HIROKAZU KORE-EDA: “Saya Tidak Bisa Mengontrol Rasa Ingin Tahu”

“Film-film saya beredar di Indonesia ya ?” begitu pertanyaan yang diajukan oleh Hirokazu Kore-Eda. Opss…saya langsung bengong. “Tentu saja film anda beredar di Indonesia,” kata saya mantap. Gantian Kore-Eda yang bengong. Ia kemudian manggut-manggut. ‘Saya pikir hanya Nobody Knows yang pernah beredar di Indonesia, di Jakarta Film Festival,” katanya.
“Mungkin juga,” kata saya ikutan manggut-manggut. “Kalaupun tidak beredar resmi, pasti ada bajakannya.’ Dan Kore-Eda pun langsung tutup kuping tutup mata. « Oh tidak, saya tidak mau dengar, katanya. » Begitulah awal percakapan kami di sebuah cafe kecil yang berdampingan dengan Musée Du Cinema, Brussel.
Akhir tahun 2007 lalu, Kore-Eda datang untuk menghadiri retrospeksi karya-karyanya dalam rangka Documentair Filmplatform Zone, sebuah program khusus yang memutar film-film dokumenter. Di Jepang, Kore-eda memulai karirnya sebagai sutradara film dokumenter. Kore-Eda sendiri baru mulai diperhatikan ketika film feature pertamanya Maboroshi berjaya di Venice Film Festival tahun 1995 dan menobatkan sutradara kelahiran Tokyo tahun 1962 itu sebagai Sutradara terbaik.
Setelah itu, berturut-turut After Life (memenangkan 7 penghargaan international), kemudian disusul Nobody Knows yang masuk nominasi Golden Palm di Cannes tahun 2004 (dan memenangkan 13 penghargaan international lainnya). Yuya Yugira, aktor cilik pemeran utama di Nobody Knows kemudian dinobatkan sebagai aktor terbaik di Cannes tahun itu.
Seperti film-filmnya yang sederhana dan mudah dimengerti walaupun sulit untuk dideskripsikan, Kore-Eda pun tak kalah sederhana dan kalem. Dalam pertemuan kami, Kore-Eda bercerita banyak hal, dari film-filmnya hingga kekhawatirannya terhadap evolusi masyarakat Jepang.
Saya sangat berterima kasih atas kesediaan Sara Jansen sebagai penerjemah kami. Maklum, Kore-Eda tidak berbahasa Inggris, sementara saya hanya tahu ‘arrigato’ dan ‘sushi’. Berikut adalah percakapan kami :
Ini pertanyaan titipan dari teman saya. Dia baru saja pulang penelitian tentang film di Jepang. Dia bilang, kok bisa sih anda begitu sabar membuat film dokumenter dalam rentang waktu yang lama ? (August Without Him dibuat kurang lebih 3 tahun dan Without Memory dibuat kurang lebih 4 tahun)
Hahaha…begitu ya?. hmm … (Kore-Eda terdiam lama). Bukan sabar juga sih, saya cuma tidak ingin buru-buru. Selain itu saya tidak ingin berhenti sebelum merasa lengkap mencari apa yang saya inginkan. Hmmm…agak sulit menjelaskan. Tapi anda tahukan bagaimana rasanya kalau cerita anda belum selesai? Pasti anda ingin mencari dan mencari lebih jauh.
Kapan dan bagaimana anda memutuskan bahwa cerita anda sudah selesai? di titik mana anda memutuskan untuk berhenti memfilmkan dan mulai masuk meja editing?
August Without Him, saya berhenti karena memang sudah tidak ada lagi yang bisa di filmkan. Almarhum Yutaka sudah meninggal. Without Memory agak lebih sulit untuk berhenti. Tapi kemudian film itu dibeli oleh stasiun TV dan mereka menerapkan deadline. Jadi saya mau tidak mau harus menyelesaikannya. Selain itu, juga tidak ada lagi perkembangan menarik selama 3 tahun memfilmkan. Jadi saya berhenti.
Bagaimana ceritanya anda tertarik dengan kisah Hirata Yutaka (penderita HIV positif pertama di Jepang) dalam dokumenter August Without Him?
Dokumenter itu terkait dengan pekerjaan saya di TV. Dalam salah satu berita dan feature, saya melihat Hirata Yutaka, dan kemudian memutuskan untuk menemuinya. Awalnya agak menyakitkan. Dia sedang sekarat karena AIDS, dan saya datang menawarkan untuk mendokumentasikan hari hari terakhirnya itu.
Di film itu terasa betul keterlibatan emosi anda dan kru anda terhadap Yutaka. Sudah ada direncanakan sebelumnya?
Begini, saya datang menemui Yutaka hanya dengan niat. Idenya adalah kami ingin merekam perjuangannya melawan virus itu. Tapi kemudian banyak hal terungkap. Soal masa lalu, kenangan-kenangannya, dan lain-lain. Diruang editing misalnya, kami banyak terpana dan terharu. Saya tidak bisa bilang bahwa saya tidak merasakan apa-apa.
August Without Him itu sangat personal menurut saya. Meski dilayar hanya terlihat Hirata Yutaka, tapi kehadiran bahkan hingga rasa haru para kru juga terasa meski kalian tidak nampak dilayar.
Seperti yang saya bilang diawal, membuat August Without Him sulit dari sisi etika dan moral. Karena itu, ada saat saya merasa harus menjaga jarak dengan subjek saya. Kalau tidak, saya rasa mustahil menyelesaikannya. Salah sedikit, kami bisa dianggap mengambil keuntungan dari orang yang sekarat.
Ini juga terjadi dengan Without Memory?
Iya. Cuma bebannya jauh lebih ringan ketimbang August Without Him.
Apa yang membuat anda tertarik dengan kisah Sekine Hiroshi di Without Memory?
Hmmm…(Kore-eda kembali terdiam lama).
Saya juga menemukan kisah Hiroshi saat saya bekerja di TV. Waktu saya dengar cerita tentang orang yang hilang ingatan sama sekali, saya nyaris tidak percaya. Hiroshi nyaris lupa segala hal. Ia bahkan lupa apa yang dilakukan 10 menit sebelumnya. Dan lagi-lagi saya tergerak untuk tahu, bagaimana rasanya hidup tanpa ingatan? Kisah itu benar-benar membuat saya takut.
Ketika saya memulainya, saya sudah menyusun film itu dikepala saya. Sampai saya bertemu langsung dengan Sekine, saya tidak mengerti kondisi macam apa itu. Waktu saya menemuinya pertama kali, kami ngobrol seperti dengan orang normal. Lama-kelamaan saya sadar, bahwa Sekine selalu ‘tersesat’ ditengah-tengah obrolan kami. Ia tidak ingat apa-apa. Atau kadang-kadang teringat sesuatu yang berlangsung dimasa kecilnya tiba-tiba, tapi kemudian lupa bahwa beberapa menit lalu kami sudah ngobrol banyak.
Setiap kali saya menemuinya, saya selalu mengalami pengalaman yang berbeda. Dan setiap kali itu juga, dia lupa bahwa dia lupa. Pengalaman membuat Without Memory sangat menarik, proses membuat dokumenter yang paling menarik buat saya.
Anda bilang, anda takut dengan kondisi ini, kenapa takut? Alasan pribadi?
Mungkin juga terkait dengan kenangan saya terhadap almarhum kakek saya. Ia terkena Alzheimer dan mulai melupakan banyak hal, lupa pada tempat-tempat favoritnya, lupa pada hal yang baru saja dilakukan, hingga lupa pada anggota keluarganya sendiri. Waktu kecil saya sempat berkesimpulan bahwa orang akan lupa segalanya ketika mereka sekarat.
Sekarang saya mengerti bahwa kenangan atau memory adalah hal yang paling krusial terhadap identitas pribadi kita. Hilang ingatan adalah hal yang sangat menakutkan. Dan saya selalu ingin tahu bagaimana orang-orang yang hilang ingatan itu berjuang untuk melanjutkan hidup tanpa ingatan.
Anda rupanya sangat terobsesi dengan ‘memory’? Ini juga menjadi tema anda di After Life.
hahaha…mungkin juga. Saya tidak bisa mengontrol rasa ingin tahu soal itu.
Di Without Memory, ada saat dimana dokumenter ini seperti berubah haluan, meninggalkan hal hal personal disekitar Sekine Hiroshi dan memilih untuk jadi ‘investigation reportage’ ketika ditengah syuting ada kasus yang berhubungan dengan sistem pelayanan kesehatan.
Sebetulnya bukan berubah haluan. Ini ada hubungannya dengan posisi saya sebagai pembuat film dokumenter. Seperti di August Without Him, ada saat dimana saya merasa terlalu dekat secara emosional, saya memilih menjauh. Sama juga dengan Without Memory. Saya merasa sangat dekat dengan keluarga Sekine dan mulai merasakan bahwa ada semacam harapan film ini akan membantu memuluskan kasus mereka melawan Departemen Kesehatan.
Tapi dari awal saya hanya tertarik dengan persoalan ‘hilang ingatan’ tersebut. Bahwa kemudian ditengah jalan ada kasus itu muncul, niat itu tidak berubah. memang kemudian terbukti bahwa ‘hilang’nya ingatan Sekine kurang lebih ada hubungannya dengan praktek yang salah. Karena itu seperti yang anda bilang, ada sedikit kelokan disepanjang film. Itu perlu saya lakukan karena memang kasus itu ada dan tidak mungkin saya kesampingkan begitu saja.
Anda tidak tertarik untuk mengungkap kasus itu lebih jauh?
Bukan tidak tertarik. Tapi bukan itu tujuan saya membuat Without Memory. Istri Sekine memang punya ekspektasi bahwa film ini akan berbeda, bahwa film ini akan memblow-up kasus itu. Tapi tanpa film ini pun kasusnya memang sudah besar. Dasar penyakit ‘hilang ingatan’ Sekine memang adalah kesalahan dalam proses pengobatan, dan ini jadi berita besar di Jepang tanpa saya perlu menambahkan.
Dibeberapa sekuen dalam ruang tamu atau ruang makan keluarga dimana anda biasanya ngobrol atau melakukan wawancara, tiba-tiba ada ‘cut’ dan beralih ke ’shot’ aktivitas binatang-binatang kecil seperti ulat yang tergantung diujung daun yang berusaha sekuat tenaga untuk naik ke batang yang lebih kokoh. Apakah ini ilustrasi kondisi Sekine?
Oh ya? menurut anda begitu? Hmmm…waktu membuatnya saya tidak terpikir kesana. Masalahnya, rumah keluarga Sekine itu sangat kecil. Praktis tidak ada pemandangan lain dalam ruangan itu. Setiap kali kami datang, lokasinya ya disitu-situ saja.
Tentu saja secara visual ini akan sangat membosankan. Alternatif lainnya adalah halaman kecil diluar rumah. Disitu ada beberapa tanaman dan pohon. Jadi untuk menghindari kebosanan visual itu, kami akhirnya memfilmkan apa saja yang bisa difilmkan diluar ruang keluarga itu. Salah satunya yang anda bilang. Shot itu benar-benar kebetulan. Tapi terima kasih sudah memberi tahu.
Apakah ada ’staging’ (adegan yang diatur) di Without Memory ?
Pada dasarnya tidak. Hanya saja, ketika Sekine ke rumah sakit misalnya, kadang-kadang kami harus minta izin untuk memfilmkan, kami harus memberi tahu dokternya agar tak usah tegang. Kami harus meminta agar mereka menganggap kami tidak ada. Tapi yang benar-benar diatur, tidak ada.
Bagaimana adegan belanja dengan putranya?
Mereka melakukannya setiap hari. Itu salah satu aktivitas yang sudah biasa mereka lakukan. Hanya saja, saat kami mengikuti dengan kamera, mereka memang terlihat kikuk, jadi terlihat tidak natural.
Sebelum membuat Without Memory, anda membuat Maboroshi dengan gaya yang sangat berbeda dari film-film anda sebelumnya (August Without Him, Lessons From A Calf, However…). Maboroshi lebih puitis, gambarnya sangat statis, dan tidak ada close up sama sekali. Apakah karena Maboroshi film feature pertama anda?
Seperti yang anda bilang, Maboroshi memang feature pertama saya karena itu saya ingin membuat sesuatu yang berbeda. Di Maboroshi, saya juga melakukan pendekatan yang berbeda. Saya membuat perencanaan yang sangat detail. Saya membuat story board, sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Di story board itu, saya juga merencanakan dengan detail sudut pengambilan gambar, posisi kamera, pergerakan kamera, latar belakang. Semua yang ada di Maboroshi mengikuti apa yang ada di story board dan saya sangat ketat dan berusaha disiplin soal itu.
Secara pribadi, ada sedikit pressure terhadap diri saya sendiri bahwa saya harus melakukannya seperti yang seharusnya dibuat oleh para pembuat film. Saya berpikir, dengan cara itu semua akan berjalan lancar. Ternyata tidak juga. Saya agak kapok dengan cara itu. Film feature saya berikutnya, saya kembali ke gaya lama. Saya ingin lebih dekat dengan materi film saya. Saya rasa gaya dokumenter lebih cocok untuk saya.
Anda tidak nyaman dengan story board?
Mungkin. Ketika membuat Maboroshi dengan story board, saya agak tertekan. Film saya selanjutnya After Life dan Nobody Knows, saya melepaskan diri dari storyboard ini. Belakangan saya mulai mencoba untuk membuat story board lagi, mulai mendisiplinkan diri dengan apa yang sudah direncanakan sejak awal. Mungkin karena sudah membuat beberapa feature, saya lebih mengerti ritme kerja saya, sekarang saya lebih yakin dan mulai terbiasa dengan perencanaan matang. Sekarang saya merasa lebih fleksible.
Di Maboroshi, sepertinya banyak shot atau kejadian yang terjadi dua kali. Adegan bersepada dua kali muncul, banyak close up juga muncul dua kali. Apakah ini untuk menunjukkan ada yang kejadian nyata dan ada yang hanya mimpi?
Oh ya ?… dua kali ya ? Saya tidak memperhatikan soal itu, tapi saya tidak meniatkan itu sebagai adegan dalam mimpi. Hanya adegan awal yang mimpi. Selanjutnya tidak. Saya pasti akan menontonnya lagi dan memikirkan pendapat anda.
Di After Life, banyak yang kagum, khususnya orang eropa, dengan konsep anda tentang kematian. Secara umum, setelah kematian, selanjutnya akan ada surga atau neraka tergantung kategori baik atau jahat. Tapi After Life tidak menyinggung soal itu sama sekali. Nampaknya hanya ada surga. Apakah ini optimisme dalam tradisi Jepang?
Hahaha…tidak…tidak begitu. Di Jepang, konsep surga dan neraka juga ada. Ada juga kepercayaan bahwa setiap orang yang mati akan menjadi dewa atau dewi. Banyak kepercayaan di Jepang seperti juga di manapun. Tapi bagi saya, ketika membuat After Life, konsep soal apa yang akan terjadi setelah kematian bukanlah tujuan utama saya.
After Life lebih ke soal memilih kenangan terbaik, soal apa yang anda ingat dan seberapa berharga sebuah memori itu untuk anda. Saya tidak berniat untuk menyelami lebih dalam tentang apa yang akan terjadi setelah anda mati, karena saya tidak tahu sama sekali soal itu dan tidak punya bayangan seperti apa itu dunia kematian.
Saya juga tidak ingin mendalami kepercayaan bahwa orang yang telah meninggal akan menjadi semacam dewa atau dewi. After Life benar-benar hanya ide soal kenangan. Bagaimana seseorang akan bereaksi ketika diminta untuk memilih kenangan terbaiknya. Karakter-karakter dalam After Life tetap menjadi diri mereka sendiri setelah mati; Bagi saya, sebagai manusia, sangat penting untuk menengok sejenak kebelakang, merenungi hidup yang sudah dijalani dan bagaimana dampaknya.
Apakah itu yang anda percayai? Bahwa anda tidak akan berubah menjadi sesuatu yang lain setelah mati?
Tidak. Saya tidak percaya ada kehidupan setelah kematian…hahaha
Saya pikir orang Jepang percaya ada reinkarnasi?
Memang dulu orang Jepang percaya soal reinkarnasi, tapi sekarang ini, saya pikir, orang Jepang sudah tidak percaya lagi soal-soal seperti itu.
Di After Life, saya dapat kesan bahwa ada pengaruh Kafka dalam pesan yang ingin anda sampaikan dalam film itu. Soal sistem yang absurd, lalu ada soal administrasi, aturan yang harus dilalui orang ‘orang mati’ yang mengingatkan saya pada novel The Castle.
Saya pikir tidak. Anda merasa ada kesamaan?
Yup, nuansa dan aura film itu seperti The Castle.
Hmmmm….(lagi-lagi Kore-eda terdiam lama). Ya…ya…Saya membaca Kafka, mungkin juga secara tidak sadar ada pengaruhnya. Soal nuansa, rasanya saya harus menontonnya lagi…hahaha.
After Life dibuat –lagi-lagi– dengan gaya dokumenter. Ada sejumlah wawancara. Apakah anda membuat skenario untuk membuatnya?
Beberapa bagian ada yang diskenariokan. Tapi banyak diantara mereka bukan aktor. Mereka orang-orang biasa yang ingin berpartisipasi dalam proyek ini. Kami melakukan kurang lebih 500 wawancara dan menjelaskan konsepnya seperti apa. Kami jelaskan jika orang-orang itu harus memilih satu kenangan, apa yang akan mereka pilih. Jadi hampir semua cerita di film itu adalah kisah mereka sendiri yang tidak perlu skenario.
Bagaimana dengan wanita tua, sang penari?
Ohhh…dia juga orang biasa yang kami temui diantara ratusan wawancara awal. Cerita soal tarian itu adalah kisahnya sendiri. Saya memilihnya karena ceritanya yang sangat menarik. Di lokasi syuting, cara berceritanya yang sangat natural mempengaruhi aktor-aktor profesional di film ini. Dia sangat santai, bahkan caranya bercerita soal bagaimana dia menari, dan bagaimana melakukannya. Syuting After Life membuat seluruh kru menghadapi situasi yang menyenangkan dan dinamis;
Berapa lama anda membuatnya?
Proses sutingnya sekitar 2 bulan. Tapi idenya sudah ada 10 tahun sebelumnya.
Kenapa baru direalisasikan setelah 10 tahun?
Saya adalah pembuat dokumenter dan waktu itu saya tidak punya waktu yang tepat untuk memulai membuat film feature. Saya belum percaya diri. Saya akhirnya bisa membuat Maboroshi yang ternyata lumayan mendatangkan uang yang kemudian saya gunakan untuk membuat After Life. Tidak seperti di tahun 90an, sekarang lumayan gampang membuat film dengan adanya digital dengan biaya yang juga relatif murah.
Seperti semua karakter di After Life, jika anda disuruh memilih satu saja kenangan terbaik, apa yang akan anda pilih?
Hahahah…oh tidak. Saya tidak bisa…anda tahu, di After Life, mereka yang tidak bisa memilih kenangannya harus memfilmkan mereka yang sudah memilih; Itulah kenapa saya yang memfilmkan mereka karena saya salah satu yang tidak bisa memilih kenangan terbaik saya. Saya tidak bisa dan tidak mau memilih hanya satu kenangan.
OK, Sekarang soal Nobody Knows. Ada banyak kisah di Tokyo soal anak-anak terlantar. Kenapa anda memilih kisah 4 bersaudara ini?
(Kore-eda terdiam sangat lama, mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya sambil ber- hmmm yang panjang sampai kemudian menjawab). Mungkin karena kejadiannya terjadi diwilayah tempat saya tinggal sebelumnya. Saya tumbuh remaja di kawasan itu. Saya ingat tentang rel kereta, suara kereta yang lewat sepanjang waktu, dan saya juga menggunakan kereta itu hampir setiap hari.
Jadi lingkungan dan lanskapnya sangat dekat dan akrab bagi saya. Saya sangat dekat dengan orang-orang disekitar wilayah itu, dan saya tahu persis kondisi lingkungannya. Mungkin karena itu, ketika saya membaca di koran soal 4 orang anak kecil yang hidup sendiri tanpa orang tua diwilayah itu, saya langsung merasa jadi bagian dari kisah itu.
Berapa lama anda membuatnya?
Saya hanya membutuhkan sedikit waktu untuk menulis skenarionya. Saya menulisnya langsung setelah mendengar dan membaca berita itu. Seperti juga After Life, saya baru bisa membuatnya 15 tahun kemudian, karena kurangnya percaya diri dan keberanian untuk membuat film. Selain itu, waktu itu saya tidak punya dana sama sekali.
Saya pernah membaca profil anda, bahwa anda sempat berniat menjadi penulis novel. Pernah terpikir untuk membuat novelnya?
Niat itu pernah terpikir. Dan saya memang sempat ingin jadi penulis novel saja. Tapi kemudian saya lebih suka membuat film. Lebih menyenangkan dan lebih menarik.
Saat anda membuat Nobody Knows, tentunya uang dan fasilitas bukan lagi masalah. Tapi kenapa anda butuh satu tahun untuk menyelesaikannya?
Mmmm….Saya ingin mengikuti pertumbuhan anak-anak itu sampai mereka agak lebih besar dan terlihat perubahannya; Saya bahkan berniat menunggu sampai mereka 5 tahun lebih tua dari sejak awal kami mulai syuting. Tapi niat itu batal karena juga tidak terlalu perlu. Selain itu saya ingin latar belakang pemandangan Tokyo sepanjang tahun dengan berbagai musim yang berbeda, dari musim dingin hingga musim panas. Filmnya sendiri tidak mahal, tapi saya tidak ingin buru-buru dan menghabiskan banyak waktu dengan anak-anak itu. Memfilmkan bagaimana mereka tumbuh.
Seberapa murah ?
Hmmmm….(Kore-eda berpikir lama, wajahnya berkerut-kerut). Kurang lebih 1 juta yen. (sekitar Rp. 85 juta rupiah)
Di Nobody Knows, figur ayah nyaris tidak ada. Ibu menghilang. Apakah ini juga pendapat anda terhadap evolusi yang berlangsung dalam masyarakat, khususnya di Jepang?
(Kore-eda mengangguk angguk). Faktanya memang makin banyak kasus seperti itu, dan saya rasa bukan hanya di Jepang. Bukankah begitu? Masyarakat khususnya di Jepang sudah sangat berubah dalam memandang kehidupan keluarga, tidak lagi sedekat seperti dulu.
Menurut anda, ikatan persaudaraan sekarang lebih penting daripada keluarga lengkap itu sendiri?
Faktanya, banyak anak-anak di Jepang adalah anak tunggal. Banyak dari mereka tidak punya saudara. Sangat sulit untuk punya anak lebih dari satu dimana tidak cukup ruang untuk tinggal dan tidak cukup jaminan sosial untuk hidup. Orang-orang hidup dalam tekanan. Di Jepang berkembang masyarakat yang sangat maskulin, sehingga banyak wanita harus bekerja, mandiri dan tidak punya cukup waktu untuk mengurusi anak-anak mereka.
Dalam hal ini, Jepang sangat tertinggal dalam konteks perlindungan terhadap wanita dengan anak-anak mereka khususnya para single mother. Di Jepang, hampir tidak ada ruang dan tempat dalam masyarakat untuk single mother. Masyarakat tidak bisa menerima mereka, dan mereka harus bisa hidup sendiri tanpa dukungan keluarga.
Sulit untuk memiliki anak dalam Masyarakat Jepang sekarang ini. Dalam hal ini, Jepang ketinggalan jaman. Jepang terkenal sangat maju dalam banyak hal, tapi evolusi masyarakatnya jauh terbelakang. Saya tidak suka kondisi seperti itu tentu saja. Saya berharap bisa mengubahnya. Tapi tentu saja butuh waktu.
Soal film terbaru anda, Hana; Film itu sangat jauh berbeda dari film anda sebelumnya, baik dari segi tehnis, maupun cara bertutur. Anda sedang berusaha melucu sambil menggunakan karakter samurai.
Saya memang sedang ingin mencoba banyak hal. Dan Hana adalah salah satunya. Semuanya adalah hasil imaginasi dan ciptaan sendiri. Saya ingin membuat film samurai dimana samurai bukan melulu soal pahlawan yang suka bertarung. Meski ini film samurai, nyaris tidak ada adegan pertarungan.
Anda sedang ingin mengkondisikannya dengan situasi sekarang? dimana orang mempertanyakan apa arti perang sesungguhnya?
Betul. Itu memang pesan yang ingin saya sampaikan. Bahkan seorang samurai pun ragu apakah memang perlu kekerasan itu ada. Tidak ada menang atau kalah di film ini.
Tapi anda mencoba melucu dan saya kok tidak bisa memahami lucunya?
hahaha…begitu ya. Becandanya memang sangat tipikal guraun orang Jepang. Saya bisa maklum kalau anda tidak menangkap gurauan-gurauan di film itu. Mungkin juga saya masih harus belajar banyak membuat film dengan sisipan humor.
Diantara semua film-film anda, apakah anda mencoba mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan soal hidup?
Saya tidak mencari jawaban, belum saatnya, tapi film-film saya pastinya adalah cara saya untuk memikirkan tempat dan posisi saya dalam masyarakat. Karena itu saya membuat film, untuk menyelidiki diri sendiri. Saya sedang mencoba mencari esensi dari film yang sesungguhnya. Itu ide personal saya.
Diantara banyak film yang sudah anda buat, adakah hal yang ditemukan oleh penonton anda yang anda tidak sadari sebelumnya?
Wah banyak sekali. Seperti komentar anda misalnya, terus terang saja saya kaget. Terus terang juga, saya sangat suka dengan sesi tanya jawab setelah screening. Saya suka mendengar komentar langsung tentang film saya dan apa yang penonton pikirkan karena pendapat itu kadang membuat saya memikirkan film saya lagi dan lagi.
Anda merasa penonton salah mengerti?
Saya tidak keberatan sama sekali jikapun orang memahami film saya jauh dari apa yang saya niatkan. Itu menyenangkan.
Anda dan film anda khususnya After Life dianggap sebagai bagian dari dampak gerakan cinema vérité di Perancis. Menurut anda?
Hmmm…sekarang ini, rasanya mustahil untuk membuat film tanpa memikirkan soal gerakan estetika di Perancis atau di Italia. Mungkin memang ada hubungannya, tapi saya membuat film tidak untuk mengikuti aturan-aturan itu. Tapi saya rasa, ide bagus ketika sejarah harus mencatat gerakan-gerakan dalam perkembangan dunai film dan mulai memetakan serta menghubungkan satu sama lain.
Secara personal, klasifikasi itu tidak terlalu penting buat saya. Bahwa saya membuat film tidak bisa dipungkiri ada pengaruh dari berbagai macam gerakan. Saya yakin memang ada hubungannya. Saya suka Rosselini, Resnais, dan banyak lagi.
Pertanyaan terakhir, anda suka memperlihatkan semacam ‘behind the scene’ ditengah-tengah film berlangsung. Di Without Memory, tiba-tiba Sekine Hiroshi, membalikkan kamera kearah anda dan kru anda. Di After Life bahkan ada seluruh behind the scene dalam film. Kenapa?
Saya rasa, hubungan antara pembuat film dan objeknya sangat penting dalam membuat dokumenter. Juga penting buat saya untuk menunjukkan bagaimana saya terefleksi di mata orang-orang yang saya filmkan. Begitu saya melihat perlunya hubungan itu. Saya berbicara soal dokumenter atau gaya dokumenter, tapi dalam feature rasanya sulit karena akan mematahkan seluruh film. tapi rasanya akan menarik untuk melakukannya di feature. Mari kita lihat nanti.***
WERNER HERZOG LIBURAN DI UJUNG BUMI
Film: ENCOUNTERS AT THE END OF THE WORLD
Sutradara: Werner Herzog
—-
Martin Luther, the reformer, was asked : « What would you do, if the world came to an end tomorrow?” and he replied: “I would plant an apple tree”. Tapi Werner Herzog bilang: “I would start shooting a new film.”
—-
Liburan telah tiba bagi Werner Herzog. Berpuluh tahun lamanya Herzog berkelana ke pelosok-pelosok benua yang tidak terpikirkan oleh sebagian besar masyarakat modern saat ini. Dan ketika ia memilih berlibur, kita bisa maklum, tempat liburannya juga tidak biasa. Pilihannya disebuah tempat di ujung dunia paling selatan: Antartika !. Sambil ‘liburan’ itulah, ia membuat semacam travelogue yang diberi judul Encounters At The End Of The World.
Dari travelogue ini, terlihat dan terdengar jelas, Herzog berangkat dengan riang gembira. Tak paham betul mau bertemu siapa, atau mau berbuat apa. Maklum, ia sudah lama bermimpi ingin kesana, tapi tak punya akses. Ketika National Science Foundation America menawarkan semacam beasiswa untuk program Antarctic Artists and Writers Program, Herzog tak menyia-nyiakan kesempatan.
Dengan tekun Herzog juga melewati prosedur program, mulai dari menulis proposal, membuat surat motivasi hingga wawancara. Menurut Herzog, ia meng-iya-kan saja semua syarat-syarat program tersebut. Termasuk hasil ‘penelitian’ yang nantinya harus berguna bagi pendidikan, pengembangan pengetahuan tentang objek penelitian dan pemahaman yang lebih luas tentang Antartika.
Ia juga tidak keberatan dengan beberapa syarat, antara lain tidak membolehkan pekerja film membawa peralatan berat, tidak boleh membawa kru yang banyak, serta tidak boleh merepotkan peneliti disana misalnya dengan meminta kamp khusus untuk membuat film selain yang sudah ada disana.
Syarat-syarat ini jelas tidak terlalu sulit bagi Herzog. Sutradara asal Jerman ini cukup mengajak seorang kameramen, Peter Zeitlinger, untuk menemani perjalanannya ini. Hal-hal teknis lainnya praktis dikerjakan mereka berdua. Mulai dari tata suara hingga tata cahaya. Hanya saja, kali ini Herzog harus sedikit mengalah untuk urusan kamera. Selama tujuh minggu izin tinggalnya disana, Herzog akhirnya pasrah hanya memakai high-definition video camera. Pertama kali dalam karirnya, Herzog membuat film tanpa 35mm. ‘Yang penting, saya bisa liburan disana,’ katanya.
Suara Personal Yang Khas
Kamera Zeitlinger mulai bekerja sejak pesawat kecil yang membawa mereka mendekati wilayah putih mahaluas dibawah sana. Herzog –berbahasa Inggris dengan aksen Jermannya yang kental—bercerita dengan suara dan gaya khasnya. Sekedar catatan, film-film dokumenter Herzog tidak pernah memakai ‘suara’ orang lain.
Suaranya yang agak serak serak, tidak bariton dan juga tidak karismatik menemani sepanjang 99 menit Encounters. Pria yang juga sutradara panggung opera ini bukannya tidak berusaha membuat suaranya terdengar ‘agak berwibawa’. Kadang-kadang terdengar ia seperti bercerita dengan tempo dan nada suara yang terjaga layaknya pemain sandiwara radio.
Usaha untuk terdengar ‘karismatik’ ini dibeberapa momen justru terdengar menggelikan –dalam arti positif–. Seperti ketika ia mulai prolog diawal film tentang keberadaannya di kutub selatan. Nada ‘sok’ karismatik nya lama-kelamaan makin memudar ketika Herzog mulai masuk lebih dalam. Apalagi saat bercerita tentang pelatihan bertahan hidup ditengah badai Antartika. Dalam pelatihan ini, kepala setiap orang ditutup ember putih, dan diperintahkan mulai berjalan kearah tujuan mengikuti sebuah tali dan yang paling utama, insting. Hasilnya amburadul.
Dibagian ini, suara ‘sok’ wibawa Herzog tidak sanggup bertahan. Meski ia nyaris tak pernah nampak di layar, sebagai penonton kita bisa merasakan, Herzog sedang tertawa geli. Nada narasinya juga berbeda dibeberapa bagian. Bagian tentang orang-orang yang ditemuinya, tentang rasa ingin tahunya yang tak terbendung, atau saat ia kebingungan mengajak narasumber nya untuk ngobrol, dan tentang hal-hal kecil yang ditemuinya di pusat penelitian habitat Antartika, McMurdo Station.
Kehadiran narasi sutradara kelahiran Munich 66 tahun lalu ini lewat ‘voice over’ –dalam film, sosok Herzog terlihat hanya sekilas– kadang hadir sebagai narasi pengantar, kadang juga berfungsi sebagai penghubung antara momen yang satu dengan yang lain dan kadang menjadi suara yang terlibat.
Sebagai narator, kita seperti mendengar nada seorang ayah yang mendongengkan kisah kepada anak-anaknya. Atau seperti mendengar tetangga sebelah yang bercerita tentang pengalaman liburannya. Atau mendengar teman sebaya melontarkan uneg-unegnya. Seringkali, Herzog memberikan ruang luas bagi narasumbernya untuk bercerita. Tapi kalau kelamaan, ia juga tak segan memotong.
Sebagai suara yang terlibat dan banyak bertanya, suara Herzog –dalam arti harfiah maupun perlambang– seperti suara orang kebanyakan, suara ordinary people, yang kebetulan dapat kesempatan untuk berkunjung ke satu-satunya wilayah tak terjangkau peradaban kecuali bagian dimana McMurdo Station berdiri. Herzog seperti paham apa yang ada dikepala sebagian orang yang akan menonton Encounters.
Sutradara Grizzly Man ini ke ujung dunia dengan ‘kosong’, tanpa pretensi dan tanpa beban filmnya akan jadi seperti apa. Ia mengaku tidak mengerti ‘natural science’ sama sekali. Tidak paham tentang kehidupan seperti apa yang ada diujung bumi ini. Tapi ia tidak bisa menutupi rasa takjubnya yang terlihat jelas dalam Encounters. Dengan hanya berbekal banyak pertanyaan, Herzog bertanya sesuai kata hati tanpa beban ilmiah. Karena itu, pertanyaannya adalah pertanyaan saya juga, rasa penasarannya adalah juga rasa penasaran saya.
Herzog ingin tahu hal-hal dasar yang justru jarang ditanyakan. Dimulai dari, mengapa anda ada disini? Apa menariknya sih meneliti tentang es? Apa sih impian anda? Kenapa sih kita tidak boleh ngomong beberapa menit sebelum menyelam? Sampe pertanyaan yang berkembang jadi konyol seperti: saya dengar, penguin juga punya kecenderungan gay atau lesbian ya? Mereka juga bisa gila ya?.
Pertanyaannya pun tidak sebatas pada para peneliti, tapi juga kepada tukang masak, pengemudi truk, tukang kayu, hingga tukang cuci piring. Dari pertanyaan-pertanyaan dasar yang berkembang sesuai reaksi narasumbernya itu, Herzog menemukan banyak cerita. Pria yang selalu konsisten dengan ceritanya dalam setiap wawancara ini berhasil membuat saya percaya bahwa setiap orang punya sesuatu yang menarik untuk diceritakan ditanah itu.
Herzog nampak sedang berusaha memuaskan dahaga ingin tahunya terhadap padang es itu, dan terutama sekali, terhadap manusia-manusia yang memilih untuk datang dan bekerja disana. Encounters jadi kaya akan karakter-karakter yang mungkin sulit ditemukan dan sulit dibayangkan akan ada dalam film-film cerita biasa.
Sementara kamera Zeitlinger asyik mengabadikan keindahan alam bawah laut serta kehidupan nyentrik manusia-manusia diatasnya, Herzog juga asyik bertanya dan bertanya. Kerjasama keduanya jadi karya yang akan sulit disamai oleh para pekerja film lainnya. Cara bertutur Herzog yang ‘lugu’, disertai komentar-komentarnya yang menggelikan, membuat Encounters jadi dokumenter serius yang penuh humor. Film Herzog yang ke 54 ini jelas jauh bedanya dengan buatan Discovery Channel atau National Geographic Channel.
Sentuhan personal dan subjektifitas Herzog di tanah putih yang menakjubkan dan misterius itu jadi lebih manusiawi, walau tetap membuat Antartika tak kehilangan sedikitpun daya magisnya. Encounters jadi film Herzog yang paling santai, penuh humor dan sekaligus paling indah. Beginilah jadinya ketika Herzog memutuskan untuk berlibur sambil menenteng kamera.***

1 comment