Diary Of A Moviegoers

SELAMAT UNTUK NIA DINATA !

Posted in News by akurini on December 19, 2007

berbagi-suami-di-brussel.jpg

 

34th International Independent Film Festival Brussel (IIFFB)    

 

 Ketika nama Nia Dinata disebut sebagai sutradara terbaik pada International Independent Film Festival Brussel yang ke 34, semua yang hadir pada malam itu tertegun sejenak. Festival yang berlangsung sejak 6 – 11 November di Grand Salle Centre Culturel Jacques Franck, Brussel itu memang dipenuhi wajah-wajah Asia, tapi bukan Indonesia. Pada umumnya mereka berasal dari Thailand, Philipina, Burma, dan Kamboja. Selebihnya berasal dari India, Belgia, Maroko dan Turki.  

 

Diantara mereka banyak yang bingung. Siapa Nia Dinata? Barulah ketika filmnya disebut L’amour en Partage (versi Perancis dari Berbagi Suami) asal Indonesia, penonton kemudian memberikan applaus meriah. Maklum, film itu memang salah satu film favorit yang banyak dibicarakan oleh penonton di festival ini. Salah seorang juri bahkan mengaku menjagokan Berbagi Suami sebagai film terbaik.

 

Sayangnya gelar itu jatuh pada Bangkok Love Story, karya Poj Arnon asal Thailand. Berbagi Suami memang istimewa. Menurut Ketua Dewan Juri, Dan Cukier, Nia dianggap berhasil memperkenalkan sebuah isu yang sebetulnya sangat lokal tapi sekaligus universal (yang selalu jadi favorit di festival ini). Masuknya film Berbagi Suami juga termasuk istimewa.  Film karya Nia Dinata ini ditemukan di saat-saat terakhir.

 

Ketika itu Direktur Program IIFB, Robert Malengreau sedang kebingungan mencari film Indonesia. « Saya ingin film yang menyorot masalah aktual, yang bisa memperkenalkan audiens Eropa pada Indonesia,” kata Malengreau kala itu. Ada sejumlah judul film yang ditawarkan Rumahfilm waktu itu.  Tapi seperti yang sering dikeluhkan oleh Malengreau, akses ke film Indonesia termasuk sulit.

 

Pertama karena memang dia belum punya network dengan para pembuat film independent Indonesia. Malengreau hanya mengenal Garin Nugroho. Tapi Garin sudah masuk sutradara kelas A di Eropa dan dari segi biaya, Malengreau mengaku belum sanggup memutar film-film Garin.  Persoalan kedua, menurut Malengreau adalah karena pembuat film Indonesia tidak banyak yang tertarik untuk mengirimkan filmnya ke festival ini. Kalaupun ada, juga bukan kualitas yang diinginkan.

 

Tidak seperti Thailand, Philipina dan Kamboja yang selalu jadi pengunjung tetap. Raja Kamboja, Norodom Sihamoni misalnya sudah 10 tahun belakangan ini mengirim film-film dokumenter terbarunya di festival yang mulai diadakan pertama kali pada 1974 ini.  Meski kecil, festival ini menawarkan sesuatu yang cukup unik. Setiap tahun, penyelenggaranya akan memilih Pays-Vedette atau negara yang akan menjadi focus festival.

 

Tahun ini misalnya, Pays-Vedette adalah India dengan tema Revelation: The New Passions of Auteur in Indian Cinema. Tema ini ingin menunjukkan bahwa film-film India tidak hanya terdiri dari adegan sepasang kekasih di taman, main umpet-umpetan sambil bernyanyi dengan suara yang mendayu-dayu. Sinema di India punya wajahnya yang lain, yaitu para pembuat film indipenden di luar kemewahan Bollywood. 

 

Selain memutar film-film independent dari India, festival ini juga dibuka dengan memperkenalkan kebudayaan India yang lain, mulai dari tari-tarian hingga ke makanan khas tradisional. Beberapa pengunjung misalnya baru kali itu mencicipi makanan khas India.  Nah, menurut Malengreau, sudah beberapa tahun belakangan ini, ia sudah berusaha mencari dan film Indonesia dan beberapa kali berniat menjadikan Indonesia sebagai Pays-Vedette.  

Secara tak sengaja, Malengreau melihat cuplikan film Berbagi Suami dan akhirnya mendapatkan copy film itu. Dan memang akhirnya Berbagi Suami mampu menggelitik keingintahuan penonton. Beberapa ada yang mengaku baru pertama kali itu menonton film Indonesia. Banyak yang tak menyangka bahwa ada praktek poligami di Indonesia. Penonton dari Asia juga langsung merasa sangat akrab dengan apa yang mereka lihat di Berbagi Suami.

Malam itu usai mengumkan Nia Dinata yang mendapatkan Prix De La Meillure Realisation (Award For Best Direction), Malengreau langsung mengumumkan, bahwa tahun depan Pays-Vedette untuk International Independent Film Festival Brussel yang ke 35 adalah Indonesia! 

 

 (http://www.rumahfilm.org

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut silahkan buka http://www.centremultimedia.org/English-pages.107.0.html        

Kenapa Bukan Surat Saja?

Posted in Reviews by akurini on March 20, 2006

Ruang

RUANG

Sutradara: Teddy Soeriaatmadja
Pemain: Luna Maya, Winky Wirawan, Adinia Wirasti
Produksi: Parama Entertainment, 2006

ADA sebuah ruang yang tak selesai. Tersimpan rapi dalam bentuk catatan harian. Entah kenapa diberi judul ”Ruang”. Tapi ada sebuah surat yang lalu menjadi benang merah dua kisah romantis antar-zaman dalam film Ruang karya terbaru sutradara Teddy Soeriaatmadja. “Saya memang ingin sekali membuat film romantis,” kata psikolog yang lebih tertarik membuat film ini.

Teddy, yang menulis naskah Ruang pada 1990, mencoba untuk bisa membuat sebuah drama. Awalnya ia ingin membuat film romantis tentang hubungan antara dua orang dalam sebuah ruang yang membicarakan tentang kedua orangtua mereka. Ide yang menarik sebetulnya.

Naskah awalnya dibuat oleh Teddy seminimalis mungkin karena sadar akan terbatasnya dana. Tapi ia beruntung. Parama mau membiayai produksi naskahnya. Tak ada masalah dana, Teddy akhirnya mengeksplorasi cerita Ruang hingga menjadi uraian panjang tentang orangtua tokoh utama, dan tentu saja menjadi sedemikian romantis.

Dan dari segi teknis gambar, dia cukup berhasil. Apalagi, mengingat Teddy memang hobi memotret. Setiap frame, adegan per adegan, dalam Ruang tertata begitu apik dengan komposisi sangat terjaga. Apalagi, lokasi syuting Ruang –Bromo, Pantai Kukup, dan sekitar Yogyakarta– memungkinkan Teddy bermain dengan sudut pandang.

Mata penonton pun sangat dimanjakan dengan adegan romantis berlatar matahari tenggelam, bersepeda di antara pohon-pohon karet, memandangi ombak atau bertatapan di bawah kucuran hujan. Tapi, sepanjang film itu, saya terus dihantui adegan di 10 menit pertama.

Ruang dibuka dengan kedatangan Rais (Slamet Rahardjo) dari luar negeri menemui Rima (Reggy Lawalata), adiknya. Rima ingin melaksanakan pesan terakhir ibu mereka untuk membuka bersama sebuah kotak. Di dalam kotak itu tersimpan: surat ibu sebanyak 50 lembar, beberapa buku tua, yang salah satunya berjudul ”Ruang”, sebuah potret seorang wanita tak dikenal (Luna Maya), dan sebuah potret tua ayah (Winky Wiryawan) dan ibu (Adinia Wirasti) mereka.

Tapi, apakah saya perlu penasaran? Sebab, ketika membuka surat ibu mereka, kalimat pertama yang tercantum di situ adalah: Rais bukan anak ibu. Terus terang saja, saya langsung lemas. Sempat ada setitik harapan ketika Rais kemudian protes: “Tidak mungkin Ibu yang sudah pikun dan sudah sekarat itu bisa menulis surat sepanjang 50 halaman yang menceritakan kisah cinta pertama suaminya, seakan dia berada di situ.” Nah, Slamet Rahardjo pun protes.

Namun Ruang melenggang dengan cuek tanpa merasa terbebani dengan pertanyaan itu. “Makanya, kita harus terus membaca surat ini agar menemukan jawabannya,” begitu nasihat Rima. Saya akhirnya terus menonton sambil mengakui bahwa Rima ada benarnya. Tapi Ruang –seperti yang saya khawatirkan– akhirnya diisi penuh dengan adegan kilas balik kisah cinta segitiga orangtua mereka tanpa sedikit pun mempertanggungjawabkan apa yang ditawarkan sejak awal.

Memang masih ada harapan. Sebuah buku usang yang tak selesai berjudul Ruang lebih menarik perhatian saya. Kenapa tak selesai? Jawabannya tak pernah saya dapat, karena Ruang sudah tersingkirkan sejak awal, dan lebih memilih surat panjang sebagai narator. Teddy memang tidak bisa disalahkan memilih judul itu.

“Saya suka kata itu karena simpel tapi bermakna sangat besar,” kata Teddy. Iya sih. Tapi rasanya kata ”ruang” terlalu berat untuk film ini. Kenapa judulnya bukan Surat saja, Ted? Akhirnya, seperti pada umumunya film Indonesia, Ruang hanya berupa karya dangkal yang sibuk mengurusi penampilannya.

(dipublikasikan di Majalah GATRA)