetulnya idenya menarik.
Tentang gadis yang sedang gamang dan bingung di masa puber, ditambah lagi dengan masalah keluarga (ibunya bunuh diri didepan mata, ayahnya juga kaku kayak batu).
Masalah saya yang ketiga dengan film ini (lagi-lagi tipikal) adalah endingnya yang sangat Amerika. Terlalu ideal kalau tidak bisa dibilang gampang(an). Selain itu saya tidak punya keluhan lain. Secara umum film ini menyampaikan pesannya dengan jelas : Setiap orang melakukan kesalahan. Baik itu anak-anak, orang tua, dari berbagai strata dan status sosial. Kesalahan yang bisa berakibat juga pada kehidupan orang lain atau kadang kembali kepada diri sendiri. Tapi dari kesalahan itulah, manusia belajar….(wuhhhhhhhh !!! serius skallleeeee).
AKU

leave a comment