Diary Of A Moviegoers

All About Dylan

Posted in Reviews by akurini on March 13, 2008
im-not-there-posterb.jpg
Idenya begini : bagaimana merangkum sosok Bob Dylan yang legenda hidup itu ?. Seperti banyak bintang legendaris macam Elvys Presley atau John Lenon, Bob Dylan yang dianggap raja folk country itu penuh kontroversi. Dylan terkenal sebagai manusia dengan seribu wajah dan seribu identitas.

Bagaimana merepresentasikan salah satu orang paling berpengaruh di abad ke 20 ini (menurut versi Time) dalam waktu 135 menit? Bagaimana merepresentasikan Dylan dengan multiple identity-nya? Mereduksinya menjadi beberapa garis sederhana tapi esensial? Hasilnya, I’m Not There karya terbaru Todd Haynes kurang lebih mirip dengan karya-karya icon pop Andy Warhol. Satu potret yang berulang dengan warna yang berbeda.

Tentu saja, I’m Not There tidak sesederhana karya Warhol. Tidak seperti Warhol, Haynes sebagai pembuat film punya banyak kesempatan untuk mengekplorasi lebih jauh dari sekedar mengulang potret yang sama. Dan Haynes sadar akan hal itu. Haynes juga tidak ingin mengulang biopic konvensional macam Ray (tentang Ray Charles) atau Walk The Line (tentang Johnny Cash).

Sebelumnya sutradara DA Pennebaker pernah membuat documenter tentang Dylan berjudul Don’t Look Back pada 1967 dan Martin Scorsese pernah mencoba untuk membuat documenter berjudul No Direction Home pada 2005. Tapi film itu tidak lantas membuat kita mengenal sosok Dylan yang sesungguhnya kecuali bahwa ia bintang tenar yang sibuk tur dan beberapa perubahan dalam karir bermusiknya.

Membuat biopic tentang Bob Dylan jelas bukan pekerjaan mudah. Menggunakan kata-kata Dylan sendiri, ‘I’m a trapeziste,’ yang dalam permainan sirkus berayun dari satu restok gantung ke restok gantung yang lain diketinggian. Salah satu kalimat yang paling tepat untuk mendeskripsikan pribadi Dylan terdapat dalam salah satu lirik lagunya The Man in Me: the man in me will hide sometimes to keep from bein’ seen. But that’s just because he doesn’t want to turn into some machine.

Todd Haynes yang pernah membuat Far From Heaven mengambil langkah yang lumayan beresiko. Ia sadar akan keterbatasannya mengenal sosok Dylan. Haynes kemudian meminjam teori para pengikut Kierkegaard yang kurang lebih: tidak ada akses langsung kepada eksistensi tunggal karena identitas itu kurang lebih dibentuk oleh keinginannya menjadi (seseorang atau sesuatu).

Dari situ, Haynes bereksperimen. Haynes mencoba melakukan pendekatan yang subjektif lewat cara yang cukup radikal. Ia memilah-milah sosok Dylan yang ia kenal dari berbagai referensi termasuk dari lirik-lirik lagu yang diciptakan Dylan sepanjang 1962 hingga 2006. Rumit? Mungkin. Tapi saya lebih suka menyebutnya ambisius.

Dylan dipilah dalam 6 (+1) karakter yaitu : Dylan yang ingin jadi Arthur Rimbaud (diperankan oleh Ben Wishaw), Dylan yang ingin jadi Marlon Brando (diperankan oleh Heath Ledger), Dylan yang merasa jadi Woody Guthrie (diperankan actor cilik Marcus Carl Franklin), Dylan yang ingin jadi Billy the Kid (diperankan actor senior Richard Gere), Dylan sang bintang yang tak tersentuh (+ kemudian memutuskan untuk jadi pendeta) (keduanya diperankan oleh Christian Bale), dan Dylan sang legenda yang mulai muak dengan popularitas (diperankan dengan gemilang oleh Cate Blanchett).

Mereka semua adalah Bob Dylan yang tercampur dengan persepsi Haynes. I’m Not There kemudian menempatkan 6 (+1) karakter ini dalam tiga sudut pandang : real, possible dan ideal (dreams). Banyaknya karakter seperti ini memang agak mengganggu, dan njlimet. Tapi mungkin cara seperti itulah Bob Dylan ingin dikenal. Kita hanya harus paham, tidak usah bingung dengan wajah-wajah yang berbeda, mereka sedang mencoba menjelaskan Dylan.

Buktinya, Dylan yang ogah tampil di film ini memberi restu kepada Haynes untuk meneruskan I’m Not There tanpa ba-bi-bu. Haynes hanya perlu mengingat untuk tidak memasukkan kata ‘voice of our generation’ atau ‘genius of our time’ dan sejumlah predikat lain yang dibenci Dylan. Dylan bahkan memberi kebebasan kepada Haynes untuk menginterpretasi hidupnya secara bebas. Karena itulah tiga sudut pandang yang dipilih Haynes bekerja sebagai tulang punggung I’m Not There dan jadi cantolan kisah ke 6 karakter Dylan tersebut.

Dylan menganggap brillian ide Haynes menggunakan aktor artis yang berbeda untuk memerankan dirinya. Dan karena mereka adalah Bob Dylan, jangan mencoba untuk memilah mana karakter real dan mana karakter impian. Tidak semudah itu. Mereka kadang saling berpapasan disebuah lokasi, berpapasan ide, berpapasan dalam sekuen gambar atau sekedar ‘berpapasan’ dalam kalimat.

Misalnya diawal-awal film dalam sebuah sekuen Arthur (Rimbaud) bilang: It began with a certain disgust and it ends, unable to grasp this eternity, it ends in a riot of perfumes. Atau Jude (Cate Blanchett) bilang ; God, I’m glad i’m not me yang terinspirasi dari kalimat Rimbaud yang sering dikutip itu: Je suis un autre. Mereka semua bahu membahu untuk mewujudkan –atau menjelaskan atau merekonstruksi— Bob Dylan.

Pemilihan actor artis untuk memerankan ke 6 karakter itu murni hasil imajinasi Haynes. Banyak yang mempertanyakan mengapa Haynes memilih actor cilik Marcus Carl Franklin sebagai Woody Guthrie (almarhum penyanyi folk idola Dylan). Apalagi Marcus berkulit hitam, jelas jauh dari Guthrie asli yang putih.

Haynes bilang, karena ia ingin potret Dylan yang beragam (karena itu pula ada Cate Blanchett). Selain itu, di periode Guthrie dalam film adalah periode yang sama dengan Billy The Kid (Richard Gere), periode cowboy dimana orang hitam masih berjuang untuk menunjukkan eksistensinya sama seperti Dylan ketika sedang menapak karir.

Semua karakter-karater ini bisa dipilah dari titik-titik peristiwa hidup Dylan sendiri. Yang mana yang real, possible atau dream. Para penggemar Dylan pasti paham, meski menggunakan tiga angle tersebut, sebetulnya struktur I’m Not There sangat kronologis dan penuh referensi (musik, peristiwa bersejarah didunia musik sampai memoribilia macam gitar Woody Guthrie yang tertulis ‘this machine kills fascists’).

Nah, saya terpaksa bilang, disinilah resiko yang harus ditanggung I’m Not There karena ambisi Todd Haynes. Hanya penggemar Dylan, pengamat musik Dylan atau orang-orang yang pernah membaca kisah hidup Dylan-lah yang bisa paham tentang alur dan struktur I’m Not There. Hanya merekalah yang bisa paham misalnya dari angle possible (andai, atau mungkin). Jack yang bintang folk itu suatu ketika memutuskan untuk memeluk agama Kristen.

Mereka yang tahu pasti bisa menghubungkan peristiwa ini dengan saat Dylan memutuskan untuk masuk Kristen ditahun 70an. Dylan yang bernama asli Robert Allen Zimmerman aslinya beragama Yahudi. Disini, Haynes berandai-andai. Jika Dylan serius memeluk Kristen seperti niat awalnya, maka mungkin ia akan menjadi seperti Pastor John (Christian Bale). Soal agama ini pun muncul dan mengganggu benak Jude (Cate Blanchett) yang agama aslinya ketahuan oleh jurnalis.

Dari sisi ini, menurut saya, film ini gagal memperkenalkan Dylan kepada orang awam. Hal-hal krusial yang menjembatani hubungan antar karakter atau hubungan antar periode hanya akan dipahami oleh mereka yang tahu. Bagi yang penasaran, mungkin mereka akan mencari tahu lebih banyak tentang Dylan. Tapi bagi yang tidak penasaran, mungkin mereka akan bilang, ‘nggak nyambung amat sih!’. Saya berharap tidak. Karena sebagai tontonan, film ini jelas layak untuk ditonton.

Entah itu sekedar mengamati komposisi gambar ala Andy Warhol (Haynes menggunakan warna berbeda disetiap periode). atau menikmati lagu-lagu Bob Dylan. Telinga anda akan dimanjakan dengan lagu-lagu Bob Dylan yang tidak hanya dinyanyikan oleh Dylan, tapi juga kolaborasi musisi-musisi lain macam Eddie Vedder (Pearl Jam), Lee Renaldo (Sonic Youth), dan band favorit saya Anthony & The Johnsons yang menyanyikan Knockin’ On Heavens Door di akhir. ***

aku

BABEL : Komunikasi Yang Tidak ‘nyambung’

Posted in Reviews by akurini on February 13, 2007

Iklan film ini sungguh berhasil. Saya terus terang terpesona bahkan sebelum menonton filmnya. Sutradaranya, Alejandro Gonzalez Inarritu mendapat penghargaan sebagai sutradara terbaik di Cannes 2006 lalu.

Judulnya Babel, mengingatkan saya pada kisah Tower of Babel yang dicita citakan ujungnya bisa mencapai surga. Babel, bisa juga berarti ‘gate of the God’. Babel merupakan lambang rusaknya komunikasi antar umat manusia. Ketika itu manusia pongah, merasa bisa bahu membahu mencapai surga karena satu bahasa. Tuhan lalu menceraikan keutuhan itu dan manusia pun tak saling mengerti satu sama lain.

Menarik? Tentu saja…Belum lagi cerita cerita sepintas, bahwa film ini menggunakan 5 bahasa (simbol kisah Babel ?), dan di syut di 4 negara. Jadi, walau malam itu hujan turun, angin kencang, dan thermometer menunjukkan angka 4 derajat, dengan tekad baja, saya memutuskan untuk menonton.

Dan ternyata tidak hanya saya yang ingin menonton malam itu juga. Tiba didepan teater, antrian orang sampai keluar dijalanan. Rencana untuk nonton jam 6.30 itu akhirnya batal. Tapi namanya juga tekad baja, saya tetap mengantri untuk mendapatkan kursi di jam berikutnya. Jam 9.45 malem. Dan sekali lagi, saya harus berjuang untuk mengarungi udara dingin, angin dan gerimis.

Dan memang, film ini punya banyak potensi untuk membuat penonton terpesona. Benar, disyut dibanyak lokasi. Ada gurun-gurun, ada daerah tandus berdebu dengan terik yang menyengat di Maroko. Lalu lokasi lain di daerah nyaman di lingkungan tentram di Amerika. Kemudian, megapolitan yang gegap gempita di Jepang lengkap dengan ‘potret’ anak-anak muda Jepang yang gamang identitas. Lalu ada daerah kumuh Tijuana di Meksiko.

Benar pula di film ini menggunakan banyak bahasa. Seakan ingin bilang, penghalang bahasa tidak jadi soal. Toh, rangkaian skena sudah banyak bercerita. Ada bahasa Arab, Inggris, Perancis, Jepang, Spanyol, dan bahasa isyarat. Bagi saya, bisa membuat film di banyak lokasi di berbagai negara dengan berbagai bahasa adalah sebuah kemewahan yang sangat. Karena itu, sebelum film dimulai, saya sudah menuntut agar film ini ‘pasti’ dan ‘harus’ bagus. Entah dengan penonton lain.

Dan saya langsung suka dengan adegan pembuka. Diantara debu-debu, dan cuaca panas, seorang lelaki kurus kering datang berkunjung ke sebuah rumah kumuh di sebuah desa miskin di Maroko. Dia datang menawarkan senjata untuk ditukarkan dengan seekor kambing. Adegan sederhana diantara kekumuhan yang memikat.

Senjata itu kemudian diberikan kepada dua anak lelaki untuk digunakan sebagai senjata melawan serigala yang biasanya datang mengganggu kambing-kambing mereka yang jumlahnya puluhan. Namanya juga anak-anak. Senjata itu digunakan untuk bermain-main. Sebuah bus turis yang sedang melintas dijadikan objek percobaan. Sepintas tidak terjadi apa-apa. Tapi saya yakin, setiap penonton punya firasatnya masing-masing.

Lalu tanpa aba-aba, adegan berganti kebenua Amerika. Disebuah kawasan nyaman didaerah elit selatan California, dua bocah yang sedang ditemani pengasuh Mexiconya yang sedang gelisah. Si pengasuh ingin pulang ke Mexico untuk menghadiri perkawinan anaknya. Sementara orang tua dua bocah itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera pulang. Dia cari akal, dan akhirnya memutuskan untuk membawa mereka serta. Toh hanya untuk sehari.

Lagi-lagi tanpa pertanda, adegan berpindah nun jauh di Tokyo yang riuh. Seorang gadis tuli yang sedang marah. Amarah yang membuatnya terus gelisah. Hubungannya dengan sang ayah dingin, sehingga ia mencoba mencari kompensasi diluar, lewat pergaulan. Tapi itu juga tidak mudah, karena ia bisu dan tuli. Fakta yang membuatnya nyaris frustasi

Alejandro Gonzalez Inarritu dan Guillermo Arriaga penulis kisah ini kemudian mencoba menyatukan kisah di tiga tempat dan ruang yang berbeda itu. Bagaimana mereka bisa menarik benang merah ketiga sub plot itu agar bisa ‘nyambung’ ?;

Jangan lupa, ada orang-orang didalam bis. Anak-anak Marocco yang bermain-main dengan senjata itu tidak sadar, sampai berapa lama kemudian mereka melihat, bis itu berhenti ditengah jalan.

Wanita Amerika yang sedang sedih (diperankan Cate Blanchett) kala itu sedang tertidur, terbangun oleh sebuah suara tembakan. Antara sadar dan tidak, dengan wajah bingung dan sedikit oleng, ia menyadari jendela tempatnya bersandar terdapat lubang bekas peluru. Ketika orang-orang diatas bis mulai panik, perempuan-perempuannya mulai memekik, dan semua mata tertuju padanya, ia baru sadar, baju putihnya berlumuran darah. Dia tertembak dibahu. Suaminya (Brad Pitt) panik. Dan minta bis itu mengubah arah ke desa terdekat.

Begitulah, plot-plot itu mulai terjalin. Tapi rasanya tidak adil kalo saya ceritakan disini. Menonton filmnya akan terasa lebih afdol. Dan sampai akhir, film ini dengan lihai memainkan adegan-adegan mengejutkan dan dengan lancar memotong setiap sub plot dan menyambungnya di waktu lain.

(Film ini kemudian mengingatkan saya pada film pemenang Oscar tahun lalu, Crash dari segi cut-to-cut sub plot). Dan saya tetap terpesona oleh ‘jangkauan’ film ini hingga akhir. Legenda Babel direpresentasikan dalam subplot. Peristiwa yang terjadi diberbagai belahan bumi. Manusia yang tersebar dan komunikasi antar mereka yang tidak ‘nyambung’.  

Hanya saja ada beberapa hal yang membuat saya tidak nyaman dengan film ini. 
Dari awal sempit terbersit, ‘ngapain sih pake Brad Pitt ?’. Bukan maksud mau meremehkan. Tapi bintang-bintang sekaliber Brad Pitt atau Tom Cruise mah mestinya main di film-film untuk ‘bintang’ kayak Mission Impossible’ ato ‘Troy’ ato Lord of The Rings pokoknya yang heboh geboh gitu deh….eh ini nongol di BABEL.

Menurut saya, banyak aktor yang lebih meyakinkan untuk perannya di Babel. Soalnya Brad Pitt…ya…Brad Pitt, dia mau akting sesedih apapun, sesusah apapun tetap kebayang ada Angelina Jolie nungguin didekat-dekat lokasi.

Mungkin ini cuma masalah pribadi saya. Saya selalu agak agak susah menikmati akting mega bintang. Perasaan sama yang saya rasakan ketika menonton GIE nya Riri Riza yang memakai Nicholas Saputra. Saya pernah menonton dokumenter tentang Soe Hok Gie. Trus tiba-tiba liat film ini, Soe Hok Gie jadi Nicholas Saputra…creeeeennnngggg !!!! jauh panggang dari apiiiiiiii…..jauhnya kebangetan !

OKE…balik ke BABEL. Semua aktor-aktris yang main di film ini mengerjakan tugasnya dengan sangat baik. Baik itu para aktor dari Maroko, Jepang, Mexico. Mereka semua bermain sangat bagus dan meyakinkan. Tapi Brad Pitt…well, sudah saya jelaskan. Itu masalah pertama saya.

Lalu, ada yang aneh dengan hubungan sub-plot si gadis bisu-tuli di Jepang dengan sub-plot kisah di Maroko dan Mexico. Terlalu dipaksakan menurut saya. Kisah si gadis ini sebetulnya bisa jadi film sendiri, karena sebetulnya idenya menarik.

Tentang gadis yang sedang gamang dan bingung di masa puber, ditambah lagi dengan masalah keluarga (ibunya bunuh diri didepan mata, ayahnya juga kaku kayak batu).

Masalah saya yang ketiga dengan film ini (lagi-lagi tipikal) adalah endingnya yang sangat Amerika. Terlalu ideal kalau tidak bisa dibilang gampang(an). Selain itu saya tidak punya keluhan lain. Secara umum film ini menyampaikan pesannya dengan jelas : Setiap orang melakukan kesalahan. Baik itu anak-anak, orang tua, dari berbagai strata dan status sosial. Kesalahan yang bisa berakibat juga pada kehidupan orang lain atau kadang kembali kepada diri sendiri. Tapi dari kesalahan itulah, manusia belajar….(wuhhhhhhhh !!! serius skallleeeee).

AKU