Day 9 to 10 : Enak –tidak enak–nya Jadi Ibu Hamil dan Mandi darah di Cannes
Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62

Sejak peristiwa Antichrist, saya bertingkah sok kesal. Saya bilang sok kesal, karena memang ngambeknya cuma setengah hati. Semua orang yang saya ceritakan persoalan ‘COMPLETE FULL’ itu –dan saya tidak segan segan bercerita kepada siapa saja yang mau mendengarkan, karena gara-gara antri kelamaan kaki saya bengkak kayak kaki badak–, semuanya mewanti-wanti saya untuk tidak menonton. (Sudah saya ceritakan sebabnya di catatan sebelumnya).
Nah, gara-gara sibuk ngomel inilah saya lantas mendapat pencerahan dari seorang kawan –karena keseringan antri bareng kami jadi berkawan– jurnalis asal Rusia. Dia mendapat info kalau sebetulnya orang-orang dengan kondisi tertentu bisa mendapat pengecualian dan kemudahan. Kondisi tertentu ini berlaku bagi mereka yang punya kesulitan mengantri karena –antara lain– cacat bawaan, cacat karena kecelakaan sehingga, mereka yang berusia lanjut, dan ibu hamil. Mereka dengan kondisi tertentu ini –tak peduli warna kartu– tak perlu mengantri dan disediakan pintu khusus persis disamping teater.
Saya nyaris tidak percaya ada pengecualian seperti itu di Cannes. Perancis gitu loh !!!. Tapi saya tergoda untuk mencoba juga. Dan berhasil… !!! whoahhhh serasa melayang diudara. Saya nyaris menangis karena terharu. Apalagi ketika diijinkan masuk teater lebih dulu sebelum para kartu putih. Bahkan dengan senyum super ramah, para penjaga pintu dan penjaga didalam teater mempersilahkan saya duduk dimana saja saya mau. Akhirnya saya jadi ngelunjak.
Boleh duduk ditempat paling tinggi?. Boleh !. Boleh duduk di barisan paling luar?. Oh boleh ! Boleh bawa minuman? Oh tentu saja boleh. Boleh ngemil? Silahkan !. Bahkan di Salle du Soixantieme, teater tambahan non permanen di salah satu teras Palais, saya disediakan tempat duduk sambil menunggu pintu dibuka. Whoahhhh uenaaakk tenan! Kenapa tidak dari hari pertama ya saya tahu soal info ini. Aihhh kalau begini caranya, saya jadi ingin hamil lagi untuk Cannes tahun depan…hehehe.
Sejak itu, saya tidak perlu mengantri lagi. Cukup datang ke pintu khusus itu. Langsung masuk dan duduk ongkang-ongkang kaki sambil menunggu mereka yang baru dipersilahkan masuk. Tapi saya malah jadi kangen dengan teman-teman mengantri saya. Karena dengan mengantri, banyaak informasi dan cerita-cerita menarik beredar dan bisa jadi inspirasi bahan tulisan. Hmmmm…manusia memang tidak pernah puas!
Selain Antichrist, hari ini saya mendapat peringatan lagi untuk tidak menonton film Drag Me To Hell karya Sam Raimi.
Jadi hari ini saya hanya menonton A L’Origine (In The Beginning) karya Xavier Giannoli di seksi kompetisi. Saya sih suka film ini, tapi belum bisa menjelaskan kenapa. Kalau menurut teori, film yang bagus adalah film yang bisa bercerita dengan baik dan mulus ditunjang berbagai factor –akting yang baik, dialog yang mengalir, dan pesan yang ingin disampaikan bisa dimengerti–. Nah, film ini memenuhi semuanya.

Kemudian lanjut menonton film Karaoke karya Chris Chong dari Malaysia di Director’s Fortnight. Katanya, ini film Malaysia pertama yang masuk program ini sepanjang sejarah berdirinya. Dan rasanya saya harus menonton film ini lagi sebelum memberikan komentar.
Setelah Karaoke, saya lanjut menonton The Time That Remains karya Elia Suleiman. Banyak momen bagus. Tapi otak saya sudah mampet dan nyaris tak mampu lagi mencerna film yang saya tonton.

Apalagi usai menonton filmnya Gaspar Noe, Enter The Void di seksi kompetisi. Seperti juga Irreversible film Noe sebelumnya, Enter The Void banyak bermain-main dengan angle kamera plus kamera yang melayang-layang diudara. Penuh adegan seks dan tubuh-tubuh berdarah pula. Tapi yang paling bikin saya pusing adalah adegan aborsi yang dishoot dengan detail, lengkap dengan janin yang dibiarkan tergeletak diatas nampan rumah sakit. Adegan ini bahkan lebih seram dari adegan di 3 Months, 3 Weeks and 2 Days-nya Cristian Mungiu.

Sayangnya, saya termasuk gelombang pertama yang menonton film ini mengingat saya mendapat kemudahan –karena hamil—untuk selalu didahulukan. Film ini diputar pertama kali untuk pers dalam jumlah terbatas di teater yang lebih kecil sehingga kapasitas penontonnya juga terbatas. Jadilah saya tidak mendapat peringatan terlebih dahulu dari kawan-kawan yang biasanya rajin memberi info.
Dan situasi makin parah saat saya mencoba menonton The Silent Army karya Jean Van De Velde di Un Certain Regard. Film yang mengingatkan saya dengan adegan-adegan kekerasan di The Last King of Scotland ini sebetulnya sudah banyak dibuat. Berkisah tentang anak-anak yang dipaksa bergabung dengan tentara di negeri-negeri berkonflik di Afrika. Sayang saya lupa judul-judulnya.

Di 10 menit pertama, The Silent Army sudah menunjukkan adegan seorang anak yang dipaksa memotong leher ayahnya sendiri. Lalu beruntun adegan parang-parangan, sehingga saya terpaksa keluar ruangan. Saya sudah cukup mual melihat darah dan manusia terpotong, mulai dari Thirst, A Prophet, Kinatay, Mother, Vengeance, Tsar, Enter The Void, hingga The Silent Army ini. Untungnya saya tidak menonton Antichrist dan Drag Me To Hell. Belum terhitung film Quentin Tarantino yang terkenal hobby bermain darah.
Mengingat para jury tahun ini didominasi perempuan, saya jadi penasaran apa yang mereka diskusikan tentang adegan-adegan sadis berlumur-lumur darah ini. Rasanya, inilah tahun yang paling banyak menghadirkan adegan potong memotong dan paling banyak menghabiskan darah di Cannes. Maka karpet merah pun makin merah.***
Day 6: Antichrist, Kembalinya sang Agen Provokator, dan Eric Cantona
Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62

“The worst thing for me would be that my film didn’t provoke anything”. Itu kata-katanya Lars Von Trier yang saya kutip dari buku Trier on Von Trier yang diedit oleh Stig Bjorkman, dihalaman yang saya lupa. Makanya, saya tidak heran, ketika Antichrist membuat heboh masyarakat perfilman Cannes hari ini. Dan Cannes memang adalah tempat yang tepat bagi Lars untuk membuat provokasinya berdampak luas. Selain itu, kita tentu tidak lupa, Lars adalah anak kesayangan Festival Film Cannes.
Lars Von Trier (saya singkat LVT saja biar mudah) memang pantas disebut agen provokator. Bayangkan Antichrist-nya yang diputar tadi malam –dan bikin saya ketemu lagi dengan papan Complete Full itu—langsung bikin berang banyak orang. Sayangnya saya tidak bisa komentar tentang filmnya sendiri. Jadi saya menyimak jalannya konferensi pers itu sekadar karena penasaran. Dan saya yakin, kalau saja tidak ada penjaga, mungkin LVT sudah digebuki rame-rame.
Pertanyaan pertama yang diajukan pagi itu dengan nada berang kurang lebih seperti ini : “Anda maunya apa sih bikin film ini. Anda harus bertanggungjawab menjelaskan kepada saya dan juga kepada yang hadir disini, kenapa Anda harus bikin film yang tak bermutu ini,” kata wartawan itu dengan nada tak enak. LVT yang didampingi Willem Dafoe dan Charlotte Gainsbourg dua bintang utamanya dalam Antichrist itu dengan wajah bingung sempat terdiam.
Lalu dengan enggan LVT menjawab: “Well, kenapa saya harus menjustifikasi film saya? Saya tidak perlu menjelaskan apa-apa kepada Anda. Saya bikin film yang saya mau, dengan uang saya sendiri, dan saya tidak merasa perlu untuk bertanggungjawab kepada siapa-siapa,” katanya enteng. Voila…makin ramelah ruang pers. Pertanyaan-pertanyaan menyerang datang bertubi-tubi. Dan setiap kali itu pula, jawaban LVT seperti minyak tanah yang dituang ke bara api.
Sampai di satu titik gerah, dengan enteng LVT bilang: “Well you know, God is not the best God in the world. But me, I’m the best director in the world”. Nyaris semua yang hadir tercengang. Ada yang menganggapnya lucu, tapi ada juga yang menanggapinya serius dan memilih keluar dari ruangan meninggalkan kursi dan pintu yang ditutup berdentum. Bisa dipastikan, kalimat itu akan jadi headline dimana-mana besok.

Sekali lagi, sayangnya saya tidak bisa berkomentar tentang Antichrist dan saya sendiri tidak tahu apakah LVT the best director in the world. Tapi saya tahu, film-filmnya seperti Dancer in the Dark, Dogville, Manderlay, Breaking The Waves, Europa, Epidemic, The Element Of Crime, Idioterne (semuanya pernah masuk seksi kompetisi di Cannes) memang adalah film-film yang tidak bisa sekadar dibilang film bagus. It’s beyond that.
Dan tidak salah kalau ada yang berani bilang bahwa LVT adalah sutradara jenius. Saya setuju. LVT selalu menciptakan bahasa dan hal-hal baru dalam filmnya. Saya tidak bisa menuliskan dengan detil karena saya bukan kritikus dan tidak punya cukup banyak perbendaharaan kata-kata teknis untuk menulis film. Tapi jika Anda menonton film-filmnya, Anda pasti tahulah maksud saya.
Dan Antichrist –seperti yang saya pernah baca di koran—adalah hasil dari depresi hebat dan tak terjelaskan yang dialami LVT selama beberapa tahun terakhir ini. Menurut pengakuannya, LVT banyak menghabiskan waktu di tempat tidur, nyaris gila dan berhari hari hanya terpekur menatapi langit-langit kamarnya. “Part of the road to recover was reinventing the horror film in the form of Antichrist,” katanya. “ I have spent all my energy on making this bird fly –aka Antichris—what’s up next, I don’t know. First I have to survive Cannes. It can be terrible but it is part of the job”.
Ada yang bilang, LVT sebetulnya cuma pura-pura depresi –dan entah kenapa, pada umumnya yang bilang begini adalah wartawan-wartawan Amerika–. “Itu kan bagian dari aktingnya dia, biar filmnya makin heboh,” kata bisik-bisik di ruang pers. Saya sih tidak tahu dan tidak ingin membuat analisis tentang LVT. Yang saya tahu, LVT ternyata tidak seperti yang terlihat di foto-foto yang ada dimajalah atau di internet. Di foto-fotonya, dia terlihat seksi, berwibawa dan agak angkuh. Ketika bertemu dengan LVT langsung, ternyata orangnya rikuh, agak kagok, dan tersenyum malu-malu kala diminta melambai untuk foto atau tanda tangan.
Kalau melihat LVT seperti itu, saya jadi tidak punya gambaran, seberapa gila film Antichrist itu sebetulnya. Denger-denger sih adegan kekerasannya sudah tidak bisa dijelaskan. Apalagi adegan mutilasi (ampun deh… ada mutilasi segala!) yang katanya tidak terdeskripsikan dengan kata-kata karena tidak ada kata yang tepat. Saya jelas makin penasaran dengan kehebohan itu. Tapi saya akan menunggu, karena hari ini sudah ada 17 orang yang mewanti-wanti saya untuk tidak menonton film itu selagi hamil. Pfuffff…LVT bisaaaa ajaaa !
Mencari Eric Cantona dan Mussolini
Hari ini akhirnya ada juga film yang mendapat applause paling meriah dan bahakan tawa paling nyaring. Beberapa hari ini, penonton sepertinya bête dengan film-film serius sehingga jarang menanggapi. Tapi kali ini, mereka sepertinya mendapat pencerahan saat menonton film terbaru Ken Loach, Looking for Eric yang ada di seksi kompetisi.
Ini mungkin untuk pertama kalinya dalam karir Ken Loach sebagai sutradara film yang mengkhususkan diri diarena realisme social. Loach yang film-filmnya juga mondar mandir masuk kompetisi di Cannes membuktikan bahwa dia punya selera humor dan bisa bikin film humor tanpa menanggalkan sentuhan khasnya yang sangat peka terhadap kehidupan masyarakat kalangan bawah.

Kisah Looking For Eric juga tidak berat. Adalah Eric Bishop, tukang pos penggemar berat Eric Cantona yang punya masalah keluarga dan tidak percaya diri yang berlebihan. Suatu kali saat nyimeng, Eric Bishop kedatangan sang King Eric yang diperankan sendiri oleh Eric Cantona. Mulailah hubungan ‘pertemanan’ mereka terjalin dan sedikit demi sedikit Eric si tukang pos yang tidak pede ini mulai percaya, bahwa kepercayaan diri bisa terbangun tidak hanya dari status sosial atau pekerjaan yang lebih intelek.
Looking For Eric yang terasa ringan ini jadi punya kedalaman karena kepekaan Ken Loach menangkap detail-detail kehidupan tukang pos serta kegilaan para fans Manchester United. Bahkan saat film ini memanas ketika Eric tukang pos menghadapi masalah keluarga, film ini tidak kehilangan kendali dan tidak terjerumus masuk jurang melodrama. Asyiknya lagi, Loach bisa membangun chemistry yang pas antara King Eric dan Eric si tukang pos. Rasanya inilah film wajib tonton bagi para penggemar MU.
Film menarik lainnya di seksi kompetisi adalah karya terbaru Marco Bellochio, Vincere. Kalau tahun lalu ada dua film Italia di seksi kompetisi utama (Gomorah dan Il Divo), tahun ini Vincere adalah satu-satunya. Vincere berkisah tentang Ida Dalser, istri pertama Benito Mussolini yang berjuang mendapatkan pengakuan keabsahan pernikahan dan putra mereka. Kisah Ida Dalser ini versi lain kehidupan pribadi Benito Mussolini yang jauh berbeda dari versi resmi pemerintah fasis saat itu.

Selama memegang tampuk pemerintahan Italia, Mussolini berusaha menghapus Ida Dasler dan putra mereka Benito Albino Mussolini dari catatan masa lalunya. Ketika Dasler menolak untuk ‘dihapus’, ia dan putranya akhirnya malah berakhir tragis di rumah sakit jiwa. Bellochio memasukkan footage-footage asli (kalau tidak salah namanya superimpose ya?) peristiwa-peristiwa bersejarah dan juga pidato-pidato Mussolini selama memerintah. Dengan teknik ini, Vincere jadi terasa lebih nyata dan sangat mendukung struktur film ini. Tapi beban terberat tentu saja haruss ditanggung oleh Giovanna Mezzogiorno yang berperan sebagai Ida Dasler. Dan untungnya, Mezzogiorno mampu menanggung beban itu dan kemungkinan akan mendapat gelar artis terbaik tahun ini. We’ll see later! ***
leave a comment