Day 7: Mengapa Filipina?
Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62

Gunjingan soal film-film Filipina yang seperti tiba-tiba berhamburan masuk Cannes makin ramai setelah semalam dua film Filipina dipertontonkan didepan publik. Keduanya karya Raya Martin pula. Independencia di Un Certain Regard dan Manila di Special Screening hasil kolaborasi Raya dengan sesama sutradara Filipina, Adolfo Alix Jr.
Selain dua film yang masuk seleksi dua program bergengsi Cannes ini, tentu kita tak lupa pada Kinatay karya Brillante Mendoza yang tembus ke seksi paling puncak, kompetisi utama. Dan kita juga tentu tidak lupa, bahwa Mendoza berhasil menembus kompetisi utama dua kali berturut-turut. Pencapaian yang cukup mencengangkan dari salah satu negeri di Asia Tenggara yang belakangan ini jarang dibicarakan sejak munculnya gerakan sineas muda dari negeri tetangga Malaysia.
Tentu saja, spekulasi kemudian beredar dikalangan masyarakat film Cannes. Apalagi banyak kritikus yang kemudian ‘membantai’ film itu. Salah satu kritik paling pedas datang dari kritikus kenamaan Roger Ebert yang menganugerahkan Kinatay sebagai The worst film in the history of Cannes Film Cinema. Kritikus yang lain bergunjing kenapa film ini bisa masuk kompetisi.
Ada spekulasi bahwa banyaknya film Filipina tahun ini di seksi bergengsi karena dibiayai oleh produser Perancis yang tentu saja punya akses dan jaringan ke para programmer Cannes. Selain itu Raya Martin misalnya pernah terpilih sebagai salah satu peserta Cinefoundation Cannes Residence, sebuah program untuk membina para sutaradara muda untuk menulis script, mencari jalur untuk mewujudkan proyek mereka dan tentu saja bagaimana menembus industry film secara professional.

Apapun alasannya, kemunculan film-film Filipina di Cannes tahun ini memang cukup bikin penasaran. Film Filipina pertama yang pernah masuk seksi kompetisi di festival ini adalah My Country: Gripping the Knife’s Edge karya sutradara ternama Lino Brocka di tahun 1984. Posisi My Country baru tergeser setelah 24 tahun dengan masuknya Serbis karya Brillante Mendoza pada 2008 lalu. DI tahun yang sama, film Raya Martin berjudul Now Showing juga terpilih di Director’s Fortnight Cannes.
Setelah generasi Lino Brocka yang merupakan generasi era keemasan sinema Filipina ditahun 70an, memang ada jarak panjang dan lebar antar generasi. Di akhir tahun 80an, sinema Filipina kebanjiran produksi massal film-film komersial hingga kualitas dunia sinema mereka langsung jatuh nyaris dititik nol. Barulah di2000an, sineas independen Filipina mulai menampakkan tanda-tanda kehidupan.
Kemunculan para sineas independen ini tanpa basa-basi langsung menghentak dengan membuat film-film yang kritis dengan gaya mereka masing-masing terhadap masalah-masalah sosial politik disekitar mereka. Contohnya Small Voices karya Gil Portes ditahun 2002 yang mengkritisi sekaligus menuntut perbaikan system pendidikan di Filipina. Lalu beberapa tahun belakangan makin banyak lagi sineas-sineas berbakat yang unjuk gigi dengan hadirnya teknologi digital. Para sineas yang kemudian langsung menarik perhatian industri perfilman nasional, antara lain Brillante Mendoza yang memilih aliran Dogma serta cinema verite untuk membuat film. Dan tentu saja ada Lav Diaz dengan ekperimental filmmakingnya. Sementara Raya Martin yang relatif berusia lebih muda (24 tahun) justru lebih memilih kembali ke old school filmmaking.
Tapi dengan berbagai aliran yang diterapkan oleh para generasi baru sineas Filipina ini, mereka punya satu kesamaan: statemen politik yang kuat dan sama-sama menggarisbawahi sosial isu di Filipina. Bahkan Kinatay, film yang dianggap buruk itu –lepas dari thriller dan adegan seram-seramnya– jika dilihat lebih dekat sangat jelas mengkritisi budaya korup dalam sistem keadilan di Filipina.
Salah satu kritikus ternama dari Asia Tenggara, Anchalee Chaiworaporn, mengakui bahwa film Filipina dengan gaya atau genre apapun, selalu kuat dengan statemen politiknya. “Coba saja perhatikan film-film Mendoza sebelumnya seperti Foster Child atau bahkan Serbis. Lepas dari kualitas teknis dan gaya penceritaan, lewat film-film itu Mendoza punya sesuatu untuk diceritakan dan dibicarakan. Sama halnya dengan Kinatay,” kata Anchalee.
Foster Child bicara tentang kehidupan ibu pengasuh bayi yang akan diadopsi kemudian hari dan menjadi ladang duit bagi departemen sosial dan Serbis tentang matinya industri bioskop karena pajak tinggi dari pemerintah. Dan menurut Anchalee, pernyataan politis dan isu sosial yang kuat lewat film selalu mendapat tempat di Cannes.

Pendapat Anchalee ini sejalan dengan pernyataan programmer festival Cannes, Thierry Fremaux. Walaupun Fremaux selalu berkeras bahwa Cannes bukanlah festival film politik, tapi ia percaya bahwa sinema bisa jadi salah satu alat untuk mengubah dan menyelamatkan dunia. “Dan Cannes Film festival adalah medium untuk menyebarkan pesan itu,” lanjut Fremaux.
Pembicaraan saya dengan Anchalee berlanjut dengan pertanyaan mengapa film Malaysia dari generasi baru yang berjaya diberbagai festival internasional tidak sampai ke Cannes. Bahkan dengan dua sineasnya Tan Chui Mui serta Liew Seng Tat yang juga terpilih dalam program Cinefoundation Residence setelah Raya Martin. “Karena film mereka yang sangat personal walaupun mereka berusaha memasukkan unsur-unsur sosial politis tapi terasa mereka masih ragu-ragu,” kata Anchalee.
Gertjan Zuilhof, programmer Rotterdam Film festival yang khusus menangani film-film Asia itu punya pendapat lain. “Film personal juga banyak di Cannes. Saya rasa persoalannya lebih ke soal waktu dan keberagaman pilihan. Saya sebagai programmer misalnya, jika disuruh memilih dua film dengan kualitas sama, yang satu dari Amerika, satunya lagi dari Filipina, tentu saja saya memilih Filipina. Atau jika ada film Vietnam, Kamboja, atau Laos kemungkinan saya juga akan memberikan pengecualian,” kata Gertjan.

Zuilhof memberi contoh di program Director’s Fortnight tahun ini. Setelah 15 tahun, barulah ada film Malaysia. Tahun ini yang terpilih adalah film berjudul Karaoke karya Chris Chong. “Itu salah satu contoh, bahwa yang paling diinginkan oleh seorang programmer festival adalah film dari wilayah-wilayah baru dan nama baru agar para festivalgoers tidak bosan dengan sineas yang itu-itu juga, tentu saja dengan tidak mengesampingkan kualitas. Mereka selalu ingin menemukan Apichatpong baru,” kata Zuilhof.
Dan menurut Zuilhof, itu pula yang terjadi dengan film-film Filipina yang membanjir tahun ini. “Tahun ini film-film Filipina, mungkin tahun depan beda lagi.”. Karena itu menurut Zuilhof, filmmaker dari negeri negeri Asia seperti Indonesia punya banyak peluang. “Hanya saja memang perlu ada peningkatan kualitas yang masih menjadi prioritas utama para programmer ketika memilih film,” kata Gertjan.
Pembicaraan menarik ini terpaksa terhenti. Besok saya lanjutkan karena saya harus menonton film lagi.***






leave a comment