Diary Of A Moviegoers

Ketika Sebuah Kisah Memilih Penulis dan Sutradaranya

Posted in Notes, Serba-Serbi by akurini on August 7, 2007

schindlers-list.jpg

Tas nya rusak. Karena itu, Thomas Keneally –sambil menghabiskan waktu– berjalan-jalan disekitar pertokoan Beverly Hills untuk mencari pengganti tas yang rusak itu. Tak sengaja, pria tambun ini singgah ditoko Handbag Studio, yang dietalasenya tertulis Handbag Studio’s Fall Sale. Keneally sebetulnya ogah masuk, cuma melihat dari kaca tapi seorang pria –yang ternyata pemilik toko– dengan ramah menyapanya.

Singkat cerita, mereka ngobrol ngalor ngidul. Pria pemilik toko bernama Leopold Page, aslinya Pfefferberg asal Krakow ini ternyata mantan tahanan di Auschwitz, kamp konsentrasi untuk para yahudi itu. Bersama istrinya, Mischa, Page –Keneally lebih senang menyebutnya Poldek– berhasil lolos dari maut dan kemudian membangun kehidupan baru di Amerika.

Cara Poldek melayani pelanggan, dan ramah tamahnya yang menyenangkan membuat Keneally lumayan betah berlama-lama ngobrol dengan Poldek. Dari obrolan yang awalnya tak berarah, Poldek sadar, dia bicara dengan seorang penulis ternama asal Australia yang novelnya The Chant Of Jimmie Blacksmith diangkat kelayar lebar dan masuk nominasi film terbaik di Cannes 1978.

“I tell everyone I know the greatest story of humanity, man to man. Some listen, an article there, a news item here…but it’s a story for you, Thomas; It’s a story for you, I swear,” kata Poldek bersemangat. Keneally menyambutnya biasa saja. “Every writer hears that sentence,” kata Keneally dalam hati.

Sekedar basa basi, dan juga melihat betapa bersemangatnya Poldek, Keneally akhirnya bertanya, “What is it ?”. Dan Poldek bilang, ”I was saved, and my wife was saved by a Nazi”. Maka cerita itupun mengalir tentang Oscar Schindler, yang menyelamatkan nyawa ribuan Yahudi dari keganasan tentara Nazi.  “Although he’s a Nazi, to me he’s Jesus Christ”.

Keneally menyimak, tapi ragu. Dia tidak pernah mendengar nama Oscar Schindler. Sebagai penulis yang tinggal di Australia, peristiwa di kamp-kamp konsentrasi dihadapinya sama seperti ketika membaca berita di koran. Dibaca, setelah itu melanjutkan kegiatan sehari-hari.  Tapi Poldek rupanya sudah siap. Ia menyodorkan setumpuk arsip tentang Schindler, tentang daftar yahudi yang berhasil diselamatkan, dokumen dan sejumlah arsip wawancara.

Kisah tentang Oscar Schindler ini sebelumnya sudah pernah diceritakan Poldek kepada Marvin Gosch, seorang produser broadway dan film. Gosch tertarik lalu mengajak seorang penulis skenario ternama Howard Koch –ikut terlibat dalam penulisan skenario Casablanca–. Mereka berdua mulai melakukan serangkain wawancara dengan orang orang yang ada di daftar Schindler itu.

MGM bahkan membeli hak atas kisah Schindler buatan Gosch and Koch itu. Sayang, upaya Poldek agar jasa-jasa Oscar Schindler selama tahun-tahun yang kelam itu dikenang orang, menemui jalan buntu. MGM tidak jadi membuat film, dan kisah itu melapuk, hanya jadi tumpukan kertas digudang Poldek, sampai ia bertemu Keneally.  

Berdasarkan dokumen-dokumen itulah Keneally akhirnya melakukan penelitian mendalam, mengunjungi lokasi-lokasi kamp konsentrasi di Jerman, mengunjungi bekas pabrik dan perusahaan Schindler, melakukan wawancara ulang dan kemudian menulisnya dalam buku berjudul Schindler’s Ark. Buku itu memenangkan penghargaan Booker Prize.

Adaptasi buku ini ke layar lebar sempat ditawarkan kepada Roman Polanski. Polanski menolak karena pernah mengalami sendiri jadi tahanan di kamp konsetrasi. Lalu ditawarkan kepada Martin Scorsese, yang menyarankan agar film ini dibuat oleh orang Yahudi juga. Maka Schindler pun jatuh ke tangan Steven Spielberg. Film ini membuat Spielberg menerima Oscar pertamanya sebagai sutradara terbaik. Schindler List sendiri menjadi film terbaik dan menerima 7 Oscar.

Para Maestro Itu

Posted in Cannes 2007, Cannes Film Festival, Festivals, News, Notes, Reviews by akurini on May 22, 2007

Chacun Son cinema

(Foto copyright AFP, taken from Festival Film Cannes Website) 

5 BENUA, 25 NEGARA, 35 SUTRADARA

Suatu hari yang cerah, seorang petani bertandang kesebuah bioskop kampung. Ingin menonton film. Bioskop kumuh itu tua dan sekarat. Tapi setidaknya masih ada yang mau datang menonton film. Pemiliknya, Takeshi Kitano juga masih setia memutar film walaupun sering keteter. Buktinya, beberapa kali film terhenti karena urusan teknis. Tapi tak masalah, selama masih ada penonton dan masih ada yang mau memutar filmnya.Takeshi Kitano sang sutradara tampil sendiri sebagai sang pemutar film yang kikuk. 

Film pendek 3 menit karya sutradara kawakan asal Jepang, Takeshi Kitano itu jadi salah satu dari 35 film pendek yang melengkapi karya kolaborasi 35 sutradara berjudul To Each His Own Cinema. Kolaborasi khusus ini diputar di Grand Theater Lumiere, Cannes, pagi ini, 20 Mei waktu setempat. To Each His Own Cinema dibuat untuk merayakan Cannes Film Festival yang ke 60. Masing-masing sutradara mengekspresikan hal-hal yang terlintas dibenak mereka tentang film, tentang kecintaan mereka pada dunia sinema. Selain Kitano, sejumlah nama besar lainnya ikut terlibat. 

Diantaranya, sutradara Italia, Nanni Moretti, yang pernah membawa pulang Palme D’or pada 2001 untuk filmnya La Stanza Del Figlio (the Son’s Room). Film pendek Moretti berjudul Diary Of A Moviegoer menampilkan Moretti diberbagai bioskop sambil bercerita tentang sejumlah film dan dialog-dialog yang berlangsung ketika menonton film tertentu. Misalnya, dengan mimik lucu, Moretti bercerita suatu hari ke bioskop bersama putranya sementara dilayar menampilkan cuplikan film Matrix 2. « Dia bilang, ayah nanti kita menonton film itu ya. OK tentu saja. Tapi setelah saya pikir-pikir, saya harus memberitahu kenyataan sebenarnya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengatakannya langsung. Nak…kamu tahu, film ayah tidak seperti Matrix 2 loh ».

Diary Of A Moviegoer memang hanya 3 menit. Tapi dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, film sederhana itu mampu membuat Moretti mendapatkan applaus meriah dari penonton. Kemudian ada Walter Salles yang pernah berjaya di Cannes lewat filmnya The Motorcycle Diaries walaupun tidak menang. Salles membuat film pendeknya yang kocak berjudul 8.944 KM From Cannes. Tentang dua orang yang bercakap-cakap tentang film festival di Cannes seakan-akan sudah pernah berkunjung ke Cannes. Percakapan mirip lagu rap yang serba cepat itu sahut menyahut, « Memangnya kamu sudah pernah ke Cannes? » dijawab « Iya, dong ». Dibalas lagi « Loh bukannya kamu selama ini di penjara? ».

Selain mereka, sejumlah sutradara dari 25 negara di 5 benua juga menyodorkan karyanya. Dari Asia ada Wong Kar Wai dengan I Travelled 9000 km To Give It To You, Tsai Ming Liang dengan Its A Dream, Hou Hsiao Hsien bercerita tentang kenangan sebuah bioskop dalam The Electric Princess Picture House. Lalu nama-nama tenar lainnya antara lain dari Amerika ada Olivier Assayas, Coen Brothers, Alejandro Gonzalez Inarritu, Roman Polanski, Lars Von Trier, Wim Wenders, Manoel De Oliviera, Bille August, Jane Campion, dan Youssef Chahine.

Banyak diantara mereka yang mengaku baru pertama kali itu bikin film pendek. Diantaranya sutradara Denmark Lars Von Trier. « Ini adalah film terpendek yang pernah saya buat sepanjang karir saya sebagai sutradara, » katanya. Von Trier membuat Occupation, tentang sebuah sekuen singkat disebuah pertunjukan film. Seorang pria yang banyak bicara mengganggu pria disebelahnya yang asyik menonton film. Si pria bercerita tentang pekerjaannya, bisnisnya yang sukses hingga mobilnya yang berjumlah 8 biji.

Pria disebelahnya yang asyik menonton akhirnya terganggu. Ketika si pria cerewet bertanya, apa pekerjaannya. Pria yang lainnya, menjawab kalem, « pembunuh » sambil mengeluarkan palu dan menghantam kepala si pria bertubi-tubi. Penonton yang lain kaget sejenak, setelah itu kembali asyik menonton film termasuk si pria pembunuh. Sadis memang, tapi lucu.

Roman Polanski meski pernah membuat film pendek Two Men and a Wardrobe,–20 menit– tahun 1958 mengaku sempat kesulitan juga. Tapi film pendek 3 menitnya, Cinema Erotique, juga mendapat sambutan meriah. Polanski membuat sebuah scene di bioskop erotis dimana seorang pria selalu melenguh layaknya sedang mencapai orgasme. Dua penonton lainnya kesal. Penjaga dipanggil. Sang pria ditegur dan ketika dicek ternyata salah tempat duduk. « Kursi anda mestinya di balkon ». Si pria yang masih saja melenguh-lenguh menjawab « Iya, saya jatuh dari atas », sambil terus melenguh, kesakitan.

« Saya memang pernah membuat film pendek, tapi itu sudah lama sekali, saya hampir lupa cara membuatnya » kata Polanski tentang pengalamannya membuat film pendek. Toh meski tidak mudah, para sutradara ini berhasil menunjukkan kelas mereka sebagai sutradara-sutradara papan atas. “membuat film tiga menit saja sudah sulit, apalagi ditambah beban dengan pertanyaan dikepala ’sutradara lain bikin apa ya?’

Selain itu yang paling mengasyikkan bagi penonton adalah usaha tebak menebak sutradara. Masing-masing mereka selalu meninggalkan jejak. Occupation misalnya, jelas punya Von Trier. Gaya bertutur, pengambilan gambar hingga akting aktornya adalah ciri khas Von Trier. Beberapa film mudah dikenali, karena masing-masing sutradara meninggalkan autographnya di setiap 3 menit.

AKU