Die Harder For Mighty Bergman
Gara-gara banner yang menyolok itu, Complete Retrospective of Bergman, Museé Du Cinema belakangan ini kebanjiran penonton. Complete Retrospective of Bergman ini jarang terjadi karena sulitnya mendapatkan film-film Bergman. Menurut Duta Besar Swedia untuk Belgia, Musée Du Cinema Brussel tercatat sebagai satu-satunya museum sinema yang lengkap memiliki karya-karya Bergman bahkan hingga karya-karya film TV nya.
Karena itu, kita bisa maklum, kalau kursi-kursi selalu penuh, kecuali kursi rusak dideretan kelima dari belakang. Saya tahu kursi rusak itu, karena tempat favorit saya adalah dideretan ke empat persis dibelakang kursi rusak itu. Dengan adanya kursi rusak itu, saya jadi tak khawatir ada kepala yang menghalangi pandangan saya kearah layer.
Penonton yang membanjir ini diantaranya adalah penonton-penonton turis –istilah Sylvain untuk mereka yang datang sekali dua kali dalam setahun–, penonton reguler – mereka yang tidak punya kartu anggota tapi sering datang–, serta penonton die-hard –pengunjung tetap, punya kartu anggota dan sering dianggap penghuni Musée–.
Para die-harder pun kelimpungan. Biasanya mereka bisa memilih kursi suka-suka. Mereka pun saling tahu, dimana dan yang mana kursi favorit salah satu diantara mereka. Tapi karena banjir penonton yang tak terduga ini, hak eksklusif itu buyar. Contohnya salah seorang die-harder yang selalu duduk dideretan paling depan tengah –persis didepan layar–.
Karena menganggap kursi itu adalah ‘hak’ nya, bapak berkepala botak dengan perut gendut itu melenggang saja dihari pertama ketika orang-orang berbondong-bondong masuk ruangan. Ia kemudian lama terpaku memandangi kursi favoritnya yang sudah diduduki orang lain. Dengan wajah sedih, ia akhirnya ‘terdampar’ di tengah-tengah.
Bapak berkepala botak itu kemudian curhat. Saya kemudian tahu, kenapa ia suka memilih kursi tengah dideretan paling depan itu. ‘Karena saya gendut !’ katanya. Karena gendut, ia selalu memilih tempat duduk yang jarang jadi pilihan, sehingga ia bisa duduk tenang menonton film tanpa merasa sesak nafas. Ia rupanya tak nyaman duduk berhimpit-himpitan.
Dampak lain dari banjir penonton ini, para die-harder merasa, Musée sekarang terkontaminasi. Karena banyak penonton turis, mereka tidak paham aturan main diantara para penghuni tetap. Yang paling menyebalkan adalah mereka yang menonton sambil mengunyah permen karet. Menonton film Bergman yang minim ‘sound’ itu sambil mendengarkan kunyahan… !! pfuhhhh… !
Ditegur dengan tatapan mata galak, nggak ngeh. Ditegur dengan ‘ssssttttt’, tetep aja ngunyah. Sampai akhirnya kemudian ada yang tidak tahan dan berdiri melabrak, barulah dia berhenti. Dan seperti ada komando, hari-hari selanjutnya, ketika si ‘permen karet’ ini mucul lagi, para die-harder –yang meski tak saling ngobrol, tapi saling mengenal wajah—ini langsung pasang wajah tak bersahabat. Si ‘permen karet’ jadi musuh bersama. Untungnya dia datang hanya 3 kali. Setelah itu, ia tidak pernah muncul lagi.
Tapi kemudian muncul lagi penonton turis yang tak kalah menyebalkan, cewek cakep berponi. Film baru saja mulai ketika dengan cueknya dia menerima telepon. Spontan seluruh kepala yang ada diruangan Musée menoleh. Tapi dia tidak nyadar juga. Dia pikir dengan ngobrol sambil berbisik dan menyembunyikan kepalanya dibawah kursi, segalanya bisa tenang kembali. Serentak seluruh orang dalam ruangn itu langsung mengeluarkan suara ‘ssssttttttt’ yang panjang.
Saya hampir yakin, —kalau si cewek berponi ini tidak juga berhenti–, akan ada adegan pengeroyokan. Untunglah dia malu sendiri. Tapi jaman begini, masa iya ada orang yang belum paham bahwa menerima telpon ketika menonton film itu masuk kategori ‘dosa besar’ dalam dunia sinema. Apalagi si cewek ini adalah orang Swedia –asal Bergman—yang harusnya tahu menghargai hasil karya sineas negeri sendiri. Besok-besoknya, dia tidak pernah muncul lagi. Para die-harder bisa bernafas lega.
Tapi ini tidak berhenti sampai disitu. Banyak kebiasaan-kebiasaan yang terpaksa tidak bisa dilakukan karena banjir penonton ini. Di ruang tunggu misalnya, para die-harder ini juga punya sudut-sudut nongkrong favorit.
Si bapak berambut punk –yang sering kami identifikasi sebagai our friend– suka duduk di depan jendela dekat dengan tempat penyimpanan jaket. Si bapak botak gendut suka duduk di sofa empuk dekat dengan pintu masuk. Si ibu ‘kantong plastik’ –karena sering datang dengan bawaan dalam kantong plastik—suka menyimpan bawaannya disudut penyimpanan jaket. Si bapak ‘sangat tua’ yang suka duduk kayak patung di jejeran sofa empuk dekat dengan penjual tiket. Dsb.
Kebiasaan itu terpaksa berubah karena kedatangan orang-orang tak dikenal. Si bapak ‘sangat tua’ akhirnya mematung berdiri didekat pintu toilet. Si bapak botak gendut akhirnya jadi cerewet pengen curhat –Sylvain selalu berpesan agar saya tidak meninggalkannya sendiri ngobrol dengan bapak ini–. Si ibu ‘kantong plastik’ akhirnya menyimpan kantong-kantongnya dibawah meja resepsi. Dan Si bapak punk terpaksa keliling-keliling tak tentu arah diaula.
Keadaan tak menentu ini tentu akan berlangsung setidaknya hingga akhir bulan Maret. Sementara di saat yang bersamaan, di Musee juga ada retrospektif karya-karya Ken Loach yang menarik 2/3 dari penonton Bergman. Repotnya, karena Bergman dan Loach diputar selang-seling.
Jika film Bergman di putar duluan, bisa dipastikan Loach pun akan dipenuhi penonton. Jika Loach duluan, para die-harder bisa bernafas sedikit lega meski tetap tak bisa memilih kursi suka-suka –atau datang lebih awal agar bisa menempati kursi favorit; Bagaimana nanti di bulan Mei ketika Antonioni akan digabung dengan Lars Von Trier ? atau Hitchcock dengan Cronenberg?.
Ketika Sebuah Kisah Memilih Penulis dan Sutradaranya
Tas nya rusak. Karena itu, Thomas Keneally –sambil menghabiskan waktu– berjalan-jalan disekitar pertokoan Beverly Hills untuk mencari pengganti tas yang rusak itu. Tak sengaja, pria tambun ini singgah ditoko Handbag Studio, yang dietalasenya tertulis Handbag Studio’s Fall Sale. Keneally sebetulnya ogah masuk, cuma melihat dari kaca tapi seorang pria –yang ternyata pemilik toko– dengan ramah menyapanya.
Singkat cerita, mereka ngobrol ngalor ngidul. Pria pemilik toko bernama Leopold Page, aslinya Pfefferberg asal Krakow ini ternyata mantan tahanan di Auschwitz, kamp konsentrasi untuk para yahudi itu. Bersama istrinya, Mischa, Page –Keneally lebih senang menyebutnya Poldek– berhasil lolos dari maut dan kemudian membangun kehidupan baru di Amerika.
Cara Poldek melayani pelanggan, dan ramah tamahnya yang menyenangkan membuat Keneally lumayan betah berlama-lama ngobrol dengan Poldek. Dari obrolan yang awalnya tak berarah, Poldek sadar, dia bicara dengan seorang penulis ternama asal Australia yang novelnya The Chant Of Jimmie Blacksmith diangkat kelayar lebar dan masuk nominasi film terbaik di Cannes 1978.
“I tell everyone I know the greatest story of humanity, man to man. Some listen, an article there, a news item here…but it’s a story for you, Thomas; It’s a story for you, I swear,” kata Poldek bersemangat. Keneally menyambutnya biasa saja. “Every writer hears that sentence,” kata Keneally dalam hati.
Sekedar basa basi, dan juga melihat betapa bersemangatnya Poldek, Keneally akhirnya bertanya, “What is it ?”. Dan Poldek bilang, ”I was saved, and my wife was saved by a Nazi”. Maka cerita itupun mengalir tentang Oscar Schindler, yang menyelamatkan nyawa ribuan Yahudi dari keganasan tentara Nazi. “Although he’s a Nazi, to me he’s Jesus Christ”.
Keneally menyimak, tapi ragu. Dia tidak pernah mendengar nama Oscar Schindler. Sebagai penulis yang tinggal di Australia, peristiwa di kamp-kamp konsentrasi dihadapinya sama seperti ketika membaca berita di koran. Dibaca, setelah itu melanjutkan kegiatan sehari-hari. Tapi Poldek rupanya sudah siap. Ia menyodorkan setumpuk arsip tentang Schindler, tentang daftar yahudi yang berhasil diselamatkan, dokumen dan sejumlah arsip wawancara.
Kisah tentang Oscar Schindler ini sebelumnya sudah pernah diceritakan Poldek kepada Marvin Gosch, seorang produser broadway dan film. Gosch tertarik lalu mengajak seorang penulis skenario ternama Howard Koch –ikut terlibat dalam penulisan skenario Casablanca–. Mereka berdua mulai melakukan serangkain wawancara dengan orang orang yang ada di daftar Schindler itu.
MGM bahkan membeli hak atas kisah Schindler buatan Gosch and Koch itu. Sayang, upaya Poldek agar jasa-jasa Oscar Schindler selama tahun-tahun yang kelam itu dikenang orang, menemui jalan buntu. MGM tidak jadi membuat film, dan kisah itu melapuk, hanya jadi tumpukan kertas digudang Poldek, sampai ia bertemu Keneally.
Berdasarkan dokumen-dokumen itulah Keneally akhirnya melakukan penelitian mendalam, mengunjungi lokasi-lokasi kamp konsentrasi di Jerman, mengunjungi bekas pabrik dan perusahaan Schindler, melakukan wawancara ulang dan kemudian menulisnya dalam buku berjudul Schindler’s Ark. Buku itu memenangkan penghargaan Booker Prize.
Adaptasi buku ini ke layar lebar sempat ditawarkan kepada Roman Polanski. Polanski menolak karena pernah mengalami sendiri jadi tahanan di kamp konsetrasi. Lalu ditawarkan kepada Martin Scorsese, yang menyarankan agar film ini dibuat oleh orang Yahudi juga. Maka Schindler pun jatuh ke tangan Steven Spielberg. Film ini membuat Spielberg menerima Oscar pertamanya sebagai sutradara terbaik. Schindler List sendiri menjadi film terbaik dan menerima 7 Oscar.


leave a comment