Diary Of A Moviegoers

Day 3: Puisi, Film Rumahan, dan Woodstock

Posted in Cannes 2009, Cannes Film Festival, Festivals, News, Notes, Serba-Serbi by akurini on May 15, 2009

Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62

Kehebohan dihari pertama dan gelombang para tamu mulai mereda. Kesan awal bahwa krisis tidak berpengaruh, agak meragukan. Tentu saja, jalanan masih –dan akan selalu– penuh dengan moviegoers, lengkap dengan mereka yang ‘memohon’ undangan untuk bisa menonton film. Tapi jika diperhatikan dengan teliti, hotel-hotel raksasa macam Martinez atau Majestic yang biasanya penuh dengan poster film-film berbudget menjulang, kali ini terlihat agak polos, bahkan nyaris telanjang. Gedung-gedung sepanjang pantai Croisette yang tahun-tahun sebelumnya tak pernah kosong dengan iklan, tahun ini terlihat polos.  

Facade bangunan yang nyaris tanpa poster

Lalu seorang rekan wartawan dari sebuah radio di Perancis mengabarkan bahwa radio tempat mereka bekerja sedang melakukan mogok kerja sebagai protes atas pemecatan besar-besaran terhadap rekan kerja mereka. “Biasanya, dari radio kami dikirim 10 wartawan plus 4 hingga 6 orang teknisi lapangan. Tahun ini hanya ada 5 orang plus 2 orang teknisi. Stasiun radio dan TV lainnya juga begitu,” kata rekan yang saya kenal saat sedang mengantri nonton ini. Dengan adanya mogok kerja itu, rekan ini akhirnya menghabiskan nonton film secara maraton sekaligus menghadiri pesta hampir tiap malam. “ Saya nyaris teler tiap malam,” katanya. Jadi krisis itu rupanya memang ada.  

Tapi lupakan krisis sejenak. Mari kita menulis puisi. Saya suka membaca puisi. Rimbaud. Verlaine. Poe. De Campos. Reis. Pessoa. Dan saya membaca John Keats walaupun agak eneg dengan romantismenya. Mungkin itu juga yang membuat saya tidak terlalu antusias dengan film terbaru Jean Campion, Bright Star, terinspirasi dari salah satu karya Keats dengan judul yang sama. 

Enambelas tahun setelah memenangkan Palme d’Or di tahun 1993 untuk film The Piano, Jane Campion kembali ke Cannes dengan membawa Bright Star, tentang kisah cinta Fanny Brawne dengan John Keats, penyair aliran romantis di Inggris awal abad ke 19. Alur Bright Star bisa diduga, penuh dengan adegan-adegan melow dan dialog-dialog manis dimana hubungan cinta mereka berkembang hanya dari aktivitas sederhana macam sentuhan tangan atau surat cinta bercap bibir. 

Bright Star resize

Melihat karya-karya Jane Campion sebelumnya seperti The Piano dan The Portrait of A Lady, sutradara kelahiran New Zealand ini jelas adalah orang yang tepat untuk mengangkat kisah cinta yang jarang dibicarakan ini. Sentuhan khas Campion yang pernah terlihat di The Piano makin sempurna di Bright Star. Skenario yang rapi, shoot-shoot yang ditata sempurna dengan detail-detail yang kaya dan puitis serta akting yang juga menyamai capaian sinematografis.  

Bisa dibilang, film ini sempurna dari segala aspek. Plus menjadi salah satu film dengan nilai paling tinggi hingga hari ke 3. Sayangnya, seperti juga puisi-puisi Keats, film ini tidak bisa saya masukkan dalam kategori film favorit. Alasannya cuma satu, film model begini bisa dinikmati di stasiun TV BBC tiap minggu. Tidak perlu jauh-jauh sampai ke Cannes.  

L’epine Dans Le Coeur (Thorn in My Heart) mungkin bisa jadi contoh dan penyemangat bagi mahasiswa jurusan film maupun filmmaker muda yang belum pede dengan karya mereka. Film dokumenter rumahan (home made movie –?) ini dibuat oleh seorang keponakan yang ingin memfilmkan tantenya, Suzette, yang bekerja sebagai guru sekolah dasar di desa kecil dan konservatif  Cévennes, Perancis antara tahun 1952 hingga 1986. Film ini terpilih sebagai salah satu film yang diputar untuk  Special Screening.  

Dokumenter ini terdiri dari banyak footage keluarga yang disyut dengan Super 8, lalu dokumentasi Suzette mengunjungi bekas-bekas sekolahnya dulu, wawancara dengan kerabat, bekas murid, dan teman dekat, dan tentu saja sentuhan si pembuat film dengan animasi untuk setiap pergantian tema dan waktu serta rekonstruksi bekas-bekas sekolah Suzette. Terlihat upaya si filmmaker untuk membuat tantenya terbiasa dengan kamera hingga pada titik tertentu, ia pun berhasil membuat Suzette bercerita tetang aib keluarga yang kemudian disebutnya sebagai ‘the thorn in my heart’. 

Setelah melalui banyak basa-basi soal kenangan masa-masa aktif sebagai guru, film rumahan –yang terus terang saja agak menjemukan ini— kemudian fokus lebih pada ‘aib’ keluarga tersebut dan akhirnya lebih seperti terapi psikologis bagi sang tokoh utama, Suzette. Sayangnya, ‘the thorn in my heart’ yang bisa menjadi pelajaran bagi siapa saja yang mengalami hal yang sama ini tidak cukup menarik untuk diceritakan sehingga film ini jadi terasa sangat dangkal. 

Saya hanya berpikir, jika si keponakan, si filmmaker yang membuat Thorn bukan bernama Michel Gondry, apakah film ini tetap akan dipilih untuk Special Screening? Jika misalnya, saya yang membuat film ini, apakah juga akan dilirik oleh para programmer Cannes?. Seorang rekan yang saya sodori pertanyaan ini, menatap saya dengan miris lalu tertawa terbahak-bahak. “Huahahaha….jangan mimpi. Emang lu siapa !” kata teman saya. Katanya, kalo saya sudah sekelas Michel Gondry, mau membuat film tentang ayam bertelur pun pasti dilirik oleh festival papan atas. Kadang-kadang, nama memang penting. 

Seperti juga nama Ang Lee. Siapa yang tak kenal. Entah sudah berapa orang yang menyatakan hal yang sama: “Saya curiga, Ang Lee ini gay’. Soalnya, hampir disetiap filmnya, selalu saja ada karakter gay. Yang paling fenomenal tentu saja para cowboy gay di Brokeback Mountain. Kecurigaan itu makin dipertanyakan karena di film terbarunya tahun ini, Taking Woodstock, lagi-lagi tokoh utamanya adalah gay dengan problemnya sendiri.  

Taking Woodstock resize

Apakah Ang Lee gay atau bukan akhirnya tidak lagi penting. Toh namanya Ang Lee dan dia bisa bikin film serta berhasil mengukir namanya sebagai salah satu sutradara papan atas di Hollywood. Orientasi seksual tidak lagi penting apalagi Taking Woodstock adalah film yang asyik untuk ditonton lepas dari kekurangan-kekurangannya. (Tunggu review lengkapnya) 

Tapi, jangan salah sangka. Taking Woodstock bukan tentang salah satu moment paling bersejarah dalam dunia musik dan budaya di Amerika ditahun 60 an itu. Peristiwa bersejarah itu hanya jadi latar belakang yang disediakan bagi tokoh utama film ini, Elliot Tiber. Jadi tidak ada Janis Joplin, tidak ada Jim Hendrix, tidak ada Bob Dylan. –Yang terlihat hanya poster, Dylan: Show Yourself Please!–.   

Taking Woodstock sendiri terinspirasi dari buku yang ditulis Tiber tentang upayanya menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut. Dari kesulitan keuangan dan situasi ekonomi yang bikin stress itulah, Tiber kemudian punya ide gile untuk mengundang penyelenggara Woodstock –yang kala itu ditolak oleh otoritas Woodstock, sehingga Woodstock tidak jadi diselenggarakan di Woodstock walaupun tetap menggunakan nama Woodstock—ke desanya. Nah, kesibukan menyiapkan ‘ledakan budaya’ terbesar, tergila dan termegah itulah yang jadi cerita utama di Taking Woodstock –yang tidak diselenggarakan di Woodstock itu–.

All About Dylan

Posted in Reviews by akurini on March 13, 2008
im-not-there-posterb.jpg
Idenya begini : bagaimana merangkum sosok Bob Dylan yang legenda hidup itu ?. Seperti banyak bintang legendaris macam Elvys Presley atau John Lenon, Bob Dylan yang dianggap raja folk country itu penuh kontroversi. Dylan terkenal sebagai manusia dengan seribu wajah dan seribu identitas.

Bagaimana merepresentasikan salah satu orang paling berpengaruh di abad ke 20 ini (menurut versi Time) dalam waktu 135 menit? Bagaimana merepresentasikan Dylan dengan multiple identity-nya? Mereduksinya menjadi beberapa garis sederhana tapi esensial? Hasilnya, I’m Not There karya terbaru Todd Haynes kurang lebih mirip dengan karya-karya icon pop Andy Warhol. Satu potret yang berulang dengan warna yang berbeda.

Tentu saja, I’m Not There tidak sesederhana karya Warhol. Tidak seperti Warhol, Haynes sebagai pembuat film punya banyak kesempatan untuk mengekplorasi lebih jauh dari sekedar mengulang potret yang sama. Dan Haynes sadar akan hal itu. Haynes juga tidak ingin mengulang biopic konvensional macam Ray (tentang Ray Charles) atau Walk The Line (tentang Johnny Cash).

Sebelumnya sutradara DA Pennebaker pernah membuat documenter tentang Dylan berjudul Don’t Look Back pada 1967 dan Martin Scorsese pernah mencoba untuk membuat documenter berjudul No Direction Home pada 2005. Tapi film itu tidak lantas membuat kita mengenal sosok Dylan yang sesungguhnya kecuali bahwa ia bintang tenar yang sibuk tur dan beberapa perubahan dalam karir bermusiknya.

Membuat biopic tentang Bob Dylan jelas bukan pekerjaan mudah. Menggunakan kata-kata Dylan sendiri, ‘I’m a trapeziste,’ yang dalam permainan sirkus berayun dari satu restok gantung ke restok gantung yang lain diketinggian. Salah satu kalimat yang paling tepat untuk mendeskripsikan pribadi Dylan terdapat dalam salah satu lirik lagunya The Man in Me: the man in me will hide sometimes to keep from bein’ seen. But that’s just because he doesn’t want to turn into some machine.

Todd Haynes yang pernah membuat Far From Heaven mengambil langkah yang lumayan beresiko. Ia sadar akan keterbatasannya mengenal sosok Dylan. Haynes kemudian meminjam teori para pengikut Kierkegaard yang kurang lebih: tidak ada akses langsung kepada eksistensi tunggal karena identitas itu kurang lebih dibentuk oleh keinginannya menjadi (seseorang atau sesuatu).

Dari situ, Haynes bereksperimen. Haynes mencoba melakukan pendekatan yang subjektif lewat cara yang cukup radikal. Ia memilah-milah sosok Dylan yang ia kenal dari berbagai referensi termasuk dari lirik-lirik lagu yang diciptakan Dylan sepanjang 1962 hingga 2006. Rumit? Mungkin. Tapi saya lebih suka menyebutnya ambisius.

Dylan dipilah dalam 6 (+1) karakter yaitu : Dylan yang ingin jadi Arthur Rimbaud (diperankan oleh Ben Wishaw), Dylan yang ingin jadi Marlon Brando (diperankan oleh Heath Ledger), Dylan yang merasa jadi Woody Guthrie (diperankan actor cilik Marcus Carl Franklin), Dylan yang ingin jadi Billy the Kid (diperankan actor senior Richard Gere), Dylan sang bintang yang tak tersentuh (+ kemudian memutuskan untuk jadi pendeta) (keduanya diperankan oleh Christian Bale), dan Dylan sang legenda yang mulai muak dengan popularitas (diperankan dengan gemilang oleh Cate Blanchett).

Mereka semua adalah Bob Dylan yang tercampur dengan persepsi Haynes. I’m Not There kemudian menempatkan 6 (+1) karakter ini dalam tiga sudut pandang : real, possible dan ideal (dreams). Banyaknya karakter seperti ini memang agak mengganggu, dan njlimet. Tapi mungkin cara seperti itulah Bob Dylan ingin dikenal. Kita hanya harus paham, tidak usah bingung dengan wajah-wajah yang berbeda, mereka sedang mencoba menjelaskan Dylan.

Buktinya, Dylan yang ogah tampil di film ini memberi restu kepada Haynes untuk meneruskan I’m Not There tanpa ba-bi-bu. Haynes hanya perlu mengingat untuk tidak memasukkan kata ‘voice of our generation’ atau ‘genius of our time’ dan sejumlah predikat lain yang dibenci Dylan. Dylan bahkan memberi kebebasan kepada Haynes untuk menginterpretasi hidupnya secara bebas. Karena itulah tiga sudut pandang yang dipilih Haynes bekerja sebagai tulang punggung I’m Not There dan jadi cantolan kisah ke 6 karakter Dylan tersebut.

Dylan menganggap brillian ide Haynes menggunakan aktor artis yang berbeda untuk memerankan dirinya. Dan karena mereka adalah Bob Dylan, jangan mencoba untuk memilah mana karakter real dan mana karakter impian. Tidak semudah itu. Mereka kadang saling berpapasan disebuah lokasi, berpapasan ide, berpapasan dalam sekuen gambar atau sekedar ‘berpapasan’ dalam kalimat.

Misalnya diawal-awal film dalam sebuah sekuen Arthur (Rimbaud) bilang: It began with a certain disgust and it ends, unable to grasp this eternity, it ends in a riot of perfumes. Atau Jude (Cate Blanchett) bilang ; God, I’m glad i’m not me yang terinspirasi dari kalimat Rimbaud yang sering dikutip itu: Je suis un autre. Mereka semua bahu membahu untuk mewujudkan –atau menjelaskan atau merekonstruksi— Bob Dylan.

Pemilihan actor artis untuk memerankan ke 6 karakter itu murni hasil imajinasi Haynes. Banyak yang mempertanyakan mengapa Haynes memilih actor cilik Marcus Carl Franklin sebagai Woody Guthrie (almarhum penyanyi folk idola Dylan). Apalagi Marcus berkulit hitam, jelas jauh dari Guthrie asli yang putih.

Haynes bilang, karena ia ingin potret Dylan yang beragam (karena itu pula ada Cate Blanchett). Selain itu, di periode Guthrie dalam film adalah periode yang sama dengan Billy The Kid (Richard Gere), periode cowboy dimana orang hitam masih berjuang untuk menunjukkan eksistensinya sama seperti Dylan ketika sedang menapak karir.

Semua karakter-karater ini bisa dipilah dari titik-titik peristiwa hidup Dylan sendiri. Yang mana yang real, possible atau dream. Para penggemar Dylan pasti paham, meski menggunakan tiga angle tersebut, sebetulnya struktur I’m Not There sangat kronologis dan penuh referensi (musik, peristiwa bersejarah didunia musik sampai memoribilia macam gitar Woody Guthrie yang tertulis ‘this machine kills fascists’).

Nah, saya terpaksa bilang, disinilah resiko yang harus ditanggung I’m Not There karena ambisi Todd Haynes. Hanya penggemar Dylan, pengamat musik Dylan atau orang-orang yang pernah membaca kisah hidup Dylan-lah yang bisa paham tentang alur dan struktur I’m Not There. Hanya merekalah yang bisa paham misalnya dari angle possible (andai, atau mungkin). Jack yang bintang folk itu suatu ketika memutuskan untuk memeluk agama Kristen.

Mereka yang tahu pasti bisa menghubungkan peristiwa ini dengan saat Dylan memutuskan untuk masuk Kristen ditahun 70an. Dylan yang bernama asli Robert Allen Zimmerman aslinya beragama Yahudi. Disini, Haynes berandai-andai. Jika Dylan serius memeluk Kristen seperti niat awalnya, maka mungkin ia akan menjadi seperti Pastor John (Christian Bale). Soal agama ini pun muncul dan mengganggu benak Jude (Cate Blanchett) yang agama aslinya ketahuan oleh jurnalis.

Dari sisi ini, menurut saya, film ini gagal memperkenalkan Dylan kepada orang awam. Hal-hal krusial yang menjembatani hubungan antar karakter atau hubungan antar periode hanya akan dipahami oleh mereka yang tahu. Bagi yang penasaran, mungkin mereka akan mencari tahu lebih banyak tentang Dylan. Tapi bagi yang tidak penasaran, mungkin mereka akan bilang, ‘nggak nyambung amat sih!’. Saya berharap tidak. Karena sebagai tontonan, film ini jelas layak untuk ditonton.

Entah itu sekedar mengamati komposisi gambar ala Andy Warhol (Haynes menggunakan warna berbeda disetiap periode). atau menikmati lagu-lagu Bob Dylan. Telinga anda akan dimanjakan dengan lagu-lagu Bob Dylan yang tidak hanya dinyanyikan oleh Dylan, tapi juga kolaborasi musisi-musisi lain macam Eddie Vedder (Pearl Jam), Lee Renaldo (Sonic Youth), dan band favorit saya Anthony & The Johnsons yang menyanyikan Knockin’ On Heavens Door di akhir. ***

aku