Diary Of A Moviegoers

Emir Kusturica (Bag.III): Pengembara Tanpa Kampung Halaman

Posted in Director's Profile, Interviews, News, Notes, Serba-Serbi by akurini on December 5, 2005

Di tanah Bosnia dan Herzegovina, Emir Kusturica selalu menjadi figur kontroversial. Ketika rezim Slobodan Milosevic tumbang, media-media di negeri itu memandang sinis pada Kusturica.DI tanah Bosnia dan Herzegovina, Emir Kusturica selalu menjadi figur kontroversial. Ketika rezim Slobodan Milosevic tumbang, media-media di negeri itu memandang sinis pada Kusturica. Ia dianggap sebagai salah satu bintang propaganda media terbesar di zaman Milosevic. Penulis Andrej Nikolaidis membuat sebuah artikel yang sangat pedas menudingnya sebagai boneka propaganda perang Milosevic.

“Orang yang memiliki sesuatu yang bodoh tapi cukup patriotis untuk diucapkan,” tulis Nikolaidis tentang Kusturica. Menurut Nikolaidis, Kusturica mengklaim, ayahnya adalah muslim Serbia, sementara ia Kristen Ortodoks. “Kusturica dengan mudah memilih keyakinan ketika Bosnia bergolak,” kata Nikolaidis. Pernyataan itu didukung sejumlah publikasi yang memuat foto Kusturica sedang mengobrol akrab dengan orang-orang Milosevic.

Dalam foto tersebut ada Jovica Stanisic, Milorad Vucelic, dan Zoran Lilic. Stanisic adalah kepala polisi rahasia Milosevic, yang saat itu sedang diadili sebagai penjahat perang di Den Haag, Belanda. Sedangkan Vucelic dan Lilic adalah kepala propaganda Milosevic.

Tuduhan Nikolaidis jelas membuat Kusturica berang. Ia pun menuntut Nikolaidis atas tuduhan fitnah. Setelah pemeriksaan, pengadilan meragukan laporan Nicolaidis. Ia pun diminta membayar ganti rugi 5.000 euro kepada Kusturica. Tapi keputusan pengadilan ini membuat Perkumpulan Penulis Bosnia mengeluarkan petisi. Mereka menganggap keputusan itu mengabaikan hak asasi untuk berbicara bebas.

Petisi itu didukung dan ditandatangani oleh para cendekiawan ternama dan pelajar-pelajar bekas Yugoslavia di luar negeri. Mereka menganggap aksi ini mempromosikan kebenaran tentang perang. Kusturica memilih bungkam atas aksi petisi itu. Namun, akibatnya, Kusturica tidak pernah merasa nyaman di Bosnia. Keinginan untuk kembali mengunjungi Sarajevo di tanah Bosnia ia kubur dalam-dalam.

“Andai saja perang ini tidak pernah terjadi, saat ini mungkin saya akan menghabiskan waktu di Sarajevo,” kata Kusturica. Kini, ia menyimpan kenangan buruk terhadap Sarajevo. “Saya tidak punya ikatan emosi apa-apa lagi dengan Sarajevo,” katanya. Baginya, Sarajevo adalah musuh di tingkat ideologi. Musuh yang melukai dan menyebabkan trauma dalam keluarganya.

Kusturica selalu menganggap keluarganya adalah keluarga internasional yang ideal. Dalam darah mereka mengalir campuran berbagai bangsa. Tapi, selama perang, Sarajevo nyaris tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan mobilisasi muslim. “Saya tidak pernah mengerti ketika polisi Bosnia mendobrak pintu rumah orangtua saya dan merampok semua barang berharga,” ujar Kusturica.

Padahal, ayah Kusturica adalah pejuang selama perang dunia. Ketika polisi Bosnia menggerebek rumah mereka, sang ayah justru dikatai pembangkang. Dua bulan kemudian, ayah Kusturica meninggal. “Cerita tentang Sarajevo selalu membuat saya hilang kesabaran. Saya masih menyisakan sedikit kenangan manis dan beberapa teman baik di sana, tapi kota itu tidak pernah membuat saya merasa bebas,” katanya.

Kusturica akhirnya memilih mengembara ke Eropa Barat. Ia tinggal di Prancis selama beberapa waktu. Tudingan terhadap dirinya makin menjadi ketika pada awal 2005, Kusturica meminta dibaptis di Gereja Ortodoks Serbia sebagai Nemanja Kusturica. Yang bertindak sebagai ayah baptisnya adalah Vladimir Cukavac, seorang pendeta dari Mokra Gora, Serbia.

Para penggemar melihat pembaptisan Kusturica sebagai simbol kembalinya Kusturica ke akar Serbianya. Sementara itu, para pengkritik menganggap sebagai penghianatan terakhir Kusturica kepada akar muslimnya. Alih-alih menolak tudingan itu, Kusturica malah mengeluarkan statemen: “Ayah saya adalah seorang ateis dan dia selalu mendeskripsikan diri sebagai Serbia.”

Baginya, klan Kusturica memang muslim selama 250 tahun, tapi sejatinya mereka tetaplah memiliki akar Serbia. “Agama tidak bisa mengubah itu. Kami hanya menjadi muslim untuk menyelamatkan diri dari Turki,” kata Kusturica. Toh, meski teguh mengaku sebagai Serbia, di Serbia Kusturica juga tidak pernah diterima dengan tangan terbuka. Ia pun dimusuhi di sana.

Untungnya, masalah itu sudah lama berdamai dengan hati nurani pria yang gemar mengendarai jip ini. “Saya adalah pribadi yang terbagi. Satu kaki saya menapak di Serbia, tepatnya di Kustendorf, satunya lagi di Prancis. Di Serbia saya membuat karya, di Prancis saya menyebar pesan atas karya tersebut,” kata Kusturica.

Kusturica merasa beruntung karena terbiasa berkelana. Ia pernah tinggal di Sarajevo dan Beograd, dan dia sudah tahu risikonya sebelum perang meletus. Kusturica merasa, adanya jarak dengan kedua tempat itu membuatnya bebas menginterpretasikan interaksi sosial antaretnis yang jarang terungkap di permukaan.

“Setiap saat saya kembali dengan membawa film, pasti akan menimbulkan reaksi keras. Ada yang menyukainya dan ada juga yang membenci. Tapi saya sudah tinggal jauh dari sana. Karena itu, siapa pun yang berpikir jelek tentang saya, saya sarankan untuk membuat film, karena hanya bahasa film yang saya mengerti.”

AKU

Emir Kusturica (Bag.II) : Pangeran Sarajevo Raja Festival

Posted in Director's Profile, News by akurini on December 5, 2005

Setelah kembali dari Praha, Kusturica memulai karier sebagai sutradara film televisi di Sarajevo, ibu kota Bosnia-Herzegovina. Kecintaan dan kenangan Kusturica pada Yugoslavia, negeri yang kini lenyap dari peta dunia, terlihat jelas nyaris dalam setiap filmnya.

SEJAK pertama kali kakinya berpijak di kampus FAMU, Akademi Film dan Musik Praha, Emir Kusturica sudah tahu bahwa hidupnya bakal didedikasikan untuk film. Aktivitas di belakang layar film membuatnya terpesona. “Inilah dunia tempat saya bisa berekspresi,” kata Kusturica muda yang waktu itu berumur 18 tahun.

Setelah kembali dari Praha, Kusturica memulai karier sebagai sutradara film televisi di Sarajevo, ibu kota Bosnia-Herzegovina. Kecintaan dan kenangan Kusturica pada Yugoslavia, negeri yang kini lenyap dari peta dunia, terlihat jelas nyaris dalam setiap filmnya. Selalu ada momen tentang Yugoslavia, baik itu lokasi, tokoh, maupun latar belakang sejarah diungkit dalam setiap karyanya.

Pada 1978, Emir Kusturica yang berusia 24 tahun menyelesaikan film televisi pertamanya, Nevjeste Dolaze. Setelah itu, di tahun yang sama, Kusturica memproduksi Guernica. Setahun berikutnya, Kusturica menggarap Bife Titanik. Tapi nama Kusturica baru diperhitungkan di dunia internasional ketika ia menyelesaikan film layar lebar pertamanya, Sjecas li se, Dolly Bell (Do You Remember Dolly Bell) pada 1981.

Dolly Bell memenangkan Critics Award di Sao Paulo International Film Festival. Dua piala dari Venice Film Festival juga disabet, yaitu Fispresci Prize dan Golden Lion untuk karya pertama terbaik. Kusturica yang kala itu sedang menjalankan wajib militer memperoleh izin khusus meninggalkan Yugoslavia selama 24 jam untuk menerima penghargaan itu.

Setelah Dolly Bell, film-film Kusturica tak pernah luput dari perhatian juri di berbagai festival internasional. Pada 1985, Kusturica mengentak Festival Film Cannes dengan Otac Na Sluzbenom Putu (When Father Was Away on Business). Dua penghargaan, Fispresci Prize dan Golden Palm, disabet Kusturica di festival film bergengsi itu. Setahun kemudian, film ini masuk nominasi film berbahasa asing terbaik di pentas Oscar dan Golden Globe.

Pada 1988, dengan Dom za vesanje (Time of Gipsies) Kusturica gagal mengulang prestasi merebut Golden Palm di Cannes. Tapi ia tak pulang dengan tangan kosong. Ia dinobatkan sebagai sutradara terbaik. Pada 1990, Time of Gipsies masuk nominasi sebagai film asing terbaik di Festival Film Cesar, Prancis. Setahun kemudian, film ini memenangkan Guldbagge Award sebagai film asing terbaik pilihan Komisi Film Swedia.

Mencoba Arizona, Menolak Hollywood

KETIKA nama Kusturica makin besar di panggung festival dunia, Hollywood pun meliriknya. Kusturica tak takut mencoba. Maka, ia pun menggarap Arizona Dreams pada 1993. Arizona Dreams yang dibintangi Johnny Depp, Jerry Lewis, dan Faye Dunway itu sukses meraih penghargaan Silver Berlin Bear di Berlin International Film Festival. Pada 1994, Arizona memenangkan Audience Award di Warsaw International Film Festival.

Keterlibatan Kusturica sebagai sutradara untuk film Amerika sempat jadi bahan tertawaan teman sejawatnya di Serbia. Maklum, Kusturica terkenal ogah bersentuhan dengan industri film Hollywood yang menurut dia sangat mendikte. “Hollywood itu racun asli, pusat dalam sejarah seni perang abad ke-20; tempat itu merupakan tempat pengawetan idealisme manusia,” kata Kusturica suatu kali.

Sistem kerja Kusturica juga sangat bertentangan dengan langgam Hollywood yang serba cepat. Kusturica biasa melakukan syuting dalam waktu yang lama dan tidak menentu. Kalau perlu, menulis ulang skenario dan membayangkan kembali filmnya hingga menit terakhir. Meski punya kebiasaan seperti ini, tetap saja, setelah Arizona Dreams, tak sedikit tawaran kembali datang dari Hollywood untuk Kusturica.

Kusturica dianggap punya sentuhan sangat khas dalam setiap film-filmnya. Ia sangat peka terhadap isu-isu kekerasan etnik, inses, pemberontakan, agama, dan komunisme. Tokoh-tokoh utama dalam filmnya selalu datang dari kaum-kaum marjinal: gipsi, Yahudi, muslim, kaum miskin, orang-orang yang tak punya hak suara, si pincang, dan orang sederhana.

Yang patut dicatat, meski terdengar “berat”, film-film Kusturica tidak sama dengan citra film seni Eropa yang berjalan lambat dan terlihat mewah. Hampir semua film Kusturica jauh dari kesan mewah. Meskipun begitu, film Kusturica selalu mengandung elemen kebahagiaan yang digambarkan dengan unik. Film Kusturica juga identik dengan ingar-bingar musik.

Film-film Kusturica kaya akan detail kecil. Dialog lembut sepasang kekasih mungkin akan dilatarbelakangi suara anjing yang sedang asyik merobek sarung bantal. Di filmnya yang lain, adegan antara dua orang pria yang sedang bercakap di tengah medan perang bisa dibumbui adegan menyemir sepatu sambil mengusir kucing yang ada dalam ruangan.

Arizona Dreams tidaklah terhitung sukses secara finansial. Tapi banyak produser Hollywood telanjur jatuh hati pada teknik membuat film Kusturica. Sean Penn pernah menawarkan skenario The Autumn of The Patriarch yang diangkat dari novel Gabriel Garcia Marquez. Film yang rencananya dibintangi Marlon Brando tersebut ditolak oleh Kusturica karena alasan sibuk.

Padahal, kepada Gatra, Kusturica menuturkan alasan sebenarnya: dia tidak suka hanya dijadikan sebagai sutradara. Kala ditawarkan, The Autumn of The Patriarch telah jadi produk matang yang siap disutradarai siapa saja. “Saya tidak bisa melakukan hal seperti itu. Saya ingin terlibat sejak memutuskan bagaimana cerita ini akan dibawa,” kata Kusturica yang fasih berbahasa Inggris dan Prancis ini.

Hal yang sama menjadi alasan Kusturica ketika ia menolak Crime and Punishment yang akan dibintangi Johny Depp. Setelah tawaran itu, masih menyusul tawaran lain untuk menyutradari adaptasi novel D.M. Thomas berjudul The White Hotel. Meski nama besar seperti Nicole Kidman telah menyatakan sangat berambisi untuk mendapatkan peran dalam film ini, lagi-lagi, Kusturica menggelengkan kepala.

“Ide saya harusnya dihargai. Saya selalu ingin membuat film dengan kualitas yang baik. Tapi dari awal, untuk The White Hotel, saya ingin film itu berbentuk narasi, sedangkan produsernya ingin membuat film itu sebagai film fantastis. Akhirnya saya menolak,” kata Kusturica.

Kembali ke Festival

MENOLAK Hollywood bukan berarti Kusturica kekurangan pekerjaan. Dua tahun setelah Arizona Dreams, Kusturica muncul dengan Bila Jednom Jedna Zemlja (Underground), karya yang oleh para kritikus disebut sebagai masterpiece-nya. Underground sudah menyabet banyak penghargaan, termasuk Golden Palm di Cannes, film berbahasa asing terbaik Boston Society of Film Critics Festival dan Kinema Junpo Awards Festival Film Tokyo.

Setelah Underground versi layar lebar, belakangan Kusturica juga membuat versi miniseri (5 jam) untuk film yang sama. Tiga tahun berikutnya, pada 1998, filmnya, Crna Macka, Beli Macor (Black Cat, White Cat), kembali memborong penghargaan. Tiga penghargaan dan sebuah nominasi dikantonginya di Festival Film Venesia.

Pada tahun 2000, Kusturica mencoba berakting dalam The Widow of Saint Pierre garapan sutradara Patrice Leconte. Untuk membujuk Kusturica agar mau bermain dalam filmnya, Leconte sampai harus datang ke Beograd. Leconte tertarik ketika melihat wajah Kusturica terpampang di salah satu surat kabar Prancis. “Tatapan mata Kusturica persis seperti yang saya bayangkan untuk karakter Neel Auguste, seorang pembunuh,” kata Leconte.

Pilihan Leconte tidak salah. Akting Kusturica dipuji dan masuk nominasi sebagai aktor pembantu terbaik di Cesar Award, Prancis. The Widow of Saint Pierre juga masuk dalam nominasi peraih Golden Globe untuk film berbahasa asing terbaik. Toh, Kusturica menolak disebut aktor.

“Saya hanyalah seorang sutradara yang menjaga film sebagai bentuk seni. Saya selalu percaya bahwa film dengan cara tertentu adalah karya seni sekaligus hiburan yang menyenangkan,” kata Kusturica. Kusturica tak pegitu peduli pada pujian terhadap aktingnya. Ia kembali asyik dengan proyek-proyek filmnya.

Pada 2001, Kusturica membuat film dokumenter Super 8 Stories, yang bertutur tentang sejarah singkat Yugoslavia dan kisah panjang para eksil untuk kembali ke negaranya. Super 8 Stories mendapat Silver Plaque di Chicago International Film Festival untuk kategori film dokumenter terbaik dan meraih nominasi untuk kategori yang sama di European Film Award.

Tahun 2004, Kusturica menghasilkan Zivot je cudo (Life is A Miracle) yang hampir menyabet Golden Palm di Festival Film Cannes. Di festival ini, Life is A Miracle memenangkan Cinema Prize of the French National Education System. Film ini kemudian dinobatkan sebagai film terbaik Uni Eropa di panggung Cesar Festival, Prancis.

Lepas dari kebiasaannya memproduksi film tiga tahun sekali, pada 2005 Kusturica bekerja sama dengan Mehdi Charef membuat tujuh film pendek yang disatukan dalam All the Invisible Children. Saat ini, Kusturica sedang menggarap Maradona, dokumenter tentang pesepak bola Argentina, Diego Maradona. Ia juga tengah mempersiapkan film Promise Me This. Film berlatar kota Beograd ini rencananya mulai syuting pada akhir 2006.

==========

Musik Protes Antirokok

SELAIN membuat film, Emir Kusturica juga sibuk mengurusi kelompok musiknya, The No Smoking Band (atau Zabranjeno Pusenje dalam bahasa Serbia Kroasia). Band ini lahir di Sarajevo pada 1980. Sejak kelahirannya, No Smoking mengawali aliran baru dalam peta musik Yugoslavia. Musik No Smoking Band disebut sebagai “new primitivism” yang merupakan sebuah gerakan kebudayaan menentang masa transisi setelah rezim Tito. Oleh para kritikus, band ini disebut sebagai band pengusung gipsi techno-rock.

Sebelum bertemu dengan Kusturica, band ini banyak menghabiskan waktu dan hidup dari konser-konser kecil di kafe-kafe di jantung Sarajevo. Pada 1984, mereka mengeluarkan album pertama, ”Das ist Walter”. Salah satu lagu di album tersebut, Zenica Blues, langsung mencapai jajaran puncak di tangga lagu Yugoslavia dengan penjualan di atas 100.000 kopi dalam waktu satu bulan.

Pada periode yang sama, band ini muncul di serial TV ”Surrealist Top List”, sebuah siaran berita palsu yang merupakan sindiran terhadap politik Yugoslavia saat itu. Masalah menerjang kelompok ini ketika sang pemimpin, Dr. Nele Karajilic, mengeluarkan pernyataan ironi atas kematian Tito saat tampil live di sebuah konser akbar. No Smoking Orchestra kemudian diboikot.

Penjualan album kedua mereka pun jeblok di pasar karena adanya sensor pemerintah. Sebagian anggotanya memilih keluar. Pada 1986, Emir Kusturica pun masuk menjadi pemain bas band ini. Album ketiga band ini, ”Pozdrav iz zemlje safari” (”Greetings from safari land”) terjual 90.000 kopi. Sementara itu, perubahan dramatis pada peta politik Yugoslavia membuat mereka bisa melakukan tur lagi.

Pada 1989, band ini merekam album keempat, ”Male price o velikoj ljubavi” (”A little story of a great love”) dan kembali muncul di sekuel serial TV ”Surrealist Top List”. Tahun 1998, No Smoking membuat komposisi musik untuk film Kusturica, Black Cat White Cat, yang memenangkan International Prize for Film and Media Music di International Biennal for Film Music.

Setelah merampungkan sejumlah tur, dan proyek serial TV mereka, No Smoking Orchestra membuat album kelima bertitel ”Unza Unza Time” yang diproduksi Universal Record. Klip video untuk lagu-lagu mereka disutradarai sendiri oleh Emir Kusturica.

AKU