Diary Of A Moviegoers

Day 9 to 10 : Enak –tidak enak–nya Jadi Ibu Hamil dan Mandi darah di Cannes

Posted in Cannes 2009, Cannes Film Festival, Festivals, News, Notes, Serba-Serbi by akurini on May 23, 2009

Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62 

Festival de cannes

Sejak peristiwa Antichrist, saya bertingkah sok kesal. Saya bilang sok kesal, karena memang ngambeknya cuma setengah hati. Semua orang yang saya ceritakan persoalan ‘COMPLETE FULL’ itu –dan saya tidak segan segan bercerita kepada siapa saja yang mau mendengarkan, karena gara-gara antri kelamaan kaki saya bengkak kayak kaki badak–, semuanya mewanti-wanti saya untuk tidak menonton. (Sudah saya ceritakan sebabnya di catatan sebelumnya).

Nah, gara-gara sibuk ngomel inilah saya lantas mendapat pencerahan dari seorang kawan –karena keseringan antri bareng kami jadi berkawan– jurnalis asal Rusia. Dia mendapat info kalau sebetulnya orang-orang dengan kondisi tertentu bisa mendapat pengecualian dan kemudahan. Kondisi tertentu ini berlaku bagi mereka yang punya kesulitan mengantri karena –antara lain–  cacat bawaan, cacat karena kecelakaan sehingga, mereka yang berusia lanjut, dan ibu hamil. Mereka dengan kondisi tertentu ini –tak peduli warna kartu–  tak perlu mengantri dan disediakan pintu khusus persis disamping teater.

Saya nyaris tidak percaya ada pengecualian seperti itu di Cannes. Perancis gitu loh !!!. Tapi saya tergoda untuk mencoba juga. Dan berhasil… !!! whoahhhh serasa melayang diudara. Saya nyaris menangis karena terharu. Apalagi ketika diijinkan masuk teater lebih dulu sebelum para kartu putih. Bahkan dengan senyum super ramah, para penjaga pintu dan penjaga didalam teater mempersilahkan saya duduk dimana saja saya mau. Akhirnya saya jadi ngelunjak.

Boleh duduk ditempat paling tinggi?. Boleh !. Boleh duduk di barisan paling luar?. Oh boleh ! Boleh bawa minuman? Oh tentu saja boleh. Boleh ngemil? Silahkan !. Bahkan di Salle du Soixantieme, teater tambahan non permanen di salah satu teras Palais, saya disediakan tempat duduk sambil menunggu pintu dibuka. Whoahhhh  uenaaakk tenan! Kenapa tidak dari hari pertama ya saya tahu soal info ini. Aihhh kalau begini caranya, saya jadi ingin hamil lagi untuk Cannes tahun depan…hehehe.

Sejak itu, saya tidak perlu mengantri lagi. Cukup datang ke pintu khusus itu. Langsung masuk dan duduk ongkang-ongkang kaki sambil menunggu mereka yang baru dipersilahkan masuk. Tapi saya malah jadi kangen dengan teman-teman mengantri saya. Karena dengan mengantri, banyaak informasi dan cerita-cerita menarik beredar dan bisa jadi inspirasi bahan tulisan. Hmmmm…manusia memang tidak pernah puas!

Selain Antichrist, hari ini saya mendapat peringatan lagi untuk tidak menonton film Drag Me To Hell karya Sam Raimi.

Jadi hari ini saya hanya menonton A L’Origine (In The Beginning) karya Xavier Giannoli di seksi kompetisi. Saya sih suka film ini, tapi belum bisa menjelaskan kenapa.  Kalau menurut teori, film yang bagus adalah film yang bisa bercerita dengan baik dan mulus ditunjang berbagai factor –akting yang baik, dialog yang mengalir, dan pesan yang ingin disampaikan bisa dimengerti–. Nah, film ini memenuhi semuanya.

A L'origine

Kemudian lanjut menonton film Karaoke karya Chris Chong dari Malaysia di Director’s Fortnight. Katanya, ini film Malaysia pertama yang masuk program ini sepanjang sejarah berdirinya. Dan rasanya saya harus menonton film ini lagi sebelum memberikan komentar.

Setelah Karaoke, saya lanjut menonton The Time That Remains karya Elia Suleiman. Banyak momen bagus. Tapi otak saya sudah mampet dan nyaris tak mampu lagi mencerna film yang saya tonton.

The Time That Remains

Apalagi usai menonton filmnya Gaspar Noe, Enter The Void di seksi kompetisi. Seperti juga Irreversible film Noe sebelumnya, Enter The Void banyak bermain-main dengan angle kamera plus kamera yang melayang-layang diudara. Penuh adegan seks dan tubuh-tubuh berdarah pula. Tapi yang paling bikin saya pusing adalah adegan aborsi yang dishoot dengan detail, lengkap dengan janin yang dibiarkan tergeletak diatas nampan rumah sakit. Adegan ini bahkan lebih seram dari adegan di 3 Months, 3 Weeks and 2 Days-nya Cristian Mungiu.

enter the void

Sayangnya, saya termasuk gelombang pertama yang menonton film ini mengingat saya mendapat kemudahan –karena hamil—untuk selalu didahulukan. Film ini diputar pertama kali untuk pers dalam jumlah terbatas di teater yang lebih kecil sehingga kapasitas penontonnya juga terbatas. Jadilah saya tidak mendapat peringatan terlebih dahulu dari kawan-kawan yang biasanya rajin memberi info.

Dan situasi makin parah saat saya mencoba menonton The Silent Army karya Jean Van De Velde di Un Certain Regard. Film yang mengingatkan saya dengan adegan-adegan kekerasan di The Last King of Scotland ini sebetulnya sudah banyak dibuat. Berkisah tentang anak-anak yang dipaksa bergabung dengan tentara di negeri-negeri berkonflik di Afrika.  Sayang saya lupa judul-judulnya.

The Silent Army

Di 10 menit pertama, The Silent Army sudah menunjukkan adegan seorang anak yang dipaksa memotong leher ayahnya sendiri.  Lalu beruntun adegan parang-parangan, sehingga saya terpaksa keluar ruangan. Saya sudah cukup mual melihat darah dan manusia terpotong, mulai dari Thirst, A Prophet, Kinatay, Mother, Vengeance, Tsar, Enter The Void, hingga The Silent Army ini. Untungnya saya tidak menonton Antichrist dan Drag Me To Hell. Belum terhitung film Quentin Tarantino yang terkenal hobby bermain darah.

Mengingat para jury tahun ini didominasi perempuan, saya jadi penasaran apa yang mereka diskusikan tentang adegan-adegan sadis berlumur-lumur darah ini. Rasanya, inilah tahun yang paling banyak menghadirkan adegan potong memotong dan paling banyak menghabiskan darah di Cannes. Maka karpet merah pun makin merah.*** 

Day 7: Mengapa Filipina?

Posted in Cannes 2009, Cannes Film Festival, Festivals, News, Notes, Serba-Serbi by akurini on May 19, 2009

Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62 

Independencia

Gunjingan soal film-film Filipina yang seperti tiba-tiba berhamburan masuk Cannes makin ramai setelah semalam dua film Filipina dipertontonkan didepan publik. Keduanya karya Raya Martin pula. Independencia di Un Certain Regard dan Manila di Special Screening hasil kolaborasi Raya dengan sesama sutradara Filipina, Adolfo Alix Jr.

Selain dua film yang masuk seleksi dua program bergengsi Cannes ini, tentu kita tak lupa pada Kinatay karya Brillante Mendoza yang tembus ke seksi paling puncak, kompetisi utama. Dan kita juga tentu tidak lupa, bahwa Mendoza berhasil menembus kompetisi utama dua kali berturut-turut. Pencapaian yang cukup mencengangkan dari salah satu negeri di Asia Tenggara yang belakangan ini jarang dibicarakan sejak munculnya gerakan sineas muda dari negeri tetangga Malaysia.

Tentu saja, spekulasi kemudian beredar dikalangan masyarakat film Cannes. Apalagi banyak kritikus yang kemudian ‘membantai’ film itu. Salah satu kritik paling pedas datang dari kritikus kenamaan Roger Ebert yang menganugerahkan Kinatay sebagai The worst film in the history of Cannes Film Cinema. Kritikus yang lain bergunjing kenapa film ini bisa masuk kompetisi.

Ada spekulasi bahwa banyaknya film Filipina tahun ini di seksi bergengsi karena dibiayai oleh produser Perancis yang tentu saja punya akses dan jaringan ke para programmer Cannes. Selain itu Raya Martin misalnya pernah terpilih sebagai salah satu peserta Cinefoundation Cannes Residence, sebuah program untuk membina para sutaradara muda untuk menulis script, mencari jalur untuk mewujudkan proyek mereka dan tentu saja bagaimana menembus industry film secara professional.

Brillante_mendoza

Apapun alasannya, kemunculan film-film Filipina di Cannes tahun ini memang cukup bikin penasaran. Film Filipina pertama yang pernah masuk seksi kompetisi di festival ini adalah My Country: Gripping the Knife’s Edge karya sutradara ternama Lino Brocka di tahun 1984.  Posisi My Country baru tergeser setelah 24 tahun dengan masuknya Serbis karya Brillante Mendoza pada 2008 lalu. DI tahun yang sama, film Raya Martin berjudul Now Showing juga terpilih di Director’s Fortnight Cannes.

Setelah generasi Lino Brocka yang merupakan generasi era keemasan sinema Filipina ditahun 70an, memang ada jarak panjang dan lebar antar generasi. Di akhir tahun 80an, sinema Filipina kebanjiran produksi massal film-film komersial hingga kualitas dunia sinema mereka langsung jatuh nyaris dititik nol. Barulah di2000an, sineas independen Filipina mulai menampakkan tanda-tanda kehidupan.

Kemunculan para sineas independen ini tanpa basa-basi langsung menghentak dengan membuat film-film yang  kritis dengan gaya mereka masing-masing terhadap masalah-masalah sosial politik disekitar mereka. Contohnya Small Voices karya Gil Portes ditahun 2002 yang mengkritisi sekaligus menuntut perbaikan system pendidikan di Filipina. Lalu beberapa tahun belakangan makin banyak lagi sineas-sineas berbakat yang unjuk gigi dengan hadirnya teknologi digital. Para sineas yang kemudian langsung menarik perhatian industri perfilman nasional, antara lain Brillante Mendoza yang memilih aliran Dogma serta cinema verite untuk membuat film. Dan tentu saja ada Lav Diaz dengan ekperimental filmmakingnya. Sementara Raya Martin yang relatif berusia lebih muda (24 tahun) justru lebih memilih kembali ke old school  filmmaking.

Tapi dengan berbagai aliran yang diterapkan oleh para generasi baru sineas Filipina ini, mereka punya satu kesamaan: statemen politik yang kuat dan sama-sama menggarisbawahi sosial isu di Filipina. Bahkan Kinatay, film yang dianggap buruk itu –lepas dari thriller dan adegan seram-seramnya– jika dilihat lebih dekat sangat jelas mengkritisi budaya korup dalam sistem keadilan di Filipina.

Salah satu kritikus ternama dari Asia Tenggara, Anchalee Chaiworaporn, mengakui bahwa film Filipina dengan gaya atau genre apapun, selalu kuat dengan statemen politiknya. “Coba saja perhatikan film-film Mendoza sebelumnya seperti Foster Child atau bahkan Serbis. Lepas dari kualitas teknis dan gaya penceritaan, lewat film-film itu Mendoza punya sesuatu untuk diceritakan dan dibicarakan. Sama halnya dengan Kinatay,” kata Anchalee.

Foster Child bicara tentang kehidupan ibu pengasuh bayi yang akan diadopsi kemudian hari dan menjadi ladang duit bagi departemen sosial dan Serbis tentang matinya industri bioskop karena pajak tinggi dari pemerintah. Dan menurut Anchalee, pernyataan politis dan isu sosial yang kuat lewat film selalu mendapat tempat di Cannes. 

Raya_Martin

Pendapat Anchalee ini sejalan dengan pernyataan programmer festival Cannes, Thierry Fremaux. Walaupun Fremaux selalu berkeras bahwa Cannes bukanlah festival film politik, tapi ia percaya bahwa sinema bisa jadi salah satu alat untuk mengubah dan menyelamatkan dunia. “Dan Cannes Film festival adalah medium untuk menyebarkan pesan itu,” lanjut Fremaux.

Pembicaraan saya dengan Anchalee berlanjut dengan pertanyaan mengapa film Malaysia dari generasi baru yang berjaya diberbagai festival internasional tidak sampai ke Cannes. Bahkan dengan dua sineasnya Tan Chui Mui serta Liew Seng Tat yang juga terpilih dalam program Cinefoundation Residence setelah Raya Martin. “Karena film mereka yang sangat personal walaupun mereka berusaha memasukkan unsur-unsur sosial politis tapi terasa mereka masih ragu-ragu,” kata Anchalee.

Gertjan Zuilhof, programmer Rotterdam Film festival yang khusus menangani film-film  Asia itu punya pendapat lain. “Film personal juga banyak di Cannes. Saya rasa persoalannya lebih ke soal waktu dan keberagaman pilihan. Saya sebagai programmer misalnya, jika disuruh memilih dua film dengan kualitas sama, yang satu dari Amerika, satunya lagi dari Filipina, tentu saja saya memilih Filipina. Atau jika ada film Vietnam, Kamboja, atau Laos kemungkinan saya juga akan memberikan pengecualian,” kata Gertjan.

manila

Zuilhof memberi contoh di program Director’s Fortnight tahun ini. Setelah 15 tahun, barulah ada film Malaysia. Tahun ini yang terpilih adalah film berjudul Karaoke karya Chris Chong. “Itu salah satu contoh, bahwa yang paling diinginkan oleh seorang programmer festival adalah film dari wilayah-wilayah baru dan nama baru agar para festivalgoers tidak bosan dengan sineas yang itu-itu juga, tentu saja dengan tidak mengesampingkan kualitas. Mereka selalu ingin menemukan Apichatpong baru,” kata Zuilhof.

Dan menurut Zuilhof, itu pula yang terjadi dengan film-film Filipina yang membanjir tahun ini. “Tahun ini film-film Filipina, mungkin tahun depan beda lagi.”. Karena itu menurut Zuilhof, filmmaker dari negeri negeri Asia seperti Indonesia punya banyak peluang. “Hanya saja memang perlu ada peningkatan kualitas yang masih menjadi prioritas utama para programmer ketika memilih film,” kata Gertjan.

Pembicaraan menarik ini terpaksa terhenti. Besok saya lanjutkan karena saya harus menonton film lagi.***