Day 3: Puisi, Film Rumahan, dan Woodstock
Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62
Kehebohan dihari pertama dan gelombang para tamu mulai mereda. Kesan awal bahwa krisis tidak berpengaruh, agak meragukan. Tentu saja, jalanan masih –dan akan selalu– penuh dengan moviegoers, lengkap dengan mereka yang ‘memohon’ undangan untuk bisa menonton film. Tapi jika diperhatikan dengan teliti, hotel-hotel raksasa macam Martinez atau Majestic yang biasanya penuh dengan poster film-film berbudget menjulang, kali ini terlihat agak polos, bahkan nyaris telanjang. Gedung-gedung sepanjang pantai Croisette yang tahun-tahun sebelumnya tak pernah kosong dengan iklan, tahun ini terlihat polos.

Lalu seorang rekan wartawan dari sebuah radio di Perancis mengabarkan bahwa radio tempat mereka bekerja sedang melakukan mogok kerja sebagai protes atas pemecatan besar-besaran terhadap rekan kerja mereka. “Biasanya, dari radio kami dikirim 10 wartawan plus 4 hingga 6 orang teknisi lapangan. Tahun ini hanya ada 5 orang plus 2 orang teknisi. Stasiun radio dan TV lainnya juga begitu,” kata rekan yang saya kenal saat sedang mengantri nonton ini. Dengan adanya mogok kerja itu, rekan ini akhirnya menghabiskan nonton film secara maraton sekaligus menghadiri pesta hampir tiap malam. “ Saya nyaris teler tiap malam,” katanya. Jadi krisis itu rupanya memang ada.
Tapi lupakan krisis sejenak. Mari kita menulis puisi. Saya suka membaca puisi. Rimbaud. Verlaine. Poe. De Campos. Reis. Pessoa. Dan saya membaca John Keats walaupun agak eneg dengan romantismenya. Mungkin itu juga yang membuat saya tidak terlalu antusias dengan film terbaru Jean Campion, Bright Star, terinspirasi dari salah satu karya Keats dengan judul yang sama.
Enambelas tahun setelah memenangkan Palme d’Or di tahun 1993 untuk film The Piano, Jane Campion kembali ke Cannes dengan membawa Bright Star, tentang kisah cinta Fanny Brawne dengan John Keats, penyair aliran romantis di Inggris awal abad ke 19. Alur Bright Star bisa diduga, penuh dengan adegan-adegan melow dan dialog-dialog manis dimana hubungan cinta mereka berkembang hanya dari aktivitas sederhana macam sentuhan tangan atau surat cinta bercap bibir.

Melihat karya-karya Jane Campion sebelumnya seperti The Piano dan The Portrait of A Lady, sutradara kelahiran New Zealand ini jelas adalah orang yang tepat untuk mengangkat kisah cinta yang jarang dibicarakan ini. Sentuhan khas Campion yang pernah terlihat di The Piano makin sempurna di Bright Star. Skenario yang rapi, shoot-shoot yang ditata sempurna dengan detail-detail yang kaya dan puitis serta akting yang juga menyamai capaian sinematografis.
Bisa dibilang, film ini sempurna dari segala aspek. Plus menjadi salah satu film dengan nilai paling tinggi hingga hari ke 3. Sayangnya, seperti juga puisi-puisi Keats, film ini tidak bisa saya masukkan dalam kategori film favorit. Alasannya cuma satu, film model begini bisa dinikmati di stasiun TV BBC tiap minggu. Tidak perlu jauh-jauh sampai ke Cannes.
L’epine Dans Le Coeur (Thorn in My Heart) mungkin bisa jadi contoh dan penyemangat bagi mahasiswa jurusan film maupun filmmaker muda yang belum pede dengan karya mereka. Film dokumenter rumahan (home made movie –?) ini dibuat oleh seorang keponakan yang ingin memfilmkan tantenya, Suzette, yang bekerja sebagai guru sekolah dasar di desa kecil dan konservatif Cévennes, Perancis antara tahun 1952 hingga 1986. Film ini terpilih sebagai salah satu film yang diputar untuk Special Screening.
Dokumenter ini terdiri dari banyak footage keluarga yang disyut dengan Super 8, lalu dokumentasi Suzette mengunjungi bekas-bekas sekolahnya dulu, wawancara dengan kerabat, bekas murid, dan teman dekat, dan tentu saja sentuhan si pembuat film dengan animasi untuk setiap pergantian tema dan waktu serta rekonstruksi bekas-bekas sekolah Suzette. Terlihat upaya si filmmaker untuk membuat tantenya terbiasa dengan kamera hingga pada titik tertentu, ia pun berhasil membuat Suzette bercerita tetang aib keluarga yang kemudian disebutnya sebagai ‘the thorn in my heart’.
Setelah melalui banyak basa-basi soal kenangan masa-masa aktif sebagai guru, film rumahan –yang terus terang saja agak menjemukan ini— kemudian fokus lebih pada ‘aib’ keluarga tersebut dan akhirnya lebih seperti terapi psikologis bagi sang tokoh utama, Suzette. Sayangnya, ‘the thorn in my heart’ yang bisa menjadi pelajaran bagi siapa saja yang mengalami hal yang sama ini tidak cukup menarik untuk diceritakan sehingga film ini jadi terasa sangat dangkal.
Saya hanya berpikir, jika si keponakan, si filmmaker yang membuat Thorn bukan bernama Michel Gondry, apakah film ini tetap akan dipilih untuk Special Screening? Jika misalnya, saya yang membuat film ini, apakah juga akan dilirik oleh para programmer Cannes?. Seorang rekan yang saya sodori pertanyaan ini, menatap saya dengan miris lalu tertawa terbahak-bahak. “Huahahaha….jangan mimpi. Emang lu siapa !” kata teman saya. Katanya, kalo saya sudah sekelas Michel Gondry, mau membuat film tentang ayam bertelur pun pasti dilirik oleh festival papan atas. Kadang-kadang, nama memang penting.
Seperti juga nama Ang Lee. Siapa yang tak kenal. Entah sudah berapa orang yang menyatakan hal yang sama: “Saya curiga, Ang Lee ini gay’. Soalnya, hampir disetiap filmnya, selalu saja ada karakter gay. Yang paling fenomenal tentu saja para cowboy gay di Brokeback Mountain. Kecurigaan itu makin dipertanyakan karena di film terbarunya tahun ini, Taking Woodstock, lagi-lagi tokoh utamanya adalah gay dengan problemnya sendiri.

Apakah Ang Lee gay atau bukan akhirnya tidak lagi penting. Toh namanya Ang Lee dan dia bisa bikin film serta berhasil mengukir namanya sebagai salah satu sutradara papan atas di Hollywood. Orientasi seksual tidak lagi penting apalagi Taking Woodstock adalah film yang asyik untuk ditonton lepas dari kekurangan-kekurangannya. (Tunggu review lengkapnya)
Tapi, jangan salah sangka. Taking Woodstock bukan tentang salah satu moment paling bersejarah dalam dunia musik dan budaya di Amerika ditahun 60 an itu. Peristiwa bersejarah itu hanya jadi latar belakang yang disediakan bagi tokoh utama film ini, Elliot Tiber. Jadi tidak ada Janis Joplin, tidak ada Jim Hendrix, tidak ada Bob Dylan. –Yang terlihat hanya poster, Dylan: Show Yourself Please!–.
Taking Woodstock sendiri terinspirasi dari buku yang ditulis Tiber tentang upayanya menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut. Dari kesulitan keuangan dan situasi ekonomi yang bikin stress itulah, Tiber kemudian punya ide gile untuk mengundang penyelenggara Woodstock –yang kala itu ditolak oleh otoritas Woodstock, sehingga Woodstock tidak jadi diselenggarakan di Woodstock walaupun tetap menggunakan nama Woodstock—ke desanya. Nah, kesibukan menyiapkan ‘ledakan budaya’ terbesar, tergila dan termegah itulah yang jadi cerita utama di Taking Woodstock –yang tidak diselenggarakan di Woodstock itu–.
Para Maestro Itu

(Foto copyright AFP, taken from Festival Film Cannes Website)
5 BENUA, 25 NEGARA, 35 SUTRADARA
Suatu hari yang cerah, seorang petani bertandang kesebuah bioskop kampung. Ingin menonton film. Bioskop kumuh itu tua dan sekarat. Tapi setidaknya masih ada yang mau datang menonton film. Pemiliknya, Takeshi Kitano juga masih setia memutar film walaupun sering keteter. Buktinya, beberapa kali film terhenti karena urusan teknis. Tapi tak masalah, selama masih ada penonton dan masih ada yang mau memutar filmnya.Takeshi Kitano sang sutradara tampil sendiri sebagai sang pemutar film yang kikuk.
Film pendek 3 menit karya sutradara kawakan asal Jepang, Takeshi Kitano itu jadi salah satu dari 35 film pendek yang melengkapi karya kolaborasi 35 sutradara berjudul To Each His Own Cinema. Kolaborasi khusus ini diputar di Grand Theater Lumiere, Cannes, pagi ini, 20 Mei waktu setempat. To Each His Own Cinema dibuat untuk merayakan Cannes Film Festival yang ke 60. Masing-masing sutradara mengekspresikan hal-hal yang terlintas dibenak mereka tentang film, tentang kecintaan mereka pada dunia sinema. Selain Kitano, sejumlah nama besar lainnya ikut terlibat.
Diantaranya, sutradara Italia, Nanni Moretti, yang pernah membawa pulang Palme D’or pada 2001 untuk filmnya La Stanza Del Figlio (the Son’s Room). Film pendek Moretti berjudul Diary Of A Moviegoer menampilkan Moretti diberbagai bioskop sambil bercerita tentang sejumlah film dan dialog-dialog yang berlangsung ketika menonton film tertentu. Misalnya, dengan mimik lucu, Moretti bercerita suatu hari ke bioskop bersama putranya sementara dilayar menampilkan cuplikan film Matrix 2. « Dia bilang, ayah nanti kita menonton film itu ya. OK tentu saja. Tapi setelah saya pikir-pikir, saya harus memberitahu kenyataan sebenarnya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengatakannya langsung. Nak…kamu tahu, film ayah tidak seperti Matrix 2 loh ».
Diary Of A Moviegoer memang hanya 3 menit. Tapi dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, film sederhana itu mampu membuat Moretti mendapatkan applaus meriah dari penonton. Kemudian ada Walter Salles yang pernah berjaya di Cannes lewat filmnya The Motorcycle Diaries walaupun tidak menang. Salles membuat film pendeknya yang kocak berjudul 8.944 KM From Cannes. Tentang dua orang yang bercakap-cakap tentang film festival di Cannes seakan-akan sudah pernah berkunjung ke Cannes. Percakapan mirip lagu rap yang serba cepat itu sahut menyahut, « Memangnya kamu sudah pernah ke Cannes? » dijawab « Iya, dong ». Dibalas lagi « Loh bukannya kamu selama ini di penjara? ».
Selain mereka, sejumlah sutradara dari 25 negara di 5 benua juga menyodorkan karyanya. Dari Asia ada Wong Kar Wai dengan I Travelled 9000 km To Give It To You, Tsai Ming Liang dengan Its A Dream, Hou Hsiao Hsien bercerita tentang kenangan sebuah bioskop dalam The Electric Princess Picture House. Lalu nama-nama tenar lainnya antara lain dari Amerika ada Olivier Assayas, Coen Brothers, Alejandro Gonzalez Inarritu, Roman Polanski, Lars Von Trier, Wim Wenders, Manoel De Oliviera, Bille August, Jane Campion, dan Youssef Chahine.
Banyak diantara mereka yang mengaku baru pertama kali itu bikin film pendek. Diantaranya sutradara Denmark Lars Von Trier. « Ini adalah film terpendek yang pernah saya buat sepanjang karir saya sebagai sutradara, » katanya. Von Trier membuat Occupation, tentang sebuah sekuen singkat disebuah pertunjukan film. Seorang pria yang banyak bicara mengganggu pria disebelahnya yang asyik menonton film. Si pria bercerita tentang pekerjaannya, bisnisnya yang sukses hingga mobilnya yang berjumlah 8 biji.
Pria disebelahnya yang asyik menonton akhirnya terganggu. Ketika si pria cerewet bertanya, apa pekerjaannya. Pria yang lainnya, menjawab kalem, « pembunuh » sambil mengeluarkan palu dan menghantam kepala si pria bertubi-tubi. Penonton yang lain kaget sejenak, setelah itu kembali asyik menonton film termasuk si pria pembunuh. Sadis memang, tapi lucu.
Roman Polanski meski pernah membuat film pendek Two Men and a Wardrobe,–20 menit– tahun 1958 mengaku sempat kesulitan juga. Tapi film pendek 3 menitnya, Cinema Erotique, juga mendapat sambutan meriah. Polanski membuat sebuah scene di bioskop erotis dimana seorang pria selalu melenguh layaknya sedang mencapai orgasme. Dua penonton lainnya kesal. Penjaga dipanggil. Sang pria ditegur dan ketika dicek ternyata salah tempat duduk. « Kursi anda mestinya di balkon ». Si pria yang masih saja melenguh-lenguh menjawab « Iya, saya jatuh dari atas », sambil terus melenguh, kesakitan.
« Saya memang pernah membuat film pendek, tapi itu sudah lama sekali, saya hampir lupa cara membuatnya » kata Polanski tentang pengalamannya membuat film pendek. Toh meski tidak mudah, para sutradara ini berhasil menunjukkan kelas mereka sebagai sutradara-sutradara papan atas. “membuat film tiga menit saja sudah sulit, apalagi ditambah beban dengan pertanyaan dikepala ’sutradara lain bikin apa ya?’
Selain itu yang paling mengasyikkan bagi penonton adalah usaha tebak menebak sutradara. Masing-masing mereka selalu meninggalkan jejak. Occupation misalnya, jelas punya Von Trier. Gaya bertutur, pengambilan gambar hingga akting aktornya adalah ciri khas Von Trier. Beberapa film mudah dikenali, karena masing-masing sutradara meninggalkan autographnya di setiap 3 menit.
AKU
leave a comment