Diary Of A Moviegoers

Day 7: Mengapa Filipina?

Posted in Cannes 2009, Cannes Film Festival, Festivals, News, Notes, Serba-Serbi by akurini on May 19, 2009

Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62 

Independencia

Gunjingan soal film-film Filipina yang seperti tiba-tiba berhamburan masuk Cannes makin ramai setelah semalam dua film Filipina dipertontonkan didepan publik. Keduanya karya Raya Martin pula. Independencia di Un Certain Regard dan Manila di Special Screening hasil kolaborasi Raya dengan sesama sutradara Filipina, Adolfo Alix Jr.

Selain dua film yang masuk seleksi dua program bergengsi Cannes ini, tentu kita tak lupa pada Kinatay karya Brillante Mendoza yang tembus ke seksi paling puncak, kompetisi utama. Dan kita juga tentu tidak lupa, bahwa Mendoza berhasil menembus kompetisi utama dua kali berturut-turut. Pencapaian yang cukup mencengangkan dari salah satu negeri di Asia Tenggara yang belakangan ini jarang dibicarakan sejak munculnya gerakan sineas muda dari negeri tetangga Malaysia.

Tentu saja, spekulasi kemudian beredar dikalangan masyarakat film Cannes. Apalagi banyak kritikus yang kemudian ‘membantai’ film itu. Salah satu kritik paling pedas datang dari kritikus kenamaan Roger Ebert yang menganugerahkan Kinatay sebagai The worst film in the history of Cannes Film Cinema. Kritikus yang lain bergunjing kenapa film ini bisa masuk kompetisi.

Ada spekulasi bahwa banyaknya film Filipina tahun ini di seksi bergengsi karena dibiayai oleh produser Perancis yang tentu saja punya akses dan jaringan ke para programmer Cannes. Selain itu Raya Martin misalnya pernah terpilih sebagai salah satu peserta Cinefoundation Cannes Residence, sebuah program untuk membina para sutaradara muda untuk menulis script, mencari jalur untuk mewujudkan proyek mereka dan tentu saja bagaimana menembus industry film secara professional.

Brillante_mendoza

Apapun alasannya, kemunculan film-film Filipina di Cannes tahun ini memang cukup bikin penasaran. Film Filipina pertama yang pernah masuk seksi kompetisi di festival ini adalah My Country: Gripping the Knife’s Edge karya sutradara ternama Lino Brocka di tahun 1984.  Posisi My Country baru tergeser setelah 24 tahun dengan masuknya Serbis karya Brillante Mendoza pada 2008 lalu. DI tahun yang sama, film Raya Martin berjudul Now Showing juga terpilih di Director’s Fortnight Cannes.

Setelah generasi Lino Brocka yang merupakan generasi era keemasan sinema Filipina ditahun 70an, memang ada jarak panjang dan lebar antar generasi. Di akhir tahun 80an, sinema Filipina kebanjiran produksi massal film-film komersial hingga kualitas dunia sinema mereka langsung jatuh nyaris dititik nol. Barulah di2000an, sineas independen Filipina mulai menampakkan tanda-tanda kehidupan.

Kemunculan para sineas independen ini tanpa basa-basi langsung menghentak dengan membuat film-film yang  kritis dengan gaya mereka masing-masing terhadap masalah-masalah sosial politik disekitar mereka. Contohnya Small Voices karya Gil Portes ditahun 2002 yang mengkritisi sekaligus menuntut perbaikan system pendidikan di Filipina. Lalu beberapa tahun belakangan makin banyak lagi sineas-sineas berbakat yang unjuk gigi dengan hadirnya teknologi digital. Para sineas yang kemudian langsung menarik perhatian industri perfilman nasional, antara lain Brillante Mendoza yang memilih aliran Dogma serta cinema verite untuk membuat film. Dan tentu saja ada Lav Diaz dengan ekperimental filmmakingnya. Sementara Raya Martin yang relatif berusia lebih muda (24 tahun) justru lebih memilih kembali ke old school  filmmaking.

Tapi dengan berbagai aliran yang diterapkan oleh para generasi baru sineas Filipina ini, mereka punya satu kesamaan: statemen politik yang kuat dan sama-sama menggarisbawahi sosial isu di Filipina. Bahkan Kinatay, film yang dianggap buruk itu –lepas dari thriller dan adegan seram-seramnya– jika dilihat lebih dekat sangat jelas mengkritisi budaya korup dalam sistem keadilan di Filipina.

Salah satu kritikus ternama dari Asia Tenggara, Anchalee Chaiworaporn, mengakui bahwa film Filipina dengan gaya atau genre apapun, selalu kuat dengan statemen politiknya. “Coba saja perhatikan film-film Mendoza sebelumnya seperti Foster Child atau bahkan Serbis. Lepas dari kualitas teknis dan gaya penceritaan, lewat film-film itu Mendoza punya sesuatu untuk diceritakan dan dibicarakan. Sama halnya dengan Kinatay,” kata Anchalee.

Foster Child bicara tentang kehidupan ibu pengasuh bayi yang akan diadopsi kemudian hari dan menjadi ladang duit bagi departemen sosial dan Serbis tentang matinya industri bioskop karena pajak tinggi dari pemerintah. Dan menurut Anchalee, pernyataan politis dan isu sosial yang kuat lewat film selalu mendapat tempat di Cannes. 

Raya_Martin

Pendapat Anchalee ini sejalan dengan pernyataan programmer festival Cannes, Thierry Fremaux. Walaupun Fremaux selalu berkeras bahwa Cannes bukanlah festival film politik, tapi ia percaya bahwa sinema bisa jadi salah satu alat untuk mengubah dan menyelamatkan dunia. “Dan Cannes Film festival adalah medium untuk menyebarkan pesan itu,” lanjut Fremaux.

Pembicaraan saya dengan Anchalee berlanjut dengan pertanyaan mengapa film Malaysia dari generasi baru yang berjaya diberbagai festival internasional tidak sampai ke Cannes. Bahkan dengan dua sineasnya Tan Chui Mui serta Liew Seng Tat yang juga terpilih dalam program Cinefoundation Residence setelah Raya Martin. “Karena film mereka yang sangat personal walaupun mereka berusaha memasukkan unsur-unsur sosial politis tapi terasa mereka masih ragu-ragu,” kata Anchalee.

Gertjan Zuilhof, programmer Rotterdam Film festival yang khusus menangani film-film  Asia itu punya pendapat lain. “Film personal juga banyak di Cannes. Saya rasa persoalannya lebih ke soal waktu dan keberagaman pilihan. Saya sebagai programmer misalnya, jika disuruh memilih dua film dengan kualitas sama, yang satu dari Amerika, satunya lagi dari Filipina, tentu saja saya memilih Filipina. Atau jika ada film Vietnam, Kamboja, atau Laos kemungkinan saya juga akan memberikan pengecualian,” kata Gertjan.

manila

Zuilhof memberi contoh di program Director’s Fortnight tahun ini. Setelah 15 tahun, barulah ada film Malaysia. Tahun ini yang terpilih adalah film berjudul Karaoke karya Chris Chong. “Itu salah satu contoh, bahwa yang paling diinginkan oleh seorang programmer festival adalah film dari wilayah-wilayah baru dan nama baru agar para festivalgoers tidak bosan dengan sineas yang itu-itu juga, tentu saja dengan tidak mengesampingkan kualitas. Mereka selalu ingin menemukan Apichatpong baru,” kata Zuilhof.

Dan menurut Zuilhof, itu pula yang terjadi dengan film-film Filipina yang membanjir tahun ini. “Tahun ini film-film Filipina, mungkin tahun depan beda lagi.”. Karena itu menurut Zuilhof, filmmaker dari negeri negeri Asia seperti Indonesia punya banyak peluang. “Hanya saja memang perlu ada peningkatan kualitas yang masih menjadi prioritas utama para programmer ketika memilih film,” kata Gertjan.

Pembicaraan menarik ini terpaksa terhenti. Besok saya lanjutkan karena saya harus menonton film lagi.*** 

Day 5: Film…film…film lagi dan Complete Full Pertama

Posted in Cannes 2009, Cannes Film Festival, Festivals, News, Notes, Serba-Serbi by akurini on May 17, 2009

Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62 

Complete full

…dan saya tidak bertemu, tidak punya foto-foto, apalagi tanda tangan Won Bin.!

Sebetulnya kemarin saya juga sempat menonton Samson and Delilah karya Warwick Thornton di seksi Un Certain Regard serta Kinatay karya Brillante Mendoza di seksi kompetisi. Cuma kadang kalau menonton film maraton itu bikin otak kehilangan orientasi. Ndilalah saya bingung kenapa Mendoza memakai aktor suku aborigin di filmnya. Saya bahkan salah berkomentar antara film Australia dan film Filipina.

Tapi sekarang semua sudah tertata baik lagi. Saya jadi ingat kenapa Samson and Delilah susah dicerna. Dorongan terbesar menontonnya adalah rasa ingin tahu. Film ini tentang kisah cinta dua remaja suku aborigin di Australia. Berlokasi di pemukiman miskin suku aborigin di tengah padang tandus, panas dan kotor, membuat saya melihat wajah lain Australia selain wajah kinclong Nicole Kidman.

Samson and delilah resize

Dengan setting yang eksotis itu, sayangnya, film fitur pertama karya Thornton ini kekurangan chemistry antara tokoh utamanya Samson diperankan oleh Rowan McNamara dan Delilah oleh Marissa Gibson. Upaya Thornton untuk meminimalkan dialog seminim mungkin agar para pemeran utama ini bisa bebas mengeksplorasi dan latihan berekspresi dengan wajah dan tatapan mata juga sia-sia. Belum lagi musik yang digunakan berulang-ulang akhirnya bikin sakit telinga.

Lain lagi dengan Kinatay, karya terbaru Brillante Mendoza. Fakta bahwa sutradara Filipina itu  berhasil memasukkan filmnya dalam seksi kompetisi selama dua tahun berturut-turut cukup mengejutkan. Tahun lalu, Serbis sempat bikin tercengang banyak kritikus hingga membelah dua kubu masyarakat perfilman Cannes, antara yang sangat suka dengan sangat tidak suka dengan film ini. Saya sendiri masuk di kubu pertama, karena menurut saya Mendoza melakukan beberapa hal radikal misalnya dengan menempatkan suara ribut sebagai bagian dari ‘tokoh’ utama dan juga tema soal upaya pemilik keluarga bioskop porno yang nyaris bangkrut berhasil dipotret dengan jitu oleh Mendoza.

Kinatay Resize

Nah dalam Kinatay atau jika diartikan kurang lebih ‘pembantaian’, Mendoza masih melakukan hal yang sama. Memotret dengan fokus yang tepat keributan dan kehirukpikukan Manila. Dan kali ini Mendoza sedang ingin bermain-main di ranah thriller. Kinatay berkisah tentang pemuda Pepoy (lagi-lagi diperankan Coco Martin yang juga tampil di Serbis), calon polisi muda dengan wajah naif ala anak baru gede.

Pepoy yang ‘innocent’ tanpa praduga, di hari yang sama ikut temannya untuk melakukan sebuah ‘misi’ mengerikan dan tak terbayangkan. Tentu saja saya tidak akan bercerita tentang film ini, silahkan nanti Anda saksikan sendiri. Tapi Mendoza pada dasarnya hanya melakukan pengulangan yang tidak berhasil. Apalagi ritme film molor ditengah sehingga alurnya pun keteteran. Yang tersisa dari film itu hanyalah rasa ngeri yang tidak begitu meninggalkan jejak setelah keluar dari bioskop.

Hari ini pun film-film di seksi kompetisi tidak juga menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Pagi dimulai dengan Vengeance filmnya Johnnie To. Saya suka filmnya The Election yang pernah masuk nominasi Palem Emas di Cannes 2005 lalu. Jadi saya lumayan berharap banyak dengan film terbarunya ini. Tapi saya lumayan kecewa. Bagi yang mengenal Johnnie, pasti taulah film macam apa yang dibuatnya. Itu loh film gangster-gangster saling pamer senjata dengan adegan aksinya yang heboh. Entah kenapa film ini masuk seksi kompetisi. Apa mungkin karena kolaborasi dengan Perancis dengan menggunakan aktor Perancis?. Apalagi dibintangi Elvis Presley-nya Perancis Johnny Hallyday. Ohhh my…..! Mungkin karena saya bukan penggemar gangster jadi saya tidak bisa melihat dimana bagusnya film ini. Film ini jadi mengingatkan saya dengan video game.

Vengeance resize

Johnnie To lagi main video game yang asyik mengumpulkan senjata sebanyak-banyaknya untuk mendapat poin. Lalu dia pengin melucu tapi garing. Hallyday pengin akting seperti seorang ayah (mantan polisi atau preman, saya tidak ingat) yang ingin balas dendam atas kematian menantu dan dua cucunya. Pengennya terlihat garang sekaligus punya sisi lembut, tapi malah nampak bloon.

Film berikutnya juga tidak banyak menutup kekecewaan. Alejandro Amenabar yang pernah menyutradarai The Others dan The Sea Inside itu hadir dengan filmnya yang super duper ambisius, Agora. Film diseksi out of competition ini adalah epic sejarah tentang Hypatia, ahli matematika, filosofi dan astronomer perempuan pertama dalam sejarah peradaban dunia. Agora berlatar belakang tahun 369 sebelum masehi –periode waktunya saja seperti jarak Bumi ke Pluto, tak terbayangkan dengan pikiran dan mata telanjang–.

Jaman itu katanya jaman yang mulai memperlihatkan konflik agama. Di kota Alexandria, awalnya hidup tentram para penganut Paganisme dan Yahudi. Kemudian datanglah ajaran baru yang disebut Kristen. Di film ini, para penganut Kristen dengan brutal kemudian berusaha mengenyahkan Paganisme dan Yahudi. Maka kacaulah Alexandria, dampaknya hingga ke perpustakaan umum yang biasanya steril dari konflik politik.

AGORA

Di perpustakaan umum inilah Hypatia mengajar filosofi, matematika dan astronomi. Ditengah-tengah gejolak politik agama, Hypatia yang diperankan Rachel Weisz ini sibuk memikirkan rotasi matahari, bintang dan bumi. Gara-gara konflik politik agama inilah, keberadaan Hypatia –yang dicintai oleh dua laki-laki, satunya orang Kristen, satunya Pagan. Saya bingung, kenapa tidak sekalian juga ada wakil Yahudi biar seru–, dipertanyakan. Sehingga membuat para lelaki ini bingung menentukan antara keyakinan mereka atau perempuan yang mereka cintai ini. Walaupun Hypatia sendiri lebih sibuk memikirkan bintang-bintang dilangit.

Film yang banyak memanfaatkan tenaga dan CGI ini jadinya kekurangan perspektif karena ingin melontarkan banyak hal sekaligus. Waktu dua jam lebih juga tak banyak membantu saya untuk memahami apa yang mau diucapkan Amenabar dalam film. Dan dengan bangga Amenabar bercerita bahwa dengan film ini ia sudah mengatakan semua hal penting yang harus diucapkan sebelum mati.

Mengutip kata-katanya: “With this one, I really said everything that seemed important to me. If I were to die tomorrow, I would prefer for Agora to be my last. In any case, this is the most ambitious film of my career.” Saya hanya bisa mengelus-elus perut.  Beginilah jadinya kalo orang terlalu serius. Pengin bicara banyak hal tapi kehilangan fokus.

Dan mengikuti ambisi Alejandro Amenabar, sutradara Rusia Pavel Lounguine juga ikut-ikutan bikin proyek ambisius dengan filmnya Tsar –mengangkat kisah Tsar Rusia yang terkenal gila, Ivan The Terrible–yang ingin mengikuti jejak mbah-nya perfilman Rusia, Sergei Eisenstein yang pernah bikin film klasik Ivan The Terrible. Kalau periode waktu di Agora seperti jarak Bumi ke Pluto, nah perbandingan antara Tsar-nya Pavel Lounguine dengan Ivan The Terrible-nya Eisenstein mungkin seperti jarak Bumi ke Neptunus….jauh! Ivan the Terrible-nya Eisenstein memang sulit disamai.

Tzar

Tapi kekecewaan terbesar saya hari ini adalah gagal menonton Antichrist-nya Lars Von Trier. Pengalaman dengan No Country For Old Men dua tahun lalu terulang lagi. Antri di tengah panas matahari sejam sebelum film dimulai, dan ketika giliran saya nyaris tiba, si penjaga lantas meletakkan papan bertulisan cemerlang: COMPLETE FULL ! Ingin nangis malu, ingin ngamuk tapi akan sia-sia. Lagi-lagi saya sebal dengan kartu biru saya. Hikssss…..!***