Tamparan Cannes Untuk Bush
Fahrenheit 911 memenangkan Palme D’or. Pada saat tragedi 11 September terjadi, Bush justru asyik membaca buku cerita!
“Governor Bush. It’s Michael Moore… ,”
“Behave yourself, will you? Go Find real work!”
PERCAKAPAN di atas adalah dialog imajiner antara Michael Moore dan Presiden Amerika Serikat George W. Bush yang terjadi dalam film dokumenter Fahrenheit 911. Percakapan ini boleh jadi ledekan Moore meramalkan kekesalan yang bakal dialami Bush akibat film Fahrenheit 911 garapannya itu.
Tapi, meski ditaburi “humor”, Fahrenheit 911 sungguh bukan film komedi. Pada salah satu momen Fahrenheit 911, misalnya, penonton disuguhi layar hitam pekat. Lalu terdengar narasi singkat: “ketika dua pesawat itu menghantam menara kembar di Manhattan”. Lalu layar pun tetap gelap membiarkan penonton dengan imajinasinya, hanya ditemani suara gemuruh pesawat membentur beton dengan kecepatan penuh.
Adegan layar hitam dalam Fahrenheit 911 itu memang hanya beberapa detik. Tapi kehitaman layar itu mampu membuat penonton menahan napas dan merasa melewati waktu yang panjang. Setelah itu, muncullah berbagai potongan adegan yang marak terlihat di stasiun-stasiun televisi seluruh dunia pasca-11 September 2001.
Derajat capaian sinematografis Fahrenheit 911 boleh jadi memang luar biasa. Pekan lalu, para juri di Festival Film Cannes menganugerahkan penghargaan Palme D’Or untuk film ini. Tapi sukses Fahrenheit 911 merebut penghargaan tertinggi di Festival Film Cannes, Prancis, ini justru dikaitkan dengan kehebohan politis yang timbul sebelumnya.
Sebelum mengikuti Festival Film Cannes, Fahrenheit 911 dicekal distribusinya oleh Disney, induk perusahaan Miramax yang memproduksi film ini. Fahrenheit 911 dituding terlalu berbau politik, dan semata menjelekkan Bush. Maka tak mengherankan jika keputusan juri Cannes memenangkan Fahrenheit juga dituding sarat muatan politis.
Quentin Tarantino, ketua dewan juri, jelas membantah. “Kami menilai kualitas sebuah film, bukan politik. Kami semua setuju Fahrenheit 911-lah yang terbaik,” katanya. Tarantino boleh jadi benar. Fahrenheit 911 tak melulu meluapkan dendam politik Moore. Ia juga berisi potongan fakta tak terbantah.
Juru kamera yang diselundupkan Moore berhasil mendapat sejumlah pernyataan tak tersensor pasukan Amerika di Irak. Mereka mengaku muak pada keputusan Bush. Moore juga merekam perubahan hidup Lila Lipscomb, warga Michigan suporter fanatik Bush. Lipscomb berubah jadi wanita putus asa setelah kehilangan putranya di Irak.
Tarantino mengakui, Fahrenheit tidak masuk kategori film bergambar indah. “Tapi nilai sebuah film tidak hanya dilihat dari indahnya,” kata sutradara Kill Bill ini. Rangkaian adegan Fahrenheit 911 kabarnya memang sempat membuat 14 juri Cannes terperangah sambil mengurut dada.
Dalam salah satu adegan paling dramatis, Bush terlihat duduk membaca buku cerita di sebuah sekolah dasar di Florida tepat pada 11 September 2001. Ketika seorang ajudan berbisik mengabarkan sebuah pesawat menabrak menara utara World Trade Center, wajah Bush tampak terpaku sejenak.
Tapi, detik demi detik jam dinding berputar, Bush tampak enggan beranjak dari kursinya. Detik berlanjut ke menit, Bush masih tetap duduk tanpa ekspresi. Setelah tujuh menit, barulah Bush beranjak. Itu pun setelah ajudannya kembali berbisik.
Juga diperlihatkan bagaimana pada hari-hari terakhir sebelum tragedi 11 September, Bush lebih banyak menghabiskan waktu di Texas. Bukan mengurus pemerintahan, melainkan membersihkan semak dan bermain golf. Ada potongan adegan ketika Bush sedang asyik membaca sebuah buku anak-anak berjudul My Pet Goat.
Dengan potongan gambar dan narasi ironis, Moore mengisi Fahrenheit 911 dengan beraneka perisiwa sejak pemilihan presiden 2000 yang dimenangkan Bush sampai konflik Irak. Ada adegan Bush sedang di-make up untuk penampilannya di TV mengumumkan perang. Saat itu, Bush terlihat seenaknya memainkan bola matanya.
“Bahkan di mimpi paling liar sekalipun, kamu tak akan bisa membayangkan Franklin Roosevelt bertingkah seperti ini 30 detik sebelum mengumumkan perang,” kata Moore dalam sebuah wawancara di Cannes.
Bagi beberapa kritikus, Palm D’Or yang diterima Fahrenheit adalah tamparan Prancis kepada invasi Presiden Bush ke Irak. Di malam penghargaan, usai layar tertutup, Fahrenheit 911 tercatat sebagai film yang mendapat standing ovation paling lama dalam sejarah Cannes.
Fahrenheit 911 adalah film dokumenter kedua yang memenangkan penghargaan Palm D’Or dalam sejarah Cannes. Yang pertama adalah The Silent World karya Jacques Cousteau 48 tahun lalu. Fahrenheit yang berdurasi 110 menit ini berhasil mengalahkan Old Boy, peraih Grand Prix (juara kedua) karya Park Chan-wook asal Korea Selatan.
Tahun ini, Cannes juga memberi penghargaan kepada artis Hong Kong Maggie Cheung sebagai aktris terbaik di film Clean. Sementara itu, aktor 14 tahun Yuuya Yagira dalam Nobody Knows dianugerahi penghargaan aktor terbaik.
AKU
Fahrenheit 9/11 : Hi Bush…

Film dahsyat yang “menakutkan”. Menggoda penghuni haram Ruang Oval. Bikin gusar orang putih yang bodoh.
DINASTI Bush tampaknya masih akan terus diutak-atik oleh Michael Moore. Sebelumnya, Moore pernah “menggoda” Bush dengan bukunya, Stupid White Man. Di situ, Bush dituding sebagai pemimpin maling dan penghuni haram Ruang Oval di Gedung Putih.
Nah, film terbaru Moore, Fahrenheit 911, kembali bikin keluarga Bush berang. Moore boleh senang. Misinya untuk memancing emosi klan Bush berhasil. Film itu dikecam keras oleh Bush dan konco-konconya. Kalau hanya diprotes, Moore, yang memang hobi mengkritik Pemerintah Amerika, bisa cuek. Masalahnya, Miramax, investor sekaligus distributor Fahrenheit 911, ikut ditekan. Ujungnya, kontrak pendistribusian film itu dibatalkan.
Ceritanya, April 2003, Moore, sutradara Bowling for Columbine yang menang Oscar 2002, menandatangani kontrak kerja sama dengan Miramax. Salah satu divisi di Walt Disney Co itu jadi investor sekaligus distributor film terbarunya, Fahrenheit 911. Sebelumnya, Moore yang juga aktivis politik dan wartawan akan berkolaborasi dengan Icon Production. Tapi, menurut juru bicara Icon, film itu tidak sesuai dengan visi dan misi perusahaan milik Mel Gibson itu.
“Mungkin juga mereka menganggap film ini terlalu berisiko,” kata Moore. Maklum, Fahrenheit 911 adalah hasil investigasi serangan 11 September 2001. Film itu mengutak-atik hubungan finansial antara Bush dan keluarga terkemuka di Arab Saudi –termasuk keluarga Osama bin Laden– selama tiga dekade.
Tak hanya itu. Fahrenheit 911 juga mempertanyakan kegiatan Bush sebelum dan sesudah serangan 11 September itu. Menurut Moore, film itu juga menyinggung peran pemerintah dalam evakuasi keluarga Bin Laden dari Amerika, sesaat setelah serangan 11 September.
Dalam kontrak disebutkan, Miramax akan mengedarkan Fahrenheit 911 di Amerika lewat salah satu anak perusahaan Disney yang lain, Buena Vista Distribution. Disebutkan juga, Miramax punya hak edar dan pemasaran Fahrenheit 911 di seluruh dunia.
Masalah muncul sebulan kemudian. Saat pengambilan gambar sedang berlangsung, Michael Eisner, salah satu petinggi Disney di Florida, mendatangi agen Moore, Ari Emanuel. Eisner kesal karena Miramax menandatangani kontrak itu.
Memang, sebelumnya partai konservatif Amerika sempat mengecam Disney saat membiarkan Miramax bekerja sama dengan Moore. “Eisner meminta saya untuk tidak menjual film ini kepada Harvey Weinstein,” kata Emanuel. Harvey Weinstein adalah petinggi di Miramax sekaligus penyandang dana untuk Partai Demokrat –lawan Partai Republik-nya Bush.
Selain itu, menurut Emanuel, Eisner sempat bilang, ia tidak akan membiarkan film Moore itu diedarkan melalui Disney. Padahal, Eisner belum tahu film itu tentang apa. Dalam pembicaraan dengan Emanuel, Eisner khawatir, Fahrenheit 911 akan mengganggu bisnis Disney yang lain di Florida.
Eisner juga menyinggung nama Jeb Bush, Gubernur Florida, saudara George W. Bush. Soalnya, selama ini Jeb Bush banyak membantu meringankan pajak bisnis Disney di Florida. Eisner tidak mau Jeb Bush gusar dan mempersulit proyek-proyek Disney di Florida.
Lucunya, meski kesal, Michael Eisner tidak memberitahu Miramax untuk menghentikan pembuatan film itu. Produksi Fahrenheit 911 tetap berjalan mulus. Hingga tahun berganti, US$ 6 juta uang Disney tetap mengalir untuk produksi film itu. Miramax juga meyakinkan Moore bahwa tidak ada masalah dengan distribusi film tersebut.
Beberapa pekan lalu, Fahrenheit 911 masuk nominasi di Festival Film Cannes, Prancis. Disney kemudian mengirimkan copy Fahrenheit 911 ke para eksekutif di New York. Sampai hari itu, Michael Eisner belum juga menyimak Fahrenheit 911. Para eksekutif Disney malah sangat antusias menontonnya.
Mereka bilang, “Film ini dahsyat.” Moore menilai tanggapan “dahsyat” itu adalah tanda positif dari Disney untuk memberi restu pada Fahrenheit. Tapi, beberapa hari kemudian, Moore mendapat kabar jelek. Rupanya, tanggapan “dahsyat” itu bermakna lain. “Dahsyat dalam pengertian mereka berarti mereka harus lari dari tanggung jawab atas film ini secepat yang mereka bisa,” tulis Moore dalam suratnya kepada para netter.
Miramax melakukan segala upaya untuk meyakinkan Disney agar tetap mengedarkan film itu. Meski mereka mengaku keputusan itu tidak ada hubungan dengan politik, tetap saja pihak Disney ogah menyentuh Fahrenheit 911. “Keputusannya sudah tidak dapat diganggu gugat,” kata Zenia Mucha, juru bicara Disney.
Tapi bukan Moore namanya kalau mau mengalah. “Beberapa orang mungkin takut menyaksikan fakta yang dibeberkan film ini. Tapi tak ada yang dapat menghalangi film ini untuk disaksikan oleh siapa saja,” kata Moore. Kita tunggu!
AKU

leave a comment