Day 4: Scorsese menyelamatkan film, Won Bin dan Penjara Perancis
Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62

Kemarin sore, Martin Scorsese tiba-tiba muncul di Palais Du Cinema. Agak mengejutkan atau saya yang memang tidak memperhatikan jadwal, entahlah. Tapi yang penting, dia datang melenggang dan masuk ke ruang pers dengan anteng. Padahal project film terbarunya biopic tentang Frank Sinatra belum selesai. Jadi saya pikir, dia hanya akan say hello, sekedar basa basi untuk promosi.
Saya salah duga. Om Marty datang untuk berkampanye tentang sebuah proyek yang lebih dari sekedar membuat film. Memulihkan dan mengawetkan master dan copy film-film yang terancam punah karena perawatan yang tak layak. Scorsese yang mendirikan World Cinema Foundation ini memulai proyek reservasi gara-gara menonton film The Seven Year Itch karya Billy Wilder yang dibuat tahun 1955 dalam kondisi tak lagi sesuai dengan warna aslinya. Warna copy film ini memudar karena pita seluloid yang terkena sindrom asam pengawet. Saya sendiri tidak mengerti bahasa teknisnya. Tapi anda tahulah maksud saya.
Nah, Scorsese tentu saja shock, dan sejak itu mulai berkampanye untuk mengumpulkan dana demi menyelamatkan setiap inci seluloid. “Kita tentu tidak ingin copy film-film ini hanya jadi tumpukan pita berbau cuka lalu dibikin salad,” katanya bersemangat didepan pers. Scorsese mengaku sudah mengajak beberapa rekannya seperti Brian DePalma, Steven Spielberg, Paul Schrader, serta Coppola untuk ikut dalam proyek ini.
Proyek penyelamatan film-film ini juga tidak hanya akan dibatasi untuk film-film buatan Amerika saja tapi juga untuk film-film diseluruh dunia dan sudah memulainya di Brazil, Turkey, Dubai, Korea Selatan, dan akan menyusul yang lain. Dan Martin Scorsese pun mendapat applaus meriah! Ternyata, Marty makin tua makin bijaksana.
Kisah Won Bin di Cannes
Awalnya saya tidak mengerti kenapa para penggemar film dan drama Korea dalam lingkar pertemanan saya yang tidak luas itu rame-rame mengirim sms dengan isi yang nyaris seragam: ‘Jangan lupa foto dan tanda tangan Won Bin ya!’. Bahkan adik saya pun ikut-ikutan mengirim pesan. Hmmmm…saya bingung, mereka tahu darimana Won Bin bakal ada di Cannes?

Barulah hari ini saya sadar, setelah menonton film Mother karya Bong Joon Ho di seksi Un Certain Regard. Saya nyaris tidak mengenali Won Bin, aktor Korea cakep yang pernah bikin saya tergila-gila dimasa puber. Di film ini ia berperan sebagai cowok dengan mental agak terbelakang yang punya ibu yang super protektif.
Saya ingat, Tan Chui Mui, sutradara film Malaysia itu pernah bilang, “Aktor artis Korea adalah aktor artis terbaik di dunia sinema Asia. Mereka bisa jadi karakter apa saja dengan sangat meyakinkan,” katanya. Dan saya teryakinkan. Apalagi setelah menyaksikan film Thirst karya Park Chan Wook serta Mother-nya Bong Joon Ho ini.
Tapi saya pikir, semua juga kembali lagi kepada sutradaranya. Won Bin dan Kim Hye Ja –artis setengah baya langganan peran ibu dalam drama-drama Korea—bisa berakting dengan sangat baik karena arahan yang tepat dari Joon Ho. Dengan Mother –serta sebelumnya The Host dan Memories of Murder—, Joon Ho jelas ditakdirkan untuk menjadi auteur yang akan tercatat dalam sejarah perfilman Korea Selatan.
Hari ini, masyarakat Perancis –secara umum– seperti mendapat ‘hadiah’ dari filmmakernya sendiri, Jacques Audiard. Sutradara Perancis kelahiran tahun 1952 ini, hadir di seksi kompetisi dengan karya terbarunya A Prophet. Sayangnya saya tidak punya banyak perbendaharaan kata bahasa Indonesia untuk bisa mendeskripsikan film ini dengan tepat.

Film ini mengejutkan karena ini mungkin film Perancis yang bisa dicerna dengan mudah tapi sulit untuk dimasukkan kategori genre. Thriller, fantastic, crime, ghost, drama…atau apapunlah namanya, yang dari segi kualitas dan intensitas akan sulit mencari perbandingannya di dunia film Perancis.
Secara narasi dan visual, A Prophet mampu merangkum filosofi, spiritual serta masalah sosial yang merupakan representasi Perancis saat ini. Untuk memotret wajah masyarakat dan kebanalannya, Audiard mengambil penjara sebagai contoh kasus. Audiard cukup berani mengambil resiko ditengah banyaknya stereotype penjara yang diciptakan oleh film-film Amerika. Dari penjara inilah, Audiard ingin bicara banyak hal. Sayangnya, saya tidak punya waktu untuk membahas film yang menarik ini sekarang. Mungkin lain kali ketika saya punya banyak waktu untuk berpikir. Maaf.***
Ketika Sebuah Kisah Memilih Penulis dan Sutradaranya
Tas nya rusak. Karena itu, Thomas Keneally –sambil menghabiskan waktu– berjalan-jalan disekitar pertokoan Beverly Hills untuk mencari pengganti tas yang rusak itu. Tak sengaja, pria tambun ini singgah ditoko Handbag Studio, yang dietalasenya tertulis Handbag Studio’s Fall Sale. Keneally sebetulnya ogah masuk, cuma melihat dari kaca tapi seorang pria –yang ternyata pemilik toko– dengan ramah menyapanya.
Singkat cerita, mereka ngobrol ngalor ngidul. Pria pemilik toko bernama Leopold Page, aslinya Pfefferberg asal Krakow ini ternyata mantan tahanan di Auschwitz, kamp konsentrasi untuk para yahudi itu. Bersama istrinya, Mischa, Page –Keneally lebih senang menyebutnya Poldek– berhasil lolos dari maut dan kemudian membangun kehidupan baru di Amerika.
Cara Poldek melayani pelanggan, dan ramah tamahnya yang menyenangkan membuat Keneally lumayan betah berlama-lama ngobrol dengan Poldek. Dari obrolan yang awalnya tak berarah, Poldek sadar, dia bicara dengan seorang penulis ternama asal Australia yang novelnya The Chant Of Jimmie Blacksmith diangkat kelayar lebar dan masuk nominasi film terbaik di Cannes 1978.
“I tell everyone I know the greatest story of humanity, man to man. Some listen, an article there, a news item here…but it’s a story for you, Thomas; It’s a story for you, I swear,” kata Poldek bersemangat. Keneally menyambutnya biasa saja. “Every writer hears that sentence,” kata Keneally dalam hati.
Sekedar basa basi, dan juga melihat betapa bersemangatnya Poldek, Keneally akhirnya bertanya, “What is it ?”. Dan Poldek bilang, ”I was saved, and my wife was saved by a Nazi”. Maka cerita itupun mengalir tentang Oscar Schindler, yang menyelamatkan nyawa ribuan Yahudi dari keganasan tentara Nazi. “Although he’s a Nazi, to me he’s Jesus Christ”.
Keneally menyimak, tapi ragu. Dia tidak pernah mendengar nama Oscar Schindler. Sebagai penulis yang tinggal di Australia, peristiwa di kamp-kamp konsentrasi dihadapinya sama seperti ketika membaca berita di koran. Dibaca, setelah itu melanjutkan kegiatan sehari-hari. Tapi Poldek rupanya sudah siap. Ia menyodorkan setumpuk arsip tentang Schindler, tentang daftar yahudi yang berhasil diselamatkan, dokumen dan sejumlah arsip wawancara.
Kisah tentang Oscar Schindler ini sebelumnya sudah pernah diceritakan Poldek kepada Marvin Gosch, seorang produser broadway dan film. Gosch tertarik lalu mengajak seorang penulis skenario ternama Howard Koch –ikut terlibat dalam penulisan skenario Casablanca–. Mereka berdua mulai melakukan serangkain wawancara dengan orang orang yang ada di daftar Schindler itu.
MGM bahkan membeli hak atas kisah Schindler buatan Gosch and Koch itu. Sayang, upaya Poldek agar jasa-jasa Oscar Schindler selama tahun-tahun yang kelam itu dikenang orang, menemui jalan buntu. MGM tidak jadi membuat film, dan kisah itu melapuk, hanya jadi tumpukan kertas digudang Poldek, sampai ia bertemu Keneally.
Berdasarkan dokumen-dokumen itulah Keneally akhirnya melakukan penelitian mendalam, mengunjungi lokasi-lokasi kamp konsentrasi di Jerman, mengunjungi bekas pabrik dan perusahaan Schindler, melakukan wawancara ulang dan kemudian menulisnya dalam buku berjudul Schindler’s Ark. Buku itu memenangkan penghargaan Booker Prize.
Adaptasi buku ini ke layar lebar sempat ditawarkan kepada Roman Polanski. Polanski menolak karena pernah mengalami sendiri jadi tahanan di kamp konsetrasi. Lalu ditawarkan kepada Martin Scorsese, yang menyarankan agar film ini dibuat oleh orang Yahudi juga. Maka Schindler pun jatuh ke tangan Steven Spielberg. Film ini membuat Spielberg menerima Oscar pertamanya sebagai sutradara terbaik. Schindler List sendiri menjadi film terbaik dan menerima 7 Oscar.

leave a comment