Diary Of A Moviegoers

Day 5: Film…film…film lagi dan Complete Full Pertama

Posted in Cannes 2009, Cannes Film Festival, Festivals, News, Notes, Serba-Serbi by akurini on May 17, 2009

Catatan Dari Festival Film Cannes ke 62 

Complete full

…dan saya tidak bertemu, tidak punya foto-foto, apalagi tanda tangan Won Bin.!

Sebetulnya kemarin saya juga sempat menonton Samson and Delilah karya Warwick Thornton di seksi Un Certain Regard serta Kinatay karya Brillante Mendoza di seksi kompetisi. Cuma kadang kalau menonton film maraton itu bikin otak kehilangan orientasi. Ndilalah saya bingung kenapa Mendoza memakai aktor suku aborigin di filmnya. Saya bahkan salah berkomentar antara film Australia dan film Filipina.

Tapi sekarang semua sudah tertata baik lagi. Saya jadi ingat kenapa Samson and Delilah susah dicerna. Dorongan terbesar menontonnya adalah rasa ingin tahu. Film ini tentang kisah cinta dua remaja suku aborigin di Australia. Berlokasi di pemukiman miskin suku aborigin di tengah padang tandus, panas dan kotor, membuat saya melihat wajah lain Australia selain wajah kinclong Nicole Kidman.

Samson and delilah resize

Dengan setting yang eksotis itu, sayangnya, film fitur pertama karya Thornton ini kekurangan chemistry antara tokoh utamanya Samson diperankan oleh Rowan McNamara dan Delilah oleh Marissa Gibson. Upaya Thornton untuk meminimalkan dialog seminim mungkin agar para pemeran utama ini bisa bebas mengeksplorasi dan latihan berekspresi dengan wajah dan tatapan mata juga sia-sia. Belum lagi musik yang digunakan berulang-ulang akhirnya bikin sakit telinga.

Lain lagi dengan Kinatay, karya terbaru Brillante Mendoza. Fakta bahwa sutradara Filipina itu  berhasil memasukkan filmnya dalam seksi kompetisi selama dua tahun berturut-turut cukup mengejutkan. Tahun lalu, Serbis sempat bikin tercengang banyak kritikus hingga membelah dua kubu masyarakat perfilman Cannes, antara yang sangat suka dengan sangat tidak suka dengan film ini. Saya sendiri masuk di kubu pertama, karena menurut saya Mendoza melakukan beberapa hal radikal misalnya dengan menempatkan suara ribut sebagai bagian dari ‘tokoh’ utama dan juga tema soal upaya pemilik keluarga bioskop porno yang nyaris bangkrut berhasil dipotret dengan jitu oleh Mendoza.

Kinatay Resize

Nah dalam Kinatay atau jika diartikan kurang lebih ‘pembantaian’, Mendoza masih melakukan hal yang sama. Memotret dengan fokus yang tepat keributan dan kehirukpikukan Manila. Dan kali ini Mendoza sedang ingin bermain-main di ranah thriller. Kinatay berkisah tentang pemuda Pepoy (lagi-lagi diperankan Coco Martin yang juga tampil di Serbis), calon polisi muda dengan wajah naif ala anak baru gede.

Pepoy yang ‘innocent’ tanpa praduga, di hari yang sama ikut temannya untuk melakukan sebuah ‘misi’ mengerikan dan tak terbayangkan. Tentu saja saya tidak akan bercerita tentang film ini, silahkan nanti Anda saksikan sendiri. Tapi Mendoza pada dasarnya hanya melakukan pengulangan yang tidak berhasil. Apalagi ritme film molor ditengah sehingga alurnya pun keteteran. Yang tersisa dari film itu hanyalah rasa ngeri yang tidak begitu meninggalkan jejak setelah keluar dari bioskop.

Hari ini pun film-film di seksi kompetisi tidak juga menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Pagi dimulai dengan Vengeance filmnya Johnnie To. Saya suka filmnya The Election yang pernah masuk nominasi Palem Emas di Cannes 2005 lalu. Jadi saya lumayan berharap banyak dengan film terbarunya ini. Tapi saya lumayan kecewa. Bagi yang mengenal Johnnie, pasti taulah film macam apa yang dibuatnya. Itu loh film gangster-gangster saling pamer senjata dengan adegan aksinya yang heboh. Entah kenapa film ini masuk seksi kompetisi. Apa mungkin karena kolaborasi dengan Perancis dengan menggunakan aktor Perancis?. Apalagi dibintangi Elvis Presley-nya Perancis Johnny Hallyday. Ohhh my…..! Mungkin karena saya bukan penggemar gangster jadi saya tidak bisa melihat dimana bagusnya film ini. Film ini jadi mengingatkan saya dengan video game.

Vengeance resize

Johnnie To lagi main video game yang asyik mengumpulkan senjata sebanyak-banyaknya untuk mendapat poin. Lalu dia pengin melucu tapi garing. Hallyday pengin akting seperti seorang ayah (mantan polisi atau preman, saya tidak ingat) yang ingin balas dendam atas kematian menantu dan dua cucunya. Pengennya terlihat garang sekaligus punya sisi lembut, tapi malah nampak bloon.

Film berikutnya juga tidak banyak menutup kekecewaan. Alejandro Amenabar yang pernah menyutradarai The Others dan The Sea Inside itu hadir dengan filmnya yang super duper ambisius, Agora. Film diseksi out of competition ini adalah epic sejarah tentang Hypatia, ahli matematika, filosofi dan astronomer perempuan pertama dalam sejarah peradaban dunia. Agora berlatar belakang tahun 369 sebelum masehi –periode waktunya saja seperti jarak Bumi ke Pluto, tak terbayangkan dengan pikiran dan mata telanjang–.

Jaman itu katanya jaman yang mulai memperlihatkan konflik agama. Di kota Alexandria, awalnya hidup tentram para penganut Paganisme dan Yahudi. Kemudian datanglah ajaran baru yang disebut Kristen. Di film ini, para penganut Kristen dengan brutal kemudian berusaha mengenyahkan Paganisme dan Yahudi. Maka kacaulah Alexandria, dampaknya hingga ke perpustakaan umum yang biasanya steril dari konflik politik.

AGORA

Di perpustakaan umum inilah Hypatia mengajar filosofi, matematika dan astronomi. Ditengah-tengah gejolak politik agama, Hypatia yang diperankan Rachel Weisz ini sibuk memikirkan rotasi matahari, bintang dan bumi. Gara-gara konflik politik agama inilah, keberadaan Hypatia –yang dicintai oleh dua laki-laki, satunya orang Kristen, satunya Pagan. Saya bingung, kenapa tidak sekalian juga ada wakil Yahudi biar seru–, dipertanyakan. Sehingga membuat para lelaki ini bingung menentukan antara keyakinan mereka atau perempuan yang mereka cintai ini. Walaupun Hypatia sendiri lebih sibuk memikirkan bintang-bintang dilangit.

Film yang banyak memanfaatkan tenaga dan CGI ini jadinya kekurangan perspektif karena ingin melontarkan banyak hal sekaligus. Waktu dua jam lebih juga tak banyak membantu saya untuk memahami apa yang mau diucapkan Amenabar dalam film. Dan dengan bangga Amenabar bercerita bahwa dengan film ini ia sudah mengatakan semua hal penting yang harus diucapkan sebelum mati.

Mengutip kata-katanya: “With this one, I really said everything that seemed important to me. If I were to die tomorrow, I would prefer for Agora to be my last. In any case, this is the most ambitious film of my career.” Saya hanya bisa mengelus-elus perut.  Beginilah jadinya kalo orang terlalu serius. Pengin bicara banyak hal tapi kehilangan fokus.

Dan mengikuti ambisi Alejandro Amenabar, sutradara Rusia Pavel Lounguine juga ikut-ikutan bikin proyek ambisius dengan filmnya Tsar –mengangkat kisah Tsar Rusia yang terkenal gila, Ivan The Terrible–yang ingin mengikuti jejak mbah-nya perfilman Rusia, Sergei Eisenstein yang pernah bikin film klasik Ivan The Terrible. Kalau periode waktu di Agora seperti jarak Bumi ke Pluto, nah perbandingan antara Tsar-nya Pavel Lounguine dengan Ivan The Terrible-nya Eisenstein mungkin seperti jarak Bumi ke Neptunus….jauh! Ivan the Terrible-nya Eisenstein memang sulit disamai.

Tzar

Tapi kekecewaan terbesar saya hari ini adalah gagal menonton Antichrist-nya Lars Von Trier. Pengalaman dengan No Country For Old Men dua tahun lalu terulang lagi. Antri di tengah panas matahari sejam sebelum film dimulai, dan ketika giliran saya nyaris tiba, si penjaga lantas meletakkan papan bertulisan cemerlang: COMPLETE FULL ! Ingin nangis malu, ingin ngamuk tapi akan sia-sia. Lagi-lagi saya sebal dengan kartu biru saya. Hikssss…..!***

The Constant Gardener: Konspirasi Bermuara Cinta

Posted in Reviews by akurini on January 28, 2006

The Constant Gardener

Pemain: Ralph Fiennes, Rachel Weisz
Sutradara: Fernando Meirelles
Produksi: Epsilon Motion Pictures, 2005

SEJAK menit pertama, The Constant Gardener membuat saya penasaran. Sempat terpikir, The Constant hanyalah kisah berisi intrik selingkuh seorang wanita. Saya memang terkecoh. Pada menit pertama itu, seorang wanita terlihat tengah mengucapkan selamat berpisah kepada suaminya. Ia pergi dengan seorang pemuda kulit hitam. Adegan berikutnya, wanita dan lelaki hitam itu digambarkan tewas.

Tapi, seiring mengalirnya fragmen-fragmen adaptasi novel berjudul sama karya John leCarre itu, saya sadar, The Constant bukanlah film gampangan yang mudah terjebak jadi klise. Dengan gaya fragmen kilas balik, Fernando Meirelles yang mengulang pencapaian sinematik karya fenomenalnya, The City of God, membawa penonton mengerti karakter-karakter dan peristiwa dalam The Constant tanpa terburu mengambil kesimpulan.

The Constant penuh dialog cerdas dengan alur cerita yang kuat. Pesannya tegas: sinisme pada industri farmasi. “Tidak ada produsen obat melakukan sesuatu secara gratis,” begitu tesis John leCarre. Bukankah praktek uji coba produk obat baru sering dilakukan di negeri miskin dunia ketiga dengan kedok pengobatan gratis atau obat murah? Fakta inilah yang menjadi daging cerita novel leCarre.

Kematian tragis Tessa (Rachel Weisz) dalam The Constant hanyalah pintu gerbang. Rasa penasaran Justin (Ralph Fiennes), suami Tessa, terhadap tingkah misterius istrinya semasa masih hidup adalah benang merah yang merangkai kisah The Constant. Lewat Justin, penonton diajak ikut berpikir tentang konspirasi antara kawan, lawan, dan industri obat global.

Ramuan itu membuat The Constant menjadi sebuah kisah cinta istimewa. Di tangan Meirelles, The Constant selamat dari jebakan mendramatisasi rasa kehilangan Justin. Perlahan, penonton akan sadar bahwa perjalanan Justin menemukan kebenaran atas Tessa menyeretnya pada konspirasi bisnis yang kotor. Tapi di situ juga Justin makin mengenal siapa Tessa.

AKU