WERNER HERZOG LIBURAN DI UJUNG BUMI
Film: ENCOUNTERS AT THE END OF THE WORLD
Sutradara: Werner Herzog
—-
Martin Luther, the reformer, was asked : « What would you do, if the world came to an end tomorrow?” and he replied: “I would plant an apple tree”. Tapi Werner Herzog bilang: “I would start shooting a new film.”
—-
Liburan telah tiba bagi Werner Herzog. Berpuluh tahun lamanya Herzog berkelana ke pelosok-pelosok benua yang tidak terpikirkan oleh sebagian besar masyarakat modern saat ini. Dan ketika ia memilih berlibur, kita bisa maklum, tempat liburannya juga tidak biasa. Pilihannya disebuah tempat di ujung dunia paling selatan: Antartika !. Sambil ‘liburan’ itulah, ia membuat semacam travelogue yang diberi judul Encounters At The End Of The World.
Dari travelogue ini, terlihat dan terdengar jelas, Herzog berangkat dengan riang gembira. Tak paham betul mau bertemu siapa, atau mau berbuat apa. Maklum, ia sudah lama bermimpi ingin kesana, tapi tak punya akses. Ketika National Science Foundation America menawarkan semacam beasiswa untuk program Antarctic Artists and Writers Program, Herzog tak menyia-nyiakan kesempatan.
Dengan tekun Herzog juga melewati prosedur program, mulai dari menulis proposal, membuat surat motivasi hingga wawancara. Menurut Herzog, ia meng-iya-kan saja semua syarat-syarat program tersebut. Termasuk hasil ‘penelitian’ yang nantinya harus berguna bagi pendidikan, pengembangan pengetahuan tentang objek penelitian dan pemahaman yang lebih luas tentang Antartika.
Ia juga tidak keberatan dengan beberapa syarat, antara lain tidak membolehkan pekerja film membawa peralatan berat, tidak boleh membawa kru yang banyak, serta tidak boleh merepotkan peneliti disana misalnya dengan meminta kamp khusus untuk membuat film selain yang sudah ada disana.
Syarat-syarat ini jelas tidak terlalu sulit bagi Herzog. Sutradara asal Jerman ini cukup mengajak seorang kameramen, Peter Zeitlinger, untuk menemani perjalanannya ini. Hal-hal teknis lainnya praktis dikerjakan mereka berdua. Mulai dari tata suara hingga tata cahaya. Hanya saja, kali ini Herzog harus sedikit mengalah untuk urusan kamera. Selama tujuh minggu izin tinggalnya disana, Herzog akhirnya pasrah hanya memakai high-definition video camera. Pertama kali dalam karirnya, Herzog membuat film tanpa 35mm. ‘Yang penting, saya bisa liburan disana,’ katanya.
Suara Personal Yang Khas
Kamera Zeitlinger mulai bekerja sejak pesawat kecil yang membawa mereka mendekati wilayah putih mahaluas dibawah sana. Herzog –berbahasa Inggris dengan aksen Jermannya yang kental—bercerita dengan suara dan gaya khasnya. Sekedar catatan, film-film dokumenter Herzog tidak pernah memakai ‘suara’ orang lain.
Suaranya yang agak serak serak, tidak bariton dan juga tidak karismatik menemani sepanjang 99 menit Encounters. Pria yang juga sutradara panggung opera ini bukannya tidak berusaha membuat suaranya terdengar ‘agak berwibawa’. Kadang-kadang terdengar ia seperti bercerita dengan tempo dan nada suara yang terjaga layaknya pemain sandiwara radio.
Usaha untuk terdengar ‘karismatik’ ini dibeberapa momen justru terdengar menggelikan –dalam arti positif–. Seperti ketika ia mulai prolog diawal film tentang keberadaannya di kutub selatan. Nada ‘sok’ karismatik nya lama-kelamaan makin memudar ketika Herzog mulai masuk lebih dalam. Apalagi saat bercerita tentang pelatihan bertahan hidup ditengah badai Antartika. Dalam pelatihan ini, kepala setiap orang ditutup ember putih, dan diperintahkan mulai berjalan kearah tujuan mengikuti sebuah tali dan yang paling utama, insting. Hasilnya amburadul.
Dibagian ini, suara ‘sok’ wibawa Herzog tidak sanggup bertahan. Meski ia nyaris tak pernah nampak di layar, sebagai penonton kita bisa merasakan, Herzog sedang tertawa geli. Nada narasinya juga berbeda dibeberapa bagian. Bagian tentang orang-orang yang ditemuinya, tentang rasa ingin tahunya yang tak terbendung, atau saat ia kebingungan mengajak narasumber nya untuk ngobrol, dan tentang hal-hal kecil yang ditemuinya di pusat penelitian habitat Antartika, McMurdo Station.
Kehadiran narasi sutradara kelahiran Munich 66 tahun lalu ini lewat ‘voice over’ –dalam film, sosok Herzog terlihat hanya sekilas– kadang hadir sebagai narasi pengantar, kadang juga berfungsi sebagai penghubung antara momen yang satu dengan yang lain dan kadang menjadi suara yang terlibat.
Sebagai narator, kita seperti mendengar nada seorang ayah yang mendongengkan kisah kepada anak-anaknya. Atau seperti mendengar tetangga sebelah yang bercerita tentang pengalaman liburannya. Atau mendengar teman sebaya melontarkan uneg-unegnya. Seringkali, Herzog memberikan ruang luas bagi narasumbernya untuk bercerita. Tapi kalau kelamaan, ia juga tak segan memotong.
Sebagai suara yang terlibat dan banyak bertanya, suara Herzog –dalam arti harfiah maupun perlambang– seperti suara orang kebanyakan, suara ordinary people, yang kebetulan dapat kesempatan untuk berkunjung ke satu-satunya wilayah tak terjangkau peradaban kecuali bagian dimana McMurdo Station berdiri. Herzog seperti paham apa yang ada dikepala sebagian orang yang akan menonton Encounters.
Sutradara Grizzly Man ini ke ujung dunia dengan ‘kosong’, tanpa pretensi dan tanpa beban filmnya akan jadi seperti apa. Ia mengaku tidak mengerti ‘natural science’ sama sekali. Tidak paham tentang kehidupan seperti apa yang ada diujung bumi ini. Tapi ia tidak bisa menutupi rasa takjubnya yang terlihat jelas dalam Encounters. Dengan hanya berbekal banyak pertanyaan, Herzog bertanya sesuai kata hati tanpa beban ilmiah. Karena itu, pertanyaannya adalah pertanyaan saya juga, rasa penasarannya adalah juga rasa penasaran saya.
Herzog ingin tahu hal-hal dasar yang justru jarang ditanyakan. Dimulai dari, mengapa anda ada disini? Apa menariknya sih meneliti tentang es? Apa sih impian anda? Kenapa sih kita tidak boleh ngomong beberapa menit sebelum menyelam? Sampe pertanyaan yang berkembang jadi konyol seperti: saya dengar, penguin juga punya kecenderungan gay atau lesbian ya? Mereka juga bisa gila ya?.
Pertanyaannya pun tidak sebatas pada para peneliti, tapi juga kepada tukang masak, pengemudi truk, tukang kayu, hingga tukang cuci piring. Dari pertanyaan-pertanyaan dasar yang berkembang sesuai reaksi narasumbernya itu, Herzog menemukan banyak cerita. Pria yang selalu konsisten dengan ceritanya dalam setiap wawancara ini berhasil membuat saya percaya bahwa setiap orang punya sesuatu yang menarik untuk diceritakan ditanah itu.
Herzog nampak sedang berusaha memuaskan dahaga ingin tahunya terhadap padang es itu, dan terutama sekali, terhadap manusia-manusia yang memilih untuk datang dan bekerja disana. Encounters jadi kaya akan karakter-karakter yang mungkin sulit ditemukan dan sulit dibayangkan akan ada dalam film-film cerita biasa.
Sementara kamera Zeitlinger asyik mengabadikan keindahan alam bawah laut serta kehidupan nyentrik manusia-manusia diatasnya, Herzog juga asyik bertanya dan bertanya. Kerjasama keduanya jadi karya yang akan sulit disamai oleh para pekerja film lainnya. Cara bertutur Herzog yang ‘lugu’, disertai komentar-komentarnya yang menggelikan, membuat Encounters jadi dokumenter serius yang penuh humor. Film Herzog yang ke 54 ini jelas jauh bedanya dengan buatan Discovery Channel atau National Geographic Channel.
Sentuhan personal dan subjektifitas Herzog di tanah putih yang menakjubkan dan misterius itu jadi lebih manusiawi, walau tetap membuat Antartika tak kehilangan sedikitpun daya magisnya. Encounters jadi film Herzog yang paling santai, penuh humor dan sekaligus paling indah. Beginilah jadinya ketika Herzog memutuskan untuk berlibur sambil menenteng kamera.***
Juno : Yang Tergeser Keluar Layar
“Apa ? Kamu tidak suka film Juno ?”
Seruan itu datang serempak. Lalu saya pun mendapati tatapan mata membelalak seperti anak panah siap ditembak – dengan saya sebagai sasaran. Tiba-tiba saja saya merasa sudah duduk di kursi tertuduh dengan tuduhan : tidak punya selera humor, tidak tahu film bagus, sudah terlalu tua untuk mengerti, dan sederet tuduhan pidana bidang film lainnya.
Saya hanya bisa nyengir sambil menawarkan gula-gula ke teman-teman saya yang seperti kena serangan jantung. Toh itu tidak bisa mengalihkan perhatian mereka ke topik utama hari itu. Satu-satunya yang mendukung dan mengerti kenapa saya tidak suka dengan film Juno hanya Nathalia. Teman asal Rusia yang sebal dengan nama aslinya, Nathasa, itu yang paling bersemangat membela. “Bener Rin. Kan saya bilang juga apa, Sex and The City jauh lebih bagus !”. Gantian saya yang melongo.
Sore itu saya berhasil menghindari tuntutan mereka untuk memberi penjelasan lebih lanjut. Saya memang termasuk orang yang malas memberi penjelasan. Tapi tak urung, protes mereka terngiang-ngiang terus dibenak saya. Kenapa saya tidak suka dengan film itu?. Gara-gara pertanyaan itu, saya terpaksa menonton Juno lagi. Saya ingin memastikan bahwa mungkin memang ada yang terlewat dari pengamatan saya.
Apa sebetulnya yang saya cari dari film Juno ?
Saya setuju, Juno adalah film yang unik. Ia membuat masalah yang berat itu – kehamilan remaja atau kehamilan tak diinginkan – jadi terasa enteng. Setidaknya, saya menemukan beberapa hal penting yang ingin disampaikan oleh Juno. Pertama: jangan takut untuk hamil, semua akan baik-baik saja. Kedua: adopsi lebih baik daripada aborsi. Saya setuju, karena saya anti-aborsi.
Saya juga setuju, Juno adalah film yang diperlukan saat ini. Di Amerika, data menunjukkan setiap tahun setidaknya ada kurang lebih satu juta remaja belia hamil. Hampir setengah dari jumlah itu memilih aborsi sebagai jalan keluar. Selebihnya memilih melanjutkan kehamilan untuk kemudian menyerahkan anaknya untuk diadopsi, dan sedikit dari mereka memberanikan diri untuk membesarkan sendiri.
Karena itu, Juno adalah sebuah film yang hadir disaat yang tepat. Apalagi Juno dikemas tidak dalam bentuk ‘khotbah’. Saya kagum dengan Juno yang bersikap sewajarnya ketika tahu ia hamil. Juno tidak histeris, apalagi menangis. Ia hanya terkejut, dan mungkin takjub. Kalaupun ia cemas atau takut, jelas Juno lihai menyembunyikan.
Dan saya kagum dengan orang tua Juno ketika mendengar anaknya hamil. Mereka menerima juga dengan sewajarnya. Bagi saya, dijaman ini ketika aib menjadi kata usang, begitulah seharusnya orang tua bersikap. Tidak perlu ada umpatan apalagi kutukan. Kehamilan itu saja sudah cukup mengguncang bagi Juno.
Tapi justru sikap ‘wajar’ inilah yang begitu lihai digarap agar penonton yakin bahwa aborsi itu pilihan salah, dan adopsi adalah jalan yang terbaik. Disini saya mulai ragu dengan premis yang dijanjikan Juno. Tapi saya berusaha mencari kemungkinan Juno menawarkan sesuatu yang lebih ‘dalam’, bahwa seperti aborsi, adopsi juga masih bisa dipertanyakan dalam konteks moral. Benarkah adopsi adalah jalan terbaik bagi semua pihak?
Dunia ideal Cody
Saya kemudian teringat, bahwa apa yang saya tonton adalah dunia ideal ciptaan seorang Diablo Cody, penulis skenario sekaligus pencipta karakater-karakter dalam film Juno. Entah kenapa, saya tak sanggup menahan godaan untuk memplesetkan semua karakter didalam film Juno menjadi Diablo Cody.
Perhatikan semua dialog one-liner – biasanya kalimat yang diucapkan dengan cepat dalam satu tarikan nafas – ala sitcom itu membuat semua karakter dalam film Juno seperti dari satu karakter dengan dandanan berbeda-beda. Dan karena itu, mereka menanggapi kehamilan Juno juga dengan reaksi dan ekspresi yang nyaris sama. Juno pun bisa ‘melucu’ dengan mulus nyaris tanpa konflik.
Ketimbang mikir yang berat-berat, Juno disibukkan dengan tugas mencari orang tua lewat iklan yang mirip biro jodoh biar ada kesan setidaknya ia bertanggung jawab mencari orang tua asuh yang cool buat si jabang bayi. Hanya dengan membayangkan Diablo Cody sebagai Juno, Leah, ayah, ibu, penjaga klinik aborsi bahkan Paulie lah saya bisa tertawa. Bagi saya, satu-satunya karakter yang bisa diciptakan Cody tanpa Cody hanyalah pasangan Mark dan Vanessa.
Tapi saya curiga, karakter Mark dan Vanessa ada sekedar untuk ‘melindungi’ Juno agar tidak dihadapkan pada persoalan-persoalan yang terlalu rumit. Mereka disediakan sebagai jawaban dengan sedikit konflik. Diablo Cody memang sedang ingin menanggapi masalah kehamilan remaja yang bikin pusing masyarakat Amerika dengan menghadirkan Juno sebagai sosok ideal.
Cody jelas berhasil menciptakan Juno sebagai ‘pahlawan’ baru. Maka saya tidak heran ketika minggu lalu saya membaca di koran De Morgen tentang sekelompok remaja 17 an yang janjian hamil dengan pacar masing-masing. “Its cool, you know !” kata mereka rame-rame. Mereka bahkan akan membuka butik khusus untuk remaja hamil yang tetap ingin tampil funky.
Lantas, apa yang saya cari dalam film Juno?
Sebetulnya saya sedang mencari sebentuk rasa prihatin. Bukan terhadap kehamilan itu, tapi terhadap si bayi yang akan lahir. Saya kecewa. Diablo Cody sudah berhasil menciptakan dunia ideal buat Juno dengan segala pernak perniknya. Tapi ia dengan enteng menghalau atau menghindari pembicaraan tentang konsekuensi pilihan Juno. Kalaupun ada, keprihatinan itu sekedar numpang lewat dan terlupakan.
Cody membuat mahluk hidup yang akan lahir itu dibicarakan seperti benda seni yang disiapkan dan dirawat dengan baik agar bisa dilelang dengan harga tinggi. Juno lebih khawatir terhadap nasibnya daripada bayinya ketika bertanya : bagaimanakah orang bisa bersama selamanya, atau paling tidak, beberapa tahun sajalah?. Daripada menyodori Juno dengan pertanyaan tentang nasib sang bayi, Cody malah sibuk menyuapi mulut Juno dengan kalimat-kalimat one-liner yang catchy.
Salah satu yang berhasil diciptakan Cody dilontarkan oleh Juno: “You should’ve gone to China, you know, ’cause I hear they give away babies like free iPods.” Juno yang imut itu kemudian lincah berkotbah soal bayi-bayi yang dibuang di Cina tanpa sadar, bahwa ia juga sedang melakukan hal yang sama. Tidak perlu jauh-jauh ke Cina. Juno toh, sadar atau tidak sadar, sedang menciptakan trend free iPods juga.
Saya mau tidak mau jadi ingat Dora, salah seorang teman keponakan saya. Dora gadis kecil yang murung, saya menjulukinya begitu. Dengan mata sipit dan rambut hitam-lurus-jabrik, Dora jelas merasa berbeda, bukan hanya dengan teman-teman sekolahnya, tapi juga dengan ayah dan ibunya yang berambut pirang bermata biru. Dora adalah free iPods yang diceritakan Juno itu. Tak ada yang bisa membuatnya tertawa. Bahkan Viviane, psikiater anak yang menangani Dora, juga sadar tidak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kerusakan permanen dalam jiwa Dora.
Viviane tentu saja mengerti betul kondisi Dora. Ia juga punya luka permanen yang sama. Viviane adalah anak ‘Juno’. Ibunya masih 16 tahun ketika berlibur ke Indonesia. Pulang ke Belgia, ia kedapatan hamil. Seperti Juno, ibu Viviane menyerahkan Viviane ke keluarga yang mampu, setelah itu ia menghilang dari kehidupan Viviane. Viviane kemudian menjadi psikiater anak yang terobsesi untuk bisa menyembuhkan ‘luka jiwa’ anak-anak terbuang.
“Saya memang tidak kekurangan apa-apa. Tapi tetap saja seperti ada lubang besar disini,” kata Viviane sambil menepuk-nepuk dadanya ketika ia bercerita kepada saya tentang niatnya untuk menelusuri jejak sang ayah yang kebetulan orang Indonesia. Dan jika ia beruntung, bisa menemukan jejak sang ibu. Sepanjang 35 tahun hidupnya, Viviane terus bergulat dengan ‘lubang besar’ itu.
Adakah Juno pernah berpikir soal ini? Benarkah keputusan untuk memutuskan semua hubungan dengan si bayi adalah yang terbaik? Terbaik untuk siapa? Keprihatinan terhadap si bayi inilah yang digeser keluar layar di film Juno. Mereka sibuk membicarakan kehamilan itu – karena takut dituduh membunuh si bayi yang katanya sudah punya kuku– tapi lupa terhadap ‘perasaan’ si bayi. Padahal kesempatan untuk membuatnya jadi bahan pikiran terpampang lebar tanpa harus jadi berat.
Film Juno malah berusaha ‘ngeyel’ dengan menampilkan Juno yang imut berusia 16 tahun dengan wajah tak berdosa sehingga penonton seakan tak tega untuk membebaninya dengan pertanyaan moral. Penonton pun dibuat maklum saat Juno akhirnya lega -sepertinya aborsi maupun adopsi tidak lagi penting– dan duduk bermain gitar dengan Paulie. Mungkin karena Juno tidak pernah bertemu Dora. Tidak pernah bertemu Viviane.***


leave a comment