Emir Kusturica (Bag. I): Bidadari Diatas Kustendorf
Emir Kusturica, sutradara ternama kelahiran Sarajevo, tiba-tiba mengejutkan orang dengan sesuatu yang berbeda. Oktober lalu, ia bertandang ke Brussel untuk menerima penghargaan Philippe Rotthier Prize for the Reconstruction of the City. Ini penghargaan arsitektur prestisius yang diberikan tiga tahun sekali oleh Foundation of Architecture Uni Eropa yang berpusat di Brussel.
Penghargaan itu diraih Kusturica untuk karya “arsitektur”-nya, Kustendorf, sebuah desa buatan yang cantik. Ternyata, Kustendorf lahir dari kisah panjang tentang impian dan kekecewaan. Di sudut Museum Architecture Brussel, kepada wartawan Gatra Asmayani Kusrini, Kusturica berkisah panjang menuturkan kegelisahannya.
DESA kecil itu bernama Kustendorf. Berdiri di puncak sebuah bukit yang tiap pagi diselimuti halimun. Dikelilingi pohon-pohon liar yang menghijau di musim semi dan memutih di musim dingin. Setiap hari, Kustendorf akrab dengan suara-suara angin, gesekan daun yang berpadu dengan cicit burung-burung mungil. Tapi kini, sesekali suara alam itu terdistorsi sayup-sayup dentuman drum, berpadu dengan harmonisasi gitar atau violin.
Simfoni sunyi itu hanya diganggu sekali seminggu oleh raungan suara lokomotif dari stasiun kereta kecil sejauh 1 kilometer dari Kustendorf. Sehari-hari, para penduduk asli Kustendorf lebih banyak bercengkerama di teras rumah atau sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang asyik memainkan gitar, ada yang sibuk mengutak-atik kamera film, ada yang terlihat sibuk melukis, dan yang lain bercengkerama dengan tamu.
Tak terlalu banyak aktivitas yang terlihat. Ini karena penduduk Kustendorf tidaklah banyak dan tidak dimaksudkan untuk menjadi banyak. Penduduk asli Kustendorf untuk sementara tercatat tak lebih dari 10 orang: Emir Kusturica, istrinya, Maja, dua anak mereka, Stribor, 26 tahun, dan Dunja, 18 tahun, lalu empat orang anggota kelompok musik No Smoking Orchestra dan dua teman bermusik Stribor.
Selain mereka, penduduk Kustendorf saat ini berstatus sebagai penduduk sementara. Kustendorf menjadi tempat hidup sementara orang-orang yang datang dan pergi untuk bekerja, belajar, atau sekadar berkunjung ke desa mungil itu.
Kustendorf adalah proyek pribadi Emir Kusturica, sutradara film dan musisi kelahiran Sarajevo. Nama Jerman tersebut dipilih sendiri oleh Kusturica. Secara harfiah, Kustendorf bisa berarti ”Desa di Pesisir”. Tapi, karena letaknya tepat di jantung sebuah gunung, banyak yang menduga nama desa itu berasal dari nama Kusturica sendiri, Kustu-dorf, atau ”Desa Milik Kustu”.
Meski belum menjadi pengetahuan umum, desa ini sudah tertera secara resmi di peta Serbia. Alamatnya juga sudah tercatat di kantor administrasi Serbia, lengkap dengan kotak pos khusus. Padahal, Kustendorf baru berumur satu tahun.
Kustendorf lahir pada 24 September 2004 dari tangan Emir Kusturica, yang oleh teman-temannya akrab dipanggil Emir. Uniknya, Kustendorf sama sekali tidak diniatkan lahir sebagai sebuah desa. Awalnya, Kusturica hanya ingin mencari sebuah desa yang siap dijadikan lokasi untuk syuting film Life is A Miracle. Namun desa-desa di sekitar Serbia ternyata tak ada yang memenuhi keinginannya.
Pasalnya, Kusturica mencari desa tradisional yang sama sekali belum tersentuh peradaban baru. Rumah-rumah yang berdiri di situ harus asli rumah tradisional Balkan. Bagi Kusturica, sebenarnya mudah saja mengatur tampilnya desa impian itu dalam batas lensa kamera. Tapi ia berniat menjadikan filmnya kali ini benar-benar terlihat nyata.
Capek mencari desa yang tepat, ide gila tiba-tiba muncul di benak Kusturica: membangun sendiri desa yang diidamkannya. “Kenapa tidak?” pikirnya. Maka, pada 2002, berbekal kredit dari bank, Kusturica bergerilya mencari lokasi yang tepat. Sempat terpikir untuk membangun desa itu di tepi sungai sehingga lebih mudah mencapainya.
Tapi akhirnya Kusturica malah jatuh cinta pada sebuah lokasi di salah satu bukit di Pegunungan Chargan. Letak lahan itu dekat dengan perbatasan Serbia-Bosnia, tak jauh dari Visegrad, kota kecil di tepi Sungai Drina, bagian dari Bosnia dan Herzegovina. Meski sadar bahwa risiko konstruksinya lebih rumit dibandingkan dengan membangun desa di dataran rendah, Kusturica tak berpikir dua kali untuk membeli lahan itu.
Proyek “gila” itu tentu saja membutuhkan waktu yang tidak singkat. Apalagi Kusturica bertekad mengisi lahan itu dengan rumah-rumah tradisional asli setempat. Dengan menggunakan jip Land Cruiser kesayangannya, Kusturica pun berkeliling di pelosok-pelosok Serbia mengumpulkan rumah-rumah kayu yang terbengkalai dan tak terpakai. Jika rumah kayu itu tidak bisa dibangun lagi, Kusturica memereteli bagian-bagiannya.
Untuk mengumpulkan dan membawa 25 rumah tradisional, Kusturika memerlukan waktu hampir satu tahun. “Kesulitan pertama adalah mengangkut rumah-rumah tersebut ke atas gunung, karena lokasi ini belum memiliki infrastruktur,” kata Kusturica. Apalagi, Kusturica juga tidak ingin mengubah rumah-rumah tersebut, baik dari segi bentuk, model, maupun konstruksinya.
Toh, akhirnya tetap harus ada kompromi. “Rumah tradisional di daerah Balkan, apalagi rumah tua, selalu berjendela sangat kecil, sehingga pencahayaan dan penghawaan dalam ruang jadi tidak sehat,” ujar Kusturica. Karena itulah, sejumlah perubahan kecil dilakukan. Selain ventilasi yang dibuat lebih lebar, saluran pembuangan juga dibuat menggunakan pipa modern.
Akhirnya, ketika sejumlah rumah sudah berdiri, Kusturica tidak lagi menganggapnya sebagai proyek kecil-kecilan untuk lokasi syuting. Kustendorf bukan lagi sebuah tempat sementara yang ketika film selesai dibongkar dan ditinggalkan. Kustendorf tumbuh menjadi obsesi bagi Kusturica. Sebuah mimpi yang lama ia lupakan hadir kembali. Kali ini, Kusturica melihat sebuah harapan.
Tolong, Kota Saya Terbakar
DULU Kusturica sering bermimpi jadi bidadari. Bisa terbang tinggi dan menikmati segalanya dari awan. Kusturica kecil pernah tinggal di atas bukit Gorica, Sarajevo. Gorica atau Crnj Vrh (Bukit Hitam) adalah tempat tinggal para gipsi selama lebih dari dua abad. Kusturica sering menghabiskan waktu berlari bebas di antara pohon-pohon liar yang banyak tumbuh di sekitar Gorica.
Hobi Kusturica kecil adalah duduk di atas pohon sambil memandangi aliran sungai serta hutan di sekitarnya dari ketinggian. Di musim panas, ia biasa bertelanjang dada dan membiarkan tubuhnya menikmati embusan angin. Kadang ia bertingkah seperti burung yang sedang terbang. Hari-hari masa kecil Kusturica di Gorica memang banyak dilalui dengan bermimpi.
Tapi akhirnya mimpi-mimpi indah Kusturica menjadi bidadari yang melayang sambil bersenda gurau dengan burung kecil berubah menjadi mimpi buruk. Hujan musim semi yang sejuk mengguyur desa kecilnya yang asri di atas bukit Gorica telah berganti dengan hujan granat. Desa itu porak-poranda tersapu perang. Desa tempat para gipsi Sarajevo itu pun rata dengan tanah.
Ketika suatu hari, setelah perang, Kusturica berkunjung ke Gorica, kenangan indah tentang desa asri yang masyarakatnya hidup tenang terganti. Desa itu kini kumuh dan berdebu. Maka, Kusturica pun berubah. Dari seorang anak lelaki yang sering bertelanjang kaki, berlarian di atas rumput liar dengan tawa yang bebas, menjadi lelaki pemberang yang berteriak lantang: “Europe, my city is burning!”
Teriakan Kusturica kepada Uni Eropa itu muncul di buletin Prancis, Le Monde edisi 24 April 1992. Oleh redaksi buletin itu, naskah Kusturica diberi judul ”Scream”. Dalam surat terbuka berisi kerisauan, kemarahan, sekaligus permohonan bantuan yang ditulis dengan berapi-api itu, Kusturica meminta Uni Eropa menghentikan perang di Balkan. Berikut petikan isi suratnya:
“Anda semua sedang mengubah wajah Balkan, tapi jangan lupa, Anda harus bertanggung jawab menghentikan perang yang mengamuk di sana. Negeri saya sekarang dipenuhi granat. Sarajevo berlinang air mata dan berkubang darah.”Saya tahu, sulit untuk mengerti pekikan saya. Di Paris, kala langkah pertama demokrasi dibuat 200 tahun lalu, seluruh Paris bermandi darah. Tapi tolong jangan tinggalkan Sarajevo dan jangan biarkan ia menjadi Paris seperti 200 tahun lalu.”Pertikaian etnis sudah diperkenalkan di Balkan selama ratusan tahun: Di sanalah tanah tempat kekaisaran terbaik tercabik, di sanalah Kekaisaran Roma pecah menjadi dua, timur dan barat, di sanalah Kekaisaran Ottoman menemui ajal, di sanalah bangsa Austro-Hongaria terkubur.Surat itu tidak pernah ditanggapi. Tapi impian Kusturica untuk hidup di sebuah desa yang tenang seperti Gorica tetap tersimpan.
”Eropa, konfrontasi kaum muslim Bosnia dan puak Serbia Bosnia tidak otentik, tapi rekayasa, tumbuh di atas kekaisaran yang sudah lama mati yang masih menyisakan abu dendam mereka untuk keturunan yang tak berdosa.
”Benih konfrontasi yang dipupuk oleh gerakan nasionalis dengan berbagai macam alasan. Ini adalah api yang Anda sulut dan Andalah yang harus memadamkan. Sudah waktunya memeriksa hati nurani Anda, Eropa, jika memang Anda memang pernah ada!”
Tertanda
KUSTURICA, EMIR
Kustendorf Rumah Kedua
SEBELUM memiliki Kustendorf, obsesi Kusturica adalah membangun sebuah rumah. “Rumah tempat saya bisa merasakan arti pulang,” kata Kusturica. Rumah tempat dia dan keluarganya bisa diterima dengan tangan terbuka tanpa pengotakan etnis. Tumbuh di wilayah dengan konflik etnis yang intens, membuat Kusturica tidak pernah merasa benar-benar punya rumah.
Dulu, dia menganggap Sarajevo kampung halamannya. Kusturica memang lahir di Sarajevo pada 1954. Ia lahir sebagai anak satu-satunya dalam keluarga muslim Bosnia sekuler. Sejak muda, Kusturica antusias menanggapi segala bentuk pemberontakan remaja seusianya. Apalagi jika itu menyangkut konflik etnis. Ia dikenal sebagai pemberontak karena ogah mengklasifikasikan diri di kelompok tertentu.
Karena itu, pada usia 18 tahun, pamannya yang tinggal di Praha meminta Kusturica belajar di Akademi Film dan Musik Praha, FAMU. Tidak butuh waktu lama, nama Kusturica sudah tenar di FAMU karena kegemarannya membuat film pendek bertema Sarajevo atau Yugoslavia. Oleh teman-temannya di FAMU, ia malah dinobatkan sebagai Pangeran Sarajevo.
Sayang, ketika Kusturica sedang asyik bereksperimen membuat film, perang meletus di Yugoslavia. Pada 1992, tentara Serbia dengan bantuan tentara Yugoslavia memulai kampanye meneror kaum muslim dan orang Kroasia Bosnia. Ketika itu, pemimpin Republik Bosnia pun menggagas pembentukan sebuah republik yang melepaskan diri dari Yugoslavia.
Ketika pertempuran pecah, Kusturica sedang berada di Paris. “Saya salah satu orang yang tidak ingin mempercayainya,” ujar Kusturica. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Apalagi, bahkan sebelum perang, Kusturica sudah menjadi korban konflik etnis. Di tengah orang Bosnia, dia dianggap tidak cukup Bosnia. Dia juga tidak pernah bisa bergaul dengan orang nasionalis Serbia yang menganggapnya terlalu Bosnia.
Kusturica tercatat pernah menantang Vojislav Seselj, seorang ultranationalis radikal Serbia, politikus dan pemimpin paramiliter, untuk duel dengan tangan kosong di Beograd. Seselj menolak sambil mengatakan tidak ingin bertanggung jawab atas kematian seorang seniman naif.
Di awal pengepungan Sarajevo itulah Kusturica menulis permohonan bergeloranya di Le Monde. Tapi, tak lama setelah itu, sekelompok orang muslim Bosnia merampok apartemen orangtuanya di Sarajevo. Beruntung, orangtua Kusturica sudah mengungsi ke Montenegro. Tapi beberapa penghargaan untuk filmnya tak urung disikat para perampok itu.
Beberapa bulan kemudian, ayah Kusturica meninggal karena serangan jantung. “Perang ini membunuhnya,” kata Kusturica. Ini salah satu alasan yang membuat Kusturica tak mau memberi maaf untuk Sarajevo. “Ayah saya selalu bilang bahwa kami adalah orang muslim, tapi saya tidak pernah terlalu peduli,” tutur Kusturica. Setelah kematian ayahnya, Kusturica berkurung dalam perpustakaan untuk mencari silsilah keluarganya.
Dia mendapati bahwa klan Kusturica sebelumnya adalah keluarga Kristen Ortodoks Serbia, tapi beberapa abad lalu klan Kusturica memutuskan masuk Islam di bawah dominasi pemerintahan Ottoman. Cerita soal perpindahan menjadi Islam sebenarnya hal yang lumrah dalam keluarga Slavs muslim Bosnia. Tapi Kusturica menolak mengklaim diri sebagai muslim Bosnia atau Serbia.
Ia memilih mengaku sebagai orang Yugoslavia, campuran budaya kompleks terdiri dari Katolik, Kristen Ortodoks, muslim, Yahudi, gipsi –campuran agama, etnis, dan sejarah yang bersama membentuk satu bangsa. Pada masa Perang Balkan, banyak kaum senegeri Kusturica sadar bahwa Yugoslavia adalah kata sandi untuk dominasi Serbia. Toh, Kusturica terus bersikeras bahwa dia adalah orang Yugoslavia, titik.
Istri Kusturica, Maja, adalah keturunan orang Serbia Bosnia dan orang Slovene-Croat. Ini menjadikan keturunan pasangan Emir Kusturica-Maja, yaitu Stribor, 26 tahun, dan Dunja, 18 tahun, adalah Slovene-Croat-Bosnian-muslim Serbs. Karena itu, banyak orang mengatakan bahwa keluarga Emir Kusturica adalah lambang Yugoslavia.
Meski banyak waktunya dihabiskan dengan mengembara ke Eropa Barat, Kusturica selalu bermimpi ingin pulang. Kerinduannya terhadap kampung halaman tersurat dalam setiap filmnya. Karya-karya Kusturica hampir selalu berlatar Yugoslavia. Ironisnya, di bagian wilayah Yugoslavia mana pun, dia tidak pernah merasa diterima.
Hidup Adalah Sebuah Keajaiban
ALKISAH seorang insinyur Serbia, Luka, sedang membangun rel yang menyambung Bosnia dan Serbia untuk dijadikan infrastruktur industri pariwisata. Luka menolak untuk percaya bahwa situasi antara Bosnia dan Serbia sedang gawat. Ia juga menolak untuk percaya bahwa perang akan meletus.
Sampai akhirnya kenyataan menyadarkan Luka: pada suatu hari istrinya kabur dengan seorang musisi, anak lelakinya dipaksa masuk tentara oleh pihak Serbia dan ditangkap oleh tentara Bosnia. Di tengah kekacauan hidupnya itu, Luka bertemu dengan Sabaha, seorang wanita muslim Bosnia. Luka pun berniat menjadikan Sabaha sandera untuk ditukarkan dengan Milos, anaknya.
Tetapi takdir mereka berkata lain. Ketika perang meluas, dibingungkan oleh kebencian di sekitar mereka, Luka dan Sabaha jatuh cinta. Kisah itu adalah plot film Life is A Miracle karya Kusturica, yang mengambil lokasi syuting di Kustendorf. Film itu adalah komedi sinis tentang kegilaan perang. Bahwa di tengah situasi gila seperti itu, orang-orang yang hidup di dalamnya butuh humor agar tetap menjadi gila.
Life is A Miracle bukanlah film terbaik yang pernah dibuat Kusturica. Tapi film itu menandai semangat baru dalam dirinya. Film ini dipersiapkan Kusturica dengan total. “Saya ingat, dia menelepon dan memberitahu bahwa cerita tentang pria dalam Life is A Miracle itu adalah kisah nyata. Emir lalu mengajak saya membuat lagu soundtrack film tersebut,” kata Nele Karajlic, sahabat Kusturica selama lebih dari 20 tahun.
Di keheningan Kustendorf, Karajlic dan Kusturica serta kelompok musik mereka, The No Smoking Orchestra (Baca: Musik Protes Antirokok) membuat lagu dengan judul yang sama. Dan akhirnya, ketika Life is A Miracle selesai dibuat, Kusturica tidak rela desa “buatan”-nya dibongkar. Menurut Karajlic, Kustendorf sudah mendarah daging dalam jiwa Kusturica.
Selama pembuatan Life is A Miracle, sejumlah ide tercetus untuk masa depan Kustendorf.
Ketika Life is A Miracle siap, Kusturica memilih Kustendorf sebagai lokasi pemutaran perdananya. Dengan segala keterbatasan fasilitas di Kustendorf, Life is A Miracle ditayangkan pertama kali pada 24 September 2004. Tanggal itu juga ditetapkan sebagai hari kelahiran desa kecil tersebut.
Menghidupkan Jalur Mati
“SUATU hari nanti akan ada jalur kereta di atas Gunung Chargan,” begitu prediksi Tarabic bersaudara yang terkenal sebagai “Nostradamus Serbia”. Sekitar 150 tahun lalu, Tarabic bersaudara juga memprediksi bahwa jalur ini hanya akan digunakan orang untuk bersenang-senang. Ramalan itu terbukti.
Ketika sedang mengerjakan detail-detail untuk keperluan Life is A Miracle di Kustendorf, Kusturica sadar tidak ada jalur transportasi ke tempat itu. Ini membuat Kusturica sedikit kewalahan untuk membangun Kustendorf sebagai desa yang utuh. Satu-satunya pilihan untuk sampai ke Kustendorf hanyalah jalan desa tak beraspal yang hanya mungkin dilalui mobil-mobil tangguh.
Rel kereta tua yang biasa digunakan masyarakat di sekitar Kustendorf terletak jauh di kaki Chargan. Tapi Kusturica tak kehilangan akal. Ia melobi Pemerintah Serbia agar rela kereta di kaki Chargan itu diteruskan hingga melewati Kustendorf. Rel kereta buatan yang awalnya digunakan hanya untuk keperluan film pun benar-benar dibuat layaknya rel asli.
Jalur kereta menuju Kustendorf ini kemudian diberi nama Sarganska Osmica (Sulitnya Chargan), terinspirasi oleh tingginya tingkat kesulitan mendaki Gunung Chargan. Jalur sepanjang 15,5 kilometer ini melewati 22 terowongan, selusin jembatan, menembus hutan dan jurang, serta berhenti di empat stasiun sebelum tiba di Kustendorf. Sulitnya jalur melewati Chargan sempat membuat ahli struktur Serbia geleng-geleng kepala.
Sarganska Osmica adalah jalur mati yang dihidupkan kembali pada 1999, setelah sempat mati suri. Dulu jalur ini digunakan untuk menghubungkan kota-kota besar pada zaman Kerajaan Serbia, Kroasia, dan Slovania. Setelah perang dan kondisi di Balkan relatif tenang, Pemerintah Serbia berencana memperpanjang jalur Sarganska ke arah Visegrad di barat dan ke arah selatan untuk dipertemukan dengan jalur utama kereta api Serbia yang menghubungkan Belgrade dan Montenegro.
Atas restu Pemerintah Serbia juga, jalur ini kemudian dibelokkan sedikit ke arah Gunung Chargan, tempat Kustendorf berada. Dua lokomotif antik lengkap dengan kereta warna hijau buatan Jerman tahun 1920 difungsikan kembali menggunakan mesin baru.
Sejak itulah Kustendorf tidak lagi sekadar jadi panggung film. Kustendorf kemudian menjadi pusat sejumlah ambisi Kusturica yang lain. Di Kustendorf, Kusturica ingin membangun sebuah sekolah film lengkap dengan segala fasilitasnya. Kusturica ingin menciptakan Kustendorf sebagai pusat kreativitas bagi mereka yang ingin membuat film, musik, dan segala bentuk seni.
Ia bercita-cita membuat Kustendorf menjadi desa yang terbuka terhadap berbagai macam kebudayaan, dan membangun area tersebut menjadi agroturis agar Sarganska Ormisca tetap aktif. “Saya kehilangan kota saya selama perang. Karena itu, saya bermimpi membangun desa saya sendiri. Di sanalah tempat saya ingin hidup, dan tempat orang-orang bisa datang dan pergi setiap saat, dari waktu ke waktu.”
Modern di Bawah Tanah
PADA Desember 2003, saat sedang mengawasi rekonstruksi rumah-rumah kayunya yang tersiram salju, Kusturica tiba-tiba kembali mencetuskan sebuah ide gila yang lain. “Saya ingin membuat desa yang secara fisik tradisional tapi dengan fasilitas modern tanpa mengubah sedikit pun ketradisionalannya.” Para arsitek yang bekerja sama dengannya langsung putar otak.
Kusturica sendiri yang kemudian muncul dengan ide membangun fasilitas modern di bawah tanah. Keinginan ini awalnya ditentang habis-habisan oleh tim insinyur Serbia. “Membangun fasilitas modern di bawah desa tradisional adalah ide sinting,” kata mereka. Tapi bukan Kusturica namanya kalau tidak ngotot.
Tiga bulan lamanya dihabiskan untuk menggali sebagian bukit kecil tersebut. Di bawah tanah Kustendorf tercipta sebuah bioskop, ruang kuliah, ruang yang cukup lapang untuk bongkar pasang set lokasi syuting, dan sebuah gudang untuk menyimpan alat-alat keperluan pembuatan film.
Di atas tanah Kustendorf –selain 25 rumah kayu tradisional– juga dibangun sebuah gereja mungil, restoran, galeri, kafe, dan guest house. Pada Maret 2005, Pangeran Alexander Karageorgevic of Yugoslavia, putra Raja Peter II, berkunjung ke Kustendorf dan terkagum-kagum pada desa mungil tersebut.
Kegiatan pertama yang berlangsung di bawah tanah Kustendorf adalah kursus singkat selama musim panas 2005 bertema “Art is (not) in transition”. Tema ini mengupas bagaimana transisi yang terjadi di Balkan dari komunis menjadi kapitalis. Workshop film selama satu minggu itu diarahkan sendiri oleh Emir Kusturica, diikuti 30 pembuat film muda dari seluruh dunia.
Tinggal di desa merupakan “kelas pertama Kustendorf”. Hari pertama diisi dengan pelajaran teori, di mana Kusturica mempresentasikan inti sari film-film favoritnya. Kusturica juga mengajarkan teknik membuat film dari tokoh-tokoh perfilman dunia, sekaligus mengajarkan tekniknya sendiri membuat film. Siswa-siswinya juga diajari cara menghayal ala Kusturica, yang kemudian dituangkan dalam bentuk skenario.
Kursus singkat seperti ini adalah yang pertama, tapi pasti bukan yang terakhir. Kusturica sedang berkutat untuk membuat sebuah sistem pendidikan film yang nanti bisa digunakan seterusnya. Di Kustendorflah Kusturica berharap akan lahir karya-karya fenomenal dari tangan sineas-sineas muda.
Melenggang di Wilayah Arsitektur
“TEMPAT terakhir yang bisa saya bayangkan untuk menerima sebuah penghargaan adalah di sini, Foundation of Architecture,” kata Kusturica di depan ratusan undangan yang memadati Museum of Architecture Brussel. Pria tinggi besar dengan wajah keras ini muncul di tengah-tengah aula mengenakan kemeja merah dan jins.
Meski Kustendorf murni lahir dari imajinasi seorang sutradara film, bukan dari kalkulasi desain seorang arsitek, para juri memutuskan memberi penghargaan dan uang tunai sebesar 30.000 euro kepada Kusturica.
Biasanya arsitektur berfungsi membangun sebuah sinema. Tapi, di Kustendorf, sinemalah yang berfungsi membangun sebuah arsitektur. “Karena itu, Kustendorf kami anggap sebagai sebuah keajaiban,” kata Rudy Ricciotti, arsitek Prancis yang ikut menjadi juri.
Bagi Kusturica sendiri, awalnya sulit membayangkan Kustendorf sebagai karya arsitektur. Kustendorf adalah negeri barunya. Kustendorf adalah rumah sekaligus dermaganya. Tempatnya pulang. Tempatnya bisa melakukan apa saja yang diinginkan tanpa perlu risau dengan pendapat orang lain. Tempatnya mengawali dan mengakhiri hari, tempatnya berpikir, dan tempatnya kini melahirkan karya baru dalam bidang film maupun musik. “Saya tahu pasti bagaimana menghabiskan uang ini,” katanya sembari tertawa.
(Bersambung ke Bagian ke II)
Pelangi Diatas Prahara
Pelajar Indonesia di Perth bergerilya membuat film. Menjadi film indie terpanjang di Universitas Curtin. Memotret problema keterbukaan kampung halaman?
Apa yang dilakukan pelajar-pelajar Indonesia di Perth kalau sedang rindu tanah air? Tradisi ngumpul barenglah yang biasanya menjadi pengobat kangen. Tukar menukar informasi sesama anak Indonesia wajib hukumnya. Biasanya, pelajar-pelajar Indonesia menghabiskan waktu ngerumpi ngalor ngidul sambil menikmati makanan khas Indonesia. Tapi ketika obrolan sudah mandek, apa lagi yang bisa dilakukan?.
Terpikirlah kemudian untuk membuat film. Bukankah sebelumnya, mahasiswa Indonesia di Melborne, Australia tercatat pernah membuat film Aku, Dia dan Mereka. Nah, Sub Production, organisasi mahasiswa Indonesia di Perth, Western Australia, juga tak mau kalah. “Saya pengen-nya bikin film genre remaja, ada sentuhan komedi tapi temanya serius,” kata Putra Arradin, mahasiswa S-2 jurusan media management di Curtin University.
Keinginan tersebut beroleh jalan ketika pada Maret 2003, Putra mendapat tugas membuat film pendek 10 menit untuk mata kuliah independent project. Putra pun membuat proposal untuk membuat film berdurasi 1 jam lebih. Meski sempat ragu, dosennya memberi lampu hijau. Berbekal sebuah kamera pinjaman dari Universitas Curtin, Putra dan Sub Production pun mulai melakukan syuting pada Juli 2003.
Putra kebagian tugas menjadi sutradara. Sementara cerita dan skenario juga ditulis oleh Putra bersama Istianti dan Farishad Latjuba. Idenya datang dari kasus peredaran VCD hubungan intim pribadi yang lolos beredar ke publik, serta kasus-kasus penyalahgunaan narkoba. ”Ketika manusia diminta untuk melihat sedikit lebih ke dalam,” begitu tagline dalam poster-poster film yang kemudian diberi judul Pelangi Di Atas Prahara itu.
Sabtu malam 24 Januari lalu, petikan-petikan Pelangi diputar Sub Production di BC Bar, Sarinah Thamrin, Jakarta. Pertunjukan thriller Pelangi membuat mereka yang hadir tertegun, manggut-manggut, bergumam, tertawa lalu bertepuk tangan. Semua orang dipaksa mengingat kembali kegemparan yang sempat diakibatkan oleh beredarnya VCD pribadi itu. Dalam Pelangi, memang ada rekonstruksi adegan intim dalam VCD itu.
Menurut Putra Arradin, Pelangi memang hadir untuk memotret fenomena VCD pribadi yang menggemparkan itu. Pelajar-pelajar di Perth ini rupanya tak ketinggalan berita dalam negeri. Tapi, di mata mereka, berita-berita yang mereka dengar atau baca cenderung menyudutkan, memaki bahkan menghina para tokoh yang terlibat free seks atau drugs. Para tokoh ini selalu jadi terdakwa.
Para penulis skenario Pelangi mencoba mengambil angle psikologis para “terdakwa”. “Kisah di film ini inspirasi yang dikembangkan, bukan sekadar sensasi,” kata Putra. Mengambil sudut pandang ”terdakwa” juga bukan untuk membenarkan mereka. “Kami hanya ingin lebih terbuka melihat persoalan,” kata Putra. Selain itu, film ini ingin menawarkan sesuatu yang lebih fundamental dari sekedar menghakimi “dosa” orang lain.
Sebagai pelajar Indonesia yang lama tinggal di negeri orang, Putra dan kawan-kawan ingin agar fenomena tersebut disikapi lebih arif. “Kita nggak usah munafiklah, drugs dan free sex bukan barang baru,” kata Putra. Seperti umumnya indie movie, pembuatan Pelangi dilakukan dengan ”jungkir balik”. Dengan biaya “hanya” Aus$ 7.000, atau sekitar Rp 45 juta rupiah, berbagai peralatan darurat harus digunakan.
Untuk lampu sorot, kadang beberapa lampu taman terpaksa diubah fungsinya. Tim Pelangi juga harus kerja maraton, karena kampus mereka hanya memberi waktu 40 hari untuk menyelesaikan film tersebut. Selain itu, mereka harus mengurus perijinan di lima pemda wilayah Perth. Tetapi, “Paling susah mencari pemain yang mau main tanpa dibayar,” kata Putra.
Tapi semua tak sia-sia. Film ini dinobatkan sebagai film produksi terbesar yang pernah dibuat oleh pelajar Curtin. Ini jelas kebanggaan tersendiri. Selain itu, film ini juga dilengkapi dengan original soundtrack yang digarap oleh Riza Zenies, Jonathan Sudharta, dan Diaz Wisnu Wardana. “Kami dari awal memang pengen serius, walaupun dengan dana cekak, kami ingin film ini dilengkapi atribut film beneran,” kata Putra.
Film ini ternyata disambut antusias oleh 1200 penonton kala pertama kali di putar di auditorium Curtin University. Banyak yang memuji, baik film maupun soundtrack-nya. Ini terlihat dari tanggapan yang dikirim lewat milis para mahasiswa di Australia yang sudah menonton film ini. Soundtrack-nya bahkan ludes terjual sebanyak 1.000 keping pada hari pertama pemutaran Pelangi.
Tak cuma itu, film ini juga sudah di-booking oleh promotor film di Malaysia. Sayang, film ini tidak akan diputar di jaringan bioskop komersial. Film ini rencananya hanya akan diedarkan di kampus-kampus. Khusus untuk wilayah Jakarta, film ini bisa disaksikan di Goethehaus, Jalan Sam Ratulangi, Menteng, mulai 13 Februari. Kini, giliran penonton Indonesia yang akan menilai.
AKU

leave a comment