Day 8: Filipina, Malaysia, Thailand, and seterusnya
Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62
…nggak enaknya bangun pagi ditemani kopi tak enak yang kata mas Arya adalah kopi yang ditolak di pasaran dan disuguhkan buat para jurnalis di Cannes. Kopi tak enak ini juga tidak membantu menyegarkan ingatan tentang percakapan-perckapan kemarin. Hmmmm…
Oh ya, tentang film Filipina. Setiap orang punya pendapat berbeda dengan argumen masing-masing. Raya Martin misalnya tidak setuju kalau filmnya terpilih karena diproduseri orang Perancis. Ia juga membantah kalau filmnya masuk ke program utama karena ia mantan peserta Cinefoundation Residence. “Banyak filmmaker yang sudah pernah jadi peserta program itu dan tidak semuanya bisa menembus seksi penting di Cannes,” kata Raya.
Tan Chui Mui setuju. “Program Cinefoundation itu memang membuka peluang kami mengenal industri film dan cukup membantu mengajarkan bagaimana caranya mendapat funding. Tapi itu bukan jaminan. Tentu saja pengurus Cinefoundation mengikuti perkembangan proyek kami, tapi untuk bisa menembus seksi bergengsi di Cannes itu lain lagi ceritanya,” kata Mui yang jadi peserta residensi pada 2007 lalu.
Mui juga sependapat dengan Zuilhof bahwa para programmer di Cinefoundation juga berusaha membuka peluang seluas-luasnya kepada sutradara-sutradara muda dari Asia Tenggara untuk mengajukan aplikasi. “Tentu saja kita harus mendaftar, mengajukan proyek dan proposal. Itu prosedur. Tapi bahwa mereka desperately seeking for Southeast Asia filmmakear, itu benar.” Kata Mui.
Cinefoundation yang memulai program residensi ini sejak 2000 hingga saat ini baru menjaring 3 filmmaker dari asia tenggara yaitu Raya Martin, Tan Chui Mui dan Liew Seng Tat. “Saking inginnya mereka punya peserta dari Asia Tenggara waktu itu, mereka berkali-kali meminta saya untuk mendaftar,” kata Mui. Karena itu, Mui menyarankan agar sutradara-sutradara muda dari Asia Tenggara dan tentu saja Indonesia juga mendaftar ikut program ini.
Sepanjang pengetahuan saya, sudah banyak filmmaker dari program ini yang kemudian berhasil hingga ke Cannes. Misalnya sutradara perempuan asal Argentina, Lucrecia Martel yang berhasil masuk ke seksi kompetisi utama tahun lalu dengan filmnya The Headless Woman –script film ini dikerjakan selama mengikuti program residensi 2002.
Lalu ada Kornel Mundruczo yang menjadi peserta residensi 2004. Di tahun 2005, film Mundruczo, Johanna masuk seksi Un Certain Regard di Cannes lalu menyusul Delta di tahun 2008 yang masuk seksi kompetisi utama. Di tahun itu, Delta mendapat penghargaan dari Fipresci sebagai film terbaik. Pengembangan skrip Delta juga dikerjakan selama mengikuti program residensi. Dan masih banyak lagi sutradara muda lainnya.
So…wahai para filmmaker Indonesia. Jangan lewatkan kesempatan emas ini. Rebut kesempatannya dan nikmati fasilitasnya!
…hmmm, makin hari makin tidak bisa fokus mengomentari film. Terlalu banyak cerita di kepala. Beberapa film harus saya tonton lagi. Dua tahun lalu, Death Proof - nya Tarantino terlihat cool. Tapi begitu saya tonton lagi ketika tidak ada kerjaan, ternyata film itu membosankan sekali. Untuk selanjutnya, komentar yang saya tulis untuk sebuah film jangan terlalu dimasukkan di hati. Bisa berubah sewaktu-waktu tanpa Anda sadari.
Film-film kemarin:

Los Abrazos Rotos (Broken Embraces) –Pedro Almodovar— Kompetisi
It’s a very Almodovar, but it’s just a good movie. Not his masterpiece.

Demain Des L’aube (Tomorrow At Down) – Denis Dercourt—Un Certain Regard
Saya tertidur di 20 menit pertama. Berusaha tertawa walau garing di menit selanjutnya. Dan bosan di menit-menit terakhir.

Amintiri Din Epoca De Aur –Cristian Mungiu and the gang—Un Certain Regard
Filmnya lucuuuuuu banget! Tentang legenda-legenda dan kebiasaan-kebiasaan di era komunis di Romania. Jadi ingat cerita-cerita lucu dan kewajiban-kewajiban menggelikan di jaman Orde Baru di Indonesia. Mulai dari upacara bendera sampai menonton film G30 S tiap tahun.

Les Herbes Folles (Wild Grass) –Alain Resnais—Kompetisi
‘Saya tidak mengerti kenapa film saya ini dipilih masuk kompetisi’. Itu kata Alain Resnais sendiri loh, bukan kata saya. Tapi saya percaya, ada film-film tertentu yang baru bisa dimengerti ketika kita sudah tiba di usia tertentu. Nah, mungkin saya baru bisa menikmati Les Herbes Folles dan dagelan-dagelannya ketika saya nanti berusia hmmm… lets say, 40 hingga 50 tahun ?
Film-film hari ini:

Inglorious Basterds –Quentin Tarantino—Kompetisi
Dengan kesadaran penuh, saya memilih tidak menonton film ini di Cannes karena minggu depan Basterds sudah akan rilis di bioskop. Jadi saya memilih untuk bertemu dengan sutradara dan aktor-aktornya saja. Tapi yang namanya Quentin Tarantino apalagi ada Brad Pitt, bisa dibayangkan bagaimana para fotografer akan saling injak menginjak untuk bisa mendapat foto-foto mereka dan para fans yang tega saling menyikut demi untuk mendapat tanda-tangan Brad Pitt.
Jadi agar terhindar dari sikut menyikut sesama fans dan selamat dari injakan fotografer, ditengah-tengah mereka yang berteriak ‘Brad Pitt…Brad Pittttt…Braaaaaaddd Piiiiiiiiiiit! Saya dengan suara full volume, heboh berteriak…Michael…Michaeeeeelll Fassbenderrrr! Dan berhasil. Kami pun bisa ngobrol ditengah-tengah orang berdesakan.
Saya : “You’re great in Hunger and Fish Tank!”
Michael : “Really? Wow, thank you very much.” (dengan aksen Inggrisnya yang kental dan seksi itu…hmmmm yummy!)
Saya : “Would you give me your autograph?”
Michael : “Sure”
Tak lama kemudian semua orang berkerumun meminta tanda tangan Fassbender sementara tak jauh dari situ terlihat kubu Brad Pitt bubar dengan tangan kosong karena Pitt yang sibuk melambai ke sana kemari.

Einaym Pkuhot –Haim Tabakman—Un Certain Regard
Aihhhh…tema gay memang belakangan ini jadi favorit rupanya. Dari China, Filipina, Perancis, hingga Israel. Gay Kristen, Muslim dan sekarang Yahudi. Saya tidak punya masalah dengan gay. It’s none of my business. Tapi melihat dua lelaki berjenggot dengan rambut kriwil-kriwil dikuping (ciri khas pria Yahudi) ciuman dan beradegan seks, bulu kuduk saya merinding juga. Nampaknya saya harus mulai terbiasa melihat adegan seks antar manusia dari jenis apapun.
Nang Mai –Pen-Ek Ratanaruang—Un Certain Regard
Nonton hanya setengah karena ada janji wawancara. Tidak bisa komentar.

Das Weisse Band (The White Ribbon)—Michael Haneke—Kompetisi
Ini yang saya bilang film bagus tanpa cela dan saya tidak perlu menambah kata ‘tapi’. Untuk seksi kompetisi, film ini saya masukkan dalam peringkat pertama menyusul A Prophet-nya Jacques Audiard lalu Looking For Eric-nya Ken Loach. Semoga film ini menang! Amin.
Day 7: Mengapa Filipina?
Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62

Gunjingan soal film-film Filipina yang seperti tiba-tiba berhamburan masuk Cannes makin ramai setelah semalam dua film Filipina dipertontonkan didepan publik. Keduanya karya Raya Martin pula. Independencia di Un Certain Regard dan Manila di Special Screening hasil kolaborasi Raya dengan sesama sutradara Filipina, Adolfo Alix Jr.
Selain dua film yang masuk seleksi dua program bergengsi Cannes ini, tentu kita tak lupa pada Kinatay karya Brillante Mendoza yang tembus ke seksi paling puncak, kompetisi utama. Dan kita juga tentu tidak lupa, bahwa Mendoza berhasil menembus kompetisi utama dua kali berturut-turut. Pencapaian yang cukup mencengangkan dari salah satu negeri di Asia Tenggara yang belakangan ini jarang dibicarakan sejak munculnya gerakan sineas muda dari negeri tetangga Malaysia.
Tentu saja, spekulasi kemudian beredar dikalangan masyarakat film Cannes. Apalagi banyak kritikus yang kemudian ‘membantai’ film itu. Salah satu kritik paling pedas datang dari kritikus kenamaan Roger Ebert yang menganugerahkan Kinatay sebagai The worst film in the history of Cannes Film Cinema. Kritikus yang lain bergunjing kenapa film ini bisa masuk kompetisi.
Ada spekulasi bahwa banyaknya film Filipina tahun ini di seksi bergengsi karena dibiayai oleh produser Perancis yang tentu saja punya akses dan jaringan ke para programmer Cannes. Selain itu Raya Martin misalnya pernah terpilih sebagai salah satu peserta Cinefoundation Cannes Residence, sebuah program untuk membina para sutaradara muda untuk menulis script, mencari jalur untuk mewujudkan proyek mereka dan tentu saja bagaimana menembus industry film secara professional.

Apapun alasannya, kemunculan film-film Filipina di Cannes tahun ini memang cukup bikin penasaran. Film Filipina pertama yang pernah masuk seksi kompetisi di festival ini adalah My Country: Gripping the Knife’s Edge karya sutradara ternama Lino Brocka di tahun 1984. Posisi My Country baru tergeser setelah 24 tahun dengan masuknya Serbis karya Brillante Mendoza pada 2008 lalu. DI tahun yang sama, film Raya Martin berjudul Now Showing juga terpilih di Director’s Fortnight Cannes.
Setelah generasi Lino Brocka yang merupakan generasi era keemasan sinema Filipina ditahun 70an, memang ada jarak panjang dan lebar antar generasi. Di akhir tahun 80an, sinema Filipina kebanjiran produksi massal film-film komersial hingga kualitas dunia sinema mereka langsung jatuh nyaris dititik nol. Barulah di2000an, sineas independen Filipina mulai menampakkan tanda-tanda kehidupan.
Kemunculan para sineas independen ini tanpa basa-basi langsung menghentak dengan membuat film-film yang kritis dengan gaya mereka masing-masing terhadap masalah-masalah sosial politik disekitar mereka. Contohnya Small Voices karya Gil Portes ditahun 2002 yang mengkritisi sekaligus menuntut perbaikan system pendidikan di Filipina. Lalu beberapa tahun belakangan makin banyak lagi sineas-sineas berbakat yang unjuk gigi dengan hadirnya teknologi digital. Para sineas yang kemudian langsung menarik perhatian industri perfilman nasional, antara lain Brillante Mendoza yang memilih aliran Dogma serta cinema verite untuk membuat film. Dan tentu saja ada Lav Diaz dengan ekperimental filmmakingnya. Sementara Raya Martin yang relatif berusia lebih muda (24 tahun) justru lebih memilih kembali ke old school filmmaking.
Tapi dengan berbagai aliran yang diterapkan oleh para generasi baru sineas Filipina ini, mereka punya satu kesamaan: statemen politik yang kuat dan sama-sama menggarisbawahi sosial isu di Filipina. Bahkan Kinatay, film yang dianggap buruk itu –lepas dari thriller dan adegan seram-seramnya– jika dilihat lebih dekat sangat jelas mengkritisi budaya korup dalam sistem keadilan di Filipina.
Salah satu kritikus ternama dari Asia Tenggara, Anchalee Chaiworaporn, mengakui bahwa film Filipina dengan gaya atau genre apapun, selalu kuat dengan statemen politiknya. “Coba saja perhatikan film-film Mendoza sebelumnya seperti Foster Child atau bahkan Serbis. Lepas dari kualitas teknis dan gaya penceritaan, lewat film-film itu Mendoza punya sesuatu untuk diceritakan dan dibicarakan. Sama halnya dengan Kinatay,” kata Anchalee.
Foster Child bicara tentang kehidupan ibu pengasuh bayi yang akan diadopsi kemudian hari dan menjadi ladang duit bagi departemen sosial dan Serbis tentang matinya industri bioskop karena pajak tinggi dari pemerintah. Dan menurut Anchalee, pernyataan politis dan isu sosial yang kuat lewat film selalu mendapat tempat di Cannes.

Pendapat Anchalee ini sejalan dengan pernyataan programmer festival Cannes, Thierry Fremaux. Walaupun Fremaux selalu berkeras bahwa Cannes bukanlah festival film politik, tapi ia percaya bahwa sinema bisa jadi salah satu alat untuk mengubah dan menyelamatkan dunia. “Dan Cannes Film festival adalah medium untuk menyebarkan pesan itu,” lanjut Fremaux.
Pembicaraan saya dengan Anchalee berlanjut dengan pertanyaan mengapa film Malaysia dari generasi baru yang berjaya diberbagai festival internasional tidak sampai ke Cannes. Bahkan dengan dua sineasnya Tan Chui Mui serta Liew Seng Tat yang juga terpilih dalam program Cinefoundation Residence setelah Raya Martin. “Karena film mereka yang sangat personal walaupun mereka berusaha memasukkan unsur-unsur sosial politis tapi terasa mereka masih ragu-ragu,” kata Anchalee.
Gertjan Zuilhof, programmer Rotterdam Film festival yang khusus menangani film-film Asia itu punya pendapat lain. “Film personal juga banyak di Cannes. Saya rasa persoalannya lebih ke soal waktu dan keberagaman pilihan. Saya sebagai programmer misalnya, jika disuruh memilih dua film dengan kualitas sama, yang satu dari Amerika, satunya lagi dari Filipina, tentu saja saya memilih Filipina. Atau jika ada film Vietnam, Kamboja, atau Laos kemungkinan saya juga akan memberikan pengecualian,” kata Gertjan.

Zuilhof memberi contoh di program Director’s Fortnight tahun ini. Setelah 15 tahun, barulah ada film Malaysia. Tahun ini yang terpilih adalah film berjudul Karaoke karya Chris Chong. “Itu salah satu contoh, bahwa yang paling diinginkan oleh seorang programmer festival adalah film dari wilayah-wilayah baru dan nama baru agar para festivalgoers tidak bosan dengan sineas yang itu-itu juga, tentu saja dengan tidak mengesampingkan kualitas. Mereka selalu ingin menemukan Apichatpong baru,” kata Zuilhof.
Dan menurut Zuilhof, itu pula yang terjadi dengan film-film Filipina yang membanjir tahun ini. “Tahun ini film-film Filipina, mungkin tahun depan beda lagi.”. Karena itu menurut Zuilhof, filmmaker dari negeri negeri Asia seperti Indonesia punya banyak peluang. “Hanya saja memang perlu ada peningkatan kualitas yang masih menjadi prioritas utama para programmer ketika memilih film,” kata Gertjan.
Pembicaraan menarik ini terpaksa terhenti. Besok saya lanjutkan karena saya harus menonton film lagi.***
leave a comment