Day 2: Lupa Makan Itu Biasa
Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62

Niat untuk menonton film sebanyak-banyaknya yang bisa ditonton kadang mengabaikan prioritas penting lainnya. Gara-gara melihat nama penting didaftar film hari ini, rasanya tak mungkin melewatkan film mereka. Lihat saja daftar hari ini dan catatan pinggirnya:
8.30 Grand Théâtre Lumière
Compétition
Fish Tank 2h04
Andrea Arnold
(selesai sekitar jam 10.34. Masih ada waktu sekitar 30 menit untuk antri di film selanjutnya. Agak telat untuk kartu biru. But why not try?)
11.00 Salle Debussy
Un Certain Regard
Kazi Az Gorbehaye Irani Khabar Nadareh
(No One Knows About Persian Cats) 1h46
Bahman Ghobadi
(selesai sekitar 12.46. Press Con Lou Ye jam 12.30. Tidak mungkin keburu. Foto Lou Ye terpaksa tidak ada. Tapi ada alternatif. Ngambil di situs festival. Cukup waktu untuk antri film berikutnya)
13.30 Salle Debussy
Un Certain Regard
Kuki Ningyo (Air Doll) 2h05
Hirokazu Kore-eda
(selesai sekitar 15.35. Cukup waktu mengantri film selanjutnya)
16.30 Salle Debussy
Compétition
Bak-Jwi (Thirst)
Park Chan-Wook 2h13
Saya berhasil melewati itu semua dengan sukses, artinya mengantri tanpa perlu menghadapi tulisan ‘Complet Full’ saat giliran saya tiba. (Ini pernah terjadi saat mengantri untuk nonton No Country For Old Men-nya Coen bersaudara tahun 2007 lalu). Sampai usai menonton Bak Jwi nya Park Chan Wook yang pernah bikin Oldboy itu. Semua baik-baik saja. Diluar matahari masih bersinar walau waktu sudah menunjukkan angka 18.33.
Tapi kemudian, sampai diluar Salle Debussy, badan mulai goyah, tangan mulai gemetar, kaki kaki terlihat bengkak dan didalam perut saya ada mahluk mungil menendang-nendang protes. Barulah teringat, saya lupa makan siang! Apalagi usai menonton filmnya Park Chan Wook, anda tahu kan sutradara ini. Thirst jauh lebih serem dari Oldboy. Serem dalam arti lebih berlumur-lumur darah muncrat, soalnya ini cerita tentang vampir walaupun tanpa taring. Jadilah makin bikin badan saya dingin sampai gemetar.
Tapi menonton film memang pantas diperjuangkan. Diatas segala kemegahan karpet merah, diantara hiruk-pikuk kegiatan festival dari hari kehari, ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa diukur walaupun dalam taraf tertentu akhirnya bisa membahayakan. Lupa akan prioritas penting lainnya. Tapi sebetulnya ini semua bisa diatasi. Kuncinya hanya satu : jangan lupa menyusupkan biskuit, coklat, cemilan kecil serta sebotol kecil air. Jadi anda tidak perlu repot memikirkan makan siang.
Dari pinggiran Inggris hingga ke Underground Iran
Ok. Let’s talk about movies. Saya suka sekali dengan Fish Tank karya sutradara perempuan asal Inggris, Andrea Arnold. Fish Tank mengikuti tradisi realisme sosial yang sudah terlebih dulu dirintis oleh para senior seperti Ken Loach atau Dardenne bersaudara. Kita semua tahu, tidak mudah menjadi gadis berusia 15 tahun yang hidup dengan ibu –a single mother–, dan seorang adik perempuan, tapi tanpa figur ayah.

Mia, remaja 15 tahun itu, seperti kuda liar tanpa pemilik yang bingung akan berlari ke arah mana. Sampai suatu ketika, figur laki-laki dewasa masuk kekehidupannya dalam wujud Connor (Michael Fassbender) kekasih sang ibu. Hadirnya Connor membuat Mia merubah cara pandang terhadap dirinya sendiri. Storyline yang terdengar klise tapi Andrea Arnold membuat Fish Tank menjadi objek observasi tentang hubungan dinamis –walau tidak harmonis– antar karakter-karakternya.
Lalu film terbaru dari Bahman Ghobadi, Kasi Az Gorbehaye Irani Khabar Nadareh (No One Knows About Persian Cats) di seksi Un Certain Regard, juga tak kalah menarik. Film ini banyak dikritik karena mencampur aduk dokumenter dan fiksi, dan bahwa musik-musik latarnya membosankan, dan aktor-aktornya berakting kaku, dan lain-lain. Saya bilang: so what?.

Campur aduk bagi saya tidak masalah selama layak tonton. Musik-musiknya memang musik-musik yang umum didengar dimana-mana. Ada rap, pop rock, rock alternatif, sampe musik tradisional. Tapi kemudian, No Knows kemudian jadi menarik karena memperkenalkan sebuah sisi lain yang belum pernah diangkat sebelumnya oleh sineas Iran. Tentang kehidupan dan perjuangan para musisi underground untuk bisa bebas memainkan musik karya mereka dibawah tekanan rezim yang ketat membatasi kreatifitas.
Tentang akting. Well, semua orang tahu, Bahman Ghobadi nyaris tidak pernah memakai aktor-artis professional. Semua musisi yang ditemui di film ini adaah musisi undergorund beneran kecuali beberapa non-profesional aktor yang ditempatkan dalam format dokumenter. Film ini pun disyut sambil ‘main kucing-kucingan’ dengan otoritas setempat. Dengan semua keterbatasan itu, dilengkapi dengan dialog-dialog ringan yang mengalir seperti obrolan di warung kopi, No One Knows menjadi film yang sangat kritis tapi sekaligus tidak kehilangan energi humornya.
Boneka Sex dan Vampir Bersalib Tanpa Taring
Hirokazu Kore-eda adalah salah satu filmmaker yang punya sentuhan tidak biasa dalam setiap film-filmnya. Nyaris tidak ada perbedaan antara film dokumenternya (without memory), film drama (Nobody Knows), hingga film semi-drama-fantastisnya (After Life). Ditangan Kore-eda, semua film-film itu punya sentuhan kesederhanaan yang nyaris magis menggunakan material-material nyata dan bukan olahan CGI. Hal yang sama pun ada dalam film terbarunya Kuki Ningyo (Air Doll).

Kuki Ningyo berkisah tentang Nozomi, seorang (atau sebuah) boneka sex yang tiba-tiba menemukan nafas kehidupan dalam arti harfiah maupun dalam arti sebenarnya. Peralihan Nozomi dari boneka udara menjadi manusia dipresentasikan dengan ‘simple’ tanpa efek-efek rumit.
Nozomi adalah ‘milik’ seorang pria kesepian yang menjadikan Nozomi sebagai ‘istri’. Lepas dari konotasi mesum boneka sex, Kore-eda justru membuat Air Doll sebagai media meditasi untuk mempertanyakan lagi esensi hidup manusia lewat sosok Nozomi.
Ketika Nozomi menemukan hati, ia mulai bertanya mengapa ia kosong, mengapa ia ada, kapan ia ulang tahun, siapa yang menciptakannya. Sejumlah pertanyaan itu membawanya pada keinginan yang lebih manusiawi, ia ingin hidup seperti manusia lainnya. Ia ingin mencintai, ia ingin bisa merasakan, ia ingin menjadi tua. Nozomi tidak ingin kosong lagi, ia tidak ingin hanya berisi udara.
Diantara keinginannya untuk tidak kosong, Nozomi malah mendengarkan banyak pengakuan dari orang-orang yang ditemuinya. Bahwa hidup mereka kosong dan menyedihkan. Selain ingin merefleksikan kondisi psikologis masyarakat modern sekarang, Nozomi juga adalah proyeksi budaya konsumtif yang makin tak terbendung dikalangan masyarakat urban. Dengan sedih, Nozomi mendapati bahwa ia ternyata hanya ‘berharga’ tidak lebih dari 6000 yen dan bisa diganti ketika pemompa udaranya rusak. (tunggu review lebih lengkapnya)
Kita semua tahu karya-karya Park Chan Wook seperti Oldboy (mendapat Grand Prix di Cannes tahun 2003), Lady Vengeance, Sympathy for Mr. Vengeance dan salah satu film dalam Three Extremes. Chan Wook selalu saja berhasil membuat saya merem melek setiap kali menonton film-filmnya. Dan film terbarunya Thirst membuat saya memecahkan rekor terbanyak merem.

Thirst berkisah tentang seorang pastor taat dengan niat mulia untuk membantu umatnya menyembuhkan penyakit-penyakit berbahaya. Karena itu ia setuju untuk menjadi kelinci percobaan sebuah vaksin temuan baru. Percobaan itu malah membuatnya horny tak terkira, haus darah tak terbendung hingga kemampuan ilmu meringankan tubuh yang membuatnya bisa melayang-layang diudara.
Lepas dari kemampuan film ini membuat saya mual-mual dan memaksa saya menutup mata berkali-kali, Thirst bertabur satir yang menyentil agama dan manusia-manusia hipokrit. Ini membuat Thirst jauh berbeda dari film-film vampir romantis macam Interview With The Vampire dan Bram Stocker’s Dracula.
Selain itu, Chan Wook juga membuang semua atribut-atribut vampir yang selama ini sudah jadi ‘seragam’ vampir: cowok tampan, gigi taring, kastil seram, kelelawar, cermin, bawang putih, tusukan tepat dijantung, apalagi salib yang dipercaya bisa mengusir vampir…semua itu tak akan ditemukan dalam vampir ala Chan Wook. Vampir ini malah memakai salib kemana-mana karena pekerjaannya sehari hari adalah pastor. ***
“Kurdi Lebih Berbudaya dari Amerika”
Pria dengan sweater merah itu melambai. Dia rupanya tahu, sedari tadi saya menunggu sampai dia selesai ngobrol dengan seorang tamu. “Maaf ya, pertemuan kita tertunda kemarin,” Ia menyapa ramah, sambil menarik kursi untuk saya. Ya, kemarin pertemuan kami batal, karena jadwal pesawatnya tertunda. “Tidak keberatan kalau kita duduk disini kan? saya suka sinar matahari,” katanya sambil menatap keluar jendela, kearah pantulan matahari dikaca. Di tangannya tergenggam cangkir kertas berisi kopi yang asapnya mengepul pelan.
Pria itu, Bahman Ghobadi, duduk tenang sambil sesekali meremas tangannya agar tetap hangat. Udara di Rotterdam akhir January memang dingin, dan setiap orang mencari matahari. Saya tentu saja tidak keberatan. Penghangat listrik rupanya tidak cukup punya daya menghangatkan ruang kaca besar di lantai 3, gedung De Doelen. Meski mengerti dan bisa berbahasa Inggris, Ghobadi minta ditemani seorang penerjemah. “Saya tidak terlalu lancar berbahasa Inggris,” katanya.
Bahman Ghobadi lahir pada 1 Februari 1969 di Baneh, sebuah kota kecil di propinsi Kurdi, Iran, yang berbatasan dengan Iraq. Ghobadi belajar teknik membuat film di Iranian Broadcasting College. Awalnya dia bekerja sebagai fotografer, tapi kemudian beralih ke film dengan membuat dokumenter pendek.
Ghobadi mendirikan rumah produksinya Mij Film pada 2000 dan mulai membuat feature film. Film awalnya, A Time For Drunken Horses meraih Camera D’or di Cannes Film Festival 2000. Lalu Marooned in Iraq yang mendapat Gold Plaque dari Chicago International Film Festival pada 2002, kemudian menyusul Turtles Can Fly pada 2004 yang memenangkan berbagai penghagaan bergengsi di festival festival film internasional.
Dengan sedikit ragu-ragu, saya membuka obrolan dengan bertanya soal eksekusi Saddam Husein. Dan benar saja, wajahnya langsung berubah.
Secara tidak langsung film-film Anda banyak menyorot kehidupan di perbatasan Iran-Iraq akibat dari kebijakan dari pemerintahan Saddam Husein. Sekarang, Saddam dijatuhi hukuman mati. Menurut Anda apakah akan ada perubahan?
Saya tidak suka dengan pertanyaan ini. Semua yang terjadi di middle east adalah sebuah permainan. Permainan yang bodoh, dan gila. Saddam Husein, adalah orang yang dibina oleh barat, ditempatkan oleh barat, diberi kekuasaan oleh Barat, diciptakan sebagai monster oleh barat dan menjadi diktator juga atas restu Barat. Lucunya, dia dieksekusi oleh Amerika, padahal mereka sudah mengeruk banyak keuntungan, mengeruk banyak uang dari Saddam. Alur yang memuakkan, cerita lama yang sama. Saya menonton soal eksekusi itu. Itu, sangat gila. Saya tidak percaya hidup di jaman gila begini. (Kepalanya menggeleng-geleng. Ia kembali menghirup kopinya yang tinggal setengah)
Ok, mari kita bicara film saja. Apakah masyarakat Kurdi bisa menonton film Anda?
Ada kurang lebih 40 juta warga Kurdi dan ditanah Kurdi mereka hanya punya 4 atau 5 cinema. Susah untuk mempertontonkan film saya. Apalagi bisnis film komersial tidak memberikan banyak ruang bagi independent cinema. Rasanya sama juga dengan di Indonesia. Aturan yang berlaku di dunia bisnia film adalah aturan Hollywood: sinema bukan dianggap sebagai bentuk seni, tapi bisnis di seluruh dunia. Semua orang yang bekerja di dunia itu sekarang mencoba untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Mereka cepat melupakan objektivitas cinema, melupakan tujuan membuat film.
Untunglah, banyak DVD ilegal di pasaran. Itu sungguh membuat saya gembira. Saya tidak masalah dengan pembajakan karya saya. Mereka tidak punya uang, tidak punya cukup uang untuk membeli DVD asli. Hanya itu satu satunya cara agar mereka bisa menonton film saya. Dan mereka pantas untuk menonton film saya dengan cara itu. Toh saya menggunakan budaya Kurdi sebagai inspirasi, pertukaran yang sangat menguntungkan bagi saya.
Mengapa Anda sangat tergila-gila dengan budaya Kurdi?
Saya mengenal bahasanya, saya mengenal orang-orangnya, saya mengenal negerinya, karena itu saya punya kemampuan untuk memperlihatkan pada seluruh dunia, gambaran sebenarnya tentang suku Kurdi. Mereka adalah orang-orang yang baik dan ramah. Mereka adalah masyarakat dengan latar belakang, sejarah, dan akar budaya yang kaya. Begitu banyak hal yang bisa ditemukan dan menunggu untuk ditemukan. Tidak hanya mengenai Kurdistan, tapi juga seluruh Iran.
Anda harus tinggal di sana untuk menemukan elemen yang baik dari masyarakat yang baik ini. Anda harus hidup di sana. Iran tidak seperti yang anda saksikan di TV, atau di media. Tidak benar 1% pun. Dan itu sesuatu yang membuat saya sedih. Itu semua bukan gambar sebenarnya tentang Iran. Iran adalah salah satu wilayah dengan budaya yang paling kaya di dunia. Masyarakat yang berbudaya, masyarakat dengan sejarah yang agung.
Menurut Anda, suku Kurdi lebih berbudaya dari Amerika?
Suku Kurdi dan Iran adalah masyarakat paling berbudaya, lebih berbudaya dari Amerika. Amerika Serikat itu negara baru. Kurdistan dan Iran adalah salah satu negeri tertua didunia. Sama seperti Indonesia. Kamu punya sejarah, kamu punya masyarakat yang punya kebudayaan jauh lebih mengakar daripada Amerika. Semua itu tidak akan kamu dapati di Amerika serikat.
Saya menonton Opera Jawa, dan saya terpesona sekali. Itu film yang sangat bagus, menggambarkan betapa Indonesia punya sesuatu yang tidak akan pernah saya dapatkan dari menonton berita di CNN. Saya berharap bisa menonton film-film yang bisa memperkenalkan saya lebih jauh dengan budaya Indonesia. Opera Jawa adalah film Indonesia terindah yang pernah saya saksikan. Excelent.
(Tak lupa dia menitip salam untuk Garin Nugroho. Dia bilang, pernah diundang Garin makan nasi goreng di Cannes. Ghobadi nampak geli jika mengingat undangan itu)
Anda pernah jadi asisten Abbas Kiaroustami. Bagaimana ceritanya?
Itu 10 tahun lalu. Saya bekerja dengan Kiaroustami hanya beberapa hari. Saya sebenarnya lebih ke manajer produksi, tapi kemudian jadi asisten sutradara. Saya berada di lokasi syuting selama 10 hari, berniat untuk belajar sesuatu. Tapi selama di sana, saya merasa, itu bukan produksi yang saya inginkan. Saya ingin melakukan sesuatu yang lain. Bukan jenis produksi sinema yang saya cari. Saya benar benar menyukai film-film feature Kiaroustami di awal karirnya. Feature-nya yang belakangan ini saya sudah tidak terlalu nyambung, saya tidak terlalu suka.
Bagaimana dengan Makhmalbaf?
Saya adalah penasehatnya untuk soal Kurdistan. Saya membantunya mengenal lebih jauh tentang Kurdis. Saya membantunya beberapa hari. Kami bekerja sama dengan baik. Saya memang dengan senang hati selalu ingin membantu semua orang yang datang ke Kurdistan. Saya ingin mereka tahu, dan menemukan betapa menariknya bangsa Kurdi.
Kenapa memilih film?
Saya datang dari wilayah Kurdistan, bagian Iran. Iran punya sejarah panjang dalam industri film, 100 tahun lebih, dan selama itu tidak ada Sinema Kurdi. Saat ini saya mencoba untuk menemukan wajah sinema bangsa Kurdi.
Kapan mulai tertarik dengan film?
17 atau 18 tahun yang lalu. Saya memulainya dengan 8mm, bikin film pendek 8 sampai 10 menit dan masih menggunakan VHS.
Bisa ceritakan film pertama yang Anda tonton?
Hahaha …saya tidak ingat judulnya. Tapi itu film murahan. Saya ingat menonton dengan keluarga saya. Film action murahan di bioskop kecil dan sangat tua. Kalau mengingat menonton film itu dan melihat hidup saya sejauh ini, saya sadar, semua hal nyata yang sudah saya alami dalam hidup saya, adalah pengalaman yang tidak pernah dilihat orang lain sebelumnya.
Apa yang pernah saya saksikan dalam hidup saya adalah film panjang. Saya melihat banyak perang, tapi tidak di atas layar putih. Saya melihatnya nyata. Anda mungkina hanya bisa melihat James Bond dalam sebuah film yang punya License To Kill. Tapi saya menyaksikan ribuan James Bond di Irak.
Anda trauma?
Berat untuk mengatakannya. Tapi saya selalu ingat, 90% hidup saya banyak menyaksikan hal mengerikan, saya mengalami hari hari sulit, menderita. Saya melihat paman saya tewas. Sehari setelah itu, paman saya yang lain dengan sepupu saya, tewas terkena bom di depan mata saya. Saya melihatnya dengan mata kepala sendiri, melihat tubuh mereka hancur. Dua bulan setelah itu, bibi saya kehilangan kedua kakinya di tengah perang. Semua terjadi hanya dalam waktu 2-3 bulan. Di depan mata sendiri. Itulah kenapa saya selalu sakit kepala kalau menonton film film heroik macam James Bond.
Itu yang membuat Anda takut mati?
Saya ingin membuat film, saya ingin membuat sesuatu untuk negeri saya. Saya ingin punya energi untuk itu. Saya mencoba membuat beberapa orang agar menjadi asisten saya. Mendidik. Butuh waktu 10 tahun untuk bisa benar-benar belajar cara membuat gambar yang baik dan cara membuat film yang baik.
Dan saya takut, 10 tahun bukan waktu yang singkat. Bagaimana jadinya kalau asisten-asisten saya belum selesai belajar? Mungkin saya bukan guru yang baik, tapi setidaknya saya punya fasilitas dan sedikit pengalaman yang bisa saya bagikan kepada mereka. Saya takut mati sebelum itu terlaksana.
Saya selalu merasa dibayang-bayangi oleh kematian. Kadang-kadang tidak mengganggu tapi kadang sangat mengganggu. Tidak jelas apakah Iran akan ada perang lagi, apakah nanti Israel akan membom Iran, dll. Saya selalu berpikir, kematian mengitari kami. Saya bahkan pernah berpikir untuk bunuh diri, biar kematian tidak lagi membayangi. Tapi saya sadar, saya harus berbuat sesuatu dulu.
Bukankah kita semua akan mati pada akhirnya?
Ya, saya tahu maksudmu. Tapi saya bukan takut akan mati itu sendiri. Saya takut mati sebelum saya melakukan sesuatu. Itu yang mengerikan.
Anda percaya Tuhan?
Saya percaya. Tapi masalahnya saya tidak percaya ada reinkarnasi, saya tidak percaya ada hidup di kesempatan kedua. Kita lahir hanya sekali, dan kita bisa memilih apakah bisa mempengaruhi masyarakat atau tidak, apakah ingin berbuat sesuatu selama hidup atau tidak. Nah saya ingin berbuat sesuatu dulu.
Setelah itu kami melanjutkan obrolan tentang film-filmnya (kelak akan disertakan di-review film-film Ghobadi –red.), sampai seorang panitia mengingatkan bahwa Ghobadi masih punya acara lain. Sebelum mengucapkan selamat berpisah, Ghobadi meminta kamera yang sedari tadi saya gunakan untuk memotretnya dari berbagai sisi.
“Kesinikan kamera itu”
“Loh, untuk apa?”
Dia tertawa, dan langsung menyambar kamera ditangan saya.
“Kamu diam disitu, jangan banyak bergerak”
“Aduh, Pak Ghobadi, masa saya yang di foto, kan saya malu,” saya berdiri kikuk.
Penerjemah yang sedari tadi menemani kami ngobrol senyum senyum.
“Kepalamu miring sedikit biar kena matahari, ayo, jangan tegang begitu,” katanya memerintah.
“Aduh, aduh pak Ghobadi, saya harus bagaimana? Senyum?” Saya tambah kikuk.
“Nah, begitu lebih baik.”
Dan saya pun mendengar nada ‘klik’. Kamera itu diserahkan kembali kepada saya. Saya lihat hasilnya lewat LCD. Saya tidak suka difoto, karena saya tidak fotogenik. Tapi, saya di foto itu, terlihat begitu manis. Terima kasih, Pak Ghobadi.
(wawancara ini pertama kali diterbitkan di www.rumahfilm.org)

leave a comment