Suddenly 30

Kisah gadis kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. Mencoba menyamai sukses Freaky Friday. Tapi malah terjebak di bagian akhir.
——————————
SUDDENLY 30
Pemain: Jennifer Garner, Mark Ruffalo, Judy Greer
Sutradara: Gary Winick
Produksi: Revolution Studios, 2004
——————————
FILM memang media ampuh untuk mengutak-atik hidup manusia. Apa pun bisa terjadi dalam sekali kedip. Kali ini, keajaiban itu muncul dalam skenario film 13 Going On 30. Tapi, biar lebih simpel, belakangan judulnya diubah menjadi Suddenly 30. Tak perlu menebak, Suddenly adalah dongeng tentang gadis 13 tahun yang terbangun dalam tubuh perempuan berusia 30 tahun.
Gadis itu, Jenna Rink, tipikal gadis di film remaja Amerika pada era maraknya reality show. Plot Suddenly mirip dengan Mean Girls, Thirteen, atau Sleep Over: cewek culun terpinggirkan oleh geng cewek populer. Tokoh-tokoh dalam semua film itu ngiler ingin tenar dan punya pikiran yang sama: “Pokoknya gue mau tampil keren dan gaul.”
Jenna kecil pun demikian. Ia kampungan dan tidak percaya diri. Satu-satunya teman hanyalah Matt, cowok tetangga yang berbadan tambun dan juga sama “aneh”-nya. Di ulang tahunnya yang ke-13, Jenna dikerjai geng cewek populer dan ujungnya membuat permohonan menggunakan serbuk magis.
Sim salabim! Esok harinya, Jenna berubah jadi wanita dewasa yang punya karier gemilang di sebuah majalah wanita ternama. Tentu saja wanita ini populer. Pacarnya saja atlet hoki nasional yang rajin tampil di tabloid. Di bagian ini, Suddenly mengingatkan kita pada film Big (1988) arahan Penny Marshall. Di situ Tom Hanks sukses memerankan bocah yang terjebak dalam tubuh pria dewasa.
Atau juga film Vice Versa di mana Marshall (Judge Reinhold), sang ayah, masuk ke tubuh anaknya, Charlie (Fred Savage), dan sebaliknya. Ada juga film sukses Freaky Friday. Di film ini, Jamie Lee Curtis harus berakting layaknya cewek belasan tahun gara-gara bertukar tubuh dengan anaknya yang diperankan Lindsay Lohan.
Nah, dalam Suddenly, yang terkena getah daya magis ini adalah Jennifer Garner (Jenna “dewasa”). Jenna tentu saja panik dengan transformasi sekejap itu. Apalagi ketika menyadari dirinya sekarang punya buah dada. Lebih panik lagi ketika ia mendapati seorang lelaki asing telanjang di dalam kamarnya. Shock identitas inilah yang digunakan sutradara Gary Winick untuk mengarahkan plot Suddenly selanjutnya.
Lewat tokoh Jenna, penonton diajak percaya bahwa seorang gadis kecil terperangkap secara magis dalam sosok Jennifer Garner. Tapi jangan bayangkan sosok Garner bakal dingin seperti agen CIA Sydney Bristow yang diperankannya dalam serial TV Alias. Dalam Suddenly, Garner berupaya keras mengubah citra itu.
Dengan gaya norak ala ABG mendapat hadiah paling diinginkan, ulah Jenna dalam Suddenly tak henti membuat teman-temannya geleng kepala. Jenna terus-menerus mendapat kejutan-kejutan yang membuatnya girang sekaligus waswas. Toh, sebagai orang dewasa, Jenna terpaksa menghadapi konsekuensinya.
Sayang, Garner tak sesukses Jamie Lee Curtis dalam Freaky Friday. Entah karena akting Garner yang belum matang (karena telanjur identik sebagai cewek jagoan) atau sosoknya yang terlalu keren untuk dinikmati si Jenna kecil yang bersemayam dalam tubuhnya.
Akting Garner hanya terasa natural ketika pada satu titik Jenna menyadari bahwa kehidupannya sebagai orang dewasa tak seindah yang dibayangkan. Ketika ia teringat pada Matt (Mark Ruffalo), teman sejatinya. Sayang, Matt juga sudah berubah, mau menikah pula.
Tapi Suddenly lahir di Hollywood. Maka, alur cerita yang semau gue pun bisa hadir demi akhir yang diinginkan. Jadi, jangan terlalu berharap mendapat sesuatu dari menonton Suddenly. Juga jangan sekali-kali bertanya apa esensi film ini.
Dalam hal ini, Suddenly tertinggal jauh dari Freaky Friday. Selain lucu, akting para pemeran Freaky juga menawan. Paling tidak, masing-masing tokoh bisa membuat penonton berempati dan memahami sulitnya menempati posisi orang lain. Mestinya, Suddenly juga bisa seperti itu. Sayang, Winick lebih memilih berkompromi, mendahulukan ending yang jelas terasa “maksa”. Tapi, namanya juga film, ya, harap maklum.
AKU
The School Of Rock: Si Guru Badung
Sosok nyata aktor dan pemusik gendut calon penerima award jadi ilham untuk film pengundang tawa. Dihiasi lagu-lagu rock legendaris.
BEGINI jadinya jika pemimpi yang berangan-angan menjadi rocker harus mengajar puluhan bocah cilik di sebuah sekolah dasar. “Rock will test your head… and your mind… and your brain too!” kata si rocker pemimpi. Puluhan bocah imut dengan wajah culun berseragam lengkap dengan dasi itu pun melongo. Mereka saling pandang dengan wajah takut sekaligus bingung. Guru yang tambun dan berwajah sangar itu juga bertanya siapa idola mereka.
Maka, ada yang nyeletuk menjawab: Christina Aguilera! Ada pula yang menjawab Puff Diddy! Yang lain menyebut Alicia Keys. Bocah-bocah itu pun dianugerahi predikat baru oleh sang guru: kampungan! “Ada yang tahu Led Zeppelin, Black Sabbath, atau The Ramones?” tanya si guru kemudian. Lagi-lagi bocah-bocah culun dalam kelas itu bengong. Lalu serempak menggeleng.
Dewey Finn (diperankan Jack Black), sang guru, berang dan memandangi murid-muridnya dengan galak. Lalu ia memutuskan untuk mulai mengajarkan dua bidang studi baru: sejarah musik rock dan apresiasi musik rock. Sebuah proyek baru pun digelar: membuat band rock. Matematika, bahasa, atau biologi? Tabu dipelajari.
Film School of Rock memang sebuah film komedi. Film ini sebagian diilhami kehidupan nyata Jack Black, yang selain aktor, juga penyanyi, penulis lagu, dan gitaris band Tenacious D. Penulis skenario School, Mike White, menganggap Jack Black, yang kebetulan tetangganya, sebagai pribadi unik. Black pernah dinominasikan menerima American Comedy Award dan Blocbuster Entertainment Award 2001 sebagai aktor pembantu terbaik di film komedi High Fidelity.
White mengagumi Black sebagai performer sejati, musisi yang hebat dengan penampilan kontras, sangar tapi lucu. Maka, karakter Dewey Finn di School bisa dibilang jelmaan Jack Black. White yang skenario filmnya, The Good Girl, banyak dipuji selalu membayangkan bagaimana seandainya Black berada di antara anak-anak. Karena itu, White menciptakan situasi di mana karakter Finn dipecat dari band dan terpaksa menyamar jadi guru.
White berkolaborasi dengan Richard Linklater, sutradara film indie dari Austin, Texas. Linklater pernah membuat terobosan penting ketika memproduksi film Waking Life di garasinya. Ia berhasil membuktikan bahwa film komersial pun bisa dibuat di rumah dengan kamera digital dan sebuah komputer Macintosh. Linklater paham betul kondisi psikologis karakter Finn. “Karakter Finn membuat saya becermin bagaimana dulu saya bisa melakukan apa saja untuk membuat film,” kata Linklater.
Tantangan yang dirasa paling berat oleh duet White dan Linklater adalah pada pemilihan pemeran aktor-aktris ciliknya yang harus benar-benar berbakat musik. Soalnya, selain Jack Black, film ini praktis dipenuhi bocah usia sekolah umur 10-13 tahun. The School of Rock sendiri adalah nama band baru yang jadi proyek ambisi Finn. Ikon ini juga dipakai sebagai soundtrack film.
Anak-anak itu terdiri dari Rebecca Brown (sebagai Katie, pemain bas), yang aslinya adalah pemain gitar klasik berumur 11 tahun; Robert Tsai (sebagai Lawrence, keyboardist), bocah 12 tahun yang menjadi pianis sejak umur enam tahun; dan Joey Gaydos Jr. (sebagai Zack, pemain gitar utama). Joey yang baru berusia 10 tahun ini benar-benar punya band sendiri bernama Badd Racquette yang beraliran rock n’ roll dan sudah memproduksi cakram padat (CD) sendiri.
Kemudian ada Kevin Clark (sebagai Freddy, penggebuk drum), bocah 14 tahun yang mulai main drum sejak umur tiga tahun. The School of Rock adalah debut semua anak-anak itu di dunia film. Tapi ini jadi semacam blessing in disguise, karena kekikukan mereka mencoba bermain sebagai anggota band justru terlihat natural di film ini.
Kelucuan film ini banyak mengeksploitasi kontrasnya karakter Finn yang sangat kasar dan grabak-grubuk dengan keluguan dan kepolosan anak-anak itu. Jadi, jangan heran jika banyak humor yang terdengar kasar dalam School. Tapi White –yang juga ikut berperan sebagai Ned di film ini– juga tak lupa menyisipkan pesan-pesan bijak.
Ketika Freddy sempat mau mencoba-coba teler dengan sejumlah rocker, misalnya, Finn melabrak para rocker tersebut. “Pecundang seperti kalian ini yang merusak reputasi musik rock! Kalian bukan rocker sejati,” katanya, galak. “Kamu harus tahu, menjadi musisi rock tidak harus ngedrug atau fly, rock itu semangat!” katanya kepada Freddy.
Selain pesan yang tersisip, film ini juga memanjakan penonton dengan sejumlah lagu rock milik band rock legendaris, seperti Led Zeppelin, The Ramones, dan The Who. Selebihnya, bersiaplah untuk banyak tertawa!

leave a comment