Day 12 : Cannes, Krisis, Kisah Tentang Raoul dan Pemenangnya adalah…
Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62
Sebetulnya pengin mengunjungi warung Indonesia di Market. Ternyata isinya sudah kosong. Saya terlambat. Tapi Lalu (Roisamri-red) bilang, nggak ada perubahan. “Orangnya itu-itu juga. Isinya juga nggak banyak berubah. Nggak pentinglah loe ke sana”. Baiklah. Saya menurut kata Lalu saja.
Kemarin Visage (Face) karya terbaru Tsai Ming Liang jadi film terakhir yang diputar dari seksi kompetisi. Tidak banyak mendapat sambutan. Saya pikir karena Tsai Ming Liang terlalu memaksa diri untuk ikut selera Perancis yang banyak membiayai film ini. Aktor-artisnya pun didominasi aktor artis Perancis.

Mungkin saya harus menontonnya sekali lagi untuk bisa menangkap apa maunya Tsai Ming Liang. Film berdurasi 2 jam 18 menit ini bikin merana karena mata dan pikiran dipaksa mencerna terlalu lama. Untunglah sinematografi dan desain artistiknya keren sekali jadi saya tidak tergoda untuk tertidur.
Setelah Visage, tak ada lagi film yang perlu saya tonton. Jadi hari ini, saya menghabiskan waktu berjalan-jalan di kota Cannes di luar wilayah Palais Du Festival sambil memotret. Tapi dasarnya Cannes ini memang kota kiblatnya sinema dunia, setiap sudutnya pasti ada saja hal-hal yang berhubungan dengan film.
Mulai dari pemberhentian bus yang dihiasi dengan pernak pernik kursi sutradara dan poster bintang-bintang, dinding yang tidak dibiarkan melompong dan penuh dengan referensi film-film ternama seperti The Kid, Titanic hingga Mickey Mouse. Lalu diparkiran dekat stasiun kereta ada lukisan raksasa Lumiere bersaudara lengkap dengan ‘footage’ film mereka.

Setelah saya perhatikan, ternyata ada juga ‘wall of fame’ ala Cannes yang terdapat di taman di ujung Croisette persis di samping Palais. Sayangnya tradisi ini tidak teratur sehingga bintang-bintang dan sutradara yang punya cap tangan juga terbatas. Ada Sharon Stone, Tim Robins, Ken loach, Youssef Chahine, dll.

Saat sedang makan es krim semangkok gede, tiba-tiba saya bertemu kawan lama yang tahun lalu sering bareng antri dan menulis di ruang Wifi lantai 3. Kawan jurnalis Belgia yang sudah mengunjungi Cannes selama 30 tahun ini tentu tahu banyak tentang Cannes. Maklum, ia hadir di Cannes mulai dari kartu pers yang masih ditulis tangan hingga format digital sampai sekarang. Ia mulai datang ke Cannes dengan rambut gondrong ala generasi Woodstock hingga rambut nyaris botak dengan kumis nyaris putih semua.
Dari beliau inilah saya mendengar cerita tentang ‘Legenda Raoul’ yang terkenal sudah jadi semacam hymne-nya masyarakat perfilman Cannes dan bahkan sudah meluas hingga ke negeri-negeri tetangga. Kalau Anda berkesempatan menonton film di Cannes, lalu tiba-tiba ada yang berteriak ‘Raoulllllllll…’ setiap kali film akan dimulai, nah itulah hymne yang biasanya otomatis akan disahuti oleh yang lain.
Ternyata, once upon a time, puluhan tahun lalu, di Palais Du Cinema yang tua, adalah seorang jurnalis yang menunggu teman dan menyediakan sebuah kursi kosong untuk teman tersebut. Tapi hingga film akan dimulai dan lampu dimatikan, si teman itu tak kunjung datang. Dengan setengah putus asa, si jurnalis ini pun berteriang ditengah kegelapan, “Raaaaouuuulllll….Raaaaaooouulllll !!!”. Lalu tanpa komando dan aba-aba, tiba-tiba hampir semua orang dalam teater itupun ikut berteriak “Raaaaooooulllll…”. Dan nama Raoul pun tetap diteriakkan hingga saat ini, setiap kali film akan dimulai dan lampu dimatikan. “Raaaaaoooouulllllll…..!!!
Saat kembali ke Palais Du Cinema, tak sengaja menyimak wawancara Thierry Fremaux di TV resmi festival Film Cannes. Dengan sopan ia bilang, krisis finansial global tidak secara langsung menjangkit di Festival ini.”Kami sadar bahwa krisis itu ada di luar sana. Dan untunglah tidak berdampak langsung pada berlangsungnya Festival Cannes”, katanya. Pantas saja fasilitas yang didapat oleh masyarakat perfilman Cannes tidak berubah bahkan bertambah keren dengan backpack gratisnya –kecuali tentu saja kopi tak enak yang katanya kopi yang ditolak dipasaran itu–.
Posisi Festival Film Cannes sebagai kiblat dunia film memang tak tergoyahkan oleh apapun.
Dan Palme D’Or pun jatuh ke tangan Michael Haneke untuk film The White Ribbon. Syukur Alhamdulillah.
Saatnya untuk mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal kepada para staff di ruang pers, bapak-bapak, ibu-ibu dan mbak-mbak penjaga pintu. Merci. Au revoir, et A L’annee prochaine. Selamat tinggal dan sampai jumpa tahun depan.***

Daftar Lengkap Pemenang Festival Film Cannes ke 62:
Palme D’Or : Das Weisse Band (The White Ribbon) –by Michael Haneke
Grand Prix : Un Prophete (A Prophet) –by Jacques Audiard
Lifetime Achievement Award For His Work and his exceptional Contribution to the history of Cinema : Alain Resnais
Best Director : Brillante Mendoza for film Kinatay
Jury Price : Fish Tank by Andrea Arnold and Bak Jwi (Thirst) by Park Chan Wook
Best Actor : Christoph Waltz (in the film Inglorious Basterds by Quentin Tarantino)
Best actress : Charlotte Gainsbourg (in the film Antichrist by Lars Von Trier)
Best Screenplay : Mei Feng (for the film Spring Fever by Lou Ye)
SHORT FILMS
Palme D’Or : Arena by Joao Salaviza
Special Mention : The Six Dollar Fifty Man by Mark Albiston and Louis Sutherland
UN CERTAIN REGARD
Prix Un Certain Regards : Kynodontas (Dogtooth) by Yorgos Lanthimos
Jury Price : Politist, Adjectiv by Corneliu Porumboiu
Special Price Un certain Regard : Kasi Az Gorbehaye Irani Khabar Nadareh (No One Knows About Persian Cats) by Bahman Ghobadi and Le Pere De Mes Enfants (Father Of My Children) by Mia Hansen-Love
Camera D’Or
Samson and Delilah by Warwick Thornton
Camera D’Or Special Mention
Ajami by Scandar Copti and Yaron Shani
FIPRESCI Awards
For The Competition : Das Weisse Band (The White Ribbon) by Michael Hanneke
For Un Certain Regard : Politist, Adjectiv by Corneliu Porumboiu
For Director’s Fortnight : Amreeka by Cherien Dabis
CERITA DARI KELAS PAK FRANÇOIS
film: Entre Les Murs
Director: Laurent Cantet
Screenplay: Laurent Cantet, Francois Begaudeau. Based on the novel “Entre les murs” by Begaudeau
Logan Persall Smith, orang Amerika, penulis essai itu, pernah menulis begini: Jangan menertawakan sikap sok aksi (yang dibuat-buat) oleh remaja; Mereka hanya sedang mencoba berbagai macam wajah untuk menemukan wajah mereka sendiri.
Saya kemudian teringat kembali dengan kata-kata Pak Smith itu usai menonton film Entre Les Murs (Between The Walls) a.k.a The Class, karya sutradara Perancis, Laurent Cantet yang diangkat dari novel berjudul sama karya Francois Begaudeau.
The Class tidak menawarkan banyak gejolak kecuali hal-hal biasa yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari para pelajar. Berantem, bertengkar, berteman, bergaul, dan sebagainya. Tentu saja tak lupa dilengkapi dengan sikap pretensius antara guru dan murid. Guru yang menganggap muridnya sok pintar, dan murid yang mengganggap gurunya sok tahu.
Dalam tataran ini, wejangan Pak Smith tentu saja tidak mempan. Saya jelas tidak bisa menahan tawa melihat sok aksi para murid sekolah di salah satu wilayah Paris itu. Apalagi saat menghadapi guru mereka yang ganteng itu, dan membuat guru bahasa Perancis mereka tak berkutik menghadapi pertanyaan beruntun bertubi-tubi ala Socrates. Dunia sekolah itu jadi terasa nyata.
Ada Pak guru Francois Marin yang diperankan sendiri oleh penulis novelnya, Francois Begaudeau. Pak François ini adalah guru bahasa Perancis yang sangat tipikal orang Perancis. Terlihat bersahabat tapi kadang memandang remeh orang lain. Ia ternganga saat tahu salah seorang muridnya membaca The Republic-nya Plato dan menganggap Anne Frank’s Diary pilihan Pak François sungguh membosankan.
Lalu ada juga gambaran klise dan stereotipe anak pintar dan tertib yang selalu diberikan kepada anak Cina, yang pastinya terdengar aneh ketika mencoba berbahasa Perancis karena tidak bisa bilang R dengan tegas. Kemudian Esmeralda, anak Maroko yang selalu menyela dan bikin gerah Pak François. Dalam daftar kelas itu juga ada Khoumba, asal Afrika yang suka membantah. Ada Sulaiman dari Mali yang selalu acuh tak acuh. Dan banyak lagi karakter kulit berwarna lainnya yang melengkapi kehidupan penuh warna di kelas Pak François ini.
Selebihnya, nyaris tidak ada lagi yang menarik dalam kelas Pak François sehari-harinya. Perbedaan ras –The Class berlokasi di 20th Arrondissement yang terkenal sebagai wilayah imigran– yang sepertinya akan jadi bumbu utama ternyata hanya pancingan yang kemudian tidak lagi terlalu penting. The Class juga menampilkan stereotipe yang umum –setidaknya dalam pandangan masyarakat Eropa–: bahwa imigran itu sulit, bahwa orang Cina itu pintar dan tertib, bahwa orang berkulit hitam itu pembangkang, dan lain-lain.
Komposisi dalam kelas yang didominasi imigran, cara berpakaian dan sikap slebor yang ditunjukkan mereka, yang jelas tidak akan kita temui dalam sekolah borjuis Perancis yang pada umumnya necis, semuanya menampilkan stereotipe klise atau lebih tepatnya real.
Sampai pertengahan film yang berdurasi 129 menit, The Class seperti mengalir tanpa arah dan seperti asyik menampilkan hal-hal klise. Ia hanya berurusan dengan hal-hal kecil tentang pilihan bacaan, tata bahasa Perancis, pertengkaran kecil-kecil, dan sebagainya, yang membuat The Class riuh dengan dialog lucu yang kadang konyol kadang cerdas.
Karakter-karakter dalam The Class juga seperti lepas bebas sehingga nyaris tak ada kesan mereka sedang membentuk sebuah pola. Toh diantara kehidupan dalam sekolah yang seringkali membosankan itu, selalu ada hal-hal lainya. Dan inilah yang dibentuk oleh para murid-murid Pak François.
Sampai ketika ada ‘konflik’ –bukan seperti ‘konflik’ dalam pengertian kamus Hollywood–, masing-masing dari kita, baik itu semua karakter dalam film maupun saya sebagai penonton, tiba-tiba merasakan empati sekaligus simpati terhadap mereka semua.
Kita bisa menyalahkan sekaligus merasakan posisi sulit Pak François dan disaat yang sama juga ingin bersatu padu dengan para murid yang menentang kebijakan manajemen sekolah terhadap teman mereka. Disaat seperti ini, hal-hal ’stereotype’ yang jadi pondasi awal The Class berubah wujud menjadi sesuatu yang lain.
Laurent Cantet bersama Francois Begaudeau berhasil menjahit nuansa ketegangan dan keberagaman ras dari perca-perca ‘klise’ yang mereka gelar sejak awal. Cantet juga memberi ruang seluas-luasnya bagi setiap aktor-artisnya untuk berimprovisasi mengembangkan karakter masing-masing –yang stereotype– sehingga The Class jadi terasa penuh dan hidup.
The Class akhirnya tidak hanya bicara tentang remaja yang sedang mencoba menemukan wajahnya sendiri, ia juga bicara tentang sistem pendidikan, tentang komunitas multikultur, tentang dialog antar remaja dan orang dewasa, tentang susahnya menjadi pengajar, dan terutama, asyiknya menjadi remaja yang sedang dalam proses memahami banyak hal.
Seperti Pak François yang akhirnya sadar bahwa wejangan Pak Smith agar tidak menertawai sikap sok aksi para remaja itu ada benarnya. Lihatlah bagaimana mereka bertengkar tapi kemudian saling membela saat dibutuhkan. Lihatlah bagaimana mereka jadi penerjemah antara ibu dan guru-gurunya. Masalah ras akhirnya jadi terlihat remeh walaupun tidak bisa diabaikan.
Meskipun Laurent Cantet mengatakan bahwa The Class adalah sebuah molekul kecil dalam sebuah bangsa bernama Perancis yang dilihat dengan kaca pembesar, tapi toh ia juga bicara hal-hal universal, secara halus dan berlapis, tanpa perlu keluar dari pagar sekolah.***

leave a comment