Home On The Range: Koboi Hambar Disney
__________________________
HOME ON THE RANGE
Sutradara: Will Finn dan John Sanford
Pengisi Suara: Roseanne Barr, Judi Dench, Cuba Gooding Jr.
Produksi: Walt Disney, 2004
___________________________
Inilah film koboi dengan tokoh utama tiga ekor sapi. Animasi kampungan terbungkus musik riang. Untung ada Alan Menken dan K.D. Lang.
WALT Disney Pictures, gudangnya film animasi, rupanya masih penasaran menjajaki animasi klasik dua dimensi. Bersamaan dengan libur anak-anak, Disney meluncurkan Home on The Range, menyaingi animasi tiga dimensi Shrek 2, jebolan Dreamworks. Tak ada hal baru yang ditawarkan Home, apalagi formatnya yang sudah ketinggalan zaman. Tapi bukan Walt Disney namanya kalau tidak punya akal melariskan jualan.
Walt Disney Feature Animation, divisi khusus yang menangani animasi, sudah lama ingin membuat film berlatar belakang Western lengkap dengan koboinya. Persiapan pembuatan Home lumayan panjang. Walau sekadar film animasi, untuk menangkap orisinalitas suasana kehidupan di Barat, Alice Dewey Goldstone, produser yang terlibat dalam pembuatan The Lion King dan Aladdin, memboyong krunya ke peternakan.
Goldstone memboyong art director, pe-layout, dan penulis lagu ke daerah peternakan di Wyoming, tahun 1998. Selama beberapa minggu, sepanjang hari mereka menghabiskan waktu mengendarai kuda, berkemah di daerah padang, dan mengamati kehidupan koboi-koboi di daerah tersebut. Para animatornya mengamati perilaku sapi-sapi dan kuda, sementara yang lain memotret dan membuat sketsa pemandangannya. Di malam hari, kelompok ini berkumpul mengelilingi api unggun, dan mendengarkan suara-suara dari alam sekelilingnya.
“Beradaptasi dengan lingkungan Western membuat kami terinspirasi banyak hal,” kata Goldstone. Versi awal, film ini berjudul Sweating Bullets, dibintangi oleh anak sapi bernama Bullets. Tahun 1999, ketika storyline sudah ditetapkan, Will Finn dan John Sanford kemudian bergabung dalam tim penulis skenario dan kemudian ditunjuk sebagai sutradara. Finn dan Sanford adalah animator kawakan. Ia terlibat dalam Beauty and The Beast, Aladdin, The Hunchback of Notre Dame, The Little Mermaid, hingga Pocahontas. Di tangan merekalah skenario berubah, tiga ekor sapi dikukuhkan sebagai karakter utama.
Sesuai dengan niat awalnya, Home berlatar belakang zaman koboi di Peternakan Patch of Heaven. Pemiliknya adalah Pearl, seorang wanita tua yang terlibat utang dengan bank. Demi membantu Pearl, tiga ekor sapi betina penghuni peternakan itu ikut mencari duit demi membantu sang majikan membayar utang.
Sapi-sapi ini adalah Maggie (Roseanne Barr), sapi agresif yang superaktif, Mrs. Caloway (Judi Dench), sapi senior di Patch of Heaven, serta Grace (Jennifer Tilly), sapi muda yang naif. Maggie adalah titipan dari peternakan lain gara-gara pemiliknya bangkrut dirampok Alameda Slim (Randy Quaid) –tokoh jahat yang jadi momok di film ini.
Petualangan tiga sapi plus Buck (Cuba Gooding Jr.), seekor kuda pongah yang sok mau jadi pahlawan, inilah yang mewarnai Home on The Range. Terlepas dari metode animasi klasik yang nyaris basi, Home setidaknya berhasil merangkum suasana Western lengkap dengan padang yang panas berhias kaktus-kaktus raksasa.
Tapi, yang memberi jiwa dan semangat Western justru berasal dari gemuruh musiknya. Adalah Alan Menken, komposer dan spesialis musik Broadway, yang dipercaya menggarap Home. Menken pernah memenangkan delapan Oscar, antara lain untuk lagu Beauty and The Beast, Under The Sea, A Whole New World, dan Colors of The Wind. Lagu (You Ain’t) Home on The Range adalah pengalaman pertama Menken menggarap genre Western.
Ketika berada di peternakan Wyoming, Menken aktif merekam segala bunyi-bunyian yang kemudian digunakan sebagai warna riang di lagu-lagu Home. Akhirnya musik jadi bagian paling vital dalam Home. Musik indah itu membungkus suara apik peraih Grammy, K.D. Lang. Sehingga lantunan Anytime You Need a Friend dan Little Patch of Heaven sangat mempengaruhi semangat Home. Apalagi lagu Yodel-Adle-Eedle-Idle-Oo, yang khusus dijadikan mantra penjahat Alameda Slim untuk menghipnotis para sapi. Tanpa Home pun, rasanya lagu-lagu ini tetap bisa dinikmati. Oops! Maksud saya, tanpa lagu-lagu ini, Home pasti terasa hambar.
AKU
Homeland : Bumi Tua Tanpa Humor
————————————–
HOMELAND
Sutradara: Gangsar Waskito
Dubber: Icha Sastrowilogo, Enno Lerian, Puguh Indarso, Udjo Project Pop, Tika Panggabean
Produksi: Studio Kasatmata, 2004
————————————–
Obsesi kelompok Kasatmata akhirnya jadi kenyataan. Terobosan di dunia film animasi Indonesia. Terselamatkan ilustrasi musik.
GANGSAR Waskito serius menatap layar, mencermati film pertamanya, Homeland, yang diputar di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 4 Mei. Ketika film animasi itu usai dan layar menghitam, ia menarik napas lega. “Akhirnya selesai juga,” katanya sambil nyengir.
Gangsar, mahasiswa sastra Inggris Universitas Sanatadharma, Yogyakarta, yang sering dipanggil “Nggi” itu, patut tersenyum lebar. Maklum, film yang merupakan hasil kerja sama Studio Kasatmata (Yogyakarta) dan kelompok kerja Visi Anak Bangsa (Jakarta) itu tadinya direncanakan selesai Desember 2003, tapi jadwal itu molor empat bulan. “Terlalu bersemangat dan keasyikan,” kata Nggi, sutradara merangkap penulis skenario.
Akhirnya, mereka diuber-uber deadline. Finishing dan editingnya pun terpaksa ngebut. Proses sentuhan akhir dikerjakan tiga pekan sebelum premier.
Kerja yang tumpang tindih jelas merupakan beban berat bagi kelompok yang sebagian besar anggotanya masih berstatus mahasiswa itu. Makanya, sepanjang pemutaran pertama tadi, anak-anak Studio Kasatmata yang jumlahnya sembilan orang mengumbar senyum senang.
Tetapi film yang diciptakan “dari keringat dan air mata” (kata Nggi) itu jadinya serba tanggung. Bercerita tentang Bumi, bocah 14 tahun yang terdampar sendiri di sebuah pulau. Orangtuanya hilang di tengah ganasnya laut. Homeland –maunya– bercerita tentang petualangan Bumi mempertahankan kastil warisan orangtuanya.
Karakter Bumi, niatnya, dibuat manusiawi ala bocah cilik pada umumnya. Lemah, penakut, cengeng, dan seterusnya. Tapi yang tampil justru bocah sok tahu dengan kepribadian tak jelas. Bayangkan, terdampar di pulau asing, ia malah main biola (?) di depan kuburan (?). Tiba di sebuah kastil yang seram, ia malah asyik membaca di perpustakaan. Ditambah lagi dialog-dialog antartokoh yang “sok tua”. Padahal, Homeland membidik segmen penonton anak-anak usia sembilan tahun ke atas.
Soal Bumi bisa bersosialisasi dengan berbagai macam binatang, okelah. Itu hal biasa dalam animasi. Kualitas gambar pun bolehlah dimaklumi. Dengan hanya mengandalkan tiga animator untuk mengerjakan belasan karakter, bukanlah hal mudah. Bandingkan dengan film Shrek, misalnya. Satu karakter dalam Shrek dikerjakan oleh 10 sampai 20 animator. Khusus tokoh utamanya (Shrek) dikerjakan oleh 32 orang.
Nggi mengakui, kekurangan alat masih menjadi kendala. Mereka hanya memiliki enam PC plus tiga software original 3D Max. Tapi itu semua tak menghalangi mereka untuk mewujudkan obsesinya. Karena semua anggotanya maniak bermain Playstation, dengan alat segitu, mereka asyik membuat animasi ala mainan video itu. Apalagi, Nggi mengaku tergila-gila dengan Final Fantasy. Sejumlah adegan petualangan di Homeland pun kental dengan hawa Playstation.
Sayang, mereka agak mengabaikan cerita. Rangkaian kisah yang terjalin dipenuhi lubang yang menyesatkan. Banyak adegan tiba-tiba yang muncul tak jelas. Terlalu banyak anak cerita yang mengaburkan konflik utama.
“Memang sih kami bikin filmnya kepanjangan, padahal dari awal sudah diingatkan untuk membuat film 90 menit saja,” kata Nggi, pengagum sutradara Jepang, Akira Kurosawa. Aslinya, film itu memang berdurasi dua jam 15 menit.
“Saking semangatnya, terlalu banyak yang ingin mereka ceritakan, membangun konflik cerita jadi terabaikan,” kata Renaningtyas, kepala proyek Homeland dari Visi Anak Bangsa. “Tapi paling tidak, mereka sudah membuat terobosan baru,” ia menambahkan.
Mungkin karena kebanyakan dipotong menjadi 82 menit, jalinan cerita yang kedodoran plus kualitas gambar dan geraknya yang masih lamban, Homeland menjadi tontonan yang sangat melelahkan. Untunglah, ada ilustrasi musik yang menghibur. Meski hanya mengandalkan insting dan naskah mentah, tim ilustrasi musik berhasil mengimbangi kinerja sutradara.
“Kami sih berspekulasi saja. Kami hanya tahu ada adegan petualangan, kami bikin musik petualang,” kata Bimo Suryojati, ilustrator. Untunglah, insting Bimo yang juga anggota Kasatmata tidak meleset. Musiknya pas. Bahkan bisa dibilang, musiklah yang berhasil menyelamatkan Homeland.
Tapi, jika dibandingkan dengan karya Studio Kasatmata sebelumnya, Homeland tak jauh lebih bagus. Contohnya Kelolodhen, yang pernah jadi nominasi Festival Film Independen SCTV. Atau Loud Me Loud yang meraih penghargaan Kuldesak Award 2002. Kualitas gambarnya sama dengan Homeland.
Kedua film animasi pendek itu terkesan dibuat semau gue. Dialognya pun medok ala Yogya. Tapi kedua film pendek itu justru lebih enak dan lebih ringan untuk dinikmati. Homeland, yang kehilangan humor dan spontanitas gaya Yogya, tidak mampu memberikan kesan yang sama.
AKU


leave a comment